Asuransi Syariah

Diskon Terbaik Diskon Terbaik
500+ Pilihan 500+ Pilihan
Bantuan Klaim Bantuan Klaim
+62
Tampilkan promo kartu kredit?
Dengan lanjut, Saya setuju syarat & ketentuan berlaku.
1970/01/01 00:00:00Cicilan 0%Hemat 25%
 

Rekomendasi Produk Asuransi Syariah di Indonesia

Di Indonesia, perusahaan asuransi syariah harus mendapatkan izin usaha syariah dari OJK dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS). Untuk membantu calon nasabah dalam membandingkan dan mendapatkan produk terbaik, berikut ini rekomendasi Lifepal.

1. Asuransi Syariah Takaful Keluarga

  • Nama polis: Takafulink Salam
  • Usia masuk nasabah: 30-65 tahun
  • Polis dapat diperpanjang hingga usia: 80 tahun
  • Gratis biaya administrasi: 12 bulan pertama
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi kesehatan syariah, jiwa, penyakit kritis, dan investasi sekaligus
  • Santunan meninggal dunia 100% dan nilai investasi
  • Santunan kecelakaan diri 100% dan nilai investasi
  • Santunan cacat tetap total 100% dan nilai investasi
  • Santunan ketika terdiagnosa salah satu dari 49 penyakit kritis 100% dari UP
  • Pertanggungan biaya rawat inap, rawat jalan, rawat gigi, persalinan, ICU, dan pembedahan

2. Asuransi FWD Life Syariah

  • Nama polis: Bebas Ikhtiar
  • Usia masuk nasabah sejak 30 hari
  • Polis nasabah dapat diperpanjang hingga usia 99 tahun
  • Minimum premi atau kontribusi dasar: Rp200 ribu per bulan
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi jiwa dengan manfaat loyalty bonus
  • Santunan meninggal dunia dan nilai investasi
  • Santunan meninggal dunia akibat kecelakaan diri dan nilai investasi
  • Terdapat manfaat loyalty bonus hingga 160% di tahun ke 7 polis berjalan

3. Asuransi Syariah Al Amin

  • Nama polis: At Ta’Min Siswa Dinar
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi jiwa syariah Al Amin berupa dana pendidikan anak.
  • Santunan meninggal dunia atau cacat total akibat kecelakaan
  • Pilihan santunan meninggal dunia berupa pelunasan biaya pendidikan
  • Pilihan santunan meninggal dunia berupa pelunasan pinjaman atau kredit
  • Pilihan santunan meninggal dunia berupa pembiayaan ibadah haji

4. Asuransi JMA Syariah

  • Nama polis: JMA Asyifa
  • Usia masuk nasabah: 6 bulan – 59 tahun
  • Premi dibayarkan sekaligus di awal tahun
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi kesehatan lengkap dan jiwa sekaligus
  • Pertanggungan biaya perawatan kamar, ICU, dokter, pembedahan
  • Pertanggungan biaya rawat jalan sebelum dan sesudah rawat inap
  • Pertanggungan biaya perawatan gigi
  • Terdapat santunan meninggal dunia

5. Asuransi Takaful Umum

  • Nama polis: Kendaraan Bermotor Standar
  • Produk yang dapat diasuransikan: non bus/ non truk, bus, truk, pick-up, dan sepeda motor penggunaan non komersial
  • Cocok bagi yang menginginkan proteksi atas kendaraan penggunaan pribadi
  • Pilihan menanggung kerusakan sebagian dan total yaitu polis comprehensive
  • Pilihan menanggung kerusakan total saja yaitu polis total loss only

6. Asuransi Allianz Syariah

  • Nama polis: Allisya Maxi Fund Plus
  • Usia masuk nasabah: 1 bulan – 70 tahun
  • Polis dapat diperpanjang hingga usia: 100 tahun
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi jiwa unit link khususnya untuk nasabah usia lanjut
  • Santunan meninggal dunia 125-350% dari premi tunggal
  • Nilai investasi dapat di top up minimal Rp1 juta tanpa dikenakan ujrah
  • Terdapat tiga pilihan jenis investasi yang dapat dipilih

7. Asuransi Syariah Prudential

  • Nama polis: PRUPrime HealthCare Syariah
  • Bersifat sebagai manfaat tambahan atau rider
  • Usia masuk nasabah: 1 bulan – 65 tahun
  • Polis dapat diperpanjang hingga usia: 85 tahun
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi kesehatan syariah hingga jangkauan luar negeri
  • Besaran nilai pertanggungan asuransi disesuaikan dengan tagihan rumah sakit (as charged) dengan limit sesuai plan yang dipilih.
  • Besaran santunan tahunan asuransi akan naik 10% setiap tahun dengan maksimal 50%
  • Polis asuransi dapat digunakan di seluruh dunia
  • Metode klaim non tunai atau cashless dapat digunakan di wilayah Indonesia, Malaysia, dan Singapura

8. Asuransi Syariah AIA

  • Nama polis: AIA Sakinah Assurance
  • Bersifat sebagai manfaat tambahan atau rider
  • Usia masuk nasabah: 1 bulan – 70 tahun
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi kesehatan syariah hingga jangkauan luar negeri
  • Santunan meninggal dunia hingga Rp500 juta
  • Terdapat manfaat loyalty bonus di tahun ke 10 hingga 15 persen
  • Terdapat manfaat loyalty bonus di tahun ke 11 hingga 25 persen
  • Terdapat manfaat loyalty bonus di tahun ke 12 hingga 35 persen

9. Asuransi Bumiputera Syariah

  • Nama polis: Mitra BP-Link Syariah
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi jiwa, kesehatan, dan penyakit kritis sekaligus
  • Santunan meninggal dunia 100% dan nilai investasi
  • Terdapat manfaat hidup yang diberikan jika masih hidup hingga masa polis berakhir berupa nilai tunai investasi
 

Pengertian Asuransi Syariah

Asuransi syariah adalah proteksi yang memberikan jaminan biaya perawatan kesehatan, santunan meninggal dunia, hingga ganti rugi berdasarkan prinsip syariah, yaitu menggunakan prinsip tolong-menolong (Tabarru’). 

Salah satu keunggulan jenis asuransi ini ada pada pengelolaan dananya yang transparan. Inilah yang membedakannya dengan asuransi konvensional. 

Asuransi syariah memiliki sejumlah perbedaan dengan asuransi konvensional. Sebagian besar terletak pada prinsip pengelolaan dana, pihak pengawas, dan sektor industri investasi. Berikut ini contoh tabel perbedaan asuransi syariah dan konvensional yang dapat disimak:

Asuransi Syariah Asuransi Konvensional
Memakai akad asuransi syariah hibah dengan konsep saling menolong, sama-sama tidak mengharap imbalan

Dana dimiliki semua peserta asuransi. Perusahaan hanya menjadi pengelola dana dan tidak punya hak memiliki

Dana semaksimal mungkin diolah untuk keuntungan peserta asuransi. Pengelolaannya lebih transparan

Keuntungan yang didapat dari pengelolaan dana asuransi dibagi ke semua peserta dan perusahaan asuransi secara merata

Peserta wajib membayar zakat yang diambil dari jumlah keuntungan perusahaan

Ada DPS di tiap perusahaan untuk mengawasi ketaatan menjalani prinsip syariat.

Dana yang disetor peserta bisa diambil kalau dalam perjalanannya tidak sanggup melanjutkan pembayaran. Hanya ada potongan kecil berupa dana tabarru’

Dana unit link hanya boleh diinvestasikan ke sektor yang dinilai tidak haram.

Mirip transaksi jual-beli, sama-sama berharap bisa ambil untung sebesarnya dan rugi sekecilnya

Dana premi yang dibayarkan jadi milik perusahaan karena konsepnya jual-beli, sehingga bebas dipakai buat apapun asal sesuai perjanjian

Perusahaan secara sepihak menetapkan premi dan biaya lain, misalnya administrasi, untuk mendapat keuntungan

Keuntungan dari kegiatan asuransi sepenuhnya jadi milik perusahaan

Tidak ada

Pengawasan dana dilakukan secara internal oleh manajemen, tidak ada pihak luar yang dilibatkan

Jika tidak sanggup bayar premi, seluruh dana yang sudah disetor statusnya hangus alias jadi milik perusahaan

Dana bebas diinvestasikan ke bidang mana pun, asal berpotensi untung

 

Keunggulan Asuransi Syariah Dibandingkan Konvensional

Jika berbicara pilihan mana yang lebih unggul, asuransi syariah atau konvensional? Sebenarnya kembali lagi bergantung pada kebutuhan calon nasabah. Namun, ada beberapa hal yang tidak dimiliki oleh asuransi konvensional namun diberikan oleh asuransi syariah. Begitupun sebaliknya. Berikut ini adalah keunggulan asuransi syariah:

Pengelolaan dananya mengikuti prinsip syariah Islam. Artinya, dapat dipastikan bahwa dana nasabah tidak akan digunakan untuk kegiatan usaha yang dilarang menurut prinsip Islam dan sesuai dengan aturan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI).

Seluruh pengelolaan dana kontribusi atau premi yang dibayarkan oleh nasabah bersifat transparan. Misal, terdapat surplus underwriting atau selisih lebih dari total dana kontribusi yang terkumpul maka pembagian dana tersebut wajib dilakukan secara transparan.

Berbeda dengan perusahaan asuransi konvensional, yang mana hasil investasi sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan asuransi (kecuali polis yang dikaitkan dengan investasi atau unit link). Hasil investasi dalam asuransi syariah akan dibagikan secara kolektif kepada nasabah.

Dalam asuransi konvensional, seluruh premi merupakan hak milik perusahaan asuransi kecuali untuk jenis asuransi unit link. Sementara dalam asuransi syariah, dana kontribusi merupakan milik perusahaan asuransi sebagai pengelola dana dan milik pemegang polis atau nasabah.

Dalam asuransi syariah, jika tidak ada klaim hingga masa akhir polis maka dana tersebut akan diakumulasikan ke dalam dana tabarru’ yang kemudian berfungsi sebagai dana kolektif milik seluruh peserta asuransi. Jika di asuransi konvensional, premi yang dibayarkan umumnya akan hangus jika tidak ada klaim, kecuali polis yang dipilih memiliki manfaat no claim bonus atau pengembalian premi.

Surplus underwriting adalah selisih lebih dari total dana kontribusi yang dibayarkan oleh nasabah ke dalam dana tabarru’ setelah dikurangi pembayaran klaim, kontribusi reasuransi, dan cadangan teknis. Dalam asuransi syariah surplus underwriting ini akan dibagikan ke dana tabarru’. Berbeda dengan asuransi konvensional yang surplus underwriting dimiliki oleh perusahaan asuransi.

Lifepal akan membantumu untuk mengambil keputusan tepat terkait asuransi. Klik di sini untuk mendapatkan proteksi terbaik berbasis syariat!

 

Prinsip dan Hukum Asuransi Syariah 

Secara garis besar mekanisme asuransi syariah serupa dengan asuransi konvensional. Hanya saja, sistem asuransi syariah atau pengelolaan dananya mengikuti prinsip syariat Islam, yaitu menggunakan akad tolong-menolong. Hukum asuransi syariah yang mengatur prinsip tersebut adalah Fatwa DSN MUI Nomor 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.

Selain oleh Dewan Pengawas Syariah (DSN), kegiatan operasional perusahaan asuransi berbasis syariah juga memiliki payung hukum berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.010/2010 tentang Prinsip Dasar Penyelenggaraan Usaha Asuransi dan Usaha Reasuransi dengan Prinsip Syariah. 

Akad Asuransi Syariah

Akad atau perjanjian dalam asuransi syariah juga telah ditetapkan sesuai prinsip syariat Islam. Akad ini menjadi poin pertama dalam asuransi syariah yaitu tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram, dan maksiat untuk menghadapi risiko nasabah asuransi.

Terdapat tiga akad asuransi syariah yaitu – accordion

  • Akad Tijarah yaitu semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial.
  • Akad Tabarru’ yaitu semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan semata untuk tujuan komersial.
  • Akad Wakalah bil Ujrah yang memberikan wewenang kepada penyedia asuransi dalam mengelola dana proteksi atau investasi milik nasabah.
 

Tanya Jawab

Berikut beberapa tips dan pertanyaan yang sering diajukan atau dicari mengenai asuransi syariah.

Apa itu asuransi syariah menurut para ahli?

Berikut ini beberapa pengertian asuransi syariah dari beberapa sumber, termasuk UU No.40 Tahun 2014.

  1. Wahbah az-Zuhaili

Dikutip dari buku Bank dan Asuransi Islam di Indonesia, Az-Zuhaili mendefinisikan asuransi dalam dua bentuk yaitu at-ta’min at-ta’awuni dan at-ta’min bi qist sa’bit.

At-ta’min at-ta’awuni berarti asuransi tolong-menolong. Secara lengkap, asuransi syariah adalah kesepakatan sejumlah orang untuk membayar sejumlah uang sebagai ganti rugi ketika salah seorang di antara mereka mendapat kemudharatan atau kesusahan.

At-ta’min bi qist sabit berarti asuransi dengan pembagian tetap. Secara lengkap artinya akad asuransi syariah yang mewajibkan seseorang membayar sejumlah uang kepada pihak asuransi yang terdiri atas beberapa pemegang saham dengan perjanjian apabila peserta asuransi mendapat kecelakaan atau musibah, maka diberikan ganti rugi.

  1. Pemahaman Alim Ulama

Asuransi yang dipahami oleh para ulama adalah sebuah sistem ta’awun dan tadhamun yang bertujuan menutupi kerugian peristiwa-peristiwa atau musibah-musibah. Tugas ini dibagikan kepada kelompok tertanggung, dengan cara memberikan pengganti kepada orang yang tertimpa musibah. Pengganti tersebut diambil dari kumpulan premi-premi mereka.

  1. Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)

Lembaga Islam di Indonesia ini mengeluarkan fatwa No.21/DSN-MUI/X/2001 tentang pedoman umum asuransi syariah, dan mendefinisikan asuransi sebagai usaha saling melindungi dan tolong-menolong antara sejumlah orang/ pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

  1. UU No. 40 Tahun 2014

Asuransi syariah adalah kumpulan perjanjian yang terdiri atas perjanjian antara perusahaan asuransi syariah, pemegang polis, dan perjanjian antara para pemegang polis, dalam rangka pengelolaan kontribusi berdasarkan prinsip syariah guna saling menolong dan melindungi atas risiko atau musibah yang menimpa pemegang polis.

Jenis Produk Asuransi Syariah di Indonesia

Produk yang tersedia berbasis syariat beragam, disesuaikan dengan kebutuhan nasabah. Pada dasarnya hanya ada dua jenis, yaitu asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Berikut ini asuransi berbasis asuransi syariah yang ada di Indonesia.

  1. Asuransi Jiwa Syariah

Asuransi jiwa syariah merupakan proteksi atas kehilangan pendapatan atau finansial akibat ketidakmampuan atau meninggalnya seseorang. Asuransi jiwa ini bakal memberikan santunan meninggal dunia atau cacat tetap total kepada ahli waris atau keluarga.

Asuransi jiwa syariah yang dikelola sesuai prinsip Islam ini juga bisa menjadi asuransi pendidikan bagi Anda yang sudah berkeluarga. Sebagai asuransi pendidikan syariah, dana pendidikan bakal diberikan bertahap, sesuai jenjang pendidikan buah hati.

  1. Asuransi Kesehatan Syariah

Asuransi kesehatan berbasis syariah berarti produk asuransi yang memberikan ganti rugi atau jaminan atas biaya perawatan atau pengobatan di rumah sakit dengan prinsip sesuai syariat Islam. Temukan pilihan terbaik dari perusahaan asuransi syariah berikut ini.

  1. Asuransi Umum Syariah

Pada dasarnya memberikan perlindungan terhadap risiko kerugian finansial yang ditimbulkan akibat kejadian yang tidak terduga. Objek yang dijaminkan ganti ruginya adalah objek benda berupa aset berharga seperti rumah, kantor, tempat usaha, gedung, kendaraan bermotor, ekspedisi, hingga proyek bangunan tertentu.

Dari kategori di atas, asuransi mobil syariah cukup banyak dicari orang, sebab asuransi mobil memberikan proteksi finansial atas risiko mobil rusak akibat banjir atau kecelakaan. Mengingat risiko banjir dan kecelakaan di Indonesia cukup tinggi, karena itu jenis asuransi ini sangat penting untuk dimiliki setiap pemilik kendaraan.

Apakah asuransi syariah termasuk riba?

Berdasarkan fatwa MUI Nomor 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, produk ini dinyatakan halal selama memenuhi semua persyaratan dan ketentuan umum yang dicantumkan dalam fatwa. Artinya, asuransi syariah halal dan asuransi syariah bukan termasuk riba selama memenuhi ketentuan umum yaitu:

  • Asuransi Syariah (Ta-min, Takaful, atau Tadhamun) sebagai usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan/atau dana yang memberikan pola pengembalian berupa klaim untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai syariat.
  • Akad yang sesuai dengan syariat dalam poin pertama adalah tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram, dan maksiat untuk menghadapi risiko nasabah asuransi.
  • Akad tijarah yaitu semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial.
  • Akad tabarru’ yaitu semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan semata untuk tujuan komersial.
  • Premi yaitu kewajiban peserta memberikan sejumlah dana kepada perusahaan sesuai kesepakatan dalam akad.
  • Klaim adalah hak peserta yang wajib diberikan kepada perusahaan asuransi sesuai dengan kesepakatan dalam akad

Bagaimana asuransi syariah mendapatkan keuntungan?

Dalam mengelola asuransi syariah, perusahaan asuransi akan menetapkan sejumlah biaya (ujrah) yang disepakati oleh semua pihak pada awal kontrak/ ­akad. Sementara, jika kita bicara tentang asuransi jiwa unit link syariah, sebagian dana peserta yang dialokasikan untuk investasi akan dimasukkan dalam instrumen investasi syariah yang pasti dijamin kehalalannya.

Untuk pemilihan saham misalnya, saham yang dipilih adalah saham perusahaan yang bisnisnya tidak berkaitan dengan perjudian, minuman beralkohol, atau sesuatu yang mengandung riba (bunga), seperti perbankan konvensional. Belum lagi, untuk pengesahan setiap produk syariah harus melalui uji dan persetujuan dari Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Dengan ketatnya pemilihan produk investasi, sistem kerja yang lebih terbuka, dan juga pengawasannya, bisa dipastikan produk asuransi syariah terjamin kehalalannya.

Asuransi Syariah Covid-19

Di tengah pandemi Covid-19 yang disebabkan virus corona, sejumlah asuransi jiwa dan kesehatan memberikan jaminan bagi nasabah yang terkena Covid-19. Anda yang mau berjaga-jaga di situasi saat ini bisa memilih beberapa perusahaan asuransi yang telah menjamin biaya perawatan hingga santunan tunai jika nasabah positif Covid-19.

Asuransi Syariah Covid-19

Di tengah pandemi Covid-19 yang disebabkan virus corona, sejumlah asuransi jiwa dan kesehatan memberikan jaminan bagi nasabah yang terkena Covid-19. Anda yang mau berjaga-jaga di situasi saat ini bisa memilih beberapa perusahaan asuransi yang telah menjamin biaya perawatan hingga santunan tunai jika nasabah positif Covid-19.

Sejarah asuransi syariah

Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia menjadi salah satu pasar besar bagi industri jasa keuangan berunsur syariat, termasuk proteksi. Namun, untuk diterima Muslim Indonesia cukup sulit. Kenapa? Karena polemik seperti penjelasan sebelumnya mengenai riba dan haram dalam kategori tersebut.

Sebagian orang berpendapat bahwa memiliki asuransi baik jiwa, kesehatan, ataupun umum (kerugian), berarti menjaminkan keselamatan kepada perusahaan dan tidak memercayai Tuhan. Karena itu, proteksi ini masih diragukan sebagian Muslim Indonesia.

Dalam sejarah asuransi syariah guna melihat polemik dan keraguan atas kehalalan tersebut, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) mengeluarkan keputusan/nasihat yang disebut fatwa. Melalui fatwa Nomor 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, perusahaan asuransi ganti rugi prinsip syariah ini dinyatakan halal selama memenuhi semua persyaratan dan ketentuan umum yang dicantumkan dalam fatwa.

Sementara itu, pengamat ekonomi syariat M Syakir mengakui beberapa kalangan masih menilai proteksi syariat ini haram. Dia menilai, kalangan yang beranggapan demikian hanya menggunakan referensi jadul, sehingga tidak mengikuti perubahan.

Syakir menuturkan, konsep syariat terdiri atas sekumpulan orang yang ingin saling membantu, saling melindungi, saling menjamin dan bekerja sama dengan cara mengumpulkan dana. Berdasarkan konsep tersebut, Syakir percaya bahwa polis yang telah memenuhi fatwa MUI tidak haram ataupun mengandung unsur riba.

Terlepas dari polemik haram-halal, tujuh tahun sebelum fatwa diterbitkan, tonggak sejarah asuransi syariah hadri di Indonesia telah dimulai melalui pendirian PT Syarikat Takaful Indonesia (Asuransi Takaful), tepatnya pada 24 Februari 1994. Takaful menjadi perusahaan asuransi syariat pertama di Tanah Air.

Sejak itu, perusahaan konvensional mulai melirik produk ini karena pangsa pasar yang begitu luas. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Katadata, terdapat 263,92 juta jiwa penduduk Indonesia beragama Islam pada 2020. Tentunya, jumlah ini bukan nominal sedikit jika membandingkan dengan masyarakat Indonesia yang telah terproteksi tidak sampai 2 persen berdasarkan informasi Kompas pada 2018.

Dasar hukum syariah dalam al quran dan hadits

Dasar hukum asuransi syariah tercatat dalam hadis dan ayat dalam Al Quran, yaitu:

  • Al Maidah 2: “Dan tolong-menolonglah Anda dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”
  • An Nisaa 9: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap mereka.”
  • HR Muslim dari Abu Hurairah: “Barang siapa melepaskan dari seorang muslim suatu kesulitan di dunia, Allah akan melepaskan kesulitan darinya pada hari kiamat.”

Dasar hukum syariah menurut fatwa MUI

Dasar hukum asuransi syariah justru hadir sebagai solusi dari anggapan bahwa esensi asuransi bertentangan dengan syariat agama dan prinsip-prinsip di dalam agama itu sendiri. Itu sebabnya mulai 2001, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa asuransi syariah secara sah diperbolehkan dalam ajaran Islam.

Beberapa fatwa MUI yang mempertegas kehalalan asuransi syariah adalah:

  • Fatwa No 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.
  • Fatwa No 51/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Mudharabah Musytarakah pada Asuransi Syariah
  • Fatwa No 52/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Wakalah Bil Ujrah pada Asuransi Syariah dan Reasuransi Syariah
  • Fatwa No 53/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Tabarru pada Asuransi Syariah.

Dasar hukum syariah dari pemerintah

Asuransi syariah juga sudah diatur operasional dan keberadaannya melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.010/2010 tentang Prinsip Dasar Penyelenggaraan Usaha Asuransi dan Usaha Reasuransi dengan Prinsip Syariah.

Adapun beberapa ketegasan dasar hukum asuransi syariah dari Pemerintah ini bisa dilihat di BAB I, Pasal I nomor 1 hingga 3, yaitu:

  • Pasal 1 Nomor 1: Asuransi berdasarkan prinsip Syariah adalah usaha saling tolong-menolong (ta’awuni) dan melindungi (takafuli) di antara para nasabah melalui pembentukan kumpulan dana (tabbaru’) yang dikelola dengan prinsip syariah untuk menghadapi risiko tertentu.
  • Pasal 1 Nomor 2: Perusahaan adalah perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi yang menyelenggarakan seluruh atau sebagian usahanya berdasarkan prinsip syariah.
  • Pasal 1 Nomor 3: Nasabah adalah orang atau badan yang menjadi nasabah program asuransi dengan prinsip Syariah, atau perusahaan asuransi yang menjadi nasabah reasuransi dengan prinsip syariah.

Laporan keuangan asuransi syariah

Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 72/POJK.05/2016, tentang kesehatan keuangan perusahaan asuransi syariah minimum rasio solvabilitas atau RBC dalam laporan keuangan asuransi syariah adalah 120 persen. Artinya, jika Anda melihat laporan tahunan asurasni syariah rasio RBC nya berada di bawah 120 persen, maka kesehatan keuangan perusahaan tersebut dinyatakan kurang sehat.

Istilah-istilah dalam asuransi syariah

Ada beberapa istilah dalam produk jaminan berbasis syariat ini. Tentu istilah berikut tidak terlepas dari Bahasa Arab sehingga perlu dijelaskan maknanya agar bisa dipahami oleh semua peserta atau penerima manfaat.

  • Akad adalah perjanjian antara dua belah pihak yang mengatur tentang hak dan kewajiban masing-masing yang bersifat mengikat dan memiliki konsekuensi hukum jika tidak dijalankan atau dilanggar. Akad dilakukan antara penerima manfaat (peserta) dan perusahaan.
  • Akad mudharabah adalah perjanjian antara pihak pertama sebagai pemilik modal (shahibul maal) kemudian mempercayakan modal tersebut untuk dikelola oleh pihak kedua (mudharib) dengan perjanjian di awal. Modal sepenuhnya berasal dari pihak pertama sedangkan pihak kedua tidak menanamkan modal sama sekali hanya mengandalkan keahlian yang tidak dimiliki oleh pihak pertama.
  • Akad musyarakah adalah perjanjian antara pihak pertama dengan pihak kedua dengan modal yang berasal dari kedua belah pihak dengan perjanjian pembagian keuntungan atau kerugian berdasarkan seberapa besar porsi kontribusinya.
  • Akad mudharabah musytarakah adalah gabungan antara akad mudharabah dan musyarakah di mana modal berasal dari satu pemilik modal. Perbedaannya adalah kerugian yang terjadi hanya ditanggung oleh pemilik modal. Namun jika dalam perjalanan waktu bisnis yang dijalankan menguntungkan maka, pengelola boleh menambah modal untuk mengembangkan usahanya dengan perjanjian keuntungan berdasarkan porsi kontribusi yang diberikan. 
  • Akad tijarah adalah perjanjian yang dilakukan untuk kepentingan mencari keuntungan.
  • Akad tabarru’ adalah perjanjian hibah dalam bentuk pemberian dana dari peserta dengan tujuan untuk tolong menolong sesama dan tidak digunakan untuk tujuan investasi. Kumpulan dana dari para peserta asuransi ini dikumpulkan dalam satu rekening yang disebut dengan dana tabarru’
  • Wakalah bil ujrah adalah biaya administrasi pengelolaan dana yang dibebankan kepada peserta oleh pengelola (perusahaan). Pengelola tidak berhak mendapatkan bagian dari dana yang diinvestasikan jika menggunakan akad ini.
  • Kontribusi adalah istilah dalam proteksi syariat yang digunakan untuk menggantikan istilah premi peserta.
  • Qardh adalah pinjaman pengelola (perusahaan) dengan menggunakan dana tabarru’ saat terjadi defisit ketika ingin membayarkan santunan (klaim). Dana qard akan dikembalikan lagi oleh pengelola jika mengalami surplus dalam perhitungan underwriting di lain waktu.
  • Iuran tabarru’ adalah sebagian dana yang diambil dari kontribusi peserta asuransi. Dana ini nantinya digunakan untuk saling tolong menolong antar peserta asuransi yang mendapatkan musibah yang tidak diinginkan.
Penulis Clara Naomi Penulis yang memiliki pengalaman dalam bidang finansial dan asuransi. Menulis guna mendorong masyarakat sadar pentingnya pengaturan keuangan yang baik dan ideal. Lihat profile penulis
Chat Bantuan Chat Bantuan