Kata Siapa First Jobber Gak Bisa Investasi? Ini Buktinya!

Pekerja pertama kali gajian

Dapat gaji perdana sebagai first-jobber rasanya pasti senang dan bangga luar biasa. Akhirnya, merasakan mendapat uang imbalan hasil kerja keras sendiri bukan lagi pemberian dari orang tua. 

Persoalannya adalah bila tidak berhati-hati dalam mengelola keuangan, bisa fatal akibatnya kelak. Apalagi banyak kebutuhan untuk tetap update dengan tren, seperti ngopi, promo tiket traveling, sampai belanja gadget terbaru. 

Oleh sebab itu, perencanaan keuangan yang baik sejak awal menjadi sangat penting agar tetap bisa melakukan investasi, menabung namun juga tetap living the lifestyle sesuai kemampuan. Baca sampai habis artikel ini, lalu jalankan ya agar prinsip muda kaya tua hura-hura bisa diwujudkan. 

Panduan Alokasi Gaji Pertama First Jobber

Bicara investasi untuk first-jobber, mungkin akan membuat berpikir ‘Wah, uang pas-pasan, malah disuruh investasi? Masa nggak boleh bersenang-senang, sih dengan gaji pertama?’ 

Tentu saja boleh! Tidak ada yang melarang, untuk menikmati masa muda. Tapi jangan lupa bahwa gaji kita bukan hanya untuk hidup hari ini. Ada banyak keinginan di masa depan yang pasti ingin diwujudkan seperti punya kendaraan sendiri, beli rumah atau apartemen, modal untuk berbisnis, pergi liburan, naik haji dan seterusnya. 

Semua keinginan itu, bisa diwujudkan dengan mengikuti dan menjalankan panduan alokasi gaji berikut ini. 

1. Biaya rutin bulanan

Biaya rutin bulanan adalah biaya yang selalu dikeluarkan setiap bulannya. Seperti uang makan harian, transportasi, bayar kos, biaya telpon, internet atau membantu membayar rekening listrik di rumah orang tua. Biaya rutin ini merupakan pos terbesar dalam pengeluaran. Oleh sebab itu, alokasikan 40-45 persen penghasilan untuk biaya rutin ini. 

2. Tabungan

Sebagai first-jobber, selalu ingat untuk menyisihkan penghasilan untuk menabung. Ingat, menyisihkan bukan menyisakan. Untuk itu, alokasikan 10 persen untuk menabung sejak awal menerima gaji atau penghasilan. Jangan sampai menunggu uang sisa gaji untuk menabung.

Dengan menabung, kita bisa mewujudkan rencana jangka panjang yang membutuhkan biaya besar. Misalnya DP rumah atau kendaraan, dana liburan ke luar negeri dan lain sebagainya. 

3. Dana darurat

Selain menabung, jangan lupa untuk menyisihkan sebesar 5 persen gaji sebagai dana darurat. Kumpulkan dana darurat ini setiap bulannya hingga mencapai 3 hingga 6 kali pendapatan bulanan. Inilah dana darurat minimal yang perlu atau sebaiknya dimiliki oleh tiap orang. Dana darurat ini juga tidak boleh ditarik kecuali ada kebutuhan yang betul-betul mendesak.

4. Investasi

Usia muda bukan berarti mengabaikan investasi. Sebaliknya, sedari awal harus mulai berpikir mengenai bentuk investasi. Beberapa investasi untuk first-jobber adalah dana pensiun dan reksadana. Alokasi dana untuk investasi ini sebaiknya 10 persen.

5. Dana kesehatan

Yang tidak kalah penting untuk dialokasikan adalah dana kesehatan. Bagaimanapun, jangan anggap remeh soal dana untuk kesehatan. 

Oleh sebab itu, mulailah memilih asuransi kesehatan sejak mendapatkan gaji pertama. Apalagi bila kita tidak mendapatkan fasilitas asuransi kesehatan dari kantor atau tempat kita bekerja. Untuk dana kesehatan, anggarkan maksimal 5 persen dari penghasilan.

6. Zakat

Pengeluaran ini memang tidak wajib. Namun, ada agama yang memiliki ajaran untuk berbagi penghasilan kepada yang membutuhkan. Untuk pengeluaran zakat ini alokasikan sebesar 2,5 – 5 persen. 

7. Pengeluaran pribadi

Pengeluaran pribadi biasanya disebut sebagai pengeluaran gaya hidup karena sebagai pengeluaran-pengeluaran yang terkait dengan gaya hidup. Misalnya, nonton bioskop/konser, belanja pakaian, atau biaya makan di restoran. 

Biaya ini tetap penting untuk dialokasikan karena tak ada salahnya memberikan reward pada diri setelah bekerja lima hari dalam satu minggu. Namun, tetap batasi anggaran untuk pos ini sebesar 25 persen dari pendapatan bersih, ya.

Mengapa Harus Berinvestasi Sejak Muda?

Investasi sejak muda sebenarnya salah satu hal penting yang memang harus mulai dilakukan. Tak perlu berpikir terlalu rumit, karena strateginya tidak sesulit dan tidak semahal yang kita bayangkan. Yang pasti, ada empat alasan mengapa investasi sebaiknya dilakukan sejak muda, terutama para first-jobber.

1. Makin muda, makin cepat kaya

Dalam investasi, usia akan sangat berpengaruh. Semakin muda kita melakukan investasi, maka akan semakin banyak keuntungan yang diraih. Apalagi untuk para single yang belum berkeluarga, akan lebih leluasa menyisihkan pendapatan untuk investasi dibandingkan yang telah menikah atau berkeluarga. 

Investasi sejak usia muda juga menjadi momen yang tepat untuk berani mencoba berbagai macam instrumen investasi. Mulai dari investasi minim risiko hingga berisiko tinggi. Tapi tetap ingat prinsip kehati-hatian ya. Nanti saat 5-10 tahun menjelang pensiun barulah kita menjadi lebih selektif dalam memilih instrumen investasi berisiko rendah.

2. Antisipasi inflasi sejak dini

Apa sih hubungannya investasi dengan antisipasi inflasi? Ya, tentu saja ada. Menyimpan uang dalam bentuk tabungan memang kelihatannya paling aman. Namun, sadarkah bahwa bunga yang ditawarkan kecil sekali? Plus, kebanyakan bank kerap kali sekali memberlakukan potongan biaya administrasi yang tidak sedikit. 

Misal saja, salah satu bank memberikan bunga 0,7% per tahun bagi tabungan dengan saldo Rp0 hingga Rp50 juta di tahun 2019. Padahal, besar bunga yang diberikan tidak lebih besar dibanding dengan biaya adminstrasi. Lalu, bandingkan dengan inflasi dari Januari – September 2019 yang menurut Badan Pusat Statistik sebesar 2,2%. 

Bila demikian, apakah menguntungkan? Oleh sebab itu, bila ingin investasi dalam bentuk tabungan pilih bank yang memberikan bebas biaya administrasi dengan suku bunga yang lebih tinggi. Atau akan lebih baik bila diinvestasikan dalam bentuk deposito.

3. Meraih kebebasan finansial lebih cepat

Memiliki kebebasan finansial mungkin menjadi mimpi setiap orang. Namun, tidak semua orang bersedia untuk menjalani prosesnya. Padahal sebenarnya tidaklah sulit untuk mendapatkan kebebasan finansial. 

Pada dasarnya, ide dasar kebebasan finansial adalah mengubah penghasilan aktif menjadi penghasilan investasi dan penghasilan pasif. Penghasilan aktif adalah penghasilan yang didapat seseorang karena bekerja menghabiskan waktu, tenaga, pikiran dan keringat dengan uang. 

Sedangkan penghasilan investasi merupakan penghasilan yang didapat oleh seseorang, karena uang yang bekerja dan menghasilkan uang. Sebagai contoh adalah keuntungan yang didapat dari reksadana yang dimiliki. 

Sementara penghasilan pasif adalah penghasilan yang didapatkan oleh seseorang, karena aset miliknya bekerja dan menghasilkan uang. Misal, menyewakan rumah yang dimiliki.

Dengan tahu definisi ini, maka akan lebih mudah untuk menjadikan prioritas untuk mewujudkan kebebasan finansial. Semakin muda dalam investasi, maka akan semakin cepat uang bekerja untuk dirinya. 

Seperti kata pepatah, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Menahan diri untuk disiplin pada rencana investasi dan keuangan di masa muda, akan menguntungkan di masa tua. 

4. Lebih cepat mewujudkan mimpi

Saat mulai bekerja, atau bahkan mungkin saat masih di bangku kuliah, kita sudah mempunyai mimpi-mimpi seperti memiliki rumah, mobil, melanjutkan kuliah hingga S3 ataupun menikah. Nah, semua mimpi ini bisa diwujudkan dengan adanya perencanaan keuangan yang baik. 

Saat kita sudah punya tujuan atau mimpi yang ingin dicapai, mimpi tersebut akan lebih cepat untuk diraih dengan berinvestasi. Dengan rencana keuangan yang jelas dan tertata akan membuat kita lebih tenang dan fokus dalam menjalani kehidupan. 

Investasi yang Cocok untuk First-Jobber

Sekarang makin penasaran, ya? Oke, tanpa bertele-tele, berikut 4 investasi yang cocok dimiliki anak baru di dunia pekerjaan profesional!

1. Investasi reksadana

Salah satu jenis investasi untuk first-jobber adalah reksadana. Dengan reksadana, kita memercayakan dana kita kepada profesional yang sudah ahli serta tepercaya yang disebut sebagai manajer investasi. Selanjutnya, biarkan manajer investasi inilah yang akan mengurus semua dana kita.

Dengan sistem seperti ini, maka penting untuk mencari manajer investasi dan perusahaan kustodian yang berkualitas untuk meminimalkan risiko. Salah satu trik dalam investasi reksadana ini adalah dengan menempatkan dana di beberapa portofolio yang berbeda-beda. 

Seperti kata idiom, don’t put all your eggs in one basket. Dengan cara ini dinilai cukup efektif untuk meminimalisasi risiko buruk dalam investasi reksadana. Namun, jangan lupakan profil risiko tiap orang yang berbeda, ya

2. Deposito

Deposito adalah salah satu instrumen investasi untuk first-jobber yang relatif aman dan berisiko rendah. Investasi jenis ini dilakukan dengan cara mendepositkan sejumlah uang di dalam bank yang nantinya akan mendapat keuntungan dari bunga berdasarkan jumlah deposito. 

Setiap bank akan menawarkan skema bunga yang berbeda sesuai dengan jumlah deposito dan lama waktu penyimpanan, yang biasanya mulai dari triwulanan, semesteran, hingga satu tahun. Bunga yang diperoleh dari investasi berbentuk deposito ini lebih tinggi dari bunga tabungan. 

3. Investasi emas

Mengubah tabungan dengan berinvestasi dalam bentuk emas merupakan salah satu cara untuk mengurangi efek inflasi. Investasi jenis ini relatif aman dan menguntungkan karena harga emas cenderung stabil dan naik di setiap tahunnya. 

Namun, pastikan untuk memilih emas dalam bentuk batangan untuk investasi ini, bukan berupa perhiasan, ya. Pasalnya, emas batangan lebih mudah untuk dijual.

Karena nilai jual emas yang stabil bahkan cenderung naik, tidak ada salahnya rutin membeli emas supaya keuntungan terus meningkat. Apalagi kini terdapat fasilitas membeli emas dari pegadaian yang ada di sebuah marketplace. Makin memudahkan kita untuk investasi emas tanpa harus repot-repot membeli emas batangan fisik. 

4. P2P Lending

P2P Lending adalah salah satu bentuk investasi yang sedang booming belakangan ini. Pada dasarnya, konsep investasi P2P Lending ini mirip dengan sistem di marketplace. Platform P2P Lending menjadi tempat pertemuan atau hub antara investor dan penerima dana. 

Dalam P2P Lending, setiap individu bisa menyalurkan uangnya untuk ditanamkan ke UKM atau pengusaha mikro dalam bentuk pinjaman. Sebaliknya, pemilik usaha boleh mengajukan pinjaman kepada investor untuk pengembangan usaha dengan memberikan bunga pengembalian.

Lalu apa untungnya investasi dengan P2P lending? Sebagai investor, P2P Lending berani memberikan nilai return tinggi. Return ini ditentukan berdasarkan pertumbuhan usaha mikro yang didanai. Bagaimana dengan keamanannya? Biasanya, perusahaan P2P Lending memiliki proses seleksi peminjam dana dengan menggunakan metode credit scoring. Jadi, tidak sembarang pemilik usaha dapat diberikan pinjaman karena ada kriteria serta seleksi yang harus dijalani untuk memperkecil risiko gagal bayar. 

Nah, itu tadi berbagai jenis investasi untuk first-jobber atau karyawan pemula. Jadi bagaimana? Investasi mana yang akan dipilih? Pertanyaan yang tidak kalah penting untuk ditanyakan kepada diri sendiri adalah sudah siapkah menjadi first-jobber yang smart dan mandiri dengan displin pada perencanaan keuangan serta investasi sedari sekarang?

Selain investasi, jangan lupakan asuransi agar kondisi finansial dan kesehatan kita tetap terproteksi. Cek Lifepal sekarang yuk, marketplace tepercaya yang menawarkan berbagai produk asuransi terbaik yang khusus diperuntukkan keluarga dan karyawan sesuai bujet dan kebutuhan.