Lebih Kaya dari Orang Kantoran, 7 Cara Jadi Freelancer Tajir Melintir

Lebih Kaya dari Orang Kantoran, 8 Cara Jadi Freelancer Tajir Melintir

Lebih Kaya dari Orang Kantoran, 8 Cara Jadi Freelancer Tajir Melintir

Dengan zaman serba digital sekarang ini, kerja freelance tak kalah menarik dibandingkan kerja kantoran. Penghasilan menjadi seorang freelancer bahkan dapat melebihi penghasilan orang kantoran.

Lebih Kaya dari Orang Kantoran, 8 Cara Jadi Freelancer Tajir Melintir

Apalagi kalau kita jago “jual diri” dan punya networking yang luas, faktor tersebut membuka peluang untuk mendapatkan proyek baru. Semakin banyak proyek maka penghasilan pun meningkat.

Nah, yang menjadi masalah adalah penghasilan freelancer yang tidak menentu kadang bikin pusing. Saat nominalnya di bawah ekspektasi bikin kocar-kacir. Namun, saat lagi banyak uang malah bikin lupa diri. Akibatnya, meski banyak proyek tetapi penghasilan tidak kelihatan. Cita-cita kaya tak kunjung datang.

Di sinilah pentingnya pengelolaan keuangan yang benar. Kalau kita tidak bisa mengatur uang, ya bakal susah kaya meskipun penghasilan sangat besar. Apapun profesi kita.

Yuk, simak bagaimana rumus mengelola penghasilan khusus untuk Anda yang kerja freelance berikut ini.

1. Hitung Pemasukan dan Pengeluaran Enam Bulan Terakhir

Hitung Pemasukan dan Pengeluaran Enam Bulan Terakhir

Agar dapat melakukan pengalokasian dana dengan tepat, tentu saja harus tahu dulu berapa uang yang dimiliki. Karena status kita kerja freelance maka hitung pemasukan rata-rata enam bulan terakhir. Dengan demikian, terdapat patokan tertentu yang menjadi acuan.

Metode perhitungannya bisa dilakukan dengan dua cara ini:

  • Totalkan setiap pemasukan yang ada dalam sebulan terakhir. Kemudian, totalkan selama enam bulan terakhir. Bagi enam. Anda pun mendapatkan penghasilan rata-rata per bulan.
  • Atau, apabila Anda punya klien tetap maka totalkan saja penghasilan dari satu atau dua sumber tersebut sebagai acuan. Penghasilan di luar dari itu, Anda anggap bonus.

Setelah menghitung pos pemasukan, kini saatnya hitung pos pos pengeluaran Anda. Idealnya, pengeluaran bulanan rutin adalah 50 sampai 60 persen dari total penghasilan.

Jadi, kalau penghasilan rata-rata Anda dari kerja freelance adalah Rp10 juta, maka bujet pengeluaran rutin berkisar Rp5 juta.

Pengeluaran rutin bulanan bisa dibagi menjadi seperti contoh berikut:

  • Tempat tinggal: 15 persen, yaitu Rp1,5 juta.
  • Makanan: 25 persen, yaitu Rp2,5 juta.
  • Transportasi: 5 persen, yaitu Rp500 ribu.
  • Housing/utilities: 5 persen, yaitu Rp500 ribu.

Total menjadi Rp5 juta. Kini kita masih punya Rp5 juta lagi dengan status segala kebutuhan bulanan sudah terpenuhi.

2. Investasi, Dana Darurat, dan Pengeluaran Tak Terduga Wajib Saat Kerja Freelance

Investasi, Dana Darurat, dan Pengeluaran Tak Terduga Wajib Saat Kerja Freelance

Apapun profesi kita, memiliki investasi, dana darurat, dan dana dadakan adalah wajib. Namun, instrumen tersebut menjadi semakin urgen saat kita bekerja freelance. Karena penghasilan kita tidak menentu.

Secara ideal, berikut persentase pos-pos untuk dana tersebut:

Investasi

Sisihkan di awal 10 persen penghasilan untuk investasi. Tak perlu terlalu besar. Karena investasi memiliki risiko meskipun menguntungkan. Jadi, tak perlu kalap juga, ya.

Dengan hitungan kasar, sisihkan Rp1 juta saja per bulan maka dalam setahun kita punya Rp12 juta. Jika ditambah persentase keuntungan 10 persen saja, maka keuntungannya sampai Rp1,2 juta. Hanya dalam setahun, lho!

Dana darurat dan pengeluaran tak terduga

Dana darurat dan pengeluaran tak terduga menjadi salah satu pos paling wajib bagi pekerja freelance. Entah karena invoice terlambat atau job tiba-tiba diputus. Di sinilah peran dana darurat dan pengeluaran tak terduga.

Jumlah dana darurat biasanya adalah enam kali pengeluaran bulanan. Dari contoh kasus di atas, berarti kita harus punya Rp30 juta di tabungan.

Sementara itu, untuk pengeluaran tak terduga yang sifatnya tidak begitu urgen, Anda dapat sisihkan sekitar 5 persen penghasilan Anda. Berbeda dengan dana darurat yang digunakan apabila Anda harus kehilangan penghasilan, pos pengeluaran tak terduga biasanya digunakan untuk kebutuhan dadakan.

Misal, pengeluaran kecil seperti perbaikan kendaraan, patungan sumbangan, dan beberapa printilan lain. Atau, sebagai freelancer, pos pengeluaran dadakan ini dapat menutupi pengeluaran saat ada keterlambatan pembayaran dari klien.

3. Pisahkan Rekening untuk Pengeluaran Rutin dan Tabungan

Investasi, Dana Darurat, dan Pengeluaran Tak Terduga Wajib Saat Kerja Freelance

Agar Rp5 juta tadi aman, sebaiknya langsung pisahkan rekening sehari-hari dengan rekening untuk menabung. Jadi, kita dapat langsung memotong bujet bulanan rutin Rp5 juta di satu rekening khusus setiap bulan. Kemudian, sisanya tidak akan “disentuh”.

Jika sering kesulitan mengontrol diri untuk tidak boros, ada baiknya rekening khusus tersebut tidak menggunakan fasilitas kartu debit atau mobile banking.

4. Prinsip Penting: Saat Penghasilan di Atas Rata-rata, Anggap “Uang Hilang”

Prinsip Penting: Saat Penghasilan di Atas Rata-rata, Anggap “Uang Hilang”

Bagaimana jika ternyata di bulan tertentu penghasilan Anda jauh di atas rata-rata? Ibarat durian runtuh.

Anda dapat menggunakan dua prinsip ini: Pertama, anggap sebagai “uang hilang”. Kedua, anggap itu sebagai bonus atau THR.

Anda dapat menginvestasikan uang tersebut atau menggunakannya untuk kebutuhan hari-hari penting. Terserah pada Anda. Yang pasti, gunakanlah sebijak mungkin.

5. Miliki Asuransi

Miliki Asuransi

Sebagai freelancer, memiliki asuransi adalah hal paling wajib. Mengingat, Anda tidak bernaung di perusahaan yang biasanya memberikan benefit asuransi pada karyawannya.

Untuk alokasi asuransi, sisihkan sekitar 10 persen dari penghasilan Anda. Kira-kira Rp1 juta per bulan dapat dialokasikan untuk asuransi kesehatan dan jiwa. Baik asuransi sosial seperti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan dan asuransi swasta.

Misal, Anda dapat mengalokasikan Rp80 ribu untuk BPJS Kesehatan. Kemudian, sekitar 3 persen disisihkan untuk BPJS Ketenagakerjaan.

Anda masih punya dana sekitar 620 ribu untuk digunakan di asuransi swasta. Pilih yang memang Anda butuhkan. Jika saat ini Anda merasa cukup dengan BPJS Kesehatan, tak masalah. Namun, kalau ingin benefit lebih, Anda bisa padukan dengan asuransi swasta yang memiliki fasilitas coordination of benefit dengan BPJS.

Lifepal menyediakan program BPJS+, lho! Dengan premi mulai dari belasan ribu per bulan saja, Anda sudah memiliki perlindungan double antara asuransi swasta dan BPJS.

6. Sebisa Mungkin Hindari Utang. Kalau Tidak Bisa, Ikuti Aturan Ini

Sebisa Mungkin Hindari Utang. Kalau Tidak Bisa, Ikuti Aturan Ini

Penghasilan yang tidak menentu meski sebesar apapun, umumnya bikin insecure. Oleh karena itu, sebaiknya hindari utang. Dengan demikian, apabila terdapat kejadian tak terduga yang bikin penghasilan Anda berkurang atau bahkan tidak ada, Anda masih dapat bertahan. Pikiran Anda pun cukup fokus pada kebutuhan hidup saja.

Persentase utang yang masih ideal adalah maksimal 30 persen dari penghasilan. Namun, apabila Anda tidak berutang, 30 persen tersebut tentu bisa Anda gunakan untuk hal lain.

Masih menggunakan contoh di atas, sisa persentase untuk utang adalah 20 persen. Nah, 5 persen bisa Anda gunakan untuk menambah pos dana darurat. Jadi, dalam waktu 6 bulan saja, Anda sudah bisa mencapai target dana darurat Rp30 juta.

Kemudian, sisa 15 persennya dapat Anda satukan dengan bujet sewa rumah. Total 30 persen untuk rumah bisa Anda gunakan untuk KPR deh

Make sense, kan, cari rumah dengan cicilan Rp3 juta per bulan? 

7. Standar Hidup UMP Penghasilan CEO

Standar Hidup UMP Penghasilan CEO

Logikanya begini: Saat bergaji UMP sekalipun, Anda dapat tetap hidup, bukan? Sebagai contoh, bagi yang tinggal di Jakarta, UMP (Upah Minimum Provinsi) adalah Rp3,9 juta. Dengan penghasilan segitu, Anda seharusnya sudah bisa memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menabung.

Nah, harusnya dengan contoh gaji Rp10 juta yang disebutkan di awal, Anda punya lebih banyak dana untuk ditabung, investasi, dan asuransi. Bukan gaya hidup yang ditingkatkan, ya.

Lihat saja Warren Buffett. Meski Warren menjadi salah satu investor terkaya di dunia dengan harta US$ 84 miliar atau setara seribu triliun. Namun, dia masih tinggal di rumah tua dengan harga US$ 30 ribuan.

Kalau Anda mau mengikuti gaya hidup standar saja, dalam setahun sudah punya rumah deh! Contoh, Anda menggunakan 60 persen penghasilan untuk ditabung, investasi, atau asuransi. Anda punya Rp6 juta untuk itu. Hitung-hitungan kasarnya, Anda sudah bisa punya uang Rp72 juta dalam waktu setahun. Uang tersebut bisa Anda gunakan sebagai uang muka rumah.

Hmmm, beneran deh, impian menjadi freelancer tajir melintir dan merdeka finansial bakal terealisasi dalam waktu singkat!

Tips satu ini opsional sih. Setiap orang pasti punya standar biaya dan gaya hidup masing-masing ya.

Standar Hidup UMP Penghasilan CEO

Yang pasti, berapapun penghasilan Anda, apalagi yang kerja freelance, pintar-pintarlah mengatur persentase penggunaan uang. Bangga, ya, kalau orang bisa terheran-heran melihat Anda. Tidak pernah ke kantor tetapi bisa punya rumah, tidak khawatir terhadap biaya berobat saat sakit, dan bahkan bisa liburan kemanapun.

Helda Sihombing

Berpengalaman di industri FinTech dan jurnalis media finansial selama 5 tahun. Bercita-cita meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia lewat digital.