Kerja Lembur, Bahaya untuk Kesehatan Juga Keuangan

Kerja lembur bisa dibilang menjadi tren masyarakat modern yang bekerja di perkotaan. Bisa terlihat dari posting di berbagai media sosial mengenai lelucon kerja lembur.

Atau, jangan-jangan kita adalah salah satu orang yang sering kerja lembur? Sebenarnya sekali-sekali tidak masalah. Malah, kita bisa disebut orang yang loyal dan bertanggung jawab pada pekerjaan.

Hanya saja, kita perlu memikirkan diri sendiri juga, lho! Bahwa ternyata ada beberapa bahaya yang mengintai orang-orang yang sering lembur. Tak hanya dari sisi kesehatan saja tetapi juga berdampak pada keuangan kita.

Kok, bisa? 

Yuk, simak penjelasan berikut.

1. Sering Ngemil dan Pesan Makanan

snack roti wanita

Tak dipungkiri bahwa ketika kerja lembur, kita tergoda untuk makan lebih banyak. Ada beberapa faktor, yaitu: Tubuh memang mengisyaratkan untuk lebih sering lapar karena dipaksa bekerja. Kemudian, ada pula teman kerja yang demen ngemil. Jadilah, kita tergoda untuk makan dan makan.

Sering ngemil dan apalagi delivery makanan bukan cuma bikin badan menjadi lebih gemuk. Kemudian, bisa pula menyebabkan penyakit diabetes. Lebih daripada itu, dompet kita juga terkuras.

Ya iyalah ya. Coba hitung, yang seharusnya kita makan tiga kali sehari saja cukup. Kita malah makan sampai empat atau lima kali sehari. Baik karena ngemil atau makan ‘berat’.

Sebagai contoh, kita delivery makanan Rp35 ribu setiap malam selama lima hari kerja. Maka dalam seminggu, kita menambah bujet makan menjadi Rp175 ribu per minggu. Sebulan total Rp875 ribu. Duh! Setara biaya kos-kosan tanpa kipas angin tuh

2. Sakit Punggung

sakit punggung kerja lembur

Yang sering mengintai saat terlalu sering kerja lembur adalah sakit punggung. Apalagi kalau kita bekerja di ruangan yang notabene duduk seharian di kursi.

Mungkin terlihat sepele. Akan tetapi, sakit punggung nyatanya cukup menguras keuangan, lho. Kita harus rajin ke tukang pijit atau pesan GO-MASSAGE deh. Sekali pijat katakanlah keluar uang Rp75 ribu. Itu belum tip sekitar Rp10 ribu. Kita lakukan itu setiap minggu maka dalam sebulan, kita menghabiskan uang Rp340 ribu.

3. Meningkatkan Risiko Stres dan Depresi

stres kerja wanita

Risiko stres dan depresi adalah salah satu bahaya lain yang kerap diabaikan saat kerja lembur. Sadar tidak sadar, kita menjadi lebih cepat stres dan bahkan marah.

Seperti ponsel yang tidak di-charge full maka baterainya pun tidak akan bertahan sesuai standar waktu menyalanya, bukan? Begitu juga dengan tubuh kita. Jam tidur yang berkurang bikin tubuh kita tidak di-charge secukupnya.

Kalau sudah demikian, bukan cuma tidak baik bagi kesehatan mental tetapi kita perlu keluar uang lagi dan lagi. Bayar psikolog atau psikiater lumayan, lho

4. Risiko Kecelakaan Kerja

sepeda motor jakarta

Karena faktor lelah, risiko kecelakaan kerja pun menjadi lebih tinggi. Dilansir dari BBC, studi di Amerika Serikat mendapati bahwa potensi cedera saat kerja lebih tinggi dengan persentase 61 persen dibandingkan dengan tidak lembur.

Meski demikian, kita tetap harus punya proteksi kecelakaan kerja seperti misalnya BPJS Ketenagakerjaan atau asuransi kecelakaan diri ya. Sebab, risiko kecelakaan kerja tetap saja ada, baik sering lembur ataupun tidak. Nah, apalagi kalau kita lebih sering lembur.

5. Jadi Sering Naik Taksi

taksi online

Kebiasaan lain yang bisa saja kita lakukan saat kerja lembur adalah lebih sering pulang naik taksi. Karena kita sudah lelah naik kendaraan pribadi apalagi kendaraan umum. Selain itu, pulang malam juga menuntut kita untuk memilih kendaraan yang lebih aman. Yaitu sering kali akhirnya pilih taksi, baik taksi konvensional atau online.

Untuk kebiasaan ini, kita bisa saja harus berkorban ongkos yang lebih mahal daripada naik kendaraan pribadi atau umum. 

6. Risiko Sakit Makin Tinggi

kerja lembur sakit

Dengan segala akumulasi yang disebutkan sebelumnya, risiko sakit pun mengintai tubuh kita. Baik sakit ringan maupun penyakit-penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan hingga penyakit jantung.

Kalau sudah sakit, kita butuh ke dokter dong. Kalau sudah ke dokter atau rumah sakit tentu butuh biaya tertentu. Apalagi kalau sampai mengidap beberapa penyakit yang cukup parah. Biaya pengobatannya bisa menghabiskan ratusan juta. Belum lagi kalau tidak punya asuransi. Duh, tabungan dan investasi yang kita miliki bisa amblas.

Selain itu, kita malah tidak bisa produktif bekerja saat sakit, bukan? Akhirnya, pekerjaan malah terbengkalai.

Kerja lembur memang tidak salah. Seperti yang sudah disinggung di awal, hal tersebut malah menunjukkan betapa kita bertanggung jawab pada pekerjaan. Akan tetapi, bijaksana untuk mengatur ritme kerja kita dengan cara lebih tepat. Sehingga, badan tetap sehat dan kita bisa lebih produktif ke depannya.

Tags: ,
Helda Sihombing

Berpengalaman di industri FinTech dan jurnalis media finansial selama 5 tahun. Bercita-cita meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia lewat digital.