Pengertian Hibah Menurut Islam dan Negara

Pengertian Hibah

Secara sederhana, pengertian hibah adalah hadiah. Namun secara bahasa adalah pemberian secara sukarela kepada orang lain. 

Sewajarnya, hadiah diberikan saat pemilik masih hidup dan bukan saat sudah meninggal. Oleh karena itu, prinsip hibah berbeda dengan warisan. Selain itu, hadiah diasumsikan sebagai pemberian yang tanpa memandang hubungan pernikahan ataupun pertalian darah.

Pengertian Hibah dalam Beberapa Sudut Pandang

Pengertian Hibah dalam Beberapa Sudut Pandang

Indonesia sebagai negara muslim terbesar kerap mendasari norma tertentu dengan hukum Islam tertentu. Tidak heran jika terdapat beberapa bentuk kultur yang mirip yang terkesan islami.

Hibah menurut Islam

Khusus membahas soal hibah, Islam memiliki pemahaman yang serupa dengan asumsi masyarakat umum selama ini, yaitu hibah atau hadiah dapat diberikan kepada orang lain yang bukan saudara kandung atau suami/istri. 

Penerima hibah tidak diwajibkan memberikan imbalan jasa atas hadiah yang diterima sehingga tidak ada ketetapan apa pun setelah hibah diberikan ataupun diterima oleh orang lain.

Aturan negara terkait hibah

Namun jika dilihat dari hukum bernegara, hibah dapat dipermasalahkan jika wujud pemberian berupa uang dengan jumlah yang banyak atau barang yang sangat bernilai. 

Dalam hal itu, hibah harus disertai dengan bukti-bukti ketetapan hukum yang berlaku secara perdata agar tidak digugat oleh pihak ketiga termasuk oleh orang-orang yang termasuk ahli waris di kemudian hari.

Dalam hukum perdata pasal 166 dan pasal 1667 dijelaskan bahwa hibah atau pemberian kepada orang lain secara cuma-cuma tidak dapat ditarik kembali, baik berupa harta bergerak maupun harta tidak bergerak saat pemberi hibah masih hidup.

Teman Andalan Untuk Kebutuhan Asuransimu

  • Bandingkan lebih dari 100 polis
  • Konsultan terbaik di sisimu
  • Bantuan klaim gratis dan mudah
Rp
+62

Rukun Hibah Berdasarkan Hukum Islam

Rukun Hibah Berdasarkan Hukum Islam

Pada sisi pemahaman Islam, dikenal dengan istilah rukun atau syarat hibah, yang mana ketentuannya sebagai berikut.

  1. Kehadiran pemberi Hibah.
  2. Kehadiran penerima Hibah.
  3. Barang yang dihibahkan jelas terlihat, dapat berupa barang bergerak maupun barang tidak bergerak.
  4. Akad hibah, yaitu serah terima barang hibah antara pemberi dan penerima secara nyata dan ikhlas. 

Ketentuan-ketentuan Hibah di Mata Negara

Ketentuan-ketentuan Hibah di Mata Negara

Sebagaimana negara memiliki aturan dalam pemberian hibah, berikut adalah ketentuan yang harus dipenuhi perihal pemberlakuan hibah menurut hukum negara.

  1. Hibah berupa tanah dan bangunan harus disertai dengan akta dari pejabat pembuat akta tanah (PPAT), yaitu berupa akta hibah.
  2. Hibah tanah tidak dikenai PPh jika diberikan dari orang tua kepada anak kandung.
  3. Hibah tanah dikenai PPh sebesar 2,5% dari harga tanah berdasarkan nilai pasar (jika dilakukan antarsaudara kandung).
  4. Hibah berupa harta atau barang bergerak harus dilakukan dengan akta notaris.
  5. Hibah diberikan saat pemberi hibah masih hidup.
  6. Hibah yang diberikan saat pemberi sudah meninggal dunia disebut wasiat. Wasiat dapat dibuktikan dengan surat yang diakui secara perdata.
  7. Hibah harus diberikan pada penerima yang sudah ada atau sudah lahir, tidak bisa diberikan kepada penerima yang belum lahir.
  8. Pemberian hibah bersifat final dan tidak bisa ditarik kembali.

Pajak atas harta hibah

Lebih jauh lagi, negara juga memberlakukan pembebanan pajak atas orang atau badan yang memberikan atau menerima hibah, yaitu:

  1. Orang pribadi yang menerima harta hibah dari saudara kandung.
  2. Orang pribadi yang memiliki kekayaan lebih dari Rp500 juta 
  3. Orang pribadi yang memiliki hasil penjualan lebih dari Rp2.5 miliar per tahun.
  4. Badan keagamaan yang bertujuan mencari keuntungan.
  5. Badan pendidikan yang mencari keuntungan.

Bedakan antara Pengertian Hibah dan Wasiat

Bedakan antara Pengertian Hibah dan Wasiat

Masih terdapat salah kaprah antara hibah dan wasiat. Untuk itu Anda harus bisa membedakan antara hibah dengan wasiat. Pada dasarnya, hibah diberikan ketika pemberi masih hidup, sedangkan wasiat diberikan pada saat pemberi sudah meninggal dunia dalam bentuk harta warisan.

Seperti halnya ketentuan dalam wasiat, sebaiknya hibah tidak diberikan lebih dari sepertiga dari harta yang dimiliki.Hal tersebut dimaksudkan agar ahli waris tetap mendapatkan haknya dan bisa hidup layak sesuai dengan standarnya sebelum pewaris meninggal dunia.

Itulah hal-hal seputar pengertian hibah dari sisi pemahaman hukum perdata dan Islam. Baik di keduanya, tidak ada larangan seseorang memberikan hibah kepada orang lain asalkan didasari atas rasa sukarela atau keikhlasan. 

Jika Anda masih merasa bingung dengan pengertian dan penjelasan hibah di artikel ini, silakan hubungi tim kami di Lifepal.co.id yang siap membantu Anda. Kunjungi kami juga untuk mendapatkan konsultasi gratis tentang produk proteksi yang terbaik dan terjangkau sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial Anda. 

Tags:
Dzulfikar

Financial Content Writer yang mengemas informasi, tips, dan kiat keuangan dengan bahasa yang lebih mudah dicerna.