Kegunaan Surat Perjanjian Hutang dan Tips Membuatnya

surat perjanjian hutang

Surat perjanjian hutang atau SPH adalah acuan tertulis resmi yang melibatkan pemberi dan penerima pinjaman. Surat perjanjian ini bertujuan menghindari hal-hal yang dapat merugikan kedua belah pihak, baik pemberi ataupun penerima hutang.

Urgensi surat perjanjian ini cukup tinggi mengingat hutang-piutang, terutama uang dalam jumlah besar atau properti dalam dunia bisnis memungkinkan terjadi perselisihan. Misalnya saja dalam pinjaman uang, meski saling kenal atau bersaudara, tetap menyimpan risiko terjadinya perselisihan karena hutang.

Komponen dan Fungsi Surat Perjanjian Hutang

komponen surat perjanjian hutang

Sebelum membuat surat perjanjian hutang, kita perlu memahami terlebih dahulu mengenai arti hutang-piutang. Dalam pengertiannya, hutang-piutang adalah segala sesuatu yang menjadi hak milik pemberi pinjaman yang diberikan untuk jangka waktu tertentu kepada penerima pinjaman.

Penerima pinjaman berkewajiban mengembalikan hak milik pemberi pinjaman seperti uang atau properti.

Dalam dunia usaha ataupun kehidupan pribadi, hutang dibutuhkan untuk menutupi kekurangan dana. Tujuannya agar kebutuhan perusahaan atau pun kehidupan seseorang tetap bisa terpenuhi.

1. Komponen Surat Perjanjian Hutang

Dalam surat perjanjian hutang ini ada beberapa komponen yang harus dicantumkan. Baik hutang perorangan maupun perusahaan membutuhkan surat perjanjian seperti ini agar tidak merugikan salah satu pihak di kemudian hari.

Apa saja komponen dalam surat perjanjian hutang? Berikut poin-poinnya.

  • Pasal 1 yang berisi tentang perjanjian kerjasama untuk tujuan pembiayaan modal kerja sesuai nominal yang dipinjam dan pada tanggal/bulan/tahun pinjaman diberikan. Sebaiknya tuliskan keterangan waktu terkait secara lengkap dan jelas, ya.
  • Pasal 2 yaitu jangka waktu pengembalian yang disepakati kedua belah pihak. Di dalamnya juga berisi tenggang waktu pengembalian jika meleset dari tanggal waktu pengembalian yang telah ditentukan.
  • Pasal 3 berisi tentang jaminan dan kompensasi yang mencakup apa yang peminjam bisa jaminkan (misalnya aset properti, perusahaan, atau kendaraan) dan besaran kompensasi yang akan diterima pemberi pinjaman. Contohnya bunga yang dibayarkan bulanan atau tahunan dengan menyebutkan persentasenya dari jumlah pinjaman.
  • Pasal 4 berisi tentang jangka waktu perjanjian yaitu kapan masa berlaku hutang tersebut berakhir dan kesepakatan kedua belah pihak selesai.
  • Pasal 5 berisi tentang penyelesaian perselisihan termasuk caranya.

2. Fungsi surat perjanjian hutang

Salah satu fungsi utama surat perjanjian hutang adalah bukti autentik bagi pemberi pinjaman untuk menagih pinjaman. Sementara, bagi peminjam juga menjadi bukti autentik untuk sejumlah uang atau bentuk lainnya yang dipinjam dari pemberi pinjaman. Berikut fungsi lain dari surat perjanjian hutang ini.

  • Menjadi konfirmasi resmi pihak-pihak yang terlibat dalam hutang-piutang. Di dalam surat ini terdapat data dari pihak terkait untuk menghindari kesalahan identitas di kemudian hari, sehingga tidak ada saling tuduh selama periode hutang berjalan.
  • Menjadi konfirmasi besaran hutang dan waktu transaksi dilakukan. Di dalam surat ini memberi keterangan besaran hutang dan kapan harus dikembalikan atau jatuh tempo pengembalian.
  • Mencegah kecurangan salah satu pihak untuk menagih dalam jumlah lebih besar atau melebihi pinjaman yang disepakati sebelumnya (bagi pemberi pinjaman) atau mengelak dari pembayaran (bagi peminjam).
  • Menghindari perselisihan yang kemungkinan terjadi di kemudian hari. Karena itu, surat perjanjian harus memuat sedetail mungkin (sesuai pasal-pasal dalam komponen surat perjanjian hutang).
  • Menghindari berbagai risiko yang mungkin terjadi. Karena itu dibutuhkan tanda tangan kedua belah pihak di atas materai yang membuat surat tersebut berkekuatan hukum. Salah satu contohnya jika pihak pemberi atau peminjam meninggal dunia, maka perlu dijelaskan bagaimana skema pembayaran atau pelunasan hutang tersebut.

Faktor yang Memengaruhi Persetujuan Surat Hutang

faktor yang pengaruhi pinjaman

Sebagai pihak yang ingin mendapat pinjaman, kita harus tahu ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap keputusan pemberi pinjaman. Baik itu pinjaman bank, p2p lending yang berbasis teknologi finansial (fintech), atau layanan lain ada persyaratannya.

Rata-rata pemberi pinjaman akan mewajibkan kita memenuhi beberapa persyaratan atau menyertakan dokumen berikut ini.

  • Fotokopi kartu identitas diri seperti KTP, paspor, SIM, dan lainnya.
  • Menyertakan fotokopi Nomor Pokok Wajib pajak (NPWP).
  • Untuk hutang dengan tujuan usaha biasanya harus menyertakan fotokopi Akta Pendirian, surat perizinan usaha seperti Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP), rencana bisnis, hingga laporan keuangan perusahaan.

Setelah kita memenuhi semua persyaratan ini, kita tidak langsung mendapat pinjaman. Terutama dari bank. Biasanya masih ada proses lain seperti evaluasi dokumen dan tujuan penggunaan pinjaman atau hutang.

Berikut faktor-faktor yang memengaruhi persetujuan surat hutang.

  • Karakter calon peminjam, yaitu riwayat kredit di perbankan yang diperoleh dari wawancara langsung. Tujuannya mengetahui kemampuan dan kemauan kita membayar hutang tersebut.
  • Kondisi ekonomi yang tengah terjadi di negara tempat bisnis kita beroperasi.
  • Kekayaan bisnis yang menunjukkan aset yang dimiliki dan bisa dijadikan jaminan jika peminjam gagal bayar. Kekayaan bisnis memengaruhi jumlah pinjaman yang diberikan.
  • Kapasitas, yaitu pemberi pinjaman akan menilai calon peminjam dari berbagai faktor yaitu riwayat bisnis, rencana bisnis, hingga laporan keuangan. Salah satu tips biar pinjaman cair adalah memiliki laporan keuangan yang tersusun rapi.
  • Jaminan aset yang biasanya akan diminta pemberi pinjaman. Dalam berbagai platform pinjaman, jaminan aset menjadi kewajiban yang harus disebutkan calon peminjam. Jika kita tidak mampu membayar, biasanya pihak pemberi pinjaman akan menyita aset yang kita daftarkan.

Tips dan Contohnya

tips buat surat perjanjian hutang

Dalam menulis surat perjanjian hutang ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Bukan cuma komponen yang berisi pasal, tetapi ketelitian kedua belah pihak menyangkut hak dan kewajiban.

Salah satu yang perlu diperhatikan adalah hutang yang akan diambil sebaiknya untuk kebutuhan modal usaha. Jadi, uangnya diputar bukan untuk kebutuhan pribadi atau konsumtif. Prinsip ini harus dipegang agar kita tidak memiliki banyak hutang dan semua pendapatan hanya akan habis untuk membayar hutang.

Berikut tips yang bisa jadi pertimbangan kita.

  1. Komponen yang harus dicantumkan. Minimal lima pasal dalam komponen surat perjanjian hutang terpenuhi. Tidak hanya terpenuhi, tetapi jelas, detail, dan mudah dipahami kedua belah pihak.
  2. Hitung dana yang dibutuhkan. Meski aset berlimpah dan penjualan luar biasa, jangan tergoda untuk meminjam terlalu besar. Sebaiknya kita menyesuaikan dengan kebutuhan dana.

Biasanya bank atau fasilitas pinjaman lain yang mengetahui aset dan penjualan kita terbilang bagus akan merayu untuk mengambil hutang lebih besar. Usahakan untuk membuat perencanaan anggaran dahulu. Jika memang belum dibutuhkan, lebih baik dihindari.

  1. Hitung keuntungan dari penjualan untuk mengetahui besaran hutang (uang) yang bisnis kita butuhkan. Dengan menghitung keuntungan dari penjualan kita bisa memprediksi rasio keuntungan.

Fungsinya adalah prediksi rasio keuntungan penjualan yang lebih besar dari bunga pinjaman (hutang) berarti bisnis yang kita jalani punya peluang bagus mendapatkan pinjaman dana usaha.

Contoh surat

SURAT PERJANJIAN HUTANG PIUTANG

Pada hari ini, Rabu (11 September 2019), kami yang bertanda tangan di bawah ini setuju membuat Surat Perjanjian Hutang Piutang, yaitu:

Nama        : Alejandro

Umur        : 35 tahun

Pekerjaan    : Aktor

Alamat        : Jalan Jl Doang Jadian Kagak 17, Cisalak, Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat.

Untuk selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA

Nama        : Mimin

Umur        : 40

Pekerjaan    : Direktur PT Kecap Asin Nasional, Jakarta

Alamat        : Jalan Mawar Melati Semua Indah 203, Jakarta

Untuk selanjutnya disebut PIHAK KEDUA

Maka melalui surat perjanjian ini disetujui oleh kedua belah pihak ketentuan-ketentuan sebagaimana tercantum di bawah ini:

  1. PIHAK PERTAMA telah menerima uang Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah) dari PIHAK KEDUA dimana uang tersebut adalah hutang atau pinjaman.
  2. PIHAK PERTAMA bersedia memberikan jaminan yaitu sertifikat rumah yang nilainya dianggap sama dengan uang pinjaman dari PIHAK KEDUA.
  3. PIHAK PERTAMA berjanji akan melunasi uang pinjaman kepada PIHAK KEDUA dengan tenggang waktu 12 (dua belas) bulan terhitung sejak ditandatanganinya Surat Perjanjian Hutang ini.
  4. Apabila nantinya di kemudian hari ternyata PIHAK PERTAMA tidak dapat membayar hutang tersebut, maka PIHAK KEDUA memiliki hak penuh atas barang jaminan baik untuk milik pribadi maupun dijual kembali kepada orang lain.
  5. Surat Perjanjian ini dibuat dalam 2 (dua) rangkap dan masing-masing bermaterai cukup dan memiliki kekuatan hukum yang sama. Masing-masing surat untuk PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA.
  6. Surat Perjanjian dibuat dan ditandatangani oleh kedua belah pihak secara sadar dan tanpa tekanan dari pihak manapun di tempat dan waktu penandatanganan Surat Perjanjian ini.

Demikian Surat Perjanjian Hutang ini dibuat bersama di hadapan saksi-saksi dalam keadaan sehat jasmani dan rohani untuk dijadikan pegangan hukum bagi masing-masing pihak.

PIHAK PERTAMA                        PIHAK KEDUA

TTD                                                 TTD

(Alejandro)                                     (Mimin)

Para Saksi (dua dari PIHAK PERTAMA, dua dari PIHAK KEDUA)

Nama            Tanda tangan

  1. Picasso      ………………….
  2. Stefanie     ………………….
  3. Sukma       ………………….
  4. Lambretta ………………….

Dengan penjelasan ini semoga kita semakin mudah dan teliti dalam memberikan hutang atau piutang, seperti uang. Tentunya kita tidak ingin rugi di kemudian hari karena tidak membuat surat perjanjian hutang, bukan? Semoga bermanfaat dan selamat mencoba!