Pengertian Wakaf, Hukum, dan Syaratnya

Pengertian Wakaf dan Hukum Wakaf

Kata wakaf diambil dari bahasa Arab yang berarti berhenti. Maksudnya, menghentikan hak atas harta pribadi dan diserahkan agar manfaatnya bisa dinikmati masyarakat.

Contoh sederhana adalah wakaf tanah. Artinya, tanah tersebut tidak bisa bisa diperjual-belikan kembali, namun lahannya masih bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat, seperti lahan pemakaman, lahan pembangunan masjid, pembangunan sekolah atau rumah sakit, dan lain-lain.

Tidak hanya sebatas perihal tanah saja, wakaf bisa berupa kepemilikan harta benda lain, seperti binatang ataupun uang. Saat ini yang paling mudah adalah wakaf harta atau wakaf uang. Uangnya bisa dimanfaatkan untuk pembelian tanah ataupun mendirikan bangunan yang nantinya dimanfaatkan untuk umat atau kepentingan umum.

Hukum Wakaf

Hukum Wakaf

Wakaf sangat dianjurkan oleh agama Islam. Wakaf juga dikategorikan sebagai infaq di jalan Allah. Di antara ayat-ayat yang menganjurkan berwakaf seperti disebutkan dalam Quran Surat Al-Baqarah (2) ayat 261 dan 267 serta Surat Ali Imran (3) ayat 92. 

Orang-orang yang berwakaf dijanjikan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Ada terdapat banyak kisah pada zaman Nabi Muhammad SAW yang menceritakan tentang kisah para sahabat yang mewakafkan hartanya demi fakir miskin dan orang-orang yang lebih membutuhkan. 

Oleh karena itu, sebagian besar ulama berpendapat bahwa hukum wakaf adalah sunah. Sunah berarti mendapatkan pahala apabila dikerjakan dan tidak apa-apa jika tidak dilakukan. 

Syarat dan Rukun Wakaf

Syarat dan Rukun Wakaf
muhammadiah.or.id

Setidaknya ada empat syarat wakaf, yaitu:

    1. Ada kejelasan perihal orang yang mewakafkan hartanya. Orang yang melakukan wakaf disebut wakif.
    2. Harta yang diwakafkan terlihat dengan jelas.
    3. Ada pihak yang berhak menerima manfaat harta wakaf (mauquf alaih).
    4. Mengikrarkan wakaf.

Selain itu ada unsur lain, seperti nazir atau penerima amanah yang diberikan kepercayaan untuk mengelola harta wakaf.

Tata Cara Melakukan Wakaf

Tata Cara Melakukan Wakaf
elvianada.blogspot.com

Wakaf bisa berupa harta bergerak ataupun harta tidak bergerak seperti tanah. Adapun cara berwakaf keduanya pun berbeda.

Wakaf Tanah

    • Wakif mendatangi KUA membawa KTP dan dokumen tanah.
    • Ikrar kepada nazir di hadapan ketua KUA disaksikan oleh penerima wakaf dan minimal dua saksi lain.
    • Kepala KUA akan memberikan akta ikrar wakaf, membuat ikrar wakaf, dan membuat surat pengesahan nazir.
    • Kepala KUA memberikan salinan akta ikrar wakaf kepada wakif dan nazir.
    • Nazir membawa dokumen tanah wakaf ke kantor Badan Pertanahan Nasional serta dokumen-dokumen wakaf lainnya untuk melakukan pencatatan. 

Wakaf Uang

    • Pemohon mendatangi Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang.
    • Pemohon mengisi Akta Ikrar Wakaf. 
    • Wakif menyetorkan uang ke nomor rekening nazir sesuai dengan nominal yang dikehendaki.
    • Wakif mengucapkan ikrar wakaf dan menandatangani Akta Ikrar Wakaf.
    • Bank mencetak sertifikat wakaf uang (SWU).
    • Wakif menerima akta ikrar wakaf dan sertifikat wakaf uang dari Bank.

Berdasarkan UU No 41/2004 pasal 28, saat ini baru ada lima bank yang ditetapkan Menteri Agama sebagai Lembaga Syariah Penerima Wakaf Uang, yaitu:

    1. Bank Muamalat Indonesia.
    2. Bank Syariah Mandiri.
    3. BNI Syariah.
    4. Bank DKI Syariah.
    5. Bank Mega Syariah.

Keistimewaan Wakaf

keistiewaan wakaf
muslimobsession.com

Wakaf merupakan salah satu bentuk kepedulian sosial seorang muslim. Oleh karena itu, memiliki keistimewaan tersendiri di mata agama.

Keistimewaan inilah yang menjadikan harta wakaf termasuk amal jariyah. Amal jariyah diartikan sebagai apa pun amal dan perbuatan seseorang di semasa hidupnya yang bermanfaat bagi masyarakat. Sebagaimana masyarakat terus-menerus mendapatkan manfaat wakaf, maka wakif pun mendapatkan pahala tanpa henti, bahkan setelah dia meninggal dunia.

Oleh karena itu, beberapa orang berpendapat sebaiknya mewakafkan barang yang manfaatnya tidak akan habis, seperti tanah, bangunan, buku-buku, dan lain sebagainya yang manfaatnya bisa dirasakan dari generasi ke generasi.

Sebagaimana status kepemilikan tanah wakaf berbeda dengan tanah milik pribadi atau instansi pada umumnya, maka berbeda juga dengan surat jual beli tanahnya.

Tags:
Dzulfikar

Financial Content Writer yang mengemas informasi, tips, dan kiat keuangan dengan bahasa yang lebih mudah dicerna.