Pengertian Zakat Penghasilan dan Cara Penghitungannya

Hukum Zakat Penghasilan

Hukum Zakat Penghasilan

Zakat penghasilan adalah salah satu jenis zakat mal atau zakat harta. Jenis zakat ini dapat dikeluarkan setiap bulan atau setiap tahun sesuai nisabnya.

Makna dari zakat penghasilan adalah zakat yang dikeluarkan dari pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan atau pendapatan hasil profesi yang tidak melanggar ketentuan syariat. Dengan kata lain, pendapatan yang diterima haruslah halal untuk bisa dikeluarkan sebagai zakat.

Hukum Zakat Penghasilan

Zakat Penghasilan

Seperti halnya pajak, ada syarat dan ketentuan pengeluaran zakat penghasilan. Jika dalam pajak negara, penghasilan tidak kena pajak atau PTKP adalah penghasilan setara atau di bawah Rp54 juta per tahun.

Sedangkan dalam zakat penghasilan, seorang muslim yang pendapatan atau gajinya di bawah Rp5.240.000 per bulan tidak diwajibkan untuk membayar zakat penghasilan. Nisab atau batas tersebut didasari Peraturan Menteri Agama No. 52/2014 yang dikuatkan dengan pendapat ulama besar Shaikh Yusuf Qaradawi.

Secara sederhana, nisab zakat penghasilan diperumpamakan dengan zakat pertanian senilai 653 kilogram gabah atau 524 kilogram beras. Zakat ini pun tidak dikenai haul seperti halnya zakat pertanian yang wajib dibayarkan langsung saat panen atau mendapatkan hasil tanam. 

Menurut sebagian ulama, hukumnya adalah wajib. Namun demikian, masih ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukumnya. Pada prinsipnya, zakat dapat dikeluarkan saat kebutuhan dasar sudah terpenuhi dan ada kelebihan yang bisa dibagikan kepada yang orang-orang berhak

Cara Penghitungan Zakat Penghasilan

Cara Penghitungan Zakat Penghasilan
mizakat.or

Ukuran nisabnya kemungkinan akan berbeda-beda sebagaimana disandarkan pada takaran 524 kilogram beras atau yang setara dengan itu. Sebagai contoh, jika standar beras yang digunakan seharga Rp8.500 per kilogram, maka nisabnya adalah Rp8.500 x 524 = Rp4.454.000.

Agar lebih mudah, penghitungannya bisa menggunakan harga beras yang dikonsumsi sehari-hari. Jika terbiasa mengonsumsi beras seharga Rp9.000 per kilogram, maka penghitungannya bisa berdasarkan harga beras tersebut.

Contoh 1

Sebagian orang menyandarkan takaran nisab pada emas seberat 85 gram yang di setahunkan. Misalnya, harga emas saat ini Rp630 ribu x 85 gram = Rp53.550.000. 

Artinya jika gaji Anda selama satu tahun mencapai Rp53.550.000, maka Anda sudah wajib mengeluarkan zakat sebesar Rp1.338.750 per tahun atau sekitar Rp111.562 per bulan. Apalagi jika gaji Anda sudah melebihi dari itu setiap tahunnya.  

Contoh 2

Penghitungan zakat penghasilan yang menyandarkan pada nisab pertanian pun tidak kalah mudah, yaitu jumlah pendapatan per bulan dikalikan dengan 2,5%. Misalnya, gaji yang Anda terima setiap bulan adalah Rp7 juta (nisab yang digunakan adalah RpRp5.240.000), maka penghitungan zakatnya adalah Rp7 juta x 2,5% = Rp175 ribu.

Zakat penghasilan Anda sebesar Rp175.000 per bulan bisa dibayarkan melalui lembaga amil zakat agar pemanfaatan dan penyalurannya benar-benar diberikan kepada golongan orang yang berhak menerima zakat

Zakat ini pada dasarnya merupakan ijtihad para ulama masa kini sehingga kemungkinan besar akan ada perbedaan perihal hukum maupun penetapan nisabnya. 

Akan tetapi, melihat esensi pentingnya zakat sebagai salah satu jalan untuk mensucikan harta dan menolong kaum dhuafa, maka tidak ada salahnya jika setiap bulan sekali Anda sudah menyisihkan zakat dari pendapatan kotor yang Anda dapatkan setiap bulan tanpa perlu menguranginya dengan kebutuhan dan utang.

Cari tahu juga macam-macam zakat untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas mengenai pemenuhan zakat di Lifepal.