Kisah Inspiratif Angkie Yudistia, CEO Cantik Penyandang Disabilitas

Angkie Yudistia (Instagram)

Menjadi penyandang disabilitas, Angkie Yudistia paham betul sulitnya mendapatkan kesempatan bekerja maupun berkarya. Pasalnya, banyak perusahaan masih memandang sebelah mata, dan meragukan kemampuan penyandang disabilitas.

Menurut penelitian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas pada akhir 2016, penyandang disabilitas yang memiliki pekerjaan hanya sekitar 51,12 persen. Sementara penyandang disabilitas diperkirakan mencapai 12,15 persen dari populasi.

Artinya, sekitar 6 persen dari populasi secara tidak langsung juga tidak bisa memberi dampak positif pada perekonomian Indonesia.

Pemerintah dalam UU No.8 tahun 2016 sebetulnya telah mewajibkan perusahaan memiliki kuota 1-2 persen untuk pekerja penyandang disabilitas. Namun, tak sedikit perusahaan yang belum menerapkan aturan ini atau tidak memiliki akses menggapai para penyandang disabilitas untuk direkrut sebagai karyawan mereka.

Atas dasar itulah, Angkie Yudistia tergerak mendirikan ThisAble Enterprise yang memiliki beberapa visi misi, salah satunya sosial bisnis for society profit yang mengangani CSR bagi anak-anak difabel. Melalui wadah tersebut, pihaknya membantu mencari perusahaan yang bisa menerima difabel untuk ditempatkan bekerja.

Seperti apa perjalanan hidupnya hingga bisa menjadi seorang CEO muda? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Bermula dari demam tinggi

Angkie tidak terlahir sebagai penyandang disabilitas. Angkie kecil masih menjalani hidupnya seperti biasa sampai berusia 10 tahun.

Semua bermula saat ia menderita demam tinggi. Sesuai anjuran dokter, ia pun meminum antibiotik untuk meredakan demam. Namun, sayang, ia justru mengalami penurunan fungsi pendengaran hingga menjadi tuli di usia 10 tahun.

Angkie pun menggunakan alat bantu dengar untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain. Saat berkomunikasi, ia juga harus melakukannya secara face to face untuk dapat memahami maksud lawan bicara dengan membaca gerak bibir mereka.

Jadi sasaran bully karena Tuli

View this post on Instagram

Terus terang beberapa hari ini aku bener-bener gak bisa mengontrol emosi aku sebagai #Ibuhamil VS #workingmom. Karena banyak hal yang gak bisa aku handle dan justru semakin membuat aku uring-uringan sendiri . bagaimana aku menyikapinya? Aku coaching dengan beberapa orang yang menurutku tangguh dibidangnya masing-masing. Karena aku butuh belajar dari beberapa pandangan banyak hal. And it works for me. Kuncinya adalah setelah coaching bukan tentang menerima ilmu baru tapi juga berani untuk melakukan tindakan. Hidup kita ini akan jauh lebih bermakna ya ketika saling meng-empowerment 🙂 lingkungan yang mendukung kita, menjadikan kita kaya rasa akan kehidupan ❤️ . #womanwithdisability #AYpregnancydiary #empowerment #woman #babynumber2

Agen Asuransi Mitra Lifepal
Agen Asuransi Mitra Lifepal

A post shared by AY • #womanwithdisability (@angkie.yudistia) on

Meski menyandang disabilitas, Angkie tetap mengenyam bangku pendidikan di sekolah umum. Namun, risiko yang harus ia terima cukup tinggi. Bukan karena sulitnya memahami pelajaran sekolah, tapi hinaan serta aksi bully yang ia dapat dari orang-orang di lingkungan sekolahnya.

Beruntung, didikan kedua orangtuanya membuat Angkie menjadi pribadi yang pemberani. Kondisi ini membuat ia perlahan jadi percaya diri. Ia bahkan mantap memilih kuliah jurusan Komunikasi di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Menjadi perempuan yang kaya prestasi

Setelah meraih gelar sarjana, ia meneruskan studinya ke jenjang S2. Angkie menyadari harus memiliki skill yang bisa memberinya value lebih dibanding orang lain.

Selama kuliah, ia juga berani mencari kesempatan mengikuti pemilihan Abang None Jakarta tahun 2008 dan menjadi finalis dari Jakarta Barat. Ia juga pernah menjadi salah satu delegasi Indonesia pada Asia-Pacific Development Center of Disability di Bangkok, Thailand.

Pernah ditolak puluhan perusahaan

Agen Asuransi Mitra Lifepal
Agen Asuransi Mitra Lifepal

Menjadi tuli tantangan bagi Angkie saat ingin merintis kariernya. Usai menyelesaikan pendidikannya, ia merasakan sulitnya mencari pekerjaan. Hal yang sering dialami para penyandang disabilitas di negeri ini.

Angkie ditolak hingga puluhan perusahaan, salah satunya dengan alasan karena tak bisa menjawab telepon dengan keterbatasan yang ia punya. Tapi, Angkie tidak menyerah hingga berhasil diterima bekerja di sebuah perusahaan multinasional.

Tergerak untuk menghentikan diskriminasi

Melihat dari pengalamannya sendiri dan para penyandang disabilitas di sekitarnya, Angkie merasa tak bisa tinggal diam dengan hanya menjadi karyawan.

Ia pun bertekad memberdayakan penyandang disabilitas. Menurutnya, mereka mampu berkarya dan menjadi produktif tapi sulit mendapatkan kesempatan untuk menunjukkannya.

Atas dasar itu, ia mendirikan Thisable Enterprise. Perusahaan ini menyediakan berbagai program peningkatan skill sekaligus bekerja sama dengan perusahaan lain untuk penyerapan tenaga kerja. Sedikitnya, sudah ada 7.000 penyandang disabilitas yang mendaftarkan diri melalui Thisable Enterprise dan siap bekerja.

Ia berharap penyandang disabilitas tidak lagi dikasihani melainkan dibutuhkan keberadaannya atas karya berupa produk atau jasa yang mereka ciptakan.

Kini, melalui Thisable Enterprise telah banyak penyandang disabilitas yang mampu hidup mandiri secara ekonomi. Salah satunya adalah Munsia yang aktif menawarkan jasa pijat melalui fitur GoLife dari GO-JEK dan pengajar terapis di sebuah yayasan.

Angkie Yudistia adalah bukti apa yang dianggap sebagai kekurangan dapat diubah menjadi peluang kesuksesan di masa depan. Di sisi lain, ia juga menginspirasi banyak orang untuk tak hanya sekadar mendirikan usaha tapi juga menyediakan solusi bagi masalah banyak orang. Gimana menurutmu?

 

 

Agen Asuransi Mitra Lifepal
Agen Asuransi Mitra Lifepal
Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →