Apakah Kamu Termasuk Seorang Pembeli Impulsif? Kalau Iya, Ini Solusinya

seorang pembeli impulsif

Pernahkah kamu mengalami momen berada di pusat perbelanjaan lalu tanpa sadar sudah menenteng tas belanjaan? Kalau jawabannya pernah, selamat! Itu artinya kamu sudah melakukan pembelian impulsif.

Ini bukan hal yang positif ya. Pembelian impulsif itu adalah pembelian tanpa rencana. Dorongan untuk melakukan kegiatan yang satu ini sulit banget ditahan. Biasanya terjadi secara spontan saat sedang melihat produk tertentu.

Mesti waspada kalau kamu sering melakukan hal ini, karena ini menyangkut urusan keuangan. Kalau berkepanjangan dan gak diantisipasi, bukan gak mungkin finansial kita jadi morat-marit kayak habis kena angin ribut.

Gak mau kan tujuan keuangan di masa depan jadi amburadul karena gak mampu mengendalikan kebiasaan belanja impulsif ini?

Sama halnya kayak penyakit yang mesti ditelusuri dulu asal muasalnya sebelum diobati, kamu juga harus mengetahui penyebab munculnya kebiasaan impulsif ini jika ingin memperbaikinya. Berikut ini mungkin beberapa hal yang menjadi pemicu kebiasaan impulsifmu:

1. Merasa hidup ada yang gak lengkap (hampa)

seorang pembeli impulsif
Hampa serasa kayak diluar angkasa (Astronot / shutterstock)

Orang yang merasa hampa alias merasa ada sesuatu yang gak lengkap dalam hidupnya, cenderung melampiaskan rasa itu dengan cara berbelanja. Mereka merasa kekosongan dalam hidup tersebut dapat diisi dengan membeli barang-barang.

Perasaan “komplit” yang didapat tiap berbelanja itulah yang akhirnya mendorong mereka untuk sering melakukan pembelian impulsif.  

2. Kebiasaan

Ingat pepatah yang mengatakan “Bisa karena biasa” kan? Sesuatu yang dilakukan berkali-kali, tanpa sadar bisa berubah jadi kebiasaan loh. Sama halnya dengan belanja.

Sekali saja melakukan pemebelian impulsif, bisa keterusan dan menjadi kebiasaan. Sampai akhirnya merasa gak ada yang salah dengan membeli barang secara impulsif, karena ya sudah biasa.

3. Meningkatkan status sosial atau rasa percaya diri

Masih banyak lho orang yang merasa harus banget meningkatkan status sosial agar bisa diterima di sebuah kalangan tertentu. Demi tujuan ini, segala hal pun dilakukan, termasuk menjadi impulsive buyer.

4. Sebagai pembuktian kalau kita “mampu”

Gak jarang di antara kita tanpa sadar menjadi impulsive buyer hanya karena ingin membuktikan ke diri sendiri bahwa kita mampu membeli barang tertentu.

Rasa puas bakal diperoleh setelah berhasil membawa pulang barang belanjaan tersebut. Padahal mungkin barang tersebut hanya akan berakhir di gudang.

Nah, setelah tahu alasannya, barulah kemudian kita bisa mengendalikan kebiasaan ini. Ini dia 7 caranya:

1. Jauhi situasi yang picu hasrat belanja impulsif

Cara ampuh yang bisa dicoba untuk mengurangi kebiasaan belanja impulsif adalah menghindari situasi yang bisa memicu hasrat belanja impusif itu sendiri.

seorang pembeli impulsif
Ssst…udahlah, pura-pura gak lihat aja kalau ada barang yang menggoda (Wanita / tribunnews)

Ini bisa dengan menghindari pergaulan teman-teman yang suka mengajak belanja, atau sengaja menghindar berkunjung ke pusat-pusat perbelanjaan.

Kalau sadar diri punya kelemahan setiap lihat barang-barang bagus di mall, ya kurang-kurangin aktivitas ke mall. Puasa juga buka situs-situs belanja online.

2. Selalu buat daftar belanja

Mulai sekarang jangan malas untuk membuat daftar belanjaan deh. Mulai dari belanja harian, mingguan, sampai bulanan. Susun berdasarkan skala proritas.

Setiap akan berbelanja, selalu bawa daftar tersebut dan taati. Ibaratnya sama saja dengan rambu-rambu lalu lintas deh. Tanpa daftar belanja, bisa jadi kita gak punya batasan dalam membeli barang-barang dan berakhir dengan pengeluaran yang sia-sia.

3. Belajar menunda untuk membeli

Ada yang harus kamu ketahui nih. Menunda atau mengulur waktu sehari saja (1×24 jam) sebelum memutuskan membeli sesuatu, bisa lho menyelamatkan kita dari pengeluaran yang sebenarnya sia-sia alias pemborosan belaka.

Dengan gak langsung memutuskan membeli sesuatu, kita bisa mendapat waktu untuk benar-benar berpikir. Coba dipilah lagi apakah barang yang akan kita beli itu benar-benar bermanfaat atau hanya khilaf semata?

4. Perbanyak aktivitas bagi pengembangan diri

Jangan pernah berpuas diri dengan apa yang dikuasai saat ini. Coba terus mengembangkan kemampuan diri. Kamu bisa ikut pelatihan-pelatihan yang terkait passion, komunitas, hingga kegiatan sosial.

seorang pembeli impusif
Lakukan hal-hal bermanfaat seperti lari bareng teman dan dari kenyataan, eh! (Jogging / competitor)

Selain bermanfaat buat nambah skill dan wawasan, kita jadi gak punya banyak waktu buat kegiatan belanja karena sibuk dengan kegiatan lain.

5. Sisihkan uang buat “me time”

Setiap habis terima gaji, jangan lupa sisihkan sebagian dana untuk reward diri sendiri, selain buat kebutuhan yang penting. Tapi, tetap harus disiplin sama bujet yang udah dibikin itu ya.

Bujetnya juga jangan besar-besar, cukup 5-10 persen aja dari total gaji. Gak apa-apa kok menyenangkan diri sendiri sebulan sekali setelah lelah berjibaku dengan rutinitas.

Kalau bujet senang-senang untuk bulan itu sudah selesai, jangan ambil bujet pos lain ya. Tahan diri dan tunggu sampai bulan depan.

6. Habiskan waktu lebih banyak dengan keluarga dan teman-teman

Mungkin selama ini kita kurang memberi waktu dan perhatian untuk orang-orang yang kita kasihi, baik itu teman, sahabat, keluarga, hingga sanak saudara.

Coba alihkan waktu yang biasanya kita gunakan buat berbelanja untuk quality time bersama teman dan keluarga. Dengan begitu, fokus kepada kegiatan belanja pun jadi berkurang.

7. Meminta bantuan

Saat merasa benar-benar sudah gak bisa mengatasi sendiri kebiasaan belanja impulsif, gak ada salahnya kok minta bantuan. Minta bantuan di sini bisa dari teman, anggota keluarga atau ya browsing sendiri. Gak perlu malu kok. Ini bukan penyakit atau aib.

Belanja itu sah-sah aja, bukan kejahatan. Tapi saat sudah kebablasan dan menguras isi rekening, berarti ada yang salah. Intinya, cepat sadari saat kebiasaan berbelanja kita sudah bikin keuangan amburadul dan lakukan sesuatu buat mengatasinya.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Hindari Mengambil 5 Keputusan Terlalu Cepat Saat Usia Masih Produktif]

[Baca: 6 Signal Kamu Kebablasan Belanja Online]

[Baca: Ubah Gaya Belanja Jadi Begini di 2017 Biar Nabung Gak Cuma Wacana]

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →