Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

Asuransi konvensional

Asuransi konvensional adalah produk keuangan yang memungkinkan nasabahnya mengalihkan risiko ke perusahaan asuransi. Syaratnya, nasabah tersebut perlu menyetorkan sejumlah premi ke perusahaan asuransi.

Namun, produk asuransi konvensional sering dianggap riba, terutama jika dilihat dari perspektif syariat Islam. Oleh sebab itu, beberapa perusahaan asuransi berinovasi menghasilkan produk asuransi syariah.

Berbeda dengan akad dalam produk konvensional yang berupa transfer risiko, akad dalam asuransi syariah adalah untuk bergotong-royong atau berbagi risiko. Setiap nasabah asuransi mengumpulkan dana yang dikelola oleh perusahaan asuransi. Nah, jika ada yang terkena musibah, nasabah tersebut bisa mengklaim sejumlah dana.

Supaya lebih paham mengenai perbedaan asuransi konvensional dan syariah, yuk simak ulasan lengkapnya di bawah ini!

Perbedaan asuransi syariah dan asuransi konvensional

Untuk kamu yang sedang dalam pertimbangan untuk memilih asuransi syariah atau konvensional, berikut beberapa hal yang bisa kamu pertimbangkan.

Akad perjanjian

Akad dalam asuransi konvensional adalah kesepakatan antara dua pihak untuk mentransfer risiko pihak satu dengan pihak lainnya.

Sementara itu, akad dalam asuransi syariah adalah tolong menolong. Sama seperti arisan, seluruh nasabah mengumpulkan uang untuk dikelola oleh perusahaan asuransi. Dana tersebut lantas bisa digunakan untuk menolong salah satu nasabah yang sedang terkena musibah,

Dalam asuransi syariah gak ada praktik jual-beli tetapi hibah

Ini adalah perbedaan mencolok antara produk konvensional dengan unit syariah. Perjanjian dalam asuransi konvensional adalah perjanjian jual-beli. Jadi, nasabah membayarkan premi untuk menyerahkan risiko kepada perusahaan asuransi.

Dalam asuransi syariah, prinsip yang digunakan adalah dana hibah. Sejak awal, nasabah sudah mengerti bahwa premi yang disetorkan adalah untuk menolong nasabah lain. Sehingga, prinsip asuransi syariah adalah berbagi risiko alih-alih transfer risiko.

Kepemilikan dana

Uang peserta yang dikumpulkan tersebut bukan menjadi milik perusahaan asuransi, tetapi milik seluruh nasabah. Untuk mengelola dana tersebut, perusahaan asuransi wajib mendapat izin nasabah terlebih dahulu.

Pengelolaan dana

Pengelolaan dana pada instrumen investasi berunsur riba menjadi salah satu kendala asuransi konvensional. Oleh sebab itu, pada asuransi syariah, dana nasabah bakal dikelola dalam instrumen investasi yang bebas riba.

Pembagian hasil

Hasil keuntungan dari investasi yang dikelola perusahaan asuransi tentu saja bakal dibagikan kepada seluruh nasabah pada asuransi syariah. Sementara itu pada produk konvensional, dana premi sudah menjadi milik perusahaan begitu pula keuntungan investasinya.

Selain itu, asuransi syariah nggak mengenal dana hangus seperti yang kamu temukan di asuransi konvensional. 

Pengawasan dana

Pengelolaan dana masyarakat dalam asuransi syariah diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertanggung jawab kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI). 

Sementara itu, gak ada pengawas khusus pada kegiatan perusahaan konvensional. Namun, perusahaan asuransi tetap harus terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai perusahaan yang menghimpun dana masyarakat.

Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional
Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

Wakaf dan zakat

Berbeda dengan produk konvensional, asuransi syariah mengenal konsep wakaf dan zakat. Wakaf adalah pemberian harga benda kepada penerima wakaf atau nazhir. Dalam asuransi syariah, peserta asuransi bisa mewakafkan manfaat asuransinya, yaitu berupa santunan meninggal dunia.

Sementara itu, zakat adalah nominal tertentu yang wajib diberikan oleh umat Muslim untuk golongan yang berhak, yaitu fakir miskin. Asuransi syariah juga mengakomodir zakat dengan cara mengambilnya dari keuntungan perusahaan.

Tertanggung asuransi

Pada asuransi syariah, seluruh keluarga peserta asuransi bisa didaftarkan pada asuransi kesehatan. Nasabah juga bisa melakukan double klaim dengan asuransi lain. Sementara itu, produk konvensional umumnya hanya menanggung satu orang saja.

Asuransi konvensional menawarkan pilihan lebih banyak

Asuransi konvensional sudah pasti memiliki pilihan lebih banyak, mulai dari asuransi kesehatan, asuransi jiwa, unit link, asuransi pendidikan, asuransi kredit, sampai asuransi dwiguna.

Perusahaan asuransi juga bisa mengelola dana dari premi kamu ke sektor lebih luas tanpa harus memerhatikan riba.

Prinsip asuransi konvensional

Dalam asuransi konvensional, kamu menyetor premi sebagai pengganti risiko. Nasabah asuransi baru mendapat uang pertanggungan apabila risiko tersebut. Namun, risiko tersebut bisa saja gak terjadi dan premi yang kamu setor bakal hangus.

Peserta asuransi sendiri akan membayarkan premi tersebut sampai perjanjian polis berakhir. Ketika peserta gak pernah mengajukan klaim maka perusahaan akan diuntungkan. Situasi ini disebut sebagai surplus underwriting.

Sementara itu, bila peserta asuransi tersebut baru enam bulan mendaftar dan mengajukan klaim berjumlah besar maka perusahaan tentu bisa dibilang rugi. Ini karena perusahaan harus mengambil lebih banyak dana dari peserta lain. Situasi tersebut disebut sebagai defisit underwriting.

Hal tersebutlah yang bikin produk konvensional berbeda dengan asuransi syariah. Ketidakpastian soal dana pertanggungan tersebut disebut sebagai gharar dalam prinsip syariah. Gak hanya itu saja, pengelolaan dana dalam asuransi konvensional pun tidak lepas dari riba.

Pasalnya, dana yang dikumpulkan biasanya akan dikelola di produk saham, deposito, dan obligasi. Nah, instrumen-instrumen tersebut seringkali gak lepas dari sistem riba. 

Contoh asuransi konvensional

Berikut adalah beberapa contoh produk konvensional yang bisa kamu temukan di pasaran:

Asuransi jiwa

Asuransi yang satu ini memberikan sejumlah uang pertanggungan jika tulang punggung keluarga meninggal dunia. Uang pertanggungan tersebut digunakan untuk menggantikan biaya hidup keluarga yang ditinggalkan.

Ada berbagai macam jenis asuransi jiwa, mulai dari asuransi jiwa murni, unit link, asuransi pendidikan, sampai asuransi kredit. Supaya lebih mudah mencocokkan produk mana yang sesuai dengan kebutuhanmu, yuk manfaatkan Kuis Jenis Asuransi Jiwa berikut:

Asuransi kesehatan

Asuransi kesehatan akan menanggung biaya rumah sakit nasabah. Artinya, objek yang diasuransikan adalah kesehatan nasabah. Umumnya, nasabah perlu membayarkan uang premi asuransi kesehatan setahun sekali.

Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional
Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

Jenis asuransi kesehatan ada dua, yaitu pertanggungan sesuai tagihan dan hospital cash plan. Pada asuransi sesuai tagihan, biasanya terdapat limit per perawatan dan per tahun. Jadi, kalau tagihan rumah sakit lebih dari limit maka nasabah perlu membayar sendiri kelebihannya.

Sementara itu, produk asuransi kesehatan hospital cash plan bakal memberikan sejumlah uang tunai per hari nasabah dirawat inap di rumah sakit. Sistem ini gak mempertimbangkan tagihan rumah sakit. 

Misalnya, pertanggungan hospital cash plan nasabah adalah Rp500 ribu per hari. Jika suatu saat nasabah dirawat selama 7 hari, berarti uang yang bisa dicairkan adalah Rp3,5 juta.

Asuransi kendaraan

Pada asuransi kendaraan, objek yang dijamin adalah kendaraan milik nasabah. Apabila rusak atau hilang, asuransi akan menggantinya dengan uang tunai atau perbaikan di bengkel. 

Asuransi kendaraaan terdiri dari dua jenis, yaitu asuransi all risk dan total loss only (TLO). Asuransi all risk memberikan perlindungan keuangan lengkap, mulai dari risiko kerusakan kecil mobil, kerusakan parah, hingga kehilangan mobil. Sementara itu, asuransi TLO hanya akan menanggung kerusakan parah dan kehilangan mobil saja.

Tips memilih asuransi konvensional terbaik

Untuk mendapatkan produk asuransi terbaik, simak tipsnya berikut ini:

Membeli sesuai kebutuhan

Ada banyak varian asuransi yang ada di pasaran. Gak hanya asuransi utama, perusahaan asuransi juga sudah banyak memberikan inovasi berupa asuransi tambahan atau rider.  Oleh sebab itu, kamu perlu mencari tahu asuransi apa saja yang dibutuhkan. Jika sampai membeli yang gak kamu butuhkan, bisa-bisa rugi karena harus bayar premi terus menerus.

Pahami polis dengan baik

Dokumen polis adalah catatan perjanjian antara nasabah dan perusahaan asuransi. Polis bakal jadi pedoman dalam hal yang berkaitan dengan asuransi, seperti klaim, pembayaran premi, sampai besaran ganti rugi.  Oleh sebab itu, kamu harus membaca dan memahami keseluruhan isi polis.

Jangan percaya 100 persen ke agen asuransi

Terkadang agen asuransi gak menyampaikan informasi secara lengkap ke nasabah karena faktor kejar target. Kamu bisa kok berdiskusi dengan agen, tapi jangan lupa, pegangan kamu tetap dokumen hitam di atas putih alias buku polis.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang tips dalam memilih asuransi, yuk tonton video berikut ini!

Pertanyaan seputar asuransi konvensional