Berujung Gugatan Cerai, Mungkin 4 Masalah Keuangan Ini Pemicunya

Gugatan Cerai

Pada 7 Januari 2018, kabar mengenai gugatan cerai mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bikin geger media. Sementara itu di tahun 2017 kabar perceraian selebriti seperti Aming dan Evelyn, Elli Sugigi dan Ferry Anggara, turut ramai jadi perbincangan.

Terlepas dari apapun penyebabnya, yang namanya perceraian pasti membawa kerugian. Termasuk kerugian finansial. Oleh karena itu, alangkah lebih baik kalau hal ini bisa dihindari.

Menurut laporan dari Detik.com, Pengadilan Agama di Cianjur Jawa Barat aja mencatat ada 6.000 perkara gugatan cerai yang masuk selama Januari-Juli 2017. Sebanyak 2.500 di antaranya sudah dikabulkan. Angka ini naik 20 persen dari tahun lalu lho. Ada apa gerangan?

Nah ternyata, pemicu utamanya adalah faktor ekonomi yang berujung pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Terbukti kan kalau pengelolaan keuangan yang apik itu mutlak dilakukan oleh pasangan suami-istri.

[Baca: Ini 5 Alasan Pentingnya Pasangan Baru Perlu Mengelola Keuangan dengan Benar]

Makanya, supaya gak kejadian sama kamu dan pasangan, kamu wajib tahu apa saja hal-hal seputar finansial yang rentan jadi pemicu perceraian. Berikut ini di antaranya:

1. Utang menumpuk

gugatan cerai
Selanggeng-langgengnya pasangan, tentu ada saja masalahnya. Semoga bukan masalah keuangan (chateiaine)

Utang yang menumpuk memang bikin semua orang jadi stres. Sebelum berutang, semestinya kamu paham dulu kalau utang maksimal seseorang gak boleh melebihi 30 persen dari total pendapatan.

So, bila penghasilan per bulan kamu dan pasanganmu adalah Rp 8 juta, maksimal utangnya adalah Rp 2,4 juta. Kalau lebih dari itu, sudah pasti kondisi finansial jadi gak sehat.

Bila memang pasanganmu mengalami masalah ini, jangan buru-buru melayangkan gugatan cerai lho. Cobalah bantu dia dalam mengatasi utangnya dengan melakukan mediasi perbankan, jual aset, atau renegosiasi utang dengan lembaga pemberi pinjaman.

Oh ya satu lagi nih, hindari menggunakan jasa pengacara untuk urusan yang satu ini ya. Kenapa? Karena pengacara juga ada biayanya. Apa rela keluar duit lebih banyak lagi?

2. Tidak transparan masalah pendapatan

Sudah semestinya pasanganmu mengetahui berapa rupiah yang kamu dapatkan dalam sebulan. Lagi pula apa sih yang ngeberatin kamu untuk transparan? Takut gak dibolehin jajan?

Transparan soal pendapatan akan memudahkanmu untuk mengatur keuangan bersama pasangan. Misalnya berapa rupiah untuk bayar listrik, air, Internet, berapa yang bisa disisihkan untuk rekreasi, dan berapa yang harus diprioritaskan untuk investasi.

Kalau gak transparan soal penghasilan, gimana mau pasang target keuangan bersama di masa depan?

[Baca: Suami Istri Ayo Kerja Sama Mulai Lakuin Hal-hal Ini Demi Financial Freedom]

3. Penghasilan suami lebih kecil daripada istri

gugatan cerai
Bakal ada banyak kerugian yang dialami karena perceraian (womans day)

Seorang suami yang bertugas sebagai pencari nafkah biasanya dituntut untuk memiliki penghasilan yang lebih tinggi daripada istri. Bila hal sebaliknya yang terjadi, gak jarang sang suami merasa tersaingi atau merasa diremehkan meski pada kenyataannya gak begitu.

Bila ini yang kamu alami bersama pasangan, wajib buatmu untuk saling menghargai satu sama lain terkait masalah penghasilan. Bisa jadi gaji istri yang lebih besar didapat dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun, dan suami mestinya legowo dengan hal itu.

Namun apabila hal ini berujung pada perseteruan, ingatlah kalau ada proses join income yang bisa diberlakuan ketika seseorang sudah menikah. Itu artinya, gak ada lagi istilah “gajimu” dan “gajiku”, yang ada hanyalah “pendapatan kita bersama”.

[Baca: 4 Hal Soal Keuangan Rumah Tangga yang Perlu Dibicarakan Sebelum Menikah]

4. Perbedaan tujuan finansial di masa depan

gugatan cerai
Uang memang bukan segalanya, tapi apa sih yang bisa dibeli tanpa pakai uang? (derebus)

Tanpa sebuah tujuan finansial di masa depan, kebebasan finansial bakal jadi angan-angan belaka. Perbedaan strategi dalam mencapai kebebasan finansial ini pun kerap diperdebatkan.

Sang suami mungkin terlalu berani ngambil keputusan berinvestasi yang risikonya tinggi, tanpa perhitungan. Sementara itu sang istri yang terlalu perhitungan selalu mempertimbangkan berapa rupiah yang bakal dikeluarkannya.

Masalah perbedaan tujuan sebenarnya bisa diatasi dengan meninjau ulang apa yang ingin kamu capai bersama pasangan di masa depan. Cobalah untuk menyamakan persepsi dulu, setelah itu barulah kamu bisa membicarakan strategi keuangannya.

Itulah empat masalah keuangan rumah tangga yang bisa memicu munculnya gugatan cerai. Mungin sebagian dari kamu beranggapan kalau hal ini hal sepele. Namun bila dibiarkan bisa jadi masalah serius lho. Makanya, yuk dicegah sebelum terlambat.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →