Blind Recruitment, Inikah Metode Terbaik untuk Mencari Karyawan?

Blind Recruitment

Kamu adalah seorang bos di sebuah perusahaan dan berencana merekrut pegawai baru? Kini sudah ada metode perekrutan baru yang dinilai mampu meminimalisir bias dalam proses rekrutmen yang diberi nama blind recruitment

Bias dalam proses rekrutmen itu sering kita jumpai. Misalnya, di CV kandidat ini memiliki latar belakang pendidikan yang mumpuni, lulusan luar negeri, tapi ketika diterima dan masuk ke dunia profesional, pekerjaannya sangat berantakan. 

Kasus lainnya juga meski sudah melanglang buana ke berbagai perusahaan, belum tentu jaminan pekerjaannya sangat bagus. 

Nah, untuk menghindari kesalahan rekrutmen tersebut, beberapa perusahaan kelas dunia sudah menerapkan metode blind recruitment. Contohnya, BBC, Google, dan lain-lain. 

Kira-kira apa sih blind recruitment itu? Semoga saja bisa membantumu dalam mencari kandidat pegawai terbaik. 

Blind Recruitment Adalah…

seorang hrd sedang melakukan proses perekrutan
Blind Recruitment Adalah (Shutterstock)

Blind recruitment adalah proses perekrutan pegawai dengan menghilangkan semua detail data diri yang melekat di pelamar. Detail data ini meliputi banyak hal, mulai dari nama sampai latar belakang pendidikan. 

Hal ini ternyata terbukti mampu merekrut pegawai berkompeten berdasarkan keterampilan dan kemampuannya, ketimbang faktor-faktor lain yang bisa menimbulkan bias, seperti halnya latar belakang pendidikan, sampai latar belakang gender

Kira-kira detail apa yang dihilangkan dalam metode perekrutan satu ini? 

  • Nama, di dalam nama apalagi di nama-nama Indonesia biasanya memuat unsur etnis dan agama. Oleh sebabnya, dengan menghilangkan nama pelamar, akan memutuskan bias perekrutan yang berdasarkan pada SARA. 
  • Pendidikan, IP tinggi ternyata gak menjamin seseorang itu berkompeten di dunia kerja. Bahkan gak jarang juga orang yang IP kecil tapi memiliki otak yang cerdas dalam bekerja. Itu sebabnya, beberapa perusahaan besar sudah menghilangkan kolom ini, salah satunya Google
  • Umur, mereka yang tergolong dewasa tentu memiliki pengalaman kerja yang lebih banyak dibanding mereka yang masih remaja atau fresh graduate. Tapi, tetap saja umur tidak menjamin kesuksesan seseorang. Mark Zuckerberg menemukan Facebook saat usianya 14 tahun, sementara Kolonel Sanders mendirikan KFC saat umur 65 tahun. 
  • Minat, banyak kandidat yang menaruh hobi atau minat mereka di CV. Ternyata hal itu justru berpeluang untuk memunculkan proses rekrutmen yang tidak adil. Kekhawatirannya adalah ketika si perekrut memiliki hobi yang sama dengan kandidat, dia bisa saja langsung meloloskannya dalam tes tahap awal. Padahal hobi tidak ada hubungannya dengan posisi yang sedang dilamar. 

Seperti Apa Sih Bias dalam Proses Rekrutmen? 

dua buah cv atas nama berbeda
Seperti Apa Sih Bias dalam Proses Rekrutmen? (Shutterstock)

Meski secara visi misi kamu ingin membawa perusahaan menjadi perusahaan yang super menjunjung tinggi keberagaman, sayangnya secara tidak disadari pernah menemui tindakan yang bias dalam proses rekrutmen. 

Contohnya, tumpukan CV ada di meja kamu sebagai pemilik perusahaan sekaligus recruiter

Lalu, kamu melihat ada salah satu kandidat pelamar yang berasal dari kampus yang sama dengan kamu, tanpa melihat lebih detail lagi, kamu langsung meloloskan dia karena kesamaan kampus semata. Itulah salah satu bias yang sering muncul. 

Padahal, yang utama dalam proses rekrutmen adalah kemampuan dan kompetensi kandidat untuk mengisi posisi yang sedang dilamarnya. Kampus, IP, bahkan agama bukanlah penentu seseorang layak atau tidak. 

Kalau Detail Data Diri Tidak Dihiraukan, Bagaimana Cara Mencari Kandidat Terbaik? 

seorang hrd pria sedang mewawancarai calon pegawai
Kalau Detail Data Diri Tidak Dihiraukan, Bagaimana Cara Mencari Kandidat Terbaik? (Shutterstock)

Inti dari proses blind recruitment ini tidak memerhatikan data diri yang melekat di diri kandidatnya. Semua dilakukan murni dari skill yang mereka miliki. Lalu, bagaimana caranya? 

1. Kamu bisa mencantumkan di lowongan bahwa posisi ini terbuka untuk siapa saja 

Untuk menghindari bias gender atau RAS, kamu bisa mencantumkan di informasi lowongan bahwa posisi ini terbuka untuk siapa saja, bukan untuk cewek atau bukan untuk cowok saja, bisa juga menuliskan bahwa posisi ini bukan hanya untuk lulusan perguruan tinggi negeri saja. 

2. Tidak perlu mencantumkan domisili di form lamaran 

Banyak perusahaan yang memiliki form lamaran sendiri untuk kandidatnya. Kalau kamu ingin menerapkan blind recruitment, salah satu informasi yang harus kamu hilangkan adalah soal domisili pelamar. 

Domisili ini diharapkan bisa membuka kesempatan kerja yang luas kepada siapapun. Karena siapa tahu saja yang domisilinya jauh malah memiliki kompetensi yang baik daripada yang satu kota. 

3. Jangan prioritaskan informasi akademik sebagai syarat kelulusan seleksi administrasi 

Banyak perusahaan yang menjadikan perguruan tinggi dan nilai IP sebagai syarat seleksi administrasi. 

Cobalah fokus kepada skill-skill yang dimiliki oleh calon kandidat. Karena jelas, IP bukanlah jaminan kalau mereka memiliki kompetensi yang mumpuni untuk perusahaanmu. 

4. Kumpulkan data yang relevan terkait skill kandidat

Kalau bukan data diri, riwayat kerja, dan latar belakang pendidikan, apa yang dijadikan dasar untuk penilaian seseorang menjadi kandidat potensial? Jawabannya adalah, skill yang mereka miliki. 

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, proses rekrutmen ini menitikberatkan pada kemampuan dan kompetensi calon kandidat. 

Sebagai calon bos yang akan mempekerjakan mereka, kamu harus menggali informasi tersebut sejeli mungkin. 

Cara mengumpulkannya dengan memberikan tugas yang berhubungan dengan posisimu, atau mewawancarai mereka via telepon terlebih dahulu sebelum lanjut ke proses tatap muka. 

5. Gak perlu social media screening saat seleksi administrasi 

Saat seleksi tahap awal, seperti tahap lolos atau tidaknya administrasi para pelamar, kamu gak perlu melakukan pengecekan ke media sosial pribadi mereka. 

Pasalnya, bisa saja kehidupan di media sosial mereka itu berbeda 360 derajat dengan yang aslinya. Karena biasanya media sosial hanya digunakan sebagai media untuk melampiaskan emosi mereka yang dalam hal ini sangat wajar. 

Tapi, bukan berarti kamu gak boleh melakukan pengecekan terhadap akun-akun mereka. Sebenarnya boleh, namun alangkah lebih baiknya saat tahapan seleksi yang lebih lanjut lagi. Tujuannya untuk mendukung apakah ucapan mereka sesuai dengan perilakunya atau tidak. 

6. Berikan edukasi kepada staf kamu agar terhindar dari bias dalam proses rekrutmen 

Kamu mungkin sudah memahami bias-bias yang sering terjadi dalam proses rekrutmen, tapi bagaimana dengan divisi HR atau karyawanmu yang lainnya? 

Agar teknik blind recruitment ini sepenuhnya diterapkan di perusahaan, edukasi juga karyawan yang lainnya. 

Kelebihan Blind Recruitment 

seorang HRD sedang melakukan proses rekrutmen
Kelebihan Blind Recruitment (Shutterstock)

1. Dapat menjunjung tinggi keragaman 

Keragaman di tempat kerja adalah suatu hal yang sangat dijunjung, terutama di Indonesia. 

Dengan menggunakan metode blind recruitment ini, kamu berpotensi mendapatkan karyawan yang tersebar dari berbagai daerah, suku, dan latar belakang. 

2. Bisa mendapatkan kandidat yang kompeten 

Dengan metode ini, semua orang dari berbagai kalangan dianggap sama memiliki kesempatan yang sepantar untuk bisa diterima sebagai kandidat. Tapi, yang menjadi penilaian seutuhnya adalah skill

3. Menghindari dari nepotisme 

Nepotisme sering dilakukan oleh mereka yang memiliki jabatan tinggi. Dengan metode rekrutmen yang ini, kamu bisa mencari kandidat terbaik, ketimbang cuma mengandalkan rekomendasi dari atasan saja. 

Itulah beberapa hal tentang blind recruitment. Tak bisa dipungkiri, diskriminasi dalam proses perekrutan masih sering terjadi. Dengan metode ini, diharapkan bias tersebut bisa diminimalisir. (Editor: Chaerunnisa)