Anakmu Sering Minta Barang-barang Mahal? Begini Cara Bijak Menghadapinya

Hadapi bujukan anak dengan bijak (Shutterstock).

Melihat anak tumbuh remaja tentu sangat membahagiakan. Tapi, seiring dengan bertambahnya umur sang buah hati, semakin banyak pula rasa keingintahuannya dan keinginan-keinginan lainnya . Sampai-sampai kita sendiri tidak tahu bagaimana cara menghadapi anak yang baik dan benar. 

Kalau anak banyak tahu, mungkin kita bisa mengambil referensi dari internet, untuk mengajarkan hal-hal yang bikin mereka penasaran. Tapi kalau banyak mau gimana? Apakah kita harus sepenuhnya mengabulkan permintaannya, atau justru menolaknya dengan keras? 

Tak dipungkiri, anak yang telah memasuki fase remaja sudah mengenal yang namanya gengsi. Mereka membutuhkan pengakuan dari orang banyak untuk bisa tetap bergaul. Contohnya yang paling sering dialami orang tua adalah, anak-anak minta ponsel pintar terbaru, minta game konsol, minta kendaraan pribadi, dan masih banyak lagi. 

Sebagai orangtua, tentu kamu ingin memberikan yang terbaik bagi mereka. Saat mereka merengek minta sesuatu, kalau bisa jangan langsung diberikan, tetapi berikan dulu pelajaran finansial agar mereka menjadi pribadi yang bertanggung jawab nantinya. Berikut ini cara menghadapi anak yang banyak maunya dengan bijak. 

1. Berikan penjelasan tentang kondisi keuangan keluarga 

Dua orang wanita tengah berbincang (Shutterstock).
Dua orang wanita tengah berbincang (Shutterstock).

Menutupi keuangan keluarga kepada anak adalah tindakan yang tidak tepat. Sebaliknya, kamu justru harus buka-bukaan terhadap anak soal kondisi sesungguhnya, mulai dari gaji, pengeluaran rutin, utang, tabungan dan lain-lain. 

Dengan diskusi keuangan ini, diharapkan anak nantinya jadi lebih mengerti mana yang menjadi skala prioritas orangtuanya. Jadi lebih mikir deh kalau minta sesuatu yang mahal-mahal. Anak juga jadi tahu, seberapa besar kapasitas keuangan orang tuanya mampu memenuhi keinginannya. 

2. Ajarkan anak tentang usaha dan konsekuensi  

Ibu sedang menasehati anaknya (Shutterstock).
Ibu sedang menasehati anaknya (Shutterstock).

 

Cara menghadapi anak yang banyak maunya adalah dengan mengajarkannya pentingnya berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Jadi, dia harus merasakan perjuangan terlebih dahulu kalau menginginkan sesuatu. Bagaimana caranya? 

Banyak cara yang bisa dilakukan salah satunya adalah dengan menyuruhnya untuk menabung dari uang bulanan yang kamu kasih, atau menyuruhnya belajar lebih rajin. Dengan cara ini mereka juga belajar tentang sebuah konsekuensi. Tanpa berusaha terlebih dahulu, mereka tidak akan dapat apa-apa. 

3. Jangan menambahkan uang bulanannya 

Seorang ibu sedang menasehati anaknya (Shutterstock).
Seorang ibu sedang menasehati anaknya (Shutterstock).

Selain doyan minta barang-barang mahal, ternyata anakmu juga doyan untuk menghambur-hamburkan uang. Misalnya saja uang bulanan yang kamu berikan digunakan untuk nongkrong di kafe setiap minggu, nonton bioskop setiap hari, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Bahkan kalau uangnya kurang, mereka masih minta jatah uang jajan tambahan. 

Cara terbaik adalah jangan menambahkan uang jajannya. Hal ini untuk mengajarkan dia pentingnya sebuah penganggaran dalam keuangan. Harapan kedepannya dia gak menghabiskan uang bulanannya dengan sangat boros dan lebih irit. 

4. Langsung bilang tidak, tapi tidak dengan nada marah

Jangan memarahi anak, karena itu membuatnya trauma (Shutterstock).
Jangan memarahi anak, karena itu membuatnya trauma (Shutterstock).

Anak usia remaja biasanya sudah pintar untuk berdebat, bahkan debat soal barang barang yang dipengeninnya. Gak jarang mereka sampai berani mengeluarkan kata-kata kasar hanya karena kesal keinginannya tidak dikabulkan. 

Di situlah peranmu sebagai orangtua bakal diuji. Kalau kamu rasa keinginannya tidak ada manfaatnya, teguhkan hatimu untuk mengatakan tidak. Tapi, jangan sampai terpancing emosi kalau anak sudah sampai berkata-kata kasar. Tahan kesabaranmu, nanti juga kemarahannya bakal mereda sendiri. 

Itulah empat cara menghadapi anak yang banyak maunya. Tentu keempat-empatnya ini bisa saja tidak berlaku untuk buah hatimu, karena karakter setiap anak berbeda-beda, mungkin ada anak yang hanya bisa dibina dengan sikap yang keras dan ada yang lemah lembut. (Editor: Winda Destiana Putri).