Ubah Mangga Jadi Fruit Strip, Lulusan UNPAD Ini Kantongi Omzet Puluhan Juta per Bulan

Cerita sukses Mango Day hasilkan omzet puluhan juta rupiah per bulan

Cerita sukses para anak muda di Indonesia yang memutuskan jadi entreprenuer memang banyak sekali lho. Memulai bisnis dari bawah hingga akhirnya produknya dikenal dan hasilkan cuan mencapai puluhan juta bahkan ratusan juta per bulan banyak. 

Kesuksesan diraih oleh Muhammad Nur Rijaldi yang gak lain adalah lulusan Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat. Memulai bisnis dari bawah dengan memanfaatkan buah mangga, Rijaldi berhasil mendapatkan cuan hingga puluhan juta rupiah per bulannya. 

Bisnis kuliner memang tiada habisnya, kebutuhan pangan menjadi pangsa pasar yang menjanjikan bagi pebisnis kuliner di Indonesia. Apalagi karakter orang Indonesia yang sangat konsumtif terutama dalam hal makanan.

Tetapi belakangan ini makanan sehat ataupun camilan sehat mulai banyak dicari orang. Selain menggunakan bahan baku yang sehat, camilan sehat juga dinilai tidak memberikan efek negatif bagi kesehatan tubuh.

Pergeseran pola hidup sehat masyarakat Indonesia juga menjadi ladang subur bagi pebisnis yang memiliki produk makanan sehat atau camilan sehat.

Mengubah buah mangga menjadi camilan sehat

Mango Day salah satu produk camilan sehat buatan lokal
Mango Day salah satu produk camilan sehat buatan lokal, (Instagram/@mangoday.id).

Cerita sukses Muhammad Nur Rijaldi, laki-laki kelahiran Sukabumi 1995 ini memberanikan diri mengembangkan produk camilan sehat yakni fruit strip berbahan baku buah mangga. Berbeda dari lauk pauk yang dipikirkan sepenuh hati, buah memang nggak jarang dapat tatapan sebelah mata. Soalnya, buah-buahan sering dikira sebagai makanan yang sifatnya tambahan.

Setelah mencoba berkali-kali-kali trial and error, Rijal mantap mengolah mangga gedong gincu menjadi mango fruit strip ala Mango Day. Bukan tanpa alasan, walau sempat kesulitan mencari formula yang pas, Rijal merasa fruit strip adalah jawabannya. 

Soalnya, kalau bikin keripik lagi keripik lagi rasanya kok sudah terlalu mainstream. Dapat sambutan manis setelah pencarian panjang, camilan sehat ini berhasil mendapat approval dari teman-teman komunitas gym dan orang-orang yang mau sehat dengan praktis.

“Terjun ke dunia bisnis karena waktu masih kuliah senang banget jualan di kampus, mulai dari donat, baju, dan pomade, kepikiran lah pengin punya brand sendiri juga cuma belum tahu mau buat produk apa,” ujar Ridaldi kepada Lifepal Media.

Berangkat dari kegemarannya menjalankan bisnis jualan, dirinya ingin memiliki produk atau brand sendiri. Di tahun 2017 saat memasuki masa panen buah mangga di Jawa Barat, ia melihat buah mangga tersebut mengalami over produksi dengan panen yang melimpah.  

Tentu harga ini tidak masuk diakal dengan jerih payah parah petani buah mangga yang harus merawat dan menjaga pohon hingga menghasilkan buah dengan kualitas bagus. 

“Sekitar akhir tahun 2017 kepikiran pengin membuat produk dari olahan mangga, karena waktu itu mangga di daerah jawa barat khususnya daerah Cirebon, Majalengka dan Indramayu sangat melimpah stocknya, bahkan sampai banyak yang terbuang dan harganya turun mencapai Rp. 1.000/kg,” ujarnya.

Memiliki latar belakang pendidikan teknologi industri pertanian Universitas Padjadjaran, Rijaldi memberanikan diri pada tahun 2018 untuk merintis bisnis produk camilan olahan buah mangga dengan konsep fruit strip beserta dengan lahirnya Mango Day.

Keberanian Rijaldi untuk merintis usaha tersebut bukan tanpa alasan, dirinya melihat peluang bisnis pada produk panganan olahan buah masih terbuka luas di Indonesia. Melihat tren makanan sehat yang mulai disukai oleh masyarakat, dan mudah mendapatkan bahan baku buah mangga.

“Waktu itu belum ada produk inovasi yang healthy snack sejenis seperti Mango Day, melihat potensi di pasar sangat baik karena tren menuju healthy life serta dapat memanfaatkan stock buah mangga yang ada di daerah Jawa Barat,” terangnya.

Perjuangan memperkenalkan produk Mango Day

Jatuh bangun dalam memperkenalkan produk Mango Day
Jatuh bangun dalam memperkenalkan produk Mango Day, (Instagram/@magoday.id).

Sebagai produk baru, dan camilan sehat berbahan baku buah mangga, Rijaldi harus berupaya lebih keras memperkenalkan produk usahanya kepada masyarakat. Sebab saat itu produk inovasi makanan sehat masih sangat minim di Indonesia.

Selain pemasaran yang tidak mudah, proses produksi Mango Day pun tidak mudah dan membutuhkan waktu sedikitnya 24 jam sampai menjadi produk fruit strip Mango Day.

“Proses yang paling sulit adalah penerimaan pasar, karena produknya yang tergolong baru, serta kecil seperti masker. Hal ini menjadi kendala karena kita perlu menjelaskan apa itu produk Mango Day, proses produksinya pun memakan waktu 24 jam, namun itu menjadi tantangan buat saya pribadi untuk terus mengembangkan mango day dari awal,” papar Rijaldi.

Bermodalkan Rp 500 ribu saat memulai bisnisnya 

Hanya bermodalkan Rp 500 ribu, Rijaldi berhasil raup omzet puluhan juta rupiah
Hanya bermodalkan Rp 500 ribu, Rijaldi berhasil raup omzet puluhan juta rupiah, (Shutterstock).

Dalam menjalani bisnis tersebut, pada tahap awal Rijaldi mengungkapkan dirinya mengucurkan modal sebesar Rp 500 ribu dan dibantu dengan peralatan oleh rekan bisnis dan komunitas.

Seiring berjalannya waktu, Mango Day dari hari ke hari semakin berkembang dan dari sisi jumlah produksi terus meningkat hingga mencapai 3.000 pcs per bulan. Dari sisi penjualan ini Mango Day bekerja sama dengan beberapa unit usaha seperti tempat oleh-oleh, healthy store, e-commerce, hingga bekerja sama dengan reseller dan distributor di berbagai kota.

“Agustus 2019 mengirimkan 1.500 pcs ke Belgia dan Belanda untuk mengikuti pop up store,” tambahnya.

Rijaldi mengatakan dengan menerapkan inovasi dalam produknya, Mango day tetap mempertahankan rasa asli buah tersebut, dan tidak menambahkan gula, dan masa simpan produk tersebut bisa mencapai satu tahun berkat teknologi.

Hasilkan omzet puluhan juta

Hasilkan omzet puluhan juta rupiah
Hasilkan omzet puluhan juta rupiah, (Shutterstock).

Dengan memanfaatkan mangga gedong gincu dan memanfaatkan teknologi, Rijaldi mampu mengantongi omzet hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya.

“Omzet perbulan di angka Rp 30 juta – 45 juta per bulan, biasanya pesanan tertinggi di musim penghujan karena stock mangga sedang kosong tetapi produk Mango Day tetap ada,” jelasnya.

Dari sisi penjualan produk Mango Day, Rijal mengatakan porsi penjualan offline berada di angka 65 persen karena reseller dan distributor sangat berpengaruh bagi penjualan produk Mango Day. Sedangkan untuk e-commerce dan sosmed sangat berpengaruh namun segmennya lebih ke B to C.

Kiat sukses ala Rijaldi Mango Day

Begini kisah sukses ala Mango Day
Cerita sukses Mango Day bisa dijadikan panutan mu dalam berbisnis, (Instagram/@mangoday.id).

Memiliki bisnis yang berjalan sukses dan berkelanjutan tentu impian bagi setiap pelaku bisnis, dalam merintis bisnis Mango Day. Rijal mengatakan, seorang pebisnis harus tetap percaya pada proses, tetap kuat ketika sedang pada titik terendah, kuatkan mental dan perbanyak bertemu orang lain untuk saling belajar bertukar ilmu khususnya dunia bisnis.

Tak hanya itu, dalam membangun bisnis juga dipelukan partner kerja yang mampu satu visi dan misi agar tidak ada perpecahan dalam perkembangannya, dan mampu mencapai target. 

“Coba mulai dari mencari tim yang se-visi untuk membangun bisnis ini, berinovasi pada produk dengan menambahkan value, perencanaan yang matang untuk target 10 tahun ke depan, berani mengambil setiap keputusan dan risiko,” jelasnya.

Terbaru, Mango Day juga mau rebranding karena mau menambah varian buah. Yang sudah sampai di tahap R&D sih pepaya+nanas, pisang, dan strawberry, tetapi nggak menutup kemungkinan akan ada varian buah lainnya.

Nah itu dia kisah sukses Rijaldi dengan bisnisnya Mango Day yang ia rintis hanya Rp 500 ribu aja pada saat itu. Kini produknya dikenal sampai mancanegara lho dan berhasil meraup omzet puluhan juta rupiah per bulannya. (Editor: Mahardian Prawira Bhisma)