Keren! Miliarder Ini Rela “Bangkrut” Demi Donasi Ratusan Triliun

Chuck Feeney

Bill Gates mungkin pernah berdonasi dengan mengeluarkan dana Rp 387 triliun dan tetap jadi orang terkaya di dunia urutan kelima. Lain halnya dengan Chuck Feeney, seorang miliarder yang gak masuk ke jajaran orang terkaya karena kedermawanannya.

Forbes sempat menyamakan pria kelahiran 1931 ini layaknya James Bond. Tapi tentunya dalam urusan donasi ya, bukan urusan spionase.

Kenapa dia dibilang James Bond? Karena dalam berdonasi, dia sering diam-diam alias gak ketahuan media.

Feeney mendirikan sebuah yayasan amal bernama The Atlantic Philanthropies pada 1984. Dia pernah mentransfer 38,75 persen dari total kekayaannya yang senilai US$ 500 juta ke yayasan. Kabarnya, gak semua orang tahu apa yang dia lakukan pada saat itu.

Yayasan amal itu pada tahun 2012 udah menyalurkan bantuan sebesar US$ 6,2 miliar atau setara dengan Rp 89 triliun buat pendidikan, sains, dan kesehatan. Pada tahun 2016, dia juga mendermakan uang senilai US$ 7 miliar ke Universitas Cornell.

Siapa sih sebenarnya Chuck Feeney? Mari kita simak fakta-fakta soal miliarder dermawan ini.

1. Lahir di era depresi besar dari keluarga kerah biru

View this post on Instagram

On #ThisDayinHistory 1929, the economic excess of the Roaring Twenties came to an abrupt end. Wall Street stock prices collapsed and 16 million shares were traded on the New York Stock Exchange in a single day. As a result, billions of dollars were lost and in the aftermath, the U.S. and the rest of the industrialized world spiraled downward into the decade-long Great Depression. The Great Depression was the deepest and longest-lasting economic downturn in the history of the Western industrialized world up to that time. By 1933, nearly half of U.S. banks had failed, and unemployment was approaching 15 million people, roughly 30% of the workforce. Relief and reform measures enacted by the FDR administration helped lessen the worst effects of the Great Depression and organizations like the Works Progress Administration and National Recovery Administration helped create jobs and social programs. But, the U.S. economy would not fully turn around until after 1939, when World War revitalized U.S. industry. #GreatDepression #USHistory #stockmarket

A post shared by HISTORY (@history) on

Chuck Feeney lahir di era depresi besar atau zaman malaise tahun 1929. Peristiwa ini secara umum adalah melemahnya tingkat ekonomi dunia ke tingkat paling rendah.

Feeney berasal dari keluarga keturunan Irlandia kerah biru alias buruh yang tinggal di New Jersey. Meski berasal dari keluarga pas-pasan Feeney berhasil melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Dia juga sempat menjalani dinas di divisi komunikasi Angkatan Udara.

2. Pendiri Duty Free Shoppers

View this post on Instagram

Duty Free Shoppers HIA

A post shared by Duty Free Shoppers (@dutyfreeshoppers) on

Agen Asuransi Mitra Lifepal
Agen Asuransi Mitra Lifepal

Pada tahun 1960, Chuck Feeney Robert Miller mendirikan Duty Free Shoppers (DFS) di Hong Kong. DFS menjadi toko belanja produk mewah tanpa pajak.

Lambat laun, dagangan mereka semakin beragam, dari mulai rokok hingga mobil. Perusahaan induk dari toko ritel ini bernama Duty Free Group.

Selain mendirikan toko DFS di bandara, Feeney juga mendirikan outlet DFS di perkotaan. Keuntungan yang berhasil diraup Feeney pada 1990 mencapai US$ 300 juta setiap tahun.

Tepat pada 1996, DFS pun dilepas oleh Feeney ke Louis Vuitton. Miller masih memegang saham dari DFS, tapi gak sebanyak Louis Vuitton.

3. Chuck Feeney adalah miliarder yang sederhana banget

View this post on Instagram

Miliarder dengan Jam Tangan Casio Miliknya . Meskipun seorang miliarder, Chuck Feeney memiliki kehidupan yang jauh dari kemewahan. Padahal Chuck Feeney merupakan pengusaha sukses yang merupakan pendiri dari perusahaan Duty Free Shoppers Group. Pria kelahiran tahun 1931 ini malah memberikan sebagian besar kekayaannya untuk keperluan amal. Kekayaan yang disumbangkan mencapai 7.5 Milliar USD, namun kekayaan bersih yang dimilikinya jauh dibawahnya yaitu sekitar 2 Juta USD saja (dibawah 1 % dari total yang ia sumbangkan) . Chuck Feeney hidup sangat sederhana, ia terbiasa menggunakan pesawat kelas ekonomi, tinggal di apartemen kontrakan, dan terlihat ia menggunakan Jam Tangan Casio F-91 W dimana merupakan Casio Icon pada tahun 1980an (Rp. 213.000 di JamTangan.com) . Tujuan dari hidupnya hanya untuk bekerja keras dan berbagi kepada sesama. Selain itu, ia mendirikan The Atlantic Philanthropies dimana sebuah yayasan amal yang memfokuskan kepada kesehatan, pendidikan anak-anak, hingga hak asasi manusia . #MachtwatchInfo #ChuckFeeney #CasioF91W #Machtwatch #PastiOri

A post shared by Machtwatch™ | JamTangan.com ⌚ (@machtwatchcoid) on

Feeney adalah orang yang sederhana banget. Mungkin kesederhanaan beliau mirip-mirip dengan Bill Gates, terutama dalam memilih jam tangan.

Jam tangan yang digunakan Feeney adalah Casio F-91W c1980s yang harganya cuma US$ 30 atau setara Rp 433 ribu. Dan gak cuma itu bentuk kesederhanannya.

Hingga menginjak usia 75 tahun, Chuck Feeney dikabarkan sering terbang dengan menggunakan pesawat kelas ekonomi. Dia juga sering terlihat menenteng kantong plastik. Dan yang terakhir, Feeney hampir gak pernah makan di restoran berbintang New York. Dia malah sering terlihat di salah satu restoran khas Irlandia yang gak bisa disebut mewah.

Apartemennya yang terletak di San Fransisco kabarnya juga masih sewaan.

4. Total harta kekayaannya cuma sekitar Rp 28 miliar

https://www.instagram.com/p/Bjpvdc6jImt/?hl=en&tagged=chuckfeeney

Gak dipungkiri bahwa salah satu cita-cita Chuck Feeney adalah bisa berbagi ketika masih hidup. Donasi terakhir yang dikucurkan olehnya berjumlah US$ 7 miliar atau setara dengan Rp 101 triliun ke Universitas Cornell, kampus di mana dia belajar.

Secara resmi, kekayaan Feeney langsung merosot karena itu. Namun, emang itulah yang jadi cita-citanya selama ini. Dia cukup happy jika bisa berdonasi.

Media kerap menyebut Feeney sebagai miliuner yang bangkrut karena donasi. Total kekayaannya saat ini juga diprediksi cuma US$ 2 juta atau sekira Rp 28 miliar aja.

Buat ukuran seorang yang punya bisnis besar, tentunya kekayaan sebanyak itu biasa banget.

Itulah cerita tentang Chuck Feeney, miliarder yang kebanyakan berdonasi.

Gimana tanggapanmu atas keputusan Chuck Feeney yang berdonasi hingga kekayaannya merosot tajam? Apakah hal ini tepat buat dilakukan? Atau lebih baik duitnya disimpan aja buat anak cucunya? Share yuk di kolom komentar!

 

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →