Serba-Serbi Crowdsourcing yang Perlu Kita Ketahui

strategi rantai nilai

Perkembangan teknologi digital membuat munculnya berbagai peluang baru yang mungkin mustahil dilakukan pada era sebelumnya. 

Misalnya jika dahulu untuk memulai sebuah bisnis, kita harus menyiapkan modal awal untuk membuat produk dan menggaji karyawan. Kini, bisnis kita bahkan bisa berjalan tanpa perlu memiliki produk dan karyawan. Itu semua dimungkinkan oleh konsep crowdsourcing

Memahami Arti dan Penerapan Crowdsourcing 

Crowdsourcing atau urun daya adalah proses untuk mendapatkan layanan, ide, maupun konten tertentu dengan cara meminta bantuan dari orang lain secara massal, secara khusus melalui komunitas daring. Crowdsourcing biasanya digunakan dalam proyek kreatif yang menyangkut tulisan, desain grafis, arsitektur, fotografi, ilustrasi, dan lain-lain. 

Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Jeff Howe di artikel The Rise of Crowdsourcing pada 2006 dengan iStockphoto, iFilm, and InnoCentive sebagai contohnya. Menurut Howe, konsep crowdsourcing membuat publik yang selama ini tidak punya hubungan apa pun dengan perusahaan kini menjadi sumber pendanaan terbesar sekaligus turut andil memberikan ide.

Contohnya pada iStockphoto, sebuah marketplace bagi para profesional maupun nonprofesional di bidang fotografi untuk membagikan atau bahkan menjual karyanya. iStockphoto tidak memiliki produk, hanya menyediakan sebuah wadah bagi publik untuk berbagi (image-sharing) dan mendapatkan keuntungan melalui sistem komisi. 

Meski sudah berkembang pada lebih dari satu dekade, kita mungkin belum paham betul serba serbi konsep crowdsourcing ini. Yuk, pelajari dulu di sini.

Membedakan Crowdsourcing dengan Produk Fintech Lain

Di dalam industri fintech, Crowdsourcing adalah salah satu konsep usaha yang ditawarkan di dalamnya. Namun masih banyak produk-produk fintech lainnya. Mari kita cek sebagian di antaranya di bawah ini agar tidak salah paham.

1. Perbedaan Crowdsourcing dengan Crowdfunding

Sebenarnya, crowdfunding sendiri adalah bagian dari crowdsourcing. Namun tujuan dari crowdfunding lebih spesifik, yakni mengumpulkan dana. Metode ini biasanya diterapkan baik oleh perusahaan, organisasi, ataupun individu untuk mengimplementasikan suatu proyek melalui pengumpulan dana secara kolektif berbasis internet. 

Metode ini juga menggunakan platform yang menjembatani antara pemilik proyek yang membutuhkan modal dengan penyandang dana. Misalnya melalui situs www.kitabisa.com. Pada praktiknya, crowdfunding tidak hanya sebatas pada bidang bisnis tetapi juga sosial, kita pun bisa mengumpulkan donasi untuk korban bencana dengan metode ini.

2. Perbedaan Crowdsourcing dengan Peer to Peer Lending 

Jika crowdsourcing sifatnya sukarela, peer to peer lending atau p2p lending sebagai salah satu produk perusahaan berbasis financial technology (fintech) memiliki skema berbeda. Sebab, p2p lending bersifat pinjaman tunai. Pinjaman yang kita ajukan di perusahaan p2p lending akan didanai oleh sejumlah investor yang tergabung di dalamnya.

Bagaimana Cara Kerja Crowdsourcing?

Mulanya, perusahaan menciptakan magnet bagi publik untuk berkontribusi. Ambil contoh GoJek. GoJek melibatkan publik untuk berperan serta dalam suatu usaha dengan menyediakan platform untuk ojek daring. Publik yang membutuhkan akan bergabung untuk berkontribusi sebagai tenaga kerja atau yang mereka sebut sebagai mitra driver

Namun GoJek tidak perlu menggaji para mitra driver karena mereka menggaji diri sendiri melalui pembayaran dari penumpang. Sedangkan perusahaan akan mendapatkan keuntungan dari pembagian komisi yang telah disepakati di awal. 

Asuransi & Investasi
Asuransi & Investasi

Di sisi lain, penumpang GoJek juga turut andil dalam menjalankan bisnis ini. Baik dalam bentuk pembayaran kepada mitra driver ataupun saran dan kritik yang diberikan melalui aplikasi yang tersedia. 

Keuntungan dan Kerugian Mengelola Bisnis Crowdsourcing

Produk Asuransi BCA

Jika kita ingin mengelola bisnis yang berbasis crowdsourcing, tentunya perlu memahami kedua sisi di baliknya yang dilihat dari sisi plus dan minus. 

Sisi plus crowdsourcing

Banyak kelebihan yang bisa kita dapatkan jika ingin menerapkan konsep crowdsourcing dalam berbisnis, di antaranya: 

  • Perusahaan dapat meningkatkan produktivitas tanpa menambah tenaga kerja sebab tenaga kerja tidak perlu digaji karena perusahaan menerapkan sistem komisi. 
  • Publik dapat berpartisipasi langsung dalam mengembangkan suatu usaha. Baik bergabung sebagai salah satu tenaga kerja ataupun menjadi konsumen produk dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan. 
  • Konsumen turut membantu memasarkan sebuah produk. Misalnya ketika kita puas menggunakan jasa perusahaan, kita memberikan respon positif pada laman atau aplikasi yang disediakan. Secara tidak langsung, respons tersebut akan menjadi bahan pemasaran yang jitu bagi perusahaan. 

Sisi minus crowdsourcing

Selalu ada kelebihan dan kekurangan pada sebuah konsep, termasuk crowdsourcing. Nah, kita perlu tahu beberapa sisi minus ini.

  • Besarnya partisipasi publik dalam menjalankan bisnis berkonsep crowdsourcing membuat kontrol terhadap segala informasi menjadi agak sulit dilakukan. Respons positif atau bahkan negatif terhadap produk dan jasa kita sangat terbuka dan bebas akses. 
  • Penyebaran konten yang tidak bertanggung jawab mudah terjadi sehingga perlu ada sistem moderasi yang ketat. Misalnya, Kompasiana sebagai salah satu media warga (citizen media) yang menerapkan konsep crowdsourcing pada bisnis media. 
  • Tuntutan konsumen atas imbal kepercayaan dan kontribusi mereka meningkat. Konsumen akan aktif meminta kita untuk meningkatkan layanan jika mereka menemukan kekurangan dari produk atau jasa yang mereka manfaatkan. 

Contoh-Contoh Bisnis Berkonsep Crowdsourcing

pria mengajari

Saat ini cukup banyak perusahaan yang menggunakan konsep crowdsourcing untuk mengelola bisnis, baik profit ataupun nonprofit, yaitu di antaranya:

  • Wikipedia. Sebagai sebuah platform tulisan berisi informasi tentang segala hal, Wikipedia memungkinkan pengguna yang terdaftar untuk memberikan kontribusi dalam bentuk tulisan yang informatif. 
  • Waze. Sebagai penyedia informasi tentang lalu lintas, Waze mengizinkan penggunanya untuk melaporkan kondisi lalu lintas di suatu titik tertentu kepada pengguna lainnya. 
  • Sribulancer. Platform ini mewadahi calon pengguna jasa, yakni perusahaan maupun penyedia jasa untuk saling bertemu. Baik dalam bidang penulisan kreatif, desain, ilustrasi, dan lain-lain. Perusahaan mendapatkan tenaga kerja lepas, sedangkan penyedia jasa akan mendapatkan imbalan dari apa yang dikerjakannya. 

Itu tadi serba serbi crowdsourcing yang perlu kita tahu sebelum memutuskan untuk menggunakan konsep ini dalam berbisnis. Semoga informasi ini membantu, ya.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →