Putus Sekolah, Pria Ini Sukses Jadi Miliarder di Usia 25 Tahun Berkat OYO

hotel jaringan

OYO, jaringan layanan perhotelan dan hotel hemat di India kini telah tersebar di berbagai negara, salah satunya Indonesia. Di balik perjalanan sukses brand ini, ada sosok sang pendiri yang kini telah menjadi miliarder.  

Meski sudah familiar di telinga masyarakat Indonesia, masih sedikit yang mengetahui tentang pendirinya dan perjalanan suksesnya.

OYO merupakan jaringan layanan perhotelan yang didirikan Ritesh Agarwal, pria asal Gurgaon, India, yang pernah putus sekolah. Saat itu, dia membangun bisnis ini pada usia 18 tahun.

Lima tahun berjalan, valuasinya diperkirakan mencapai US$ 5 miliar atau sekitar Rp 75 triliun sehingga menjadi salah satu unicorn di India. Berkat bisnis hotel ini, Agarwal pun berhasil menjadi miliarder di usia 25 tahun.

Lantas, bagaimana kisah sukses Ritesh Agarwal mengembangkan bisnis hotel budget hingga mengantarkannya jadi miliarder di usia muda? 

Penasaran dengan fakta menarik OYO dan pendirinya, Ritesh Agarwal? Berikut ini kisahnya seperti dilansir dari berbagai sumber:

Apa itu OYO?

seorang wanita menunjukkan sebuah platform
(Instagram/@oyo.indonesia)

OYO yang awalnya merupakan singkatan dari “On Your Own” merupakan sebuah website yang menawarkan inventaris kamar hotel bermerek di seluruh India dengan fasilitas standar, seperti WiFi gratis, TV layar datar, linen berkualitas, dan perlengkapan mandi bermerek. 

Mengutip dari BusinessStandard, ide awal Ritesh mendirikan OYO tercetus ketika dia bepergian dengan anggaran minim hingga menginap di hotel bertarif rendah, dengan fasilitas yang menurutnya tidak cukup baik.

Dengan pengalamannya itu, dia pun berpikir untuk membuat usaha pemesanan hotel online seperti Airbnb. Maka, dia mendirikannya dengan nama resmi Oravel Stays Pvt pada Mei 2013.

Ritesh melihat peluang pasar akomodasi dan hotel di India mencapai kurang dari US$ 7 miliar. Saat itu, OYO menerapkan bisnis model marketplace hotel atau akomodasi low budget. Hanya saja, tak banyak yang percaya dengan model bisnis OYO saat itu.

Mengutip dari QZ, Ritesh mengikuti program “20 under 20” Thiel Fellowship pada 2013. Saat itu, dia menjadi satu-satunya warga India yang lolos program dua tahunan yang dirancang pendiri PayPal, Peter Thiel.

Ritesh pun mendapat uang senilai US$ 100 ribu dan mendapat bimbingan dari pengusaha, investor, dan ilmuwan di bidang teknologi di Silicon Valley, Amerika Serikat (AS).

Sistem franchise

Dia pun memanfaatkan uang tersebut untuk mengembangkan bisnisnya. Kini, OYO mengadopsi model manajemen dan franchise (manchise) di mana kontrol dan manajemen dipegang penuh oleh OYO. Ritesh menyebutkan, okupansi rata-rata akomodasi naik dari 25% menjadi 80%.

Sejalan dengan kinerja tersebut, OYO memungut komisi hingga 25% dari mitranya. Pertumbuhan bisnis OYO pun mencapai 300% setiap tahunnya, di mana, dua pertiga dari pengguna jaringan hotelnya pun merupakan pelanggan tetap. Pencapaian ini lebih tinggi dibanding pengembang hotel, Taj Group dan EIH Limited di India.

Forbes India melaporkan, pengembalian modal kerja (Return On Capital Employed/ROCE) OYO mencapai INR 125 crore. Dengan pendapatan operasional tumbuh 700% dan pemesanan kamar per malam naik 200%. ROCE ini menunjukan kepada investor seberapa banyak keuntungan yang dihasilkan dari setiap Rupee yang diinvestasikan.

Awal memulai bisnis, Agarwal mempresentasikan rencananya kepada perusahaan pendanaan Lightspeed Ventures. Lightspeed Ventures kemudian menyetujui ide tersebut dan menginvestasikan US$ 600 ribu sebagai modal awal. 

Pada tahun 2016, OYO memperluas bisnisnya dan mulai membangun sistem waralaba. Kini mereka memiliki lebih dari 35 ribu hotel di 800 kota, dan mempekerjakan 20 ribu orang, di mana setengahnya berasal dari India.

Sistem bisnis kemitraan

dua pasangan di hotel
(Instagram/@oyo.indonesia)

Membeli hotel bukanlah sistem bisnis Agarwal. Karena itu, pria kelahiran 16 November 1993 tersebut hanya membeli dua lokasi hotel untuk direnovasi.

Sisanya, dijalankan dalam bentuk bisnis kemitraan atau waralaba di mana OYO menyewa hotel dari pemiliknya. 

Dalam sistem bisnisnya, mitra hotel mempertahankan kepemilikan hotel, sementara OYO memberikan bentuk manajemen, pencitraan merek, standar layanan dan menjamin tingkat hunian yang lebih tinggi. 

Di Indonesia, hotel ini masuk dalam jajaran hotel budget dengan range Rp 150 ribu sampai Rp 400 ribu per malam. Bahkan, aplikasi reservasinya kini sudah bisa diunduh di Play Store yang meng-cover lokasi OYO di seluruh dunia. 

Sudah tersebar di berbagai negara

jaringan hotel
(Instagram/@oyo.indonesia)

Saat ini, Agarwal berhasil mengembangkan OYO di berbagai negara. Hotel budget dengan brand miliknya itu sudah tersebar di 18 ribu lokasi di India, sementara di China ada 13 ribu hotel di 338 kota. Usahanya ini juga telah menyentuh pasar Inggris, Indonesia, Filipina, Uni Emirat Arab, bahkan Amerika Serikat (AS).

Untuk kawasan Asia, dia berekspansi ke China dengan total 13.000 hotel OYO di 338 kota. Selanjutnya, dia terus membangun lini usahanya hingga mencakup Inggris, Indonesia, Filipina, dan Uni Emirat Arab.

Hanya dalam kurun waktu singkat, yaitu enam tahun, Agarwal menjadi salah satu miliarder termuda di India yang mengembangkan brand hotel secara global dan kini membidik potensi usahanya di AS.

“AS adalah salah satu pasar perhotelan terbesar, baik dalam hal pariwisata (domestic) dan internasional, dan karenanya memberikan peluang besar bagi kami,” kata Agarwal.

Di AS, Agarwal memiliki 200 lokasi. Namun, dia tampaknya tidak puas dan terus mengembangkan bisnis OYO. Agustus lalu, OYO membeli Hooters Casino Hotel yang memiliki 657 kamar di Nevada, dia kemudian menyesuaikan dengan standarnya dan dinamai OYO Hotel & Casino Las Vegas.

Brand budget hotel ini juga telah menjaring investor besar lainnya, seperti SoftBank, Sequoia Capital India, Airbnb dan Greenoaks Capital dengan nilai investasi US$10 miliar.

Bagaimana dengan Indonesia?

keluarga sedang menginap di hotel
(Instagram/@oyo.indonesia)

Di Indonesia, hotel OYO masuk dalam jajaran hotel budget dengan range per malam mulai dari Rp 150.000 sampai Rp 400.000.

Bahkan, aplikasi reservasi ini sudah bisa diunduh di Play Store yang menvgcover lokasi OYO di seluruh dunia.

Ritesh Argawal

Ritesh Argawal

Berasal dari keluarga kelas menengah Marwari yang lebih mirip dengan suku suka berbisnis dan tinggal di negar bagian (propinsi) Orissa, Rites Agarwal lahir dan dibesarkan di Bisam, Cuttack, Orissa.

Menjadi keturunan Marwari, Riteh tahu betul bagaimana cara menjalankan bisnis. Sebelum menjadi miliuner muda, keluarga Ritesh harus hidup dengan kondisi keuangan tidak baik. Namun, mereka selalu mendukung Ritesh untuk menjadi seperti sekarang ini dan selalu mempercayainya dengan setiap keputusan yang dibuat.

Ritesh kecil bukan remaja yang suka gaul. Melainkan, dia berminat pada pemrogaman. Menariknya, semua rasa kecintaan Ritesh kepada pemrogaraman berasal dari sang kakak.

Dia belajar bahasal pascal sendiri, mencari tahu di Google dan menariknya. Ritesh mulai meng-coding ketika berusia 8 tahun. Pada saat itu, dia dudul di kelas 10, lalu memutuskan serius menekuni dunia coding.

Siapa sangka, meski bermasa lalu kurang menyenangkan, Ritesh kini menjadi salah satu miliarder terkaya di dunia yang berhasil membawa perubahan dari bisnis hotel yang digelutinya.

Itulah empat fakta menarik Ritesh Agarwal, sosok pendiri OYO yang kini telah menjadi miliarder di usia 25 tahun. 

Dari kisahnya di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa siapa pun orangnya bisa meraih kesuksesan dengan kerja keras dan siap selalu untuk memanfaatkan kesempatan. So, kesuksesan pasti di depan mata!