Fakta-Fakta PT Vale Indonesia dan Rencana Akuisisi Inalum

Meraih penghargaan GCSA

PT Vale Indonesia, Tbk. (INCO) lagi dibidik pemerintah buat diakuisisi. Rencana ini adalah langkah yang diambil terkait pemindahan Ibu Kota baru dan penyediaan sarana transportasi yang ramah lingkungan.

Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan, akuisisi PT Vale Indonesia menjadi salah satu bagian yang penting dilihat dari segi strategic plan

Sebab menurutnya, penyediaan kendaraan listrik (electric vehicles) menjadi hal yang penting buat ke depannya. Apalagi Presiden menginginkan adanya autonomous vehicles di Ibu Kota baru.

Nah, autonomous vehicles sendiri identik dengan kendaraan listrik. Baterai menjadi salah satu komponen yang terdapat pada kendaraan listrik. Itu berarti dengan banyaknya kendaraan listrik, permintaan baterai bakal meningkat yang artinya permintaan terhadap nikel pun juga naik.

PT Vale Indonesia, Tbk. (INCO) dikenal sebagai perusahaan tambang dan pengolahan nikel di Indonesia. 

Karena kegiatan bisnis yang perusahaan tersebut jalankan, Pemerintah tertarik buat menjadikan Vale Indonesia sebagai bagian dari PT Inalum (persero) yang kini menjadi holding dari BUMN-BUMN tambang dengan nama Mining Industrial Indonesia (MIND ID).

Menarik buat diulas, ada beberapa fakta menarik mengenai PT Vale Indonesia, Tbk. Seperti apa faktanya? Berikut ini ulasannya:

1. Bagian dari perusahaan multinasional Brasil, Vale di Indonesia memulai kegiatan pertambangan tahun 1968

dua orang pekerja lapangan tengah memantau
Bagian dari perusahaan multinasional Brasil, Vale di Indonesia memulai kegiatan pertambangan tahun 1968 (Facebook)

PT Vale Indonesia yang saat ini beroperasi merupakan bagian dari Vale S.A., perusahaan multinasional asal Brasil. Kegiatan pertambangan nikel di Indonesia dimulai perusahaan ini pada 25 Juli 1968.

Mulanya perusahaan tambang nikel ini menjalankan kegiatannya dengan nama PT International Nickel Indonesia (Inco). Wilayah Celebes atau Sulawesi menjadi wilayah operasi dari pertambangan perusahaan tersebut.

Dalam perjalanannya, perusahaan tambang nikel ini telah menandatangani kontrak karya (KK) sebanyak dua kali. 

KK pertama kali ditandatangani pada 27 Juli 1968 dengan masa berlaku 30 tahun dimulai sejak tahun 1978. Kemudian KK tersebut diperpanjang pada 1996 yang nantinya berakhir pada 28 Desember 2025.

2. Lepas kepemilikan saham lalu IPO hingga akhirnya Vale S.A. ambil alih sahamnya

penandatangan kepemilikan saham
Lepas kepemilikan saham lalu IPO hingga akhirnya Vale S.A. ambil alih sahamnya

PT Vale Indonesia, Tbk. yang saat ini melantai di bursa sebelum IPO pernah melepas kepemilikan sahamnya ke Sumitomo Metal Mining Co., Ltd. sebanyak 20 persen pada tahun 1988. Saat melepas sahamnya tersebut, Vale Indonesia masih bernama PT Inco. 

Dua tahun kemudian PT Inco mencatatkan diri ke Bursa Efek Indonesia (BEI) alias IPO pada 16 Mei 1990. Saat itu, harga jual per lembar saham dengan kode INCO senilai Rp 9.800 per lembar. Inco Limited masih menjadi pemegang saham mayoritas.

Pengambilalihan saham INCO oleh Vale S.A. pada 2006 gak cuma mengubah status kepemilikan, tetapi juga turu mengubah nama perusahaan. Hasilnya, nama perusahaan berubah menjadi PT Vale Indonesia, Tbk.

3. Vale Canada Limited menjadi pemegang mayoritas saham INCO

Dua orang karyawan lapangan tengah memantau di tempat penambangan
Vale Canada Limited menjadi pemegang mayoritas saham INCO

Sejauh ini, Vale Canada Limited (VCL) tercatat sebagai pemegang mayoritas saham PT Vale Indonesia, Tbk. (INCO). VCL dilaporkan memiliki saham INCO sebanyak 5.835.607.960 lembar.

Nama pemegang saham lainnya yang tercatat memiliki saham INCO adalah Sumitomo Metal Mining Co., Ltd. Perusahaan ini memegang saham INCO sebanyak 1.996.281.680 lembar. 

Pemegang saham selanjutnya adalah Vale Japan Limited dengan jumlah kepemilikan sebanyak 54.083.720 lembar. Sementara saham sebanyak 2.036.346.880 lembar dipegang masyarakat atau publik.

4. Sepanjang tahun 2018, PT Vale Indonesia, Tbk. meraih pendapatan US$ 776,9 juta, berapa besarkah labanya?

Laba perusahaan tambang nikel
Sepanjang tahun 2018, PT Vale Indonesia, Tbk. meraih pendapatan US$ 776,9 juta, berapa besarkah labanya?

Seperti yang diungkap dalam laporan tahunan 2018, PT Vale Indonesia, Tbk. sepanjang tahun 2018 memperoleh pendapatan (revenue) sebesar US$ 776,9 juta. Dengan pendapatan sebesar itu, Vale Indonesia membukukan laba tahun berjalan US$ 60,51 juta.

Di bandingkan tahun 2017, pencapaian perusahaan ini pada tahun 2018 lebih baik. Pada 2017, perusahaan tambang nikel ini mencatat pendapatan sebesar US$ 629,33 juta. Sayangnya, Vale pada tahun 2017 mencatatkan kerugian sebesar US$ 15,27 juta.

Itulah informasi seputar PT Vale Indonesia, Tbk. yang diinginkan Pemerintah menjadi bagian dari holding BUMN tambang, MIND ID. 
Mudah-mudahan saja upaya pemerintah melakukan divestasi Vale berjalan sesuai rencana. Semoga! (Editor: Chaerunnisa)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →