Gaji Numpang Lewat Padahal Udah Dua Digit, Gini Cara Mengatur Uang yang Bijak!

Segini gaji dua digit tapi banyak utang, apa penyebabnya?

Pasti happy rasanya kalau setiap bulan dapat transferan gaji udah dua digit alias di atas Rp 10 juta. Hidup rasanya lebih tenang karena bisa memenuhi semua kebutuhan bulanan, tapi kalau banyak utang gimana? 

Sayangnya, ekspektasi tak seindah realita. Ada saja kebutuhan yang bikin pengeluaran meledak dan bahkan memaksa kamu untuk berutang. Jadi, boro-boro bisa menyisihkan uang untuk menabung, apalagi investasi.

Padahal berapapun penghasilan yang didapatkan, kamu tetap harus mengalokasikan dana sebesar 20 persen dari penghasilan untuk tabungan dan investasi lho.

Memang sih, makan di restoran mahal hingga belanja barang yang diinginkan pasti sangat menyenangkan. Tapi kalau kamu terus menuruti hasrat gaya hidup, jangan kaget kalau kamu harus kerja terus-terusan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Udah gak punya tabungan, eh punya tumpukan utang. Duh, memang mau hidup seperti itu?

Karena itu, pentingnya kamu mengetahui apa saja sih faktor yang membuat manajemen keuangan kamu amburadul padahal gaji udah digit. Setelah mengetahui biang keroknya, baru deh menata keuangan kamu lagi secara perlahan.

Pengin tahu bagaimana caranya? Yuk, simak ulasannya di bawah ini:

Melunasi semua utang

Lunasi utang semua salah satu cara terbebas dari jeratan

Tahukah kamu kalau batas aman utang itu yaitu 30 persen dari penghasilan. Kalau sudah lebih dari itu, dijamin keuangan kamu akan berantakan.

Misalnya gaji kamu sebesar Rp 10 juta, maka maksimal utang kamu setiap bulan yakni di angka Rp 3 juta. Jangan nekat berutang lebih dari 30 persen kalau gak mau hidup susah di masa depan.

Pasalnya, utang masuk ke dalam pos pengeluaran 50 persen. Jadi, kalau utang terlalu besar secara otomatis kebutuhan sehari-hari tidak akan terpenuhi. Walaupun terpaksa, maka mau gak mau kamu harus puasa nongkrong dan juga belanja hingga semua utang lunas.

Jadi, membayar utang adalah prioritas utama yang harus kamu lakukan setiap bulan untuk memperbaiki keuangan kamu.

Sayangnya banyak orang yang gagal di tengah jalan dan ujung-ujungnya malah menambah utang karena tak tahan dengan godaan gaya hidup. Kalau kondisinya seperti itu terus mah siap-siap aja kamu akan terus terjerumus dengan lingkaran utang yang menyesatkan.

Karena itu, kamu harus siap mental menahan diri untuk tidak berutang hanya demi memuaskan kesenangan sesaat. Kalau utang sudah lunas atau lebih ringan, baru deh beli baju atau makan di restoran favorit kamu. Tapi ingat, jangan berlebihan apalagi sampai berutang lagi.  

Membagi penghasilan ke tiga pos pengeluaran?

Pengeluaran harus di pos-poskan agar teratur

Sembari menunggu utang lunas, kamu juga harus mulai mengelola keuangan dengan membagi pengeluaran ke beberapa pos.

Sebenarnya ada cara paling sederhana yang bisa kamu lakukan untuk mengelola keuangan dengan menerapkan teori 50/20/30 yang dipopulerkan oleh pakar keuangan Elizabeth Warren.

Gampang banget kok, Warren menyarankan agar kamu membagi penghasilan ke tiga pos pengeluaran, seperti:

  • 50 persen dialokasikan ke kebutuhan bulanan termasuk cicilan dan asuransi.
  • 20 persen wajib banget dialihkan ke tabungan dan investasi.
  • 30 persen untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup, seperti nongkrong di kafe hingga belanja.

Tapi karena kondisinya kamu memiliki utang yang cukup menguras isi rekening. Maka, ada pos pengeluaran lain yang harus kamu alokasikan ke yang lain. Salah satunya adalah bujet pengeluaran untuk gaya hidup.

Jika normalnya adalah 30 persen untuk gaya hidup, mau gak mau kamu harus memangkasnya menjadi 10 persen dan 20 persennya dialihkan ke kebutuhan bulanan.

Contoh kasus:

Risda bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta dengan gaji per bulan Rp 12 juta. Ia memiliki cicilan mobil sebesar Rp 4,3 juta selama tiga tahun. Lalu, bagaimana cara Risda mengatur keuangannya?

Bila mengikuti teori 50/20/30 dari Warren, maka seharusnya Risda membagi penghasilannya ke tiga pos. Yakni:

  • 50 persen dari Rp 12 juta, yaitu Rp 6 juta untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk belanja bulanan, ongkos, cicilan dan juga asuransi.
  • 20 persen dari Rp 12 juta, yaitu Rp 2,4 juta dialihkan ke tabungan dan juga asuransi.
  • 30 persen dari Rp 12 juta, yaitu Rp 3,6 juta untuk memenuhi gaya hidup.

Tapi jika jatah kebutuhan bulanan Rp 6 juta sedangkan utang sebesar Rp 4,3 juta, tentu sisa uang Rp 1,7 juta tidak akan cukup untuk memenuhi semua kebutuhan kamu selama satu bulan.

Lalu, bagaimana cara mengelola keuangan yang tepat?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, kalau kamu harus mengalihkan pengeluaran gaya hidup sebesar 20 persen ke pos kebutuhan bulanan untuk menutupi beban utang. Berikut rinciannya:

  • 70 persen dari Rp 12 juta, yaitu Rp 8,4 juta untuk kebutuhan bulanan.
  • 20 persen dari Rp 12 juta, yaitu Rp 2,4 juta untuk tabungan dan investasi.
  • 10 persen dari Rp 12 juta, yaitu Rp 1,2 juta untuk kebutuhan gaya hidup.

Dari jumlah Rp 8,4 juta untuk kebutuhan bulanan. Berarti kamu masih ada sisa uang sebesar Rp 4,1 juta yang bisa kamu gunakan untuk ongkos ke kantor, membeli kebutuhan bulanan hingga membayar asuransi.

Rp 1,2 juta setiap bulan juga sangat cukup untuk membeli satu baju hingga nongkrong di kafe bareng teman-teman. Asyik banget kan?

Nah, itu dia cara mengelola keuangan buat kamu yang bergaji dua digit tapi masih ada beban cicilan setiap bulan hingga beberapa tahun mendatang. Agar cicilan aman dan keuangan juga stabil, gak ada salah dong untuk mencontek cara di atas? (Editor: Mahardian Prawira Bhisma).

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →