Jangan Remehkan Mobile Payment, Ini Dampaknya Bagi Pelaku Bisnis

Mobile payment kini digemari, ini dampaknya bagi pebisnis

Ketinggalan dompet saat ini nampaknya bukan lagi menjadi masalah, kemajuan teknologi dalam bidang financial technology mampu membuat arus baru yang mengubah kebiasaan seseorang dalam melakukan transaksi jual beli. Kehadiran mobile payment, perlahan menggeser keberadaan uang tunai sebagai alat pembayaran konvesional. 

Uang tunai sejak dulu memang sudah digunakan sebagai salah satu alat pembayaran transaksi jual beli bagi masyarakat luas. Ibu bapak kita mungkin sampai saat ini masih menggemari keberadaan uang tunai sebagai salah satu alat pembayaran di supermarket maupun toko kelontong.

Namun berbeda bagi kita yang kini mau gak mau mengikuti tren dengan mengunduh berbagai macam platform mobile payment.  

Yang menjadi kecemasan saat ini adalah ketika ketiggalan smartphone, sebab kini dengan smartphone segala hal bisa dilakukan mulai dari pekerjaan, belanja, hingga hiburan melekat dalam smartphone.

Kemudian, dari sisi financial technology, smartphone juga sangat penting, karena menjadi perangkat utama untuk melakukan pembayaran yang kini tersedia pilihan ragam teknologi, mulai dari QR Code, NFC, hingga One Time Password (OTP).

Sedangkan dari mobile payment di Indonesia sudah sangat familiar dengan berbagai dompet digital pembayaran secara digital, yakni GoPay, OVO, LinkAja, Dana. Dan pada tingkat global ada beberapa penyedia pembayaran digital seperti PayPal, PayPass, MasterCard, Alipay, Wechat Pay yang mulai merambah pasar benua Asia.

Mobile Payment jadi gaya hidup

Dengan adanya pembayaran secara digital, otomatis merubah gaya hidup
Pembayaran secara digital ini otomatis mengubah gaya hidup, (Shutterstock).

Berdasarkan survei PricewaterhouseCoopers (PwC) mengenai Global Consumer Insight 2019 diketahui bahwa mobile payment kini mulai masuk ke dalam gaya hidup masyarakat Indonesia. Dalam survei tersebut sebesar 47 persen responden di Indonesia mengungkapkan sudah menggunakan smartphone sebagai alat pembayaran. Jumlah ini mengalami kenaikan 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang masih sekitar 38 persen.

Kemudian, berdasarkan hasil riset MDI Ventures bersama Mandiri Sekuritas mengungkapkan volume transaksi pembayaran ini di Indonesia diperkirakan mencapai US$ 16,4 miliar pada 2019. Nah fakta-fakta inilah yang mengindikasi bahwa cara ini telah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia saat ini, bahkan tak asing lagi banyak perusahaan lokal yang bekerja sama dengan perusahaan luar negeri dalam melakukan kerja sama usaha atau joint venture untuk terjun dalam bisnis mobile payment.

Fitur pemindai kode (QR Code) paling disukai

QR Code salah satu metode pembayaran saat ini
Dengan menggunakan QR Code, kamu pasti sangat dimudahkan dalam melakukan transaksi apapun, (Shutterstock).

Belakangan, teknologi pemindai kode untuk segala jenis transaksi mulai digemari konsumen, sebab sarana pembayaran ini sangat efisien, cepat, dan juga praktis, terlebih ditambahkan dengan promosi cashback yang membuat konsumen semakin tergoda untuk memakainya.

Salah satu negara yang sukses menggunakan teknologi ini adalah China, pada tahun 2018 lalu, bisnis pembayaran digital di negeri tirai bambu ini mencapai US$ 5,5 triliun, salah satu penyebab tingginya volume transaksi ini adalah penerapan QR Code dai Tencent Pay, Alipay yang menguasai 90 persen pangsa pasar di China.

Sedangkan di Indonesia, teknologi ini mulai populer media tahun 2018 lalu, kemudian pada tahun 2019 Bank Indonesia (BI) meluncurkan QRIS atau yang dikenal dengan QR Code Indonesian Standard. Kehadiran QRIS ini memberikan kemudahan bagi para merchant usaha dan konsumen dalam melakukan transaksi dengan QR Code, sebab merchant hanya memiliki satu QR Code tetapi bisa digunakan beragam aplikasi pembayaran digital ini di Indonesia.

Adapun Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan bahwa QRIS yang mengusung semangat UNGGUL (Universal, Gampang, Untung dan Langsung). Hal ini bertujuan untuk mendorong efisiensi transaksi, mempercepat inklusi keuangan, memajukan UMKM. Pada akhirnya, standar ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, untuk Indonesia Maju.

Perry menambahkan, dengan adanya standar ini, masyarakat yang melakukan pembayaran dengan QR code akan semakin dimudahkan. Sebab, ke depannya, masyarakat dan toko (merchant) nantinya hanya perlu satu kode unik untuk melakukan pembayaran dengan berbagai aplikasi dompet digital.

Sebab, saat ini masyarakat hanya bisa melakukan pembayaran sesuai dengan aplikasi dompet digital yang digunakan dan disediakan oleh merchant atau toko pedagang. Hal ini tidak efisien sebab merchant harus menyediakan berbagai QR code mulai dari Gopay, Ovo, Dana, hingga LinkAja.

Pengaruh mobile payment bagi bisnis

Lantas gimana dengan dampak dengan kehadiran metode pembayaran ini?
Bagi pelaku bisnis, apa dampaknya dengan kehadiran metode pembayaran ini?, (Shutterstock).

Tak hanya memberikan kemudahan bagi konsumen, kehadiran pembayaran digital ini juga menjadi strategi marketing pada saat ini. Sebab kemudahan transaksi, pilihan metode pembayaran, tingkat promosi menjadi salah satu faktor bagi konsumen dalam menggunakan uang digitalnya.

Di ranah global, China menjadi pemain sukses dalam mobile payment, masyarakatnya cenderung memilih mobile payment untuk belanja online, membeli voucher game, pengiriman uang, membeli produk kebutuhan sehari-hari, produk keuangan, hingga layanan top up.

Kemudian, bagaimana di Indonesia? Pastinya tak berbeda jauh, di Indonesia sendiri cara pembayaran ini banyak digunakan untuk berbagai kategori bisnis dan keperluan diantaranya:

  1. Restoran
  2. Retail
  3. Marketplace atau belanja online
  4. Transportasi Online
  5. Top-up Pulsa dan Voucher Game
  6. Transportasi Publik
  7. Produk Keuangan dan Finansial
  8. Pengiriman Uang
  9. layanan pesan anatar makanan online
  10. Minimarket

Dari hasil riset Mandiri Sekuritas memaparkan sebesar 60 persen pengeluaran masyarakat Indonesia yang menggunakan metode pembayaran digital didominasi oleh sektor transportasi, komunikasi, dan makanan non-restoran.

Bahkan, dari data penyedia layanan Point of Sales yakni Moka menyatakan dari seluruh kategori bisnis, mengungkapkan kalau bisnis makanan dan minuman menempati posisi teratas dalam penetrasi penggunaan mobile payment.

Nah, dengan data ini tak ada alasan lagi nih bagi pebisnis untuk tidak menyediakan metode pembayaran digital dalam usaha, selain menjadi daya tarik konsumen, metode ini juga memberikan kemudahan bagi pebisnis dalam memantau segala perkembangan bisnisnya.

Kehadiran metode pembayaran ini mengubah gaya hidup

Gaya hidup otomatis berubah semenjak kehadiran metode pembayaran ini
Gaya hidup orang pun bakal berubah dengan kehadiran metode pembayaran ini, (Shutterstock).

Salah satu dampak paling terasa saat ini adalah mulai malasnya orang membawa uang tunai atau cash. Hal ini disebabkan perubahan gaya hidup yang mulai bergeser. Mulai dari berangkat kerja menggunakan transportasi online pasti dominan menggunakan mobile payment.

Dengan ini pastinya akan semakin sering mendengar “Duh nggak bawa uang cash nih!” Belum lagi yang menggunakan transportasi publik akan memilih pembayaran dengan e-money atau uang dalam kartu elektronik.

Saat makan siang atau membeli makan akan menggunakan metode pembayara ini  atau pesan melalui food delivery online. Nah beberapa kebutuhan mendasar ini yang sudah bisa dipenuhi tanpa transaksi uang kertas. Dampaknya pasti membawa uang cash dalam jumlah yang kecil atau sangat terbatas.

Tak hanya itu, kini kartu ATM bukan segalanya, jika dahulu ketinggalan dompet dan kartu ATM menjadi masalah besar, kini keduanya mulai tergantikan dengan ponsel pintar. Terlebih saat ini sudah banyak toko ritel sudah menerima transaksi pembayaran melalui metode ini, maupun uang elektronik.

Tak hanya itu, saat inipun masyarakat sudah bisa tarik tunai di ATM tidak lagi menggunakan kartu ATM tetapi dengan aplikasi mobile banking pada aplikasi ponsel pintar. Selain itu membawa kartu ATM fisik juga rentan dengan tertinggal pada mesin ATM ataupun terjatuh.

Bisnis ini makin cuan berkat mobile payment

Bakal menghasilkan banyak cuan nih bagi pebisnis
Begini nih dampaknya dengan kehadiran metode pembayaran ini, (Shutterstock).

Berkembangnya era cashless society atau masyarakat tanpa uang tunai membuat pola perilaku masyarakat dalam melakukan transaksi atau berbelanja cenderung berubah.

Semakin masifnya perkembangan ekonomi digital, dan akses internet membuat layanan solusi pembayaran juga semakin digemari.

Maraknya aplikasi pembayaran digital seperti Go-Pay, Ovo, Dana, membuat masyarakat semakin terbiasa dengan metode pembayaran non tunai.

Nah bagi pengusaha yang memiliki bisnis atau yang berniat menjalankan ide bisnisnya tentu jangan sampai ketinggalan dengan tren saat ini. Sebab hal ini bisa menjadi peluang yang besar bagi tumbuh kembangnya sebuah usaha.

1. Bisnis kuliner

Bisnis kuliner menjadi bisnis yang tengah berkembang pesat saat ini. Lihat saja berapa banyak kalangan artis, publik figur, hingga anak pejabat dan presiden ikut turun gunung membuat bisnis kuliner saat ini.

Selain itu, perkembangan aplikasi pemesanan makanan secara online juga membuat subur sektor bisnis ini. Bayangkan dari data Grab Food Indonesia sepanjang tahun 2018 lalu, ada 13 juta ayam geprek yang sudah diantarkan Grabfood kepada konsumen.

Nah bagi pengusaha kuliner tentu ini peluang yang sangat menjanjikan. Setiap hari ada ribuan orang yang siap membeli produk yang dijual melalui aplikasi pesan antar makanan secara online, dan tentunya dengan metode pembayaran cashless.

2. Bisnis toko kelontong

Maraknya gerai minimarket dan supermarket menandakan bahwa pangsa pasar pada bisnis ini begitu tinggi. Nah jangan sampai peluang yang besar ini hanya dinikmati oleh sebagian orang atau perusahaan besar saja. Membuka bisnis toko kelontong juga bisa menjadi pilihan yang tepat.

Selain memberikan kemudahan bagi masyarakat sekitar untuk berbelanja, membuka toko kelontong saat era transaksi non tunai juga menjanjikan lho. Buktinya beberapa perusahaan e-commerce seperti Tokopedia dan Bukalapak menyediakan peluang usaha berupa mitra usaha bagi pemilik bisnis toko kelontong.

Sebab, selain menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari, pemilik toko kelontong juga bisa menyediakan layanan pembayaran tagihan listrik, telepon, air. Bahkan hingga pembelian voucher listrik, pulsa telepon, paket data internet, dan lain-lain.

3. Bisnis laundry

Kesibukkan orang dikota-kota besar semakin meningkat. Selain karena pekerjaan, kepadatan jumlah penduduk, dan pergerakan roda ekonomi juga membuat waktu semakin sempit. Bisnis laundry atau cuci pakaian bisa menjadi pilihan saat ini terutama di wilayah padat penduduk, kota besar, atau dekat kampus.

Kegiatan mencuci pakaian memang kegiatan sehari-hari yang sangat memakan waktu. Walaupun tersedia mesin cuci tetapi tetap saja perlu waktu yang tidak sedikit dan tenaga yang lebih.

Satu-satunya jalan adalah menyerahkan pakaian kotor kepada jasa laundry, cukup mengeluarkan uang, pakaian bersih, wangi, dan siap pakai.

Akan tetapi, persaingan bisnis ini telah menjelma sebagai bisnis yang ketat persaingan. Cara mengatasinya adalah dengan memberikan sentuhan berbeda pada bisnis laundry yang akan dijalani, terlebih bisnis ini ada di pusat kota, dekat kampus, dan perkantoran dengan pangsa pasar para generasi milenial yang gemar melakukan transaksi secara online. Itu dia dampak kehadiran mobile payment yang saat ini banyak digandrungi. (Editor: Mahardian Prawira Bhisma)

Marketplace Asuransi #1 di Indonesia

Cari Asuransi Terbaik Sesuai Anggaranmu

  • Bandingkan > 100 polis asuransi
  • Konsultasi & bantuan klaim gratis