Kerja di Perusahaan Ritel? Saatnya Update CV Sekarang Juga

Perusahaan Ritel

Melamar kerja tentu jadi solusi buat kamu yang udah gak betah kerja di sebuah perusahaan. Tapi jangan salah, gak hanya soal betah gak betah lho. Terkadang kamu juga harus melakukan hal ini untuk menyelamatkan diri, terutama jika kamu adalah pekerja di perusahaan ritel.

Menyelamatkan diri? Kok terdengarnya kayak mau ada bencana alam gitu?

Baiklah, mari kita ingat fenomena yang terjadi di penghujung 2017. Saat itu, brand-brand ritel mulai berguguran. Sebut saja Matahari, Lotus, dan Debenhams yang tutup cabang. Dan pada Februari 2018, giliran GAP, Clarks, dan Banana Republic yang menutup seluruh gerai.

7-Eleven yang dulunya besar pun bisa bangkrut. Kita juga gak menyangka hal itu bakal terjadi bukan?

[Baca: Belajar dari Sevel, Jangan Lakukan 3 Hal Ini Kalau Gak Mau Bisnismu Tutup di Tengah Jalan]

Alasan penutupan gerai itu didasari karena menurunnya penjualan dan utang yang menunggak. Mereka jelas gak punya pilihan lain kecuali menutup gerai.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) melansir industri ritel hanya mengantongi pertumbuhan di bawah lima persen sepanjang Januari-Juni 2017. Pencapaian ini turun jauh dibandingkan beberapa tahun sebelumnya lho.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Mungkin tiga alasan ini bisa membuatmu paham soal kenapa kinerja perusahaan ritel, terutama yang ritel offline, lagi lesu.

1. Makin kalah bersaing

perusahaan ritel
Belanja pun bisa online, gak perlu mesti jalan ke mall, cari parkiran, dan sebagainya (Kompas)

Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro, melesunya daya beli masyarakat di sektor ritel disebabkan karena adanya perubahan pola belanja dari offline ke online. Meski demikian, alasan ini masih jadi perdebatan di kalangan pemerintah.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Dody Budi Waluyo, menilai bahwa masih terlalu dini untuk berasumsi bahwa pola konsumsi masyarakat berubah. Selain itu, belum ada juga data yang menunjukkan soal besarnya transaksi di e-commerce

Pada September 2017, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Rosan Roeslani, mengatakan penyebab utama dari lesunya industri ritel modern adalah menurunnya kepercayaan masyarakat dalam melakukan pembelian. Walaupun mereka punya banyak uang, mereka justru menahan diri.

Tapi kalau dipikir-pikir, coba deh kamu bandingkan saja harga-harga barang yang tercantum di toko ritel fisik dan online shop. Online shop bisa menjualnya dengan harga yang jauh lebih murah lho.

Belum lagi mereka juga sering ngadain promo, dan belanja online shop jauh lebih praktis karena kamu gak perlu keluar rumah. Walau memang data penjualan online shop itu masih minim, tapi eksistensi mereka masih terlihat, dan masih banyak pula muncul para pemain baru.

2. Biaya operasional besar

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani, berpendapat, permasalahan utama menurunnya kinerja perusahaan ritel adalah karena persoalan tenaga kerja. Kalau sudah urusannya adalah tenaga kerja, maka hal ini berkaitan juga sama operasional.

Dengan banyaknya gerai dan karyawan, maka biaya operasional perusahaan juga gak sedikit. Jadi wajar saja kalau target penjualannya juga harus besar.

Ketika laba perusahaan ritel tempatmu bekerja kian tergerus, maka gak nutup kemungkinan juga kamu terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Apa gak ngeri tuh? Pesangon sih mungkin dapat, tapi setelah itu mau kerja di mana?

Jadi, Melamar Kerja ke Mana Ya?

perusahaan ritel
Kalau ada perusahaan yang lebih baik, kenapa gak mau ngelamar di sana? (Viva)

Mengingat dua hal yang tengah dialami industri ritel di atas, maka jelas banget kan bahwa ini adalah saat yang tepat untuk memoles CV dan cari kerjaan baru. Pertimbangkanlah untuk melamar di empat sektor usaha ini, karena keempatnya diprediksi makin moncer pada 2018.

1. Media

Beberapa tahun yang lalu mungkin kita menyaksikan banyak media cetak yang tutup. Namun hal itu bukan berarti industri media bakalan mati.

Di tahun 2018 ini, saham-saham industri media diprediksi meningkat. Menurut Bahana Sekuritas, pertumbuhan belanja iklan pada tahun ini bakal berada pada kisaran 13 hingga 15 persen, melesat cukup tinggi daripada tahun lalu yang hanya berada pada kisaran 3 sampai 5 persen.

Hal itu disebabkan karena bakal ada event besar di luar maupun dalam negeri, yang membuat banyak perusahaan gencar pasang iklan. Event besar itu sebut saja seperti Piala Dunia 2018, Asian Games, dan Pemilu.

Dengan banyaknya iklan, bisa dikatakan bahwa laba perusahaan media bakal meroket. So, asik dong

2. Perbankan dan keuangan

Nah sektor yang satu ini juga mengalami pertumbuhan signifikan dalam urusan sahamnya. Hal itu pun dibenarkan oleh analis dari MNC Sekuritas.

Tapi kalau dipikir-pikir, sampai kapanpun sektor ini memang tergolong stabil, wong laba bersih sejumlah bank saja meningkat pada akhir 2017. Apalagi labanya bank-bank pelat merah.

Gak perlu jadi lulusan akunting, ekonomi, atau matematika untuk bisa jadi karyawan perbankan lho. Kamu yang lulusan jurusan lain juga sangat berpotensi untuk kerja di bank.

3. Industri konstruksi

perusahaan ritel
Pas pindah eh karier makin mulus, peluangmu jadi bos pun makin besar (Liputan 6)

Di tahun politik ini, perusahaan-perusahaan konstruksi juga bisa dibilang ketiban hoki. Sebut saja seperti PT Adhi Karya Tbk yang lagi kelimpahan proyek pembangunan light rail transit (LRT) setiap tiga bulan sekali dari PT Kereta Api Indonesia (KAI).

PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) juga akan bisa mencairkan pendanaan dari Chinese Development Bank (CDB) senilai US$ 700 juta pada awal 2018. Kasnya lagi gede-gedenya tuh.

Dan kalau kamu saksikan lewat kasat mata, tentu banyak sekali pembangunan infrastruktur yang berlangsung di ibu kota ini. Saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang yang satu ini juga sedang membaik lho.

Jadi, gak ada salahnya kan ngelamar di perusahaan konstruksi. Selama perusahaannya bonafit mah, sampai kapanpun proyeknya bakal ada terus kok.

4. Teknologi

Perusahaan berbasis teknologi, entah itu yang masih baru atau yang sudah besar, tetap layak untuk dijadikan referensi melamar kerja. Coba aja lihat, Jeff bezos, orang terkaya di dunia no. 1 saja berasal dari perusahaan teknologi ternama, yaitu Amazon.com. Lalu orang terkaya ke-4 adalah pendiri Facebook, Mark Zuckerberg.

[Baca: Nyari Lowongan Kerja Gak Harus di Perusahaan Besar Kok]

Perusahaan teknologi juga banyak jenisnya. Ada yang e-commerce, transportasi online, penyedia layanan otomotif, dan sebagainya.

Artinya, banyak varian pekerjaan yang bisa kamu pilih ketika melamar ke perusahaan teknologi atau digital. Jadi, berkarier di sini bisa dibilang adalah pilihan yang cerdas, khususnya buat generasi milenial.

So, sudah tahu kan alasannya kenapa harus memperbaharui CV dan cari kerjaan baru kalau kamu pekerja perusahaan ritel? Kalau bingung ngelamar ke mana, ya tinggal pilih saja empat bidang di atas.

[Baca: 5 Fakta yang Bisa Membuatmu Rajin Menabung Uang dan Investasi]

 

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →