Batal Bangun Rumah hingga Terjerat Rentenir, Ini Kisah Sukses Penjual Jamu Asal Indramayu

Penjual jamu

Sebelum mengenal pinjaman dana online P2P lending, Sumyati yang berprofesi sebagai penjual jamu sempat mengalami hidup serba terbatas. Gak cuma itu, ia juga sempat lho terjerat utang hingga dikejar-kejar oleh rentenir.

Sumyanti mengisahkan bahwa dirinya sudah berjualan jamu keliling sejak tahun 1995. Kampung ke kampung, keliling Balongan dan Singaraja begitulah cara perempuan paruh baya ini mengais rejeki dari segelas jamu yang ia jajakan ke pelanggannya. 

Kala itu ia belum mengenal pinjaman online P2P lending, meminjam uang dengan rentenir ternyata gak menyelesaikan masalah yang ia alami kala itu. Sempat terjerat rentenir alias utang, ia pun mau gak mau mesti mengalami kesulitan bahkan mengurungkan niatan buat membangun rumah. 

Cerita lain saat dirinya memutuskan melakukan pinjaman demi modal usaha kecilnya lewat Amartha. Berkembang dan menguntungkan, begitu yang ia alami saat melakukan pinjaman P2P lending ini. 

Pemasukannya pun kini cukup signifikan, gak cuma itu Sumyati juga menerima penghargaan sebagai Perempuan Pencipta Perubahan Awards yang dipersembahkan oleh Permata Bank dan Amartha.

Ingin tahu bagaimana kisah Sumyati memulai usahanya berjualan segelas jamu keliling? Yuk simak ulasannya.

Baca juga: Bisa Dimulai Tanpa Modal! Ini 7 Produk Jualan Online yang Selalu Laris Manis

1. Sempat merantau dan menganggur sebelum melakoni sebagai penjual jamu

Penjual jamu
Sumyati sempat menganggur dan terjerat bunga utang dari rentenir, (Aulia Akbar/Lifepal).

“Dulu saya pas lulus SMP mau masuk SMA gak ada biaya. Saya ngerantau ke kota dan kursus menjahit tapi ternyata saya gak minat, lantas nganggur dulu dan ikut jualan jamu sama ibu saya,” ujar Sumyati ketika diwawancarai Lifepal di sela gelaran Permata Bank Unite for Education (UFE) Sustainability Forum belum lama ini. 

Menganggur dan gak memiliki passion dalam menjahit, ia pun memutuskan buat menjadi penjual jamu keliling. Profesi ini ia tekuni hingga akhirnya menikah dan berkeluarga sampai sekarang lho. 

Ibu dari tiga anak ini akhirnya pindah domisili dan mengontrak rumah sendiri bersama suaminya. Namun hidupnya masih saja serba terbatas.

Baca juga: Wah! 15 Tahun Jualan Jamu, Ibu Poni Bisa Sekolahkan Dua Anaknya

2. Susah makan hingga batal membangun rumah gara-gara rentenir

Penjual jamu
Didapuk sebagai perempuan yang berhasil membawa perubahaan dalam usaha, (Aulia Akbar/Lifepal).

“Waktu itu penghasilan saya dari jualan jamu ini kecil banget. Ibarat anak mau makan ayam aja kadang kita gak bisa ngasih karena gak ada duitnya,” urainya. 

Saking sulitnya dalam urusan keuangan, Sumyati pun sempat meminjam dana ke rentenir. Ia pun cukup sengsara dengan melihat beban bunga yang diberikan kepadanya.

“Ibarat kita minjem Rp 1 juta, lho ini bunganya aja Rp 300 ribu sendiri. Tiap bulan yang saya kerja itu cuma buat bayar bunganya yang besar. Dulu uang Rp 300 ribu itu sudah besar sekali, apalagi buat orang kaya saya,” papar Sumyati.

Sumyati mengaku, dirinya sempat berniat membangun rumah. Namun niat itu pun ia urungkan lantaran beban yang ia harus pikul buat membayar utang ke rentenir.

Agen Asuransi Mitra Lifepal
Agen Asuransi Mitra Lifepal

“Kerja dari pagi hingga malam cuma buat itu (red: bayar utang ke rentenir), makan seadanya, anak mau makan apa gak bisa dituruti. Sampai setiap bulan saya nangis gara-gara ini,” imbuhnya.

Baca juga: Bisnis The Kale Tale, Julie Estelle Manfaatkan Media Sosial Buat Jualan

3. Setelah mendapatkan pinjaman modal usaha, penghasilannya mengalami peningkatan yang drastis

penjual jamu
Sumyati bersanding dengan perempuan lainnya yang berhasil mengembangkan usahanya, (Aulia Akbar/Lifepal).

Di tahun 2016, Sumyati akhirnya berhasil menerima pinjaman modal usaha dari salah satu startup P2P lending ini. Hasilnya pun cukup signifikan untuk perkembangan usahanya.

Tambahan modal tersebut ia belikan bahan-bahan pokok untuk membuat jamu. Selain itu, ia juga membeli peralatan baru untuk menunjang usahanya alhasil sekarang ia sukses menjadi penjual jamu di kampung halamannya. 

“Ya kalau dulu mau makan ayam aja susah, tapi sekarang alhamdulillah sudah gak mengalami hal yang seperti dulu. Sekarang jualan sama bapak (suaminya) bisa untung Rp 100 hingga Rp 200 ribu sehari,” ujarnya.

Sebagai penjual jamu, Sumyati dan suaminya harus bekerja setiap hari lho kecuali hari Minggu. Ke depannya perempuan ini bermimpi ingin membeli sebuah gerobak baru agar bisa berjualan malam hari di taman kuliner setempat. 

Begitulah kisah perjuangan penjual jamu asal Indramayu ini. Jelas banget bahwa pinjaman rentenir bisa bikin orang sengsara, lain halnya dengan pinjaman modal usaha dari bank atau P2P lending yang bunganya rendah. Semoga ke depannya Ibu Sumyati bisa sukses jualan ya! (Editor: Mahardian Prawira Bhisma).

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →