Beli Perusahaan Seharga Rp 2.000, Begini Kisah Tony Fernandes Sulap AirAsia Jadi Maskapai Jempolan!

tony fernandes

Beberapa waktu belakangan nama eks CEO AirAsia Tony Fernandes santer dibicarakan media internasional. Penyebabnya adalah dugaan suap dari produsen pesawat terbang Airbus kepada dirinya terkait pengadaan armada pesawat maskapai tersebut.

Pada tanggal 4 Februari 2020 lalu, pihak manajemen AirAsia mengumumkan bahwa pria kelahiran Kuala Lumpur, 30 April 1964 ini mengundurkan diri dari posisi pucuk pimpinan.

Sontak berita tersebut mengejutkan banyak orang yang mengenal Tony Fernandes sebagai sosok di balik suksesnya AirAsia di bisnis penerbangan murah, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Terlepas dari kasus tersebut, ia patut menjadi inspirasi banyak orang untuk meraih kesuksesan. Sebab perjalanannya dalam membangun maskapai berwarna dominan merah dan putih tersebut tidaklah gampang. Simak kisah inspiratif Tony Fernandes berikut ini.

Tony Fernandes punya latar pendidikan di bidang akuntansi

Masa muda Tony Fernandes dihabiskan sebagian di negeri Ratu Elizabeth yakni Inggris. Ketika masuk di bangku SMA, ia mengemban pendidikan di Epsom College dan sekaligus tinggal di asrama yang disediakan oleh pihak sekolah.

Lalu masuk ke perguruan tinggi di London School of Economics untuk jurusan akuntansi. Setelah lulus, kariernya bisa dibilang cukup melejit, yuk simak ceritanya di poin kedua.

Sempat bekerja di perusahaan konglomerat Inggris Richard Branson yakni Virgin Atlantic

richard branson
Tony pernah bekerja untuk Richard Branson. (Shutterstock)

Awal karier Tony Fernandes dihabiskan untuk bekerja di perusahaan milik Richard Branson yakni Virgin Atlantic. Di maskapai penerbangan ini, ia duduk sebagai auditor selama beberapa tahun.

Lalu, ia naik jabatan menjadi Financial Controller di perusahaan milik Richard Branson lainnya yakni Virgin Communication yang terletak di kota London, Inggris, pada tahun 1987 hingga 1989.

Belum berhenti sampai di situ, Tony melanjutkan kariernya di Warner Music International sebagai Senior Financial Analyst. Barulah di tahun 2001 ia banting setir dan memilih untuk menjadi seorang pebisnis.

Tony Fernandez membeli AirAsia seharga 1 Ringgit Malaysia!

pesawat air asia di angkasa
Tony membeli AirAsia yang kala itu terjerat utang. (Shutterstock)

Tony tidak mendirikan AirAsia dari nol. AirAsia merupakan perusahaan milik badan usaha milik pemerintah Malaysia, DRB-Hicom yang beroperasi sejak tahun 1993.

Pada 2001, AirAsia terjerat utang besar. Ketika itu, maskapai ini hanya punya dua unit pesawat Boeing 737-300 plus utang yang mencapai US$ 11 juta atau setara Rp 150 miliar.

Atas saran dari Perdana Menteri Malaysia kala itu, Mahathir Muhammad, Tony pun membeli AirAsia dengan tabungan dan uang hasil menggadaikan rumahnya. Uniknya, bersama seorang koleganya, Datuk Kamarudin bin Meranun, Tony membeli AirAsia sebesar 1 Ringgit Malaysia atau setara Rp 2 ribuan di tahun tersebut. Tentu saja, sekaligus dengan beban utangnya yang ratusan miliar itu.

Pelan tapi pasti, maskapai penerbangan ini bangkit dari keterpurukan bisnis bahkan balik modal setelah satu tahun dikelola Tony. Kemudian, pada tahun 2004 mereka berhasil melakukan Initial Public Offering (IPO) lho di bursa saham Kuala Lumpur.

Memperkenalkan slogan “Now Everyone Can Fly” sebagai maskapai penerbangan dengan tarif rendah

slogan air asia
Slogan AirAsia. (businessmodelhub.com)

Salah satu strategi marketing yang bikin AirAsia dipercaya oleh banyak konsumen adalah tarifnya yang relatif murah. Bisa dibilang perusahaan ini menjadi pelopor penerbangan murah yang ada di wilayah Asia Tenggara.

Salah satu slogan yang melekat di AirAsia adalah “Now Everyone Can Fly”. Slogan ini mewakili misi AirAsia untuk menyediakan penerbangan berbiaya terjangkau untuk masyarakat. 

Pantes aja kalau pada tahun 2018 AirAsia berhasil meraup keuntungan sampai 1,9 miliar Ringgit Malaysia atau setara Rp 6,3 triliun.

Pesawat AirAsia QZ8501 jatuh di perairan Indonesia tahun 2014

pesawat airasia parkir di bandara
Pesawat AirAsia di bandara. (Shutterstock)

Masih melekat di ingatan kita pada tahun 2014 pesawat dengan kode penerbangan QZ8501 milik AirAsia jatuh di wilayah Laut Jawa, tepatnya di dekat Selat Karimata. Kecelakaan ini menewaskan seluruh 155 penumpang dan 7 kru pesawat Airbus A320-200 tersebut.

Kejadian ini menjadi pukulan telak bagi Tony Fernandes selaku pucuk pimpinan maskapai penerbangan tersebut. Meskipun berat, tapi pihak maskapai bertanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi tersebut kepada pihak korban

Selepas insiden tersebut, AirAsia mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat dan melantai di bursa saham Tanah Air pada akhir tahun 2017 melalui skema backdoor listing. Backdoor listing sendiri adalah strategi yang digunakan oleh perusahaan untuk bisa melantai di bursa saham akibat belum bisa memenuhi kriteria Initial Public Offering. Caranya adalah dengan mengakuisisi perusahaan yang udah melantai di bursa saham. 

Dalam hal ini, AirAsia mengambil alih saham PT Rimau Multi Putra Pratama Tbk (CMPP). Namun pada 5 Agustus 2019, saham AirAsia ini mengalami suspend karena jumlah saham yang dimiliki oleh publik kurang dari 7,5 persen sesuai dengan ketentuan Bursa Efek Indonesia. Harga saham CMPP terakhir sebelum dihentikan perdagangannya adalah Rp 184 per lembar.

Mendapatkan penghargaan dari kerajaan Inggris

Berkat prestasinya tersebut, Tony Fernandes berhasil meraih penghargaan bergengsi seperti Order of the British Empire.

Selain itu, ia juga mendapatkan beberapa gelar kehormatan dari kerajaan Malaysia seperti Commander of the Order of Loyalty to the Crown of Malaysia, Orders, Decorations, and Medals dari Sultan Pahang dan Orders, Decorations, and Medals dari Sultan Perak.

Berapa tunjangan dan kekayaan Tony Fernandes?

tony fernandes
Berapa kekayaan Tony Fernandes? (Shutterstock)

Menjadi CEO AirAsia membuat Tony diguyur tunjangan sekitar 23 juta Ringgit Malaysia atau setara Rp 76 miliar pada tahun 2018. Sementara itu, untuk total kekayaannya diperkirakan mencapai US$ 530 juta atau setara Rp 7,2 triliun.

Nah itulah sedikit kisah sukses tentang Tony Fernandes. Semoga cerita tersebut bisa menjadi motivasi buat kamu untuk bisa sukses! (Editor: Ruben Setiawan)