Manajamen Risiko: Peran di Dalam Organisasi dan Perusahaan

Dalam hidup, risiko selalu menjadi ancaman pada sebuah keberlangsungan. Mengapa menjadi ancaman? Sebab risiko berpotensi menimbulkan kerugian apabila terjadi suatu peristiwa tertentu.

Sebagian orang memang cenderung menghindari risiko karena khawatir akan terjadi sesuatu yang bakal merugikan di masa depan. Namun sebuah nasihat bijak mengatakan, dia yang tidak cukup berani untuk menempuh risiko, tidak akan mendapatkan apa-apa dalam hidupnya.

Maka apabila risiko itu datang, jangan terburu-buru menyimpulkan membawa kemalangan. Nyatanya risiko berpeluang menjadi sesuatu yang menguntungkan di masa depan melalui sebuah manajemen risiko yang ideal. 

Nilai-Nilai di Balik Manajemen Risiko

Risiko terkadang memang tidak terhindari. Namun agar risiko tidak menggoncang keberlangsungan organisasi atau perusahaan, maka risiko harus dapat diidentifikasi, diukur, dipantau, dan dikendalikan. Gunanya agar dapat meminimalkan ancaman.

Pada proses identifikasi, diperlukan sebuah pengaturan yang disebut dengan manajemen risiko.

Manajemen risiko adalah suatu proses yang memungkinkan terjadinya kejadian risiko individual dan risiko secara keseluruhan yang dapat diminimalkan sehingga tidak terjadi ketimpangan. Sebaiknya, kita pun perlu mempertimbangkan adanya manajemen risiko dalam menajemen organisasi atau perusahaan sebagaimana inilah manfaat yang bisa didapatkan.

1. Tujuan tercapai

Manajemen risiko tidak hanya dibutuhkan dalam sebuah perusahaan, tapi juga dibutuhkan dalam organisasi sektor publik yang memiliki prinsip organisasi profesional. Maka, manajemen risiko dibutuhkan untuk mengendalikan supaya tujuan dalam sebuah organisasi terjadi. Karena apabila risiko tidak dikendalikan dengan baik, tujuan organisasi akan terganggu.

2. Daya saing meningkat

Apabila risiko dapat dibaca dan diminimalkan sebelum menjadi gangguan, maka kemampuan organisasi atau individu yang menerapkan manajemen risiko akan meningkat. Hal ini tentu meningkatkan daya saing dalam sebuah organisasi. Hasilnya, produk atau jasa yang diproduksi tentu akan menjadi lebih baik.  

Tahapan Menyusun Manajemen Risiko

Setelah menyadari pentingnya peran manajemen risiko, selanjutnya kita dapat menyusun rancangan. Sebagai awalan, kita harus melihat situasi terkini dalam organisasi atau perusahaan untuk bisa menerapkannya.

Sebagaimana fungsinya untuk mengendalikan organisasi, tahapan-tahapan ini akan membantu kita menyusun manajemen yang baik.

1. Identifikasi risiko

Ini adalah tahap pertama untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi. Lewat tahap inilah, akar permasalahan yang terjadi dapat ditelisik untuk mendapatkan gambaran risiko di masa mendatang. Ada sejumlah teknik yang dapat digunakan dalam mengidentifikasinya. 

  • Brainstorming.
  • Survei.
  • Wawancara.
  • Focus group discussion.
  • Informasi historis.
  • Kelompok kerja.
  • Analisis SWOT.

2. Analisis risiko

Setelah risiko berhasil teridentifikasi, maka gambaran potensi kerugian akan dapat terlihat. Pada tahap ini akan muncul penilaian awal atas bahaya dan bagaimana proyeksi pengendaliannya. Kita dapat memutuskan bagaimana langkah-langkah yang tepat untuk mengendalikan risiko tersebut.

3. Pengelolaan risiko

Tahapan berikutnya adalah bagaimana mengelola sebuah risiko untuk menjadi bahan keputusan membentuk sebuah strategi baru dalam sebuah organisasi. Tahapan ini akan menguji keterampilan dari pimpinan untuk dapat membentuk strategi baru agar risiko yang dihadapi mampu terantisipasi dengan baik. 

Pengelolaan risiko itu sendiri terbagi atas sejumlah kategori, yakni:

  • Risk avoidance, yaitu kondisi saat pimpinan atau pemegang kuasa memutuskan apakah melakukan atau tidak melakukan aktivitas yang mengandung risiko. Meski tetap diputuskan untuk melakukannya, maka sebaiknya disertai dengan sejumlah ukuran pertimbangan potensi keuntungan dan kerugian atas aktivitas tersebut.
  • Risk reduction. Tindakan ini dikenal dengan metode mengurangi kemungkinan terjadi risiko atau mengurangi dampak kerusakan yang dihasilkan oleh suatu risiko.
  • Risk sharing or transfer, yaitu mengambil tindakan atau transfer beberapa risiko melalui sejumlah cara. Memindahkan risiko ke pihak lain biasanya dilakukan dalam bentuk asuransi, outsourcing, atau hedging.
  • Risk acceptence, yaitu pilihan untuk menerima risiko yang terjadi.
  • Create a risk management plan. Tahapan ini adalah membuat rencana manajamen risiko.

4. Implementasi manajemen risiko

Tahapan-tahapan menyusun manajemen risiko telah dilewati dan selanjutnya adalah bagian dari implementasi. Implementasi berarti melaksanakan tahapan-tahapan di atas dalam rangka mengurangi atau menanggulangi risiko. Implementasi metode dilaksanakan setelah memilih respons yang akan digunakan untuk menangani risiko.

5. Pengawasan risiko

Tahapan ini menjadi yang paling akhir setelah proses pembelajaran, pengembangan pengetahuan, dan implementasi. Monitoring atau pengawasan dilakukan dari proses awal, kemudian melakukan identifikasi risiko, dan pengukuran risiko untuk mengetahui efektivitas respons yang telah dipilih serta mengidentifikasi risiko yang baru atau berubah.

Penerapan Manajemen Risiko

Dalam sebuah organisasi atau perusahaan, pimpinan bertanggung jawab atas penerapan manajemen risiko. Nah, apabila diimplementasikan dalam perusahaan, maka yang bertanggung jawab adalah Dewan Komisaris dan Direksi. Lantas bagaimana seharusnya penerapan risiko yang baik dalam sebuah organisasi terjadi?

1. Pengawasan aktif dari komisaris dan direksi 

Ibarat sebuah kapal laut, nakhoda adalah pimpinan perusahaan. Sosok pimpinan yang dimaksud adalah dewan komisaris dan direksi. Tugas mereka memastikan dan mengawasi setiap unit kecil dalam sebuah organisasi telah menerapkan manajemen risiko yang ditentukan.

Pimpinan perusahaan tidak boleh segan untuk terjun langsung melakukan atau memperbaiki hal-hal kecil sebab bukan tidak mungkin masalah besar yang timbul berasal dari persoalan sepele yang tidak langsung ditangani.

2. Pelaksanaan kebijakan dan penerapan prosedur 

Ini adalah langkah untuk memastikan bahwa kebijakan dan prosedur, yaitu laporan dan sistem informasi telah diterapkan sesuai dengan ketentuan. Gunanya agar pihak manajemen bisa menganalisis perubahan kondisi pasar.

3. Kenali risiko

Mengenal risiko saat ini atau akan datang lahir dari sejumlah proses sejak diterapkannya identifikasi, pengukuran, pemantauan, pengendalian dan sistem informasi. Maka pada tahap tersebut, pimpinan harus benar-benar memastikan bahwa manajemen risiko terkontrol di setiap unit. 

Hal tersebut akan berguna bagi pimpinan untuk mengetahui risiko yang berasal dari aktivitas baru dalam perusahaan.

4. Mewujudkan kendali internal

Terakhir, apabila semua telah dipastikan keberlangsungannya berjalan sesuai dengan ketentuan, maka peran pimpinan selanjutnya adalah memastikan setiap unitnya telah menerapkan manajemen risiko sesuai dengan ketentuan sehingga prinsip kepatuhan dapat terpenuhi.

Agar penerapannya dapat berjalan dengan efektif dan optimal, sebuah unit baru dapat dibentuk secara khusus. Misalnya saja, kehadiran sebuah komite manajemen risiko yang berfungsi membahas permasalahan yang mungkin dihadapi organisasi atau perusahaan.

Demikian artikel soal manajemen risiko yang dapat diterapkan dalam organisasi dan kehidupan kita sehari-hari. Sebagaimana sifatnya yang penting sebagai tameng dalam mengantisipasi kerugian, jangan ragu untuk menyusunnya demi keberlangsungan masa depan perusahaan, ya!

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →