Waspada! Punya Utang Gak Sehat Bisa Bikin Jatuh Miskin, Ini Ciri-cirinya

Punya utang sebenarnya sah-sah aja, selama masih sanggup bayar cicilannya. Yang gak boleh, kamu gak mau melunasinya. 

Karena itu, ada baiknya dipertimbangkan dulu sebelum memutuskan berutang. Terutama, kamu sanggup gak bayar dengan menghitung alokasi pengeluaran dari gajimu tiap bulan?

Kalau gak sanggup, mending urungkan aja niat. Daripada nyesal nanti terus menggerutu sendiri. Eh, ujung-ujungnya dilanggar dan masuk lagi ke dalam situasi yang sama. Berasa kayak dejavu gitu deh!

Satu lagi yang patut diingat, harus pastikan kalau utang kamu sehat. Pasalnya, banyak orang terjerat memiliki utang yang gak sehat.

Apakah utang yang kamu miliki sehat atau gak, bisa mengenalinya dari ciri-ciri berikut ini. Apa aja? Yuk simak di sini:

1. Cicilan utang melebihi 30 persen penghasilan

Cicilan utang melebihi 30 persen penghasilan
Cicilan utang melebihi 30 persen penghasilan

Bayar cicilan utang itu amannya sekitar 30 persen dari penghasilan. Rasio ini selalu disarankan konsultan keuangan maupun financial adviser. Bank pun menggunakan rasio tersebut buat menyetujui atau menolak pengajuan pinjaman.

Kenapa 30 persen bukan 50 persen? Penentuan persentase rasio ini gak asal-asalan lho! Asal tahu aja, keuangan yang sehat itu ada rumusnya: 50/30/20.

Besaran 50 persen diperuntukkan buat kebutuhan bulanan. Sekitar 30 persen ditujukan buat kebutuhan pribadi, dan 20 persen buat tabungan atau investasi.

Nah, keuangan yang sehat itu alokasi buat cicilan utang gak boleh lebih dari 30 persen. Kalau lebih, bisa-bisa alokasi pengeluaran yang lain bisa terganggu.

Pembayaran cicilannya diambil dari alokasi kebutuhan pribadi. Itu berarti, pemenuhan kebutuhan pribadimu ditunda dulu sampai utang lunas.

2. Utang dipakai untuk tujuan konsumtif

Berutang untuk kebutuhan konsumtif
Berutang untuk kebutuhan konsumtif

Selama ini, banyak orang yang koar-koar antiutang. Gak heran sih kalau mereka berteriak seperti itu. Sebab, beberapa di antara mereka punya pengalaman buruk.

Alih-alih diadakan supaya bisa membantu, mereka justru malah terbebani dengan utang. Gimana gak menjadi beban? Berutangnya ditujukan untuk hal-hal konsumtif.

Kalau kamu pengin tahu konsumtif atau gak, coba dicek apakah nilai barang yang dibeli dengan berutang malah turun atau naik.

Seandainya nilainya naik, itu berarti kamu berutang untuk tujuan produktif. Sebaliknya, kalau nilai barang yang dibeli turun, itu berarti kamu tujuannya konsumtif. Salah satu contoh utang produktif itu buat KPR, sedangkan jenis konsumtif itu buat makan ini itu

3. Punya utang kartu kredit sering bayar minimum

Punya utang kartu kredit
Punya utang kartu kredit

Bayar minimum kartu kredit alias minimum payment sering dimanfaatkan keberadaannya. Padahal, di balik manfaat itu tersembunyi risiko yang bisa bikin kamu empot-empotan membayarnya. Bahkan, bisa berujung pada gagal bayar. Ngeri kan?

Emang enak sih melakukan pembayaran minimum itu. Kamu cuma cukup membayar 10 persen jumlah utang kartu kreditmu sebagai pembayaran cicilan. Namun, di akhirnya nanti ada beban utang yang bertambah, plus bunganya mengintai kamu.

Sialnya, banyak yang gak menyadari kalau melakukan pembayaran minimum itu sama aja dengan menumpuk utang dan memperbesar nilai bunga.

Mereka baru menyadarinya ketika akan bayar cicilan. Jadi, bijak ya ambil keputusan sebelum bayar minimum.

4. Berutang cuma buat melunasi utang sebelumnya

Berutang untuk melunasi utang sebelumnya
Berutang untuk melunasi utang sebelumnya

Kebiasaan ini gak ubahnya kayak penyakit. Gak sedikit orang terjangkit, lalu keuangan mereka dalam kondisi buruk.

Kebiasaan yang populer dengan istilah gali lubang tutup lubang ini tentu aja suatu usaha menyelesaikan persoalan yang berakhir sia-sia.

Gimana gak sia-sia? Coba bayangkan di mana beresnya persoalan kalau melunasinya pakai utang juga.

Boro-boro punya tabungan, orang-orang yang punya kebiasaan seperti itu buat memenuhi kebutuhan sehari-harinya aja bergantung pada utang. Dan, udah bisa dipastikan orang-orang yang seperti ini bakal susah menjadi orang kaya.

Nah, sekarang udah tahu kan ciri-ciri utang yang gak sehat? Inilah kenapa perlunya pertimbangan masak sebelum berutang.  (Editor: Chaerunnisa)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →