Hobi Menimbun Barang? Jangan-Jangan Kamu Terkena Hoarding Disorder

Pernah dengar soal hoarding disorder?

Jika belum, coba ingat – ingat dulu deh bagaimana kondisi kamarmu saat ini. Jika berantakan dan dipenuhi barang-barang yang gak terpakai, tapi gak rela buat dibuang, kamu harus hati-hati! Jangan – jangan kamu mengalami hoarding disorder.  

Hoarding disorder merupakan gangguan yang membuat penderitanya hobi mengumpulkan dan menimbun barang yang gak dipakai. Barang yang dikumpulkan bisa bermacam-macam, mulai dari koran, buku, majalah, hingga kantong plastik.

Eits, jangan tertukar dengan kolektor yah. Jika kolektor menyimpan barang tertentu sebagai koleksi dan menyimpannya secara rapi. Sementara penderita hoarding atau hoarder menumpuk barang tanpa benar-benar menyukai barang-barang tersebut. Mereka pun merasa kesulitan untuk membuang barang tersebut.

Kenapa yah bisa begitu?

Alasannya beragam. Bisa jadi karena barang tersebut memiliki kenangan tertentu. Tapi umumnya, hoarder merasa lebih aman saat dikelilingi barang-barang tersebut.

Pernahkah merasa seperti itu?

Mari berkenalan lebih jauh dengan gangguan ini karena meski tampak “biasa”, dampaknya bisa sampai mengancam nyawa, lho.

Gejala

hoarding disorder

Salah satu ciri yang mudah ditemukan pada hoarder adalah dengan melihat jumlah barang yang ia miliki dan seberapa berantakan tempat tinggal atau area kerja mereka. Meski begitu, ada beberapa ciri atau gejala yang umumnya dimiliki oleh hoarder.

Ciri-ciri hoarder

  • Merasa cemas hingga stres jika harus membuang barang yang dimiliki
  • Merasa malu dengan barang-barang yang ditimbun
  • Merasa khawatir akan kehilangan barang yang dimiliki
  • Sulit bersosialisasi dengan teman maupun keluarga, serta memiliki masalah keuangan dan kesehatan sebagai dampak kebiasaan menimbun barang.

Gejala hoarding alias penimbunan umumnya sudah muncul sejak usia remaja atau sekitar 13 tahun. Umumnya seorang hoarder juga memiliki penyakit mental seperti gangguan kecemasan, depresi, serta gangguan mental lainnya.

Penyebab

hoarding disorder

Tidak diketahui dengan jelas penyebab seseorang menjadi hoarder. Bisa berasal dari genetika, kimia, maupun peristiwa traumatis. Meski begitu terdapat beberapa faktor risiko yang menjadikan seseorang lebih rentan mengalami hoarding disorder dibanding yang lain.

Faktor risiko tersebut, antara lain:

  • Tindakan menimbun barang biasanya terjadi pada remaja berusia 11-15 tahun dan bertambah buruk seiring bertambahnya usia.
  • Hoarder umumnya terjadi pada individu yang memiliki sifat peragu
  • Individu rentan mengalami hoarding disorder jika salah satu anggotanya juga seorang hoarder
  • Cedera otak serta mengalami peristiwa yang menyakitkan seperti perceraian dan perpisahaan juga dapat memicu seseorang menjadi hoarder.
  • Pada beberapa kasus, penimbunan dilakukan sebagai peralihan dari rasa kesepian

Emang apa sih dampaknya?

hoarding disorder

“Cuma” menimbun barang memang akan berdampak buruk? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut perlu diketahui kadar hoarder tiap orang berbeda-beda. Nah, pada hoarder dengan tingkatan yang cukup berat dampaknya bukan cuma pada diri sendiri tapi juga orang-orang di sekitarnya. Hoarder ini biasanya memiliki timbunan barang yang saking banyaknya sampai membuat tempat tinggalnya jadi gak layak huni.

Bukan hal aneh lagi jika penderita terjatuh berkali-kali karena tersandung barang-barangnya sendiri. Terbayang dong, sulitnya mereka melakukan aktivitas sehari-hari? Secara gak langsung, kehidupan mereka jadi gak bisa dijalani dengan baik dan sehat. Pernah juga ada kasus pemadam kebakaran sulit melakukan evakuasi terhadap korban yang menderita hoarding disorder lantaran seluruh ruangan dipenuhi barang.

hoarding disorder

Di sisi lain, hoarder sebetulnya merasa malu terhadap perilaku dan dampaknya pada rumah yang ditempati (super berantakan tentu aja). Karena itu, perlahan mereka jadi mengurangi interaksi dengan orang lain sampai melakukan isolasi sosial. Jika sudah begini, bukan cuma kesepian, depresi juga jadi rentan menyerang. Seram kan?

Meski gejala hoarding tampak begitu jelas jika dijabarkan, namun banyak pula penderitanya yang gak menyadari hal tersebut. Jadi, jika orang yang kamu kenali atau bahkan kamu sendiri memiliki gejala yang telah disebutkan di atas, jangan ragu untuk menghubungi psikiater atau psikolog. Gak perlu khawatir harus keluar biaya tinggi, karena kesehatan mental juga ditanggung BPJS kesehatan kok. Semoga berguna!

Referensi:

American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth edition. 2013. American Psychiatric Publishing.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →