Omzet Rp 300 Juta Sebulan, Ini Kisah Sukses Gudeg Pejompongan yang Legendaris

nasi gudeg

Pecinta nasi gudeg di Jakarta pasti tahu dong sama resto gudeg legendaris di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Apalagi kalau bukan Gudeg Pejompongan.

Cita rasa gudeg yang harganya mulai dari Rp 23 ribuan itu memang beda dari yang lain. Pasalnya, gudeg yang pernah di-review mendiang Bondan Winarno ini gak terlalu manis. Tentunya pas buat kamu yang gak suka makanan manis ala Solo atau Yogyakarta.

Asal kamu tahu, restoran nasi gudeg ini sudah berdiri dari tahun 1964 lho! Tapi sampai sekarang masih tetap laris manis. Usut punya usut, restoran ini ternyata usaha keluarga yang dikelola secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Adalah Ayuning Tri Astari, cucu sang pendiri restoran Gudeg Pejompongan yang saat ini menjadi salah satu sosok yang berpengaruh pada kesuksesan resto tersebut.

Pada 29 Maret 2019, MoneySmart sempat bertandang ke gerai Gudeg Pejompongan dil Bassura Mall, Jakarta Timur. Pada kesempatan yang sama, kami juga ngobrol-ngobrol sedikit bersama Tyas tentang sejarah dan strategi Tyas dalam membesarkan restoran ini.

Percaya gak percaya, omzet rumah makan itu sekarang mencapai Rp 250 hingga Rp 300 juta per bulan! Wow, gede banget ya, padahal cuma jualan gudeg. Penasaran sama rahasianya? Berikut cerita inspiratif di balik berdirinya resto nasi gudeg legendaris ini.

Baca juga: Cuma Lulusan SD, Ini Kisah Sukses Pendiri Warteg Kharisma Bahari

1. Berawal dari warung makan kecil rumahan

nasi gudeg
Gudeg yang gak terlalu manis jadi ciri khas Gudeg Pejompongan. (MoneySmart/Aulia Akbar)

Tempat makan awalnya hanya sebuah tempat makan kecil dengan menu gudeg yang letaknya di depan rumah dinas milik pendirinya. Lebih tepatnya di dekat Rumah Sakit Bendungan Hilir.

Kebetulan, mendiang nenek tercinta Tyas memang gemar memasak. Di Benhil pada saat itu belum banyak tempat makan yang buka, dan mereka pun melihat bagaimana para pegawai rumah sakit kesulitan dalam mencari variasi makanan di sana.

Sang nenek akhirnya mencoba jualan nasi gudeg di depan garasi rumahnya di pagi dan siang  hari, bermodal meja dan etalase. Nasi itu pun dijual dalam bentuk bungkusan.

Tapi lambat laun pelanggan nasi gudeg makin banyak. Alhasil, garasinya pun direnovasi untuk dijadikan tempat makan. Sampai sekarang tempat itu pun gak berubah.

Ketika ditanya soal berapa modal kakek dan nenek Tyas memulai usaha ini, Tyas blak-blakan bilang kalau dia gak tahu.

“Nyokap gue (ibu saya) aja ketika ditanya soal ini juga jawab gak tahu, Tapi kalau untuk omzet per bulannya ada di kisaran Rp 250 hingga Rp 300 juta,” ujarnya.

Tyas bilang bahwa dirinya adalah generasi ketiga pendiri resto terkenal ini. Ibunya menjabat sebagai direktur dan komisaris, sepupunya jadi direktur keuangan, dan Tyas sendiri sebagai marketing.

Baca juga: Anti-mainstream Banget! Pria Ini Dirikan Startup di Sektor Energi Terbarukan

Agen Asuransi Mitra Lifepal
Agen Asuransi Mitra Lifepal

2. Cuti kuliah demi membantu usaha

nasi gudeg
Ayuning Tri Astari, cucu pendiri Gudeg Pejompongan. (MoneySmart/ Aulia Akbar)

Awal mula Tyas terjun ke bisnis keluarga ini dimulai saat dirinya masih kuliah di Universitas Atma Jaya. Saat itu, Tyas yang sudah masuk ke semester enam terpaksa cuti karena diminta membantu ibunya.

Wajar aja, semester enam memang sebentar lagi skripsi. Ngurus bisnis sambil skripsi tentu gak kebayang rumitnya kayak gimana.

Ibu dari dua anak ini melihat restoran nasi gudeg yang dipimpin ibunya sendiri makin besar. Oleh karena itu, Tyas pun memutuskan untuk terjun total ke dunia bisnis keluarganya karena dia yakin, bisnis ini bakal menjadi besar di kemudian hari.

Baca juga: Modal di Bawah Rp 10 Juta, 3 Bisnis Kopi Ini Raup Ratusan Juta per Bulan

3. Memodernisasi bisnis nasi gudeg tradisional

nasi gudeg
Berbagai hidangan di Gudeg Pejompongan. (MoneySmart/ Aulia Akbar)

Apa yang dilakukan Tyas di awal dirinya bergabung di bisnis keluarganya? Dia melakukan modernisasi di berbagai sektor.

“Manajemen (restoran Gudeg Pejompongan) ini tradisional banget. Mestinya, restoran sebesar ini gak perlu repot dalam urusan belanja, kita bisa pakai supplier,” paparnya.

Tyas menceritakan gimana proses belanja yang dilakukan para karyawan restoran pagi-pagi di pasar terdekat. Kedengarannya memang sangat melelahkan.

“Selain masalah supplier, kita juga akhirnya pasang kasir buat memudahkan sistem transaksi. Zaman masih berbentuk warung makan, mana ada kasir. Sumber daya juga kita didik sedemikian rupa,” lanjutnya.

Dengan bergabungnya Tyas ke bisnis resto nasi gudeg milik keluarganya, dalam satu tahun sistem manajemen resto Gudeg Pejompongan pun berkembang. Restoran itu pun sudah memiliki 30 karyawan dan dua cabang, di Food Colony Pasar Festival dan Bellagio Mall Kuningan.

4. 30 persen keuntungannya datang dari layanan GoFood dan GrabFood

nasi gudeg
Pilihan menu menggugah selera di Gudeg Pejompongan. (MoneySmart/ Aulia Akbar)

Bisa dibilang, Tyas tanggap dalam urusan pemasaran. Ketika menyaksikan munculnya layanan GoFood dari GoJek, dia langsung gerak cepat untuk berpartner dengan GoJek.

“Awalnya ya, nyokap memang sempat ragu karena gak paham. Dan saat itu, GoJek kan juga baru punya layanan GoFood. Intinya nyokap cuma bilang, kalau ada apa-apa ya gue yang harus tanggung jawab, nyokap gak mau ambil risiko,” ujar Tyas.

“Tapi, pesan nyokap cuma satu, silahkan ikuti perkembangan zaman  dalam hal apapun tapi jangan ubah yang namanya ‘rasa.’ Rasa Gudeg Pejompongan yang gak terlalu manis memang pas buat lidah orang Jakarta,” demikian pernyataan Tyas mengutip pesan ibunya.

Alhasil, Gudeg Pejompongan pun resmi jadi bagian dari merchant GoFood. Namun kerja sama itu juga sempat mengalami kendala di awal, terutama di bagian pencatatan penjualan.

Tapi siapa sangka, sekarang 30 persen dari total laba Gudeg Pejompongan ternyata berasal dari layanan GoFood atau GrabFood.

5. Gak punya akun Instagram tapi rajin ngelapak di mall

nasi gudeg
Stan Gudeg Pejompongan di salah satu mall ibukota. (MoneySmart/ Aulia Akbar)

Jaman sekarang, resto yang gak punya akun Instagram memang bisa dihitung pakai jari. Media sosial memang pas untuk dijadikan media promosi, namun nyatanya Gudeg Pejompongan malah gak punya.

Agen Asuransi Mitra Lifepal
Agen Asuransi Mitra Lifepal

“Memang sudah banyak yang nge-review restoran ini, Bondan Winarno juga sering ke sini. Media-media juga pernah ngeliput,” papar Tyas.

Untuk strategi promosinya, Tyas mengatakan bahwa dia cukup sering mondar-mandir dengan mencari bazaar yang tepat. Selain di Lippo Mall Kemang dan Bassura, dia juga cukup sering buka di Summarecon Bekasi dan Gandaria City.

“Ya kalau promosi paling kita ke bazaar-bazaar di mall. Tapi gak bisa asal pilih mall juga ya, karena makanan tradisional ini marketnya memang beda,” lanjutnya.

Menurut Tyas, nasi gudeg memang kurang diminati anak-anak muda usia belasan hingga 20 tahun awal. Oleh karena itu, Tyas sendiri jarang ngelapak di Senayan City atau Kota Kasablanka yang notabennya sering dikunjungi anak muda.

“Bisa dibilang ini dukanya jualan makanan tradisional. Gak kaya resto ayam yang cocok di lidah banyak orang. Otomatis gak semua mall kita anggap layak untuk jualan gudeg,” tandasnya.

6. Gak pernah mau buka franchise

nasi gudeg
Deretan menu Gudeg Pejompongan lengkap dengan harganya. (MoneySmart/ Aulia Akbar)

Baba Rafi, Mas Mono, Es Teler 77, dan resto lainnya mungkin terbilang sukses dan jadi besar ketika buka franchise. Namun resto nasi gudeg di Benhil ini gak berniat untuk membuka franchise atau waralaba. Mengapa?

“Udah banyak yang nawarin mau franchise, tapi gue tolak. Kenapa? Karena franchise identik dengan yang instan (dalam penyajian makanan) seperti masak pakai kompor gas. Hal itu gak bisa diaplikasikan ke Gudeg Pejompongan. Kita masak nangkanya aja butuh waktu lama, dan itu pakai kompor areng,” tegasnya.

Memang gak dipungkiri bahwa sistem waralaba makanan kekurangannya ada pada di kualitas makanan. Sulit tentunya untuk membuat gudeg yang rasanya 100 persen mirip dengan Gudeg Pejompongan asli.

Tyas menambahkan, jika ada orang yang menawarkan kerja sama pembukaan waralaba, Tyas justru menawarkan sistem reseller. Gak masalah kok untuk kirim gudeg jam 04.00 pagi sekalipun, asalkan masaknya memang di dapur Pejompongan.

Itulah cerita inspiratif tentang lika-liku suksesnya resto nasi Gudeg Pejompongan yang melegenda.

Intinya, bisnis makanan tradisional itu memang penuh tantangan apalagi jika restonya sudah terkenal sejak dulu kala. Namun seiring dengan perkembangan zaman, tentu manajemen resto harus diperbaharui agar bisnis makanan itu tetap moncer di masa depan. (Editor: Ruben Setiawan)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →