Mengenali Sistem Kerja Outsourcing dan Realitasnya

Sistem perekrutan karyawan secara outsource semakin marak digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar. Masyarakat pun kerap terbiasa mendengar istilah ini, termasuk saat aksi-aksi buruh setiap tahun. 

Para buruh kerap menyerukan kepada perusahaan untuk mengangkat karyawan outsourcing menjadi karyawan tetap. Ya, memang ada perbedaan mendasar antara karyawan outsource dan karyawan tetap.

Outsourcing adalah mekanisme penggunaan tenaga kerja dari pihak ketiga untuk merampungkan pekerjaan tertentu. Secara sederhana, sebuah perusahaan bisa merekrut pekerja yang disediakan oleh perusahaan lain sebagai penyedia jasa.

Sistem ini dianggap memberi banyak keuntungan bagi perusahaan yang merekrut karyawan outsource karena menghemat anggaran karena tentu karyawan outsource biasanya sudah mendapat pelatihan di perusahaan penyedia jasa yang menaungi. Hal ini tentu berbeda dengan pekerja tetap atau paruh waktu.

Perusahaan yang menggunakan jasa karyawan outsource juga bisa menghemat lebih banyak waktu. Alasannya, perusahaan tentu tidak perlu lagi mengadakan proses rekrutmen yang panjang dan bertele-tele. Perusahaan pun bisa lebih fokus pada kegiatan inti bisnis tanpa dibuat pusing dengan rekrutmen. 

Tingginya minat perusahaan menyerap karyawan outsource membuat pertumbuhan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja juga makin pesat. Perusahaan ini sengaja merekrut untuk kemudian diberikan pelatihan kerja singkat sebelum dilepas ke perusahaan lain yang membutuhkan.

Jadi Begini Cara Kerja Outsourcing

Cara kerja

Sistem outsourcing belum diatur secara rinci dalam Undang-undang nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan). Namun pasal 64 dalam beleid tersebut menyebutkan bahwa “Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa pekerja/buruh yang dibuat secara tertulis”.

Artinya, karyawan outsource hanya bisa direkrut dari perusahaan penyedia jasa tenaga kerja (pihak ketiga). Itu pun, dikutip dari Glints, karyawan outsourcing bekerja melalui sistem kontrak yang dibagi menjadi dua menurut undang-undang, yaitu Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dan Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT).

Sistem kerja karyawan outsourcing juga ditunjang melalui Pasal 65 ayat (2) dalam UU Ketenagakerjaan yang menyebutkan syarat-syarat sebuah pekerjaan bisa dialihkan kepada perusahaan lain atau pihak ketiga. Syarat-syarat tersebut meliputi:

  1. Pekerjaan dilakukan secara terpisah dari aktivitas inti perusahaan.
  2. Pekerjaan dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan.
  3. Kegiatan yang diberikan kepada karyawan outsource merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan.
  4. Tidak menghambat proses produksi.

Spesifikasi pekerjaan outsourcing kemudian dijelaskan lebih rinci dalam Pasal 66 UU Ketenagakerjaan, yakni kegiatan penunjang di luar aktivitas inti perusahaan, misalnya usaha pelayanan kebersihan (cleaning service), usaha penyediaan makanan bagi karyawan (catering), usaha tenaga pengaman (security), usaha jasa penunjang di pertambangan dan perminyakan, serta usaha penyediaan angkutan bagi karyawan.

Kerugian Outsource bagi sebuah Perusahaan

Ternyata, mekanisme outsourcing tidak selamanya memberi keuntungan bagi perusahaan. Melalui rekrutmen karyawan outsourcing, informasi perusahaan rentan bocor. Itulah alasan mengapa lini pekerjaan yang bisa dilimpahkan kepada karyawan outsourcing bukan pekerjaan yang menyangkut lini bisnis utama perusahaan.

Kerugian lainnya adalah kontrak yang terlalu singkat membuat perusahaan kerepotan. Biasanya, kontrak yang tertulis untuk karyawan outsourcing memang harus diperbarui dalam beberapa tahun sekali. Belum lagi, bila perusahaan pihak ketiga berganti, maka harus ada proses transisi dari karyawan lama ke karyawan baru yang bisa memakan waktu dan tenaga.

Hal yang Perlu Diwaspadai oleh Karyawan Outsourcing

Waspada

Bagi kita yang sedang mencari kerja harus bisa memastikan jenis ikatan kerja yang akan kita jalani, apakah pekerja tetap atau outsource. Bila memang berminat bekerja sebagai karyawan outsource, maka hal-hal berikut perlu diwaspadai.

1.   Praktik perusahaan penyedia jasa yang melakukan pemangkasan gaji karyawan. Sebelum menyepakati kontrak kerja dengan perusahaan outsource, ada baiknya memastikan gaji kita layak, setidaknya memenuhi angka UMP.

2.   Perjanjian kerja outsource tergolong singkat. Artinya, saat kontrak habis dalam beberapa tahun, pekerja masih harus dipusingkan dengan rutinitas mencari lowongan baru.

3.   Jenjang karier sebagai pekerja outsource tidak bisa direncanakan dengan baik. Alasannya, jenjang karier hanya diberikan kepada karyawan tetap.

Demikian penjelasan mengenai outsourcing. Semoga bermanfaat bagi kita yang sedang mencari kerja ya! Jangan lupa simak terus aneka tips soal meniti karier secara profesional dan merintis usaha di Lifepal, ya!

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →