Pengusaha Kaya Berharta Rp 56 T Ini Ciptakan Drone Pembunuh Jenderal Iran

Di balik tewasnya petinggi militer Iran Qasem Soleimani yang membuat kisruh politik internasional, ada sebuah senjata berupa drone MQ-9 Reaper yang ternyata diproduksi perusahaan milik pengusaha kaya sekaligus orang terkaya ke-179 di dunia.

Neal Blue adalah pengusaha kaya di dunia versi Forbes yang merupakan pencipta senjata mematikan yang digunakan Pemerintahan Donald Trump dalam operasi militernya di Timur Tengah.

Blue adalah pemilik sekaligus CEO dari General Atomics, sebuah produsen perangkat militer yang berbasis di San Diego. 

Selain MQ-9 Reaper, mereka juga memproduksi drone yang sempat digunakan Pemerintahan Bill Clinton di Serbia, Predator.

Penasaran pengin tahu fakta mengenai pengusaha kaya asal Negeri Paman Sam ini? Berikut ini ulasannya:

1. Mantan angkatan udara

pengusaha kaya
Mantan angkatan udara (Instagram/@generalatomics)

Usai lulus dari Universitas Yale, Blue justru bergabung dengan Angkatan Udara Amerika Serikat. Dia ditugaskan untuk menjaga senjata nuklir. 

Di tahun 1956, dia dan adiknya, Linden, menerbangkan pesawat ber-propeller tunggal dan mengelilingi Amerika Tengah dan Selatan. Alhasil, mereka pun terkenal hingga akhirnya foto mereka pun menjadi cover Majalah Life.

Kakak beradik itu kerap dijuluki “The Flying Blue Brother.” Keduanya tampak gagah dan kaya raya pada masanya. 

Konon, mereka berhasil menggalang dana US$ 3 ribu untuk misi penerbangannya dengan pesawat tersebut. 

Baca juga: Selain Eka Tjipta Widjaja, Ini 5 Pengusaha Sukses yang Dulunya Cuma Imigran

2. Lahir dari keluarga kaya

pengusaha kaya
Lahir dari keluarga kaya (Amazon.com)

Neal dan Linden memang berasal dari keluarga pengusaha kaya di Denver. Ayah mereka bekerja di sebuah perusahaan keluarga, namun di era Perang Dunia II, dia bergabung di dinas militer. Sementara itu, ibunda mereka merupakan salah satu anggota DPR di Colorado. 

Setelah lulus dari Yale dan bergabung dengan dinas militer, Blue bersaudara justru memilih melanjutkan usaha keluarganya di bidang properti, agrikultur, dan migas.

Seiring dengan berjalannya waktu, fokus bisnis mereka pun berubah secara perlahan. Di tahun 1970, Neal menjadi CEO dari Great Western United Corp, sebuah perusahaan yang sahamnya dikuasai bersama dengan sang adik. 

Sementara itu, di tahun 1980, Linden Blue diangkat menjadi pimpinan di beberapa perusahaan yang memproduksi pesawat. Sebut saja seperti  LearJet, Raytheon, dan Beech Aircraft.

Baca juga: Dulu Gelandangan Kini Pengusaha Kaya Raya Beristri Cantik, Simak Kisahnya!

3. Beli perusahaan riset nuklir dari Chevron

pengusaha kaya
Beli perusahaan riset nuklir dari Chevron (Instagram/@generalatomics)

Di tahun 1986, perusahaan minyak raksasa Chevron telah mengakuisisi Gulf Oil dan melakukan divestasi salah satu anak usahanya yang bergerak di bidang riset nuklir, General Atomics. Mereka pun menjualnya ke Neal dan Linden Blue dengan harga US$ 60 juta.

Siapa sangka, perusahaan ini terus berkembang hingga menjadi salah satu klien Pemerintah AS di bidang pengadaan senjata militer. Bahkan bukan hanya Pemerintah AS melainkan negara-negara lain seperti Italia, Spanyol, dan Uni Emirat Arab.

Drone predator yang mereka buat akhirnya digunakan di Perang Afghanistan, pascatragedi 9/11.

Baca juga: Hartanya Triliunan, Yuk Telusuri Sumber Uang 7 Orang Terkaya Indonesia saat Ini!

4. Berkekayaan Rp 56 triliun

pengusaha kaya
Berkekayaan Rp 56 triliun (www.ga.com)

Sebagai orang terkaya di dunia urutan ke 179, Neal Blue mengantongi total kekayaan sebesar US$ 4,1 miliar atau setara dengan Rp 56 triliun.

Kabarnya, penjualan yang dilakukan General Atomics mencapai US$ 2,7 miliar atau setara Rp 37 triliunan di setiap tahunnya. Wajar saja kalau kekayaan pemilik perusahaannya sebesar ini.

Itulah sekilas informasi seputar Neal Blue, pengusaha kaya di balik senjata mematikan milik Amerika Serikat. Sebagai pengusaha, kakak beradik Blue juga terkenal dengan sikapnya yang menjauhi publik.

Pria ini memang sangat jarang terekspos di media. Namun, perusahaannya sangat terkenal! (Editor: Chaerunnisa)