Apa Itu Penyakit Atrofi? Ketahui Jenis dan Gejala, dan Perawatannya

penyakit atrofi

Penyakit atrofi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pengecilan atau penyusutan ukuran bagian tubuh yang dapat menurunkan fungsinya. 

Dalam dunia medis, kebalikan dari atrofi adalah hipertrofi yang merupakan peningkatan ukuran tubuh. Atrofi dapat disebabkan oleh faktor genetik, lingkungan, gaya hidup, atau penyakit tertentu. 

Lebih jelasnya, yuk simak penjelasan berikut. 

Jenis-jenis penyakit atrofi

Penyakit atrofi ada banyak jenisnya. Berbeda jenis, tentu berbeda pula penyebab dan gejala serta pengobatannya. 

Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini ada tiga jenis atrofi yang umum dijumpai sehingga perlu untuk kamu ketahui.

1. Atrofi otot

Penyakit atrofi otot adalah suatu kondisi dimana tubuh mulai kehilangan massa otot sehingga terjadi penyusutan. 

Akibatnya, bagian tubuh yang massa ototnya berkurang akan terlihat lebih kecil dari ukuran yang seharusnya. 

Saat mengalami atrofi otot, fungsi otot dan sistem gerak tubuh secara keseluruhan dapat terganggu.

Contoh atrofi otot adalah salah satu lengan terlihat lebih kecil dari lengan lainnya yang disebabkan oleh berkurangnya massa otot pada lengan tersebut. 

Atrofi otot terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Atrofi otot fisiologis, kondisi ini umum dialami oleh orang yang jarang bergerak atau melakukan aktivitas fisik. 
  • Atrofi otot neurogenik, jenis ini disebabkan oleh adanya cedera atau gangguan pada saraf yang berfungsi menggerakkan otot. 
  • Atrofi otot patologis, merupakan jenis atrofi yang disebabkan oleh penyakit tertentu seperti malnutrisi atau kanker. 

2. Atrofi otak

Atrofi serebri atau atrofi otak merupakan kondisi penyusutan massa atau sel saraf pada otak. 

Seiring bertambahnya usia, sel-sel saraf dalam otak sebenarnya akan mengalami penyusutan. Namun, atrofi akan membuat prosesnya menjadi lebih cepat dari yang seharusnya. 

Atrofi otak umumnya hadir sebagai gejala berbagai penyakit pada otak seiring berjalannya waktu.

Namun, kondisi ini bisa juga hanya terjadi pada area otak tertentu (focal) sehingga menyebabkan kehilangan fungsi organ yang terhubung dengan area otak tersebut dan mengalami atrofi.

3. Atrofi vagina

Atrofi vagina menggambarkan keadaan peradangan, kekeringan, atau penipisan dinding vagina yang dapat menimbulkan gangguan pada vagina dan saluran kemih. 

Penyakit ini lebih sering menyerang wanita yang memasuki masa menopause. Namun, wanita yang masih berusia muda juga bisa mengalaminya ketika kadar hormon estrogen menurun drastis.

Perempuan memerlukan hormon estrogen untuk kesehatannya, terutama pada masa produktif. Apabila produksi hormon berkurang, akan menyebabkan vagina menjadi lebih kering dan tipis sehingga memicu atrofi. 

Ciri-ciri penyakit atrofi dan penyebabnya

Ciri-ciri penyakit atrofi yang dapat terlihat yaitu satu anggota badan tampak lebih kecil dari yang lain dan kondisinya lebih lemah

Ada sejumlah kondisi, penyakit, atau cedera yang dapat menyebabkan atrofi. Berikut beberapa gejala dan penyebab penyakit atrofi berdasarkan jenisnya. 

Gejala dan penyebab atrofi otot

Masing-masing orang yang mengalami atrofi otot biasanya akan menunjukkan gejala yang tidak sama, tergantung dari tingkat keparahan dan penyebabnya. 

Namun ada beberapa gejala umum yang dapat dicurigai sebagai gejala atrofi otot. 

  • Salah satu tangan atau kaki bentuknya tampak lebih kecil dari tangan atau kaki lainnya
  • Salah satu atau bisa jadi beberapa anggota tubuh fungsinya melemah
  • Sulit untuk melakukan aktivitas seperti duduk, berjalan, atau bahkan menggenggam sesuatu
  • Kelemahan otot pada wajah
  • Berkurangnya keseimbangan tubuh yang membuat pasien sering terjatuh
  • Kesulitan berbicara dan menelan

Penyebab utama dari atrofi otot yaitu akibat dari kurangnya beraktivitas, mengalami cedera, atau menderita suatu penyakit tertentu. 

Apabila kamu merasakan gejala-gejala di atas, segera buat janji dengan dokter spesialis saraf agar dapat diketahui penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Gejala dan penyebab penyakit atrofi otak

Gejala atrofi otak yang perlu kamu ketahui yaitu:

  • Kejang
  • Penurunan daya ingat, daya pikir, dan konsentrasi (demensia)
  • Gangguan dalam berkomunikasi seperti kesulitan berbicara (afasia)

Penyebab ataupun faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya atrofi otak yaitu proses penuaan, stroke, multiple sclerosis, AIDS, infeksi otak, cerebral palsy, alzheimer, dan ensefalitis. 

Atrofi otak merupakan kondisi medis yang tidak bisa disembuhkan. Namun, faktor risiko yang menjadi penyebabnya masih bisa diobati agar atrofi otak tidak semakin bertambah parah.

Gejala dan penyebab penyakit atrofi vagina

Sekitar 40 persen wanita menopause mengalami gejala, tetapi banyak yang menghiraukannya sehingga tidak mendapatkan penanganan sesuai.

Agar tidak sampai terlambat dan memperburuk kondisi, ketahui gejala yang menyertai penyakit ini. 

  • Nyeri ketika berhubungan seksual
  • Muncul rasa gatal atau terbakar dari area vagina
  • Keinginan kuat untuk buang air kecil
  • Pendarahan ringan setelah berhubungan seksual
  • Perubahan warna pada vagina disertai keluarnya lendir berlebih
  • Muncul bau tidak sedap dari area vagina

Penurunan hormon estrogen menjadi penyebab utama penyakit atrofi vagina dan biasanya terjadi setelah memasuki masa menopause.

Perawatan penyakit atrofi

Diantara ketiga penyakit atrofi yang umum terjadi, atrofi otak merupakan kondisi yang permanen karena kerusakan dan penurunan volume serta ukuran otak tidak dapat diperbaiki atau tidak bisa kembali seperti sedia kala. 

Namun, kondisi tersebut masih bisa diatasi dengan melakukan beberapa tindakan pencegahan dan perlambatan dari penyakit atrofi.

1. Melakukan aktivitas fisik

Tak perlu aktivitas fisik dengan intensitas yang tinggi, berjalan selama 30 menit setiap harinya dapat membantu mencegah terjadinya penyakit atrofi.

Aktif bergerak secara rutin setiap harinya dapat melancarkan aliran darah serta menyeimbangkan level hormon dalam tubuh dan memperlambat degenerasi di otak.

2. Berhenti merokok

Merokok telah diketahui dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius, termasuk penyakit atrofi. 

Kerusakan otot akibat merokok mungkin tidak menimbulkan masalah kesehatan yang serius, namun hal tersebut dapat menurunkan kekuatan otot yang bisa berujung pada menyusutnya massa otot. 

Merokok juga dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit alzheimer yang merupakan salah satu faktor risiko dari penyakit atrofi otak. 

Dengan berhenti merokok tentu akan dapat meminimalkan risiko terkena atrofi. 

3. Menjaga kebutuhan gizi tetap seimbang

Makanan juga bisa mempengaruhi penyakit atrofi. Lengkapi menu makanan harian kamu dengan makanan yang mengandung protein, estrogen, dan vitamin. 

Selain itu, pastikan tubuh mendapatkan asupan air yang cukup agar tetap terhidrasi. Hindari pula konsumsi alkohol dan kafein yang berlebihan.

Miliki asuransi kesehatan

Masalah-masalah kesehatan yang timbul akibat penyakit atrofi tidak bisa terselesaikan hanya dengan satu kali kunjungan ke dokter. Butuh setidaknya beberapa kali kontrol untuk melihat perkembangannya.

Banyak orang yang terlambat mendapatkan pertolongan medis ketika jatuh sakit karena terkendala biaya. Untuk itu, memiliki asuransi kesehatan menjadi solusi terbaik agar kamu bisa mendapatkan penanganan yang sesuai dan tepat waktu.

Asuransi kesehatan bisa menjadi proteksi keuanganmu dengan memberikan pertanggungan biaya medis mulai dari konsultasi dokter hingga biaya rawat inap, biaya rawat jalan, dan biaya perawatan. 

Cari tahu cara memilih asuransi kesehatan dengan menyaksikan video berikut.

Selain itu, berikan juga perlindungan tambahan dari asuransi penyakit kritis yang meng-cover biaya pengobatan untuk menangani penyakit kritis. Mulai dari kanker, stroke, jantung, dan penyakit ginjal, termasuk atrofi.

Tidak perlu bingung mau memilih asuransi kesehatan yang mana. Kamu bisa dapatkan referensi asuransi kesehatan terbaik dan terlengkap di Lifepal. Semoga informasi ini bermanfaat!

Pertanyaan seputar penyakit atrofi