Jadikan Hobi Makan Profesi Menguntungkan, 2 Bersaudara Ini Raih Belasan Juta Rupiah

Food blogger kini menjadi salah satu profesi yang menghasilkan lewat internet. Menjadi food blogger, selain bisa bepergian untuk wisata kuliner atau menyalurkan minat di segala sesuatu terkait makanan, juga bisa mengkonversi hobi jadi pendapatan menggiurkan.

Namun, sebelum mengetahui lebih jauh tentang aktivitas food blogging, dan apa itu food blogger, berikut ini definisi yang tepat mengenai keduanya.

Food blogger adalah istilah yang digunakan untuk pembuat konten blog khusus mengenai makanan, biasanya soal wisata kuliner atau resep-resep makanan dalam suatu website online

Sementara itu, food blogging mengacu pada kegiatan seseorang dalam memproduksi konten terkait makanan dan food blog mengacu pada website yang berisi konten-konten terkait makanan.

Ada banyak food blogger Indonesia terbaik yang berhasil membuktikan mereka bisa menghidupi diri lewat kegiatan blogging. Sehingga, mereka tak perlu lagi menjadi karyawan.

Seperti yang dilakukan Bona Primatama dan Adieguno. Dua orang saudara sepupu yang gemar menulis dan fotografi menjadikan kegiatan blogging sebagai passion yang menghasilkan. Menuangkan hobi makan sebagai profesi, mereka bisa menuai rezeki yang banyak.

Lewat kegiatan bermanfaat tersebut, keduanya kini sudah menggeluti serius profesi itu lewat blog Jajanbeken.com. Sebuah food blog yang didirikan mereka sejak tahun 2015.

Di blog tersebut, keduanya berbagi informasi kuliner Indonesia mulai dari kaki lima hingga bintang lima. Review kuliner, street food, bazaar makanan Indonesia, hingga review hotel.

Dari kegiatan tersebut, keduanya bisa meraih pendapatan Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per bulan. Wow, sudah sama seperti karyawan kantoran ya!

Awal mula ngeblog

Kegiatan food blogger
(Instagram/@jajanbeken)

Memulai dari hobi makan dan memotret, Adi dan Bona mencurahkan pengalaman makan di beberapa tempat makan hingga hotel di dalam dan luar negeri lewat blog mereka.

“Awalnya Jajan Beken didirikan saudara sepupuku, Mas Adi karena suka review-review makanan, dia kerja di perusahaan yang me-revirew makanan pakai platform Zomato, dari situ mikir lebih baik bikin blog sendiri,” kata Bona kepada Lifepal, beberapa waktu lalu.

“Awalnya kita tadinya enggak ada yang kepikiran untuk menghasilkan dari sini, pekerjaan gue jadi food blogger supaya dapat banyak uang. Apalagi membisniskan. Awalnya cuma yang nothing to loose gitu, tapi ternyata industri makanan tumbuh pesat,” sambungnya.

Lantas, mengapa namanya Jajan Beken?

“Karena itu mewakili kebiasaan kita untuk ‘Jajan’ atau makanan ringan untuk ‘Beken’ atau makanan populer di mana pun kita berada. Jadi, nama yang pas Jajan Beken. Kayak street food dapat, fine dining juga namanya masih oke,” jelas Adi. 

Menyuguhkan konten menarik

Food blogger menyuguhkan kontennya
(Instagram/@jajanbeken)

Seiring berjalannya waktu, keduanya pun paham bagaimana membuat konten yang menarik dan informatif bagi pembacanya. 

Tak berhenti di blog, Jajanbeken pun mulai merambah media sosial untuk berbagi informasi kepada masyarakat soal referensi makanan yang pernah mereka coba.

Untuk jenis makanan yang diulas Jajanbeken terbilang beragam, mulai dari restoran hingga jajanan kaki lima. Makanan yang diulas juga tidak terbatas pada makanan dalam negeri saja, tetapi juga makanan di luar negeri.

Adi dan Bona tak menyangka, blog Jajanbeken yang dibuat mereka kini memiliki total kunjungan 5,6 juta hingga 4.000 – 5.000 kunjungan per hari.

“Karena kita banyak diundang tempat makan maupun hotel karena eranya saat ini juga marketing-marketing digital. Waktu itu Instagram baru 1K followers sekarang jadi 45 ribu pengikut,” imbuh Bona yang masih berstatus mahasiswa UI jurusan psikologi.

Berkecimpung di dunia food blogging di era digital seperti saat ini, keduanya pun memanfaatkan betul media sosial. Hingga menetapkan harga untuk setiap pekerjaan mereka. 

“Range rate card satu kali posting di Feed, artinya kita datang ke tempat itu dan review, foto serta mencoba atau istilahnya ada visit, maka rate-nya Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Untuk UMKM diambil terendahnya, kalau brand besar atau yang sudah ada company-nya bisa sampai Rp 1 juta. Jadi rate card menyesuaikan,” papar Adi. 

Itu hanya beberapa nominal pendapatan yang diraih mereka saat menggarap sebuah proyek. Jika ditotal, keduanya bisa meraih Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per bulan.

Tips menjadi food blogger sukses

Tips ngeblog
(Instagram/@jajanbeken)

Menjadi food blogger tidak mudah. Namun, Adi dan Bona mengungkapkan, setiap orang yang memiliki hobi kuliner dan menulis juga bisa meraih kesuksesan dengan cara yang menyenangkan seperti mereka. 

Kuncinya adalah konsisten dan tidak pernah takut untuk mencoba hal-hal yang baru.

“Kalau mau seperti kami, kamu harus memiliki jiwa petualang yang tinggi. Kalau datang ke sebuah daerah atau negara yang baru dikunjungi, jangan takut untuk mencoba sesuatu hal yang baru, karena di situ pengalaman didapat,” tandas mereka.

Itulah kisah Bona dan Adi yang menjalani profesi sebagai salah satu food blogger sukses di Tanah Air. Semoga kisah mereka menginspirasimu ya!