Rintis Usaha Penyewaan DVD, Reed Hastings Kini Jadi Miliarder Karena Netflix

Reed Hastings Netflix

Siapa sih yang gak tahu platform streaming Netflix? Perusahaan yang bermarkas di California, Amerika Serikat ternyata didirikan oleh seorang pria bernama Reed Hastings yang kini masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia.

Kepopuleran Netflix selama beberapa tahun belakangan ini emang gak bisa dipungkiri lagi memanjakan para pecinta film di seluruh dunia. Judul-judul tv seri maupun film kece sering disajikan kepada para pelanggan yang berlangganan setiap bulannya.

Apalagi semenjak pandemi Covid-19 mewabah di awal tahun 2020, mobilitas masyarakat menjadi terbatas dan tidak bisa menyaksikan film terbaru di bioskop menjadi salah satu alasan kenapa kini Netflix udah disaksikan oleh lebih dari 180 juta orang di seluruh dunia. Jumlah yang sangat fantastis, kan?

Salah satu sosok yang paling diuntungkan oleh hal tersebut adalah Reed Hastings yang berperan sebagai pendiri sekaligus CEO dari Netflix. Yuk kita simak langsung ceritanya berikut ini:

Reed Hastings adalah pendiri Netflix yang punya latar belakang pendidikan Ilmu Komputer

Pria yang lahir pada tanggal 8 Oktober 1960 di Amerika Serikat ini menghabiskan bangku kuliahnya S1 di Universitas  Bowdoin, Amerika Serikat dengan mengambil jurusan Matematika.

Gak berhenti sampai disitu, ia lalu melanjutkan ke tingkat S2 dengan mengambil jurusan Ilmu Komputer di salah satu kampus ternama di dunia yakni Stanford University. Reed Hastings berhasil meraih gelar Master pada tahun 1988.

FYI, Hastings ternyata memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi karena sebelum memutuskan mengambil gelar Master, dirinya sempat mengikuti program Peace Corp yang diadakan oleh pemerintah Amerika Serikat. Peace Corp sendiri adalah program sosial ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Beberapa bidang yang disosialisasikan adalah di bidang entrepreneur, agrikultur, kesehatan, pendidikan hingga teknologi.

Memutuskan berhenti bekerja dan mendirikan perusahaan pribadi

Setelah meraih gelar Master di Stanford University, Reed Hastings sempat bekerja selama beberapa tahun di perusahaan teknologi bernama Adaptive Technology. Setelah mendapatkan cukup banyak pengalaman di industri teknologi dan piranti lunak, Hastings memutuskan untuk resign dan mencoba mendirikan perusahaan pertamanya yakni Pure Software yang memiliki kegunaan mendeteksi masalah pada sebuah software.

Namun karena permasalah manajerial yang cukup kompleks dan gak bisa ditangani olehnya, terpaksa posisinya sebagai pucuk pimpinan digeser dan pada tahun 1995 perusahaan tersebut statusnya diambil alih oleh publik atas campur tangan perusahaan investasi Morgan Stanley.

Harga jual dari Pure Software sendiri ditaksir sekitar US$750 juta atau setara Rp10 Triliun.

Reed Hastings Bersama Teman Kerjanya Mendirikan Netflix Tahun 1997

Meskipun gagal membawa Pure Software ke tingkat yang lebih baik bersamanya, ia tidak patah semangat dan memutuskan untuk mendirikan Netflix bersama kolega kantornya yakni Marc Randolph.

Pada mulanya, strategi bisnis yang diterapkan oleh Netflix dengan yang kita ketahui sekarang ini sangat jauh berbeda. Netflix menawarkan jasa rental kaset DVD kepada pelanggan dengan memanfaatkan email. Selain itu, Netflix juga menyediakan website agar pelanggan bisa melihat koleksi produk yang disiapkan secara langsung.

Namun karena keterbatasan teknologi komputer dan internet, Netflix masih jarang diketahui oleh orang dan pamornya gak meningkat secara signifikan maupun turun drastis.

Barulah pada tahun 2007, Hastings melengkapi platform bisnisnya dengan menerapkan usaha streaming online film atau serial tv seperti yang kita kenal sekarang. Ini juga gak lepas dari keberhasilan Youtube menggebrak pasar internet dunia saat itu di mana bisa dikatakan bahwa pasar streaming video online baru tergarap potensinya.

Betul saja, perlahan tapi pasti kepopuleran Netflix mulai meningkat di kawasan Amerika Serikat beberapa tahun setelahnya. Kepopuleran Netflix mulai melejit pada tahun 2016 yang lalu dimana perusahaan ini udah beroperasi di 190 negara di dunia, termasuk Indonesia.

Berapa jumlah keuntungan yang didapatkan oleh Netflix?

Dengan jumlah pengguna lebih dari 180 juta orang di seluruh dunia gak aneh kalau Netflix berhasil meraup keuntungan mencapai US$20 miliar atau setara Rp289 triliun per tahunnya.

Salah satu alasan kenapa Netflix bisa mendapatkan keuntungan sebanyak itu selain dari sisi pengguna adalah bisnis streaming online relatif memerlukan Sumber Daya Manusia yang sedikit. Jadi di setiap negara tempat Netflix beroperasi tidak perlu merekrut banyak pegawai, sebab bisnis utamanya berbasis internet dan jika ada masalah teknis bisa diatasi dalam lingkup regional saja.

Itu juga bisa menjadi alasan kenapa banyak perusahaan rintisan saat ini lebih mengandalkan kecanggihan teknologi dalam mengatasi masalah sosial yang ada dalam masyarakat.

Kini, Reed Hastings masuk dalam daftar 500 orang Tterkaya di dunia versi Forbes

Hasil kerja keras yang dilakukan oleh Reed Hastings akhirnya berbuah manis karena Forbes memasukkan namanya dalam daftar 500 Orang Terkaya di Dunia pada tahun 2020 dengan berada di posisi 494. Harta kekayaannya kini mencapai US$5,2 miliar atau setara Rp75 triliunan.

Itulah kisah sukses dari Reed Hastings yang sukses mendirikan platform streaming online Netflix. Apakah kamu salah satu pelanggan yang menggunakan aplikasi tersebut?

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →