Resesi Ekonomi di Depan Mata, Ini Jurus Jitu Menghadapinya!

resesi ekonomi

Isu resesi ekonomi 2020 diprediksi akan parah dibandingkan krisis moneter tahun 1998 silam. Isu resesi ekonomi mencuat lantaran kondisi perekonomian dunia di segala sektor saat ini mengkhawatirkan, terutama efek pandemi Covid-19 (corona). 

Isu resesi ekonomi ini mencuat setelah Bank Dunia mencatat aktivitas ekonomi di antara negara-negara maju menyusut drastis hingga 7% di tahun 2020, dan IMF meramalkan ekonomi global di 2020 akan -4,9%.

Tak hanya itu saja, pasar ekonomi berkembang juga menyusut hingga 2,5%. Kondisi terkontraksi ini merupakan pertama kalinya ekonomi negara berkembang sejak 60 tahun lalu.

Bank dunia turut meramal pendapatan per kapita akan menurun 3,6% yang membawa kepada jutaan orang akan terjatuh dalam kemiskinan ekstrem. 

Kondisi ini dialami negara-negara di mana pandemi menjadi yang paling parah dan di mana ada ketergantungan besar pada perdagangan global, pariwisata, ekspor komoditas, dan pembiayaan eksternal. Termasuk, Indonesia.

Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di angka -0,3% di tahun 2020. Namun, pada tahun berikutnya produk domestik bruto (PDB) RI diperkirakan akan kembali mencatatkan pertumbuhan lebih dari 6%.

Apa itu resesi ekonomi?

Resesi ekonomi secara sederhana diartikan kelesuan ekonomi. Menurut Wikipedia, resesi kondisi di mana produk domestik bruto (GDP) mengalami penurunan atau pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal secara berturut-turut atau lebih dari satu tahun.

Menurut Ekonom Indef Bhima Yudhistira, perang dagang bukan penyebab utama terjadinya resesi, tapi ada faktor lain yang tak kalah berpengaruh seperti Brexit dan kondisi geopolitik Asia yang sedang tidak stabil.

Dengan kondisi itu, tentu berdampak tidak hanya di sektor industri dan ekonomi. Selain penurunan kinerja ekspor-impor, resesi berimbas pada lapangan kerja, investasi hingga peningkatan angka kemiskinan.

Resesi global akan menimbulkan efek pada masing-masing kegiatan ekonomi tersebut. Ketika investasi mengalami penurunan, tingkat produksi atas produk atau komoditas juga akan menurun.

Dampaknya akan terjadi banyak pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja (PHK). Kondisi itu akan mengakibatkan daya beli masyarakat menurun yang berimbas pada turunnya keuntungan perusahaan.

Terjadinya kelesuan ekonomi juga seringkali diindikasikan dengan menurunnya harga-harga yang disebut deflasi, atau sebaliknya inflasi di mana harga-harga produk atau komoditas dalam negeri mengalami peningkatan secara tajam.

Arti resesi ekonomi bagi Indonesia? Dan apa bahayanya?

Bagi Indonesia, resesi akan dimulai kalau semua sektor ekonomi mengalami perlambatan, seperti manufaktur, transportasi dan lain-lain. Ini juga berarti akan berdampak besar pada terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada perusahaan-perusahaan.

Nah, kalau PHK terjadi di mana-mana dan pemerintah gagal menciptakan kesempatan kerja baru, maka pengangguran akan menjadi beban ekonomi karena daya beli masyarakat juga akan turun dan beresiko menimbulkan kriminal. 

Bisa juga dibilang resesi apabila antara produksi dan konsumsi gak seimbang dan mengakibatkan gangguan pada siklus ekonomi. Tingginya produksi akan menjadi limbung kalau gak dibarengi dengan tingginya konsumsi.

Begitu juga dengan tingginya nilai impor dibanding nilai ekspor. Kalau impor terlalu tinggi dan ekspor terlalu rendah maka anggaran negara bakal defisit dan resesi dipastikan terjadi.

Sejarah juga pernah mencatat, Indonesia sebelumnya juga sempat mengalami resesi ekonomi pada 1965-1966 dan 1997-1998 dan selalu berhasil teratasi kalau pemerintah dan para pelaku industri juga mencari solusi bersama.

Resesi ekonomi akibat pandemi covid-19

Pandemi Covid-19 membawa dampak cukup mengerikan untuk ekonomi dunia. Seperti dilansir Detik.com, lima negara besar di dunia diprediksi bakal jatuh ke dalam jurang resesi ekonomi yang parah.

Dari laporan yang dirilis The Economist Intelligence Unit pada 22 Mei 2020, bahkan 17 negara anggota G-20 juga bakal mengalami resesi tahun ini.

Amerika Serikat diprediksi mengalami kontraksi minus 4 persen, China diprediksi hanya mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 1 persen sampai akhir tahun, Jerman akan mengalami kontraksi ekonomi sebesar 6,3 persen dan Australia hanya 0,3 persen. Sementara Inggris mengalami kontraksi 14 persen dan dinilai sebagai yang terburuk sejak 1706.

Bagaimana dengan Indonesia? Kabar baiknya nih, menurut CNN Indonesia saat berbagai negara mengalami mimpi buruk ekonomi di kuartal pertama, Indonesia malah masih mengalami positif sebesar 2,97 persen, meski dibanding tahun lalu lebih kecil 5,07 persen.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira melalui CNN Indonesia mengatakan, Indonesia punya banyak kekuatan untuk terus menopang pertumbuhan ekonomi, terutama konsumsi rumah tangga yang banyak menolong pada kuartal pertama 2020.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi kebutuhan rumah tangga menyumbang 58,14 persen pada pertumbuhan ekonomi kuartal pertama. Kondisi ini berbeda jauh dengan negara-negara yang selama ini mengandalkan perdagangan internasional untuk menopang ekonominya.

Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menghadapi resesi ekonomi

Karena resesi ekonomi bukan hal sepele, maka segeralah meminimalisir dengan mulai berinvestasi, punya dana darurat dan buat skala prioritas. 

Berikut, langkah-langkahnya seperti dilansir dari Sahabat Pegadaian:

1. Investasi

Banyak orang tidak menyadari pentingnya berinvestasi. Sementara itu, orang-orang yang sadar pentingnya investasi pasti akan mempertimbangkan baik-baik mana uang yang harus ditabung dan mana yang harus diinvestasikan.

Nah, berikut ini jenis investasi terbaik yang bisa dipilih untuk kamu menghadapi ancaman resesi ekonomi:

Emas

Instrumen investasi pertama yang bisa dipilih ialah logam mulia (emas). Seperti diketahui, emas sejak dulu mudah disimpan dan dijual kembali.

Emas juga selalu menjadi pelindung harta untuk melawan inflasi. Pasalnya, ketika inflasi naik, maka harga emas juga cenderung akan naik. 

Deposito

Deposito merupakan pilihan yang cocok untuk kamu yang suka berinvestasi di produk keuangan yang diterbitkan perbankan. 

Selama dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), aset depositomu akan aman, bahkan jika terjadi resesi global 2020. Batas maksimal deposito setiap orang Rp2 miliar per orang pada tiap bank.

Reksa Dana Non-Saham

Instrumen investasi lain yang cukup efektif melawan inflasi besar-besaran adalah reksa dana non-saham seperti reksa dana pasar uang, reksa reksa dana pendapatan tetap, serta reksa dana proteksi. 

Sebelum menjatuhkan pilihan, pastikan agen penjualnya sudah mendapat izin dari OJK ya!

Dolar US$

Dolar US$ merupakan salah satu instrumen pelawan resesi yang sejak beberapa waktu lalu sudah terbukti keampuhannya. Itu terjadi karena Amerika merupakan negara dengan kondisi ekonomi terbaik di dunia. 

Nilai tukar dolar terhadap rupiah juga terus mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu sekitar 47,4% dalam satu dekade terakhir.

Surat Berharga Negara (SBN)

Nah, buat kamu yang pengin melawan resesi sekaligus membantu negara, bisa berinvestasi di Surat Berharga Negara (SBN). 

Surat utang yang diterbitkan pemerintah ini tergolong instrumen investasi yang aman karena sudah dijamin negara di bawah UU Surat Utang Negara (UU SUN). SBN bisa dibeli mulai Rp1 juta.

Dana darurat

Membekali diri dengan dana darurat akan membantumu menghadapi berbagai risiko, termasuk di-PHK.

Dengan jumlah ideal enam kali gaji bulanan, dana darurat bisa membantumu memenuhi kebutuhan hidup jika mengalami kondisi tak terduga seperti pemutusan kerja.

Buat skala prioritas

Membuat skala prioritas akan membantumu memilah antara keinginan dan kebutuhan. Sehingga dapat disortir mana yang masuk kebutuhan primer, sekunder, dan tersier.

Dengan begitu, kamu juga bisa memindahkan kebutuhan jangka pendek yang tidak terlalu darurat untuk investasi.

Lunasi utang

Utang belum lunas dan sudah terjebak dalam masa resesi, rasanya seperti jatuh dan tertimpa tangga. Tentu ini akan semakin menyulitkan kondisi keuangan kamu untuk bertahan dalam resesi.

Supaya kamu gak mengalami hal ini, rencanakan untuk melunasi utang di masa sebelum resesi. Kamu bisa melakukannya dengan cara debt ladder, yaitu melunasi utang dari yang bunganya paling besar dulu atau dengan cara debt snowball yang berlaku sebaliknya, melunasi utang dari yang paling kecil dulu.

2. Ikuti berita ekonomi

Meski sering dianggap sepele, mengikuti berita ekonomi banyak manfaatnya. Kamu bisa tahu atau memperkirakan seperti apa kira-kira kondisi ekonomi yang bakal terjadi dan langkah terbaik apa yang paling efisien dilakukan.

Berita ekonomi sering menghadirkan para pakar yang menganalisis masalah dan memberi solusi. Ini bisa jadi masukan buat kamu untuk mengambil langkah selanjutnya.

Itulah  yang bisa kamu lakukan menghadapi isu resesi global 2020 ini agar kondisi finansialmu tetap stabil. Namun, semoga saja isu ini hanya sebatas isu dan kondisi perekonomian kita justru semakin membaik!