Pamor Sepatu Compass Naik Kelas Berkat Sentuhan Tangan Aji Handoko

Sepatu Compass salah satu merek lokal yang naik kelas berkat sentuhan tangan pria ini

Dari sejumlah brand sneakers lokal, sepatu Compass termasuk salah satu yang punya barisan penggemar dan pelanggan setia. Hampir di setiap peluncuran seri terbarunya, koleksi sepatu ini langsung ludes terjual.

Untuk sampai ke pada posisi ini, sosok Aji Handoko Purbo, sang creative director, pun melakukan berbagai inovasi re-branding sehingga mampu menggaet banyak pelanggan fanatik. Mampu bersaing dengan merek luar seperti Vans, Nike hingga Adidas, Compass berhasil menempatkan dirinya di kalangan pecinta sneakers. 

Kalau kamu salah satu orang yang begitu menggilai sepatu demi penampilan, pasti sudah gak asing dong dengan merek yang satu ini. Modelnya yang stylish, kualitas juga nomor satu bahkan untuk soal harga sepatu Compass terbilang ramah kantong nih.

Gak heran banyak penggila sneakers yang memburunya dan dijadikan sebagai salah satu koleksi di lemari sepatu mereka. Kayak apa sih perjalanan sepatu Compass akhirnya menjadi salah satu merek lokal yang digemari oleh banyak orang? Yuk kita intip aja perjalanan panjang Aji Handoko Purbo yang berhasil bikin mereknya ini naik kelas dan mampu menyaingi rivalnya di pasaran.

Sejarah panjang perjalanan sepatu Compass akhirnya digemari banyak milenial

Compass memiliki desain dan kualitas wahid di kelasnya!

Butuh waktu yang tidak sebentar bagi sepatu Compas untuk mencapai posisi saat ini. Sejak ada di tahun 1998, bisnis yang dibangun Kahar Gunawan dengan perusahaan CV Harapan Jaya ini melewati berbagai situasi untuk terus eksis. 

Titik balik itu terlihat setelah ada pertemuan antara sang pionir, Kahar Ginawan dengan Aji Handoko Purbo pada 2017. Keahlian Aji dalam memberi sentuhan kreatifitas yang beda membuat Gunawan mempercayainya sebagai Creative Director. Tak butuh lama untuk berinovasi, rebranding awal sepatu Compass hadir dalam peluncuran model Gazelle low yang dirilis pada tahun 2018. 

Tipe sepatu Compass Gazelle, memakai material kanvas twill di bagian upper dan sol-nya dibuat dengan teknik vulcanized dengan memiliki tingkat durability yang mumpuni. Setiap pembelian sneakers ini pun  para pembeli mendapat Certificate of Authenticity untuk memastikan keaslian produk.

Mengulang lagi sejarah, model Gazelle ini sebenarnya terinspirasi dari merek sepatu Gazelle yang dibuat pada tahun 1983 oleh mendiang Kahar Setiadi–ayah dari Kahar Gunawan. Saat itu mendiang Kahar Setiadi mengadaptasi gambar tanduk binatang gazelle sebagai logo sepatu yang diproduksinya. 

Bukan cuma ikuti tren, tapi hadirkan kolaborasi

Meski produk lokal, sepatu Compass untuk kualitas dan model oke punya lho

Bukan sebatas memproduksi sneakers yang mengikuti tren, Aji justru ingin membawa merek  sepatu Compass sebagai ikon identitas atau simbol. Hal ini dilakukan pria kelahiran 31 tahun silam ini dengan menghadirkan kolaborasi apik dengan sejumlah insan kreatif. Salah satunya adalah model Bravo 001 yang menggandeng Bryant Notodihardjo, influencer sekaligus social media manager L.O.C. 

Koleksi Compass yang tak kalah menarik adalah desain untuk media komunitas denim, Darahku Biru, yang merupakan karya kolaborasi dengan Pot Meets Pop. Selain itu, ada juga sepatu Compass 98 Vintage yang didesain oleh Old Blue Co.

Kolaborasi unik lain juga dilakukan di awal 2020, dimana sepatu Compass mengajak grup band asal Jakarta, Kelompok Penerbang Roket (KPR) membuat kreasi sneakers Kelompok Penerbang Roket. Setiap versinya didesain dan menggambarkan kepribadian masing-masing personel KPR yaitu Coki, Rey, dan juga Viki. 

Gak mau tanggung-tanggung, peluncurannya koleksi kolaborasinya juga dibuat unik dengan melakukan tur Collaboration Meroket yang digelar di lima kota, yaitu Bandung, Surabaya, Makassar, Bali, dan Jakarta. 

Euforia kebanggaan pakai produk lokal

Produk lokal kini semakin diburu oleh banyak konsumen

Naiknya popularitas sepatu Compass yang memberikan kebanggaan bagi yang memakainya tidak luput dari pengaruh media sosial. Gerakan #IndoPride sebagai bagian wujud cinta produk lokal yang disebar para fans setia juga sejumlah influencer membuat sepatu Compass semakin banyak diburu.

Tidak heran dalam setiap perilisan model barunya, sepatu ini langsung terjual habis dalam waktu hitungan jam. Modelnya yang trendy dan stylish, Compass berhasil memikat hati konsumen utuk memilikinya. 

Pamor produk lokal belakangan memang banyak menjadi buruan konsumen. Mulai dari makanan hingga kebutuhan lainnya tetap lho menjadi favorit banyak orang.

Strategi Produksi 

Strategi produksi juga menjadi cara Compass bersaing dan mampu memenuhi permintaan

Histori puluhan tahun dari perusahaan sepatu Compass tidak lantas dilupakan begitu saja. Saat proses rebranding, pria yang dari kecil sudah fanatik menggambar sepatu ini memutuskan untuk memakai spirit kekeluargaan dalam produksi dan pemasaran sneakers ini.

Hal ini mendasari Aji untuk memakai tagline “Sepatu Rakyat” dan juga sebutan “Teman Compass” untuk pecinta brand sepatu ini. Dengan membawa tanggung jawab usaha estafet dari generasi ke generasi, Aji dan manajemen perusahaan juga tidak mau langsung menaikkan angka produksi melebihi kapasitas dan kemampuan sumber daya mereka. 

Kalau pada tahun 2019 jumlah produksinya sekitar 3000 pasang per bulan, saat ini kenaikan produksi juga dibatasi 4500-5000 pasang per bulan. Dengan melihat kemampuan produksi tersebut, diharapkan standar kualitas sneakers yang dipasarkan tetap terjaga dan tidak mengecewakan pelanggan. 

Kontroversi harga jual reseller “tak resmi” yang fantastis

Compass mampu bersaing dengan merek kenamaan lainnya

Bagi yang ingin memakai sneakers keren dengan keunikan desain yang pas untuk kalangan milenial dan generasi Z ini, kamu perlu menyiapkan dana sekitar Rp 200 ribuan-Rp 400 ribuan tergantung dengan modelnya. 

Tapi yang baru-baru ini bikin ramai jagat internet, harga reseller (dari pihak ketiga) yang tidak resmi dari sepatu Compass terbilang fantastis dan bikin geleng-geleng kepala. Ada yang buka harga 5 kali lipat bahkan hingga Rp 5 jutaan tapi tetap saja ada yang berminat. Hal ini dikarenakan karena permintaan tinggi sedangkan jumlah produksinya tetap dibatasi sesuai dengan kemampuan pabriknya. 

Aji pun menjelaskan salah satu penyebabnya karena ekspektasi dan permintaan pembeli yang tinggi dan jumlah produksi sepatu ini yang terbatas. Itu mengingat komitmen perusahaan yang tidak mau langsung menaikkan jumlah produksi secara drastis, melainkan bertahap mengikuti dari kesanggupan dari sumber daya perusahaan. 

Dan kalau ada sejumlah reseller (penjual pihak ketiga) yang menawarkan sepatu Compass dengan harga berkali-kali lipat dari harga normal, itu karena mereka memanfaatkan keadaan dan tidak terkait dengan perusahaan Compass. Dengan kata lain, keuntungan dari sejumlah sepatu Compass yang dipatok dengan harga super tinggi kembali sepenuhnya ke reseller. 

Terlepas dengan berbagai pujian dan kontroversi, Aji bersama label sepatu Compass ingin ambil bagian dari gerakan memajukan lewat karya. Jalan masih panjang. Tentu perlu banyak masukan dan perbaikan baik dari sisi produksi dan pemasaran untuk membuat sepatu Compass karya anak bangsa ini semakin lebih baik. (Editor: Mahardian Prawira Bhisma).