Stabilkan Harga Beras yang Naik dengan Sistem Resi Gudang, Bagaimana Caranya?

Harga beras

Harga beras, menurut Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjito, menjadi komoditas yang berdampak paling besar usai banjir. Kenaikan harga beras diketahui berdasarkan survei pemantauan harga (SPH) yang dilakukan pihaknya di sejumlah wilayah Jabodetabek.

“Di sejumlah daerah mengalami banjir seperti di Jakarta, Depok, secara umum dampaknya lebih terlihat pada harga beras,” ungkap Perry seperti dilansir dari Merdeka.com.

Food and Agriculture Organization (FAO) juga mengungkapkan, musibah bencana alam tidak hanya dialami negara produsen beras saja. 

Negara importir beras juga mengalami bencana alam, sehingga mereka membutuhkan pasokan beras lebih banyak daripada biasanya. Itu membuat demand beras lebih tinggi dari biasanya. 

Tak hanya saat bencana alam saja, lonjakan harga beras juga terjadi saat stok yang ada di gudang Bulog maupun di pasaran melimpah alias panen raya.

Lantas, bagaimana sih caranya menstabilkan harga beras yang melonjak naik? Yuk, ketahui caranya di sini:

Manfaatkan sistem resi gudang

Harga beras
Manfaatkan sistem resi gudang

Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mengajak pedagang pengepul, atau yang lazim disebut tengkulak memanfaatkan Sistem Resi Gudang (SRG) untuk membantu petani menstabilkan harga beras saat panen raya tiba. 

Menurutnya, petani, pedagang, pengepul, dan pengelola gudang SRG diharapkan dapat bersinergi membangun hubungan yang saling menguntungkan.

“Menghadapi panen raya yang diperkirakan jatuh pada awal 2020, pemerintah berupaya membantu petani menyerap hasil produk pertanian melalui skema SRG. Para petani, pedagang pengepul, dan pengelola gudang SRG diharapkan dapat bersinergi menjaga stabilisasi harga pada saat panen tiba,” kata Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Tjahya Widayanti seperti dilansir dari Sindonews.

Lebih lanjut, Tjahya memaparkan, SRG dapat menjadi peluang besar bagi para pedagang pengepul untuk meningkatkan kegiatan bisnisnya. 

“Pedagang pengepul dan petani dapat bekerja sama dengan membentuk kelompok tani (poktan) atau gabungan kelompok tani (gapoktan) dan membeli hasil panen anggotanya untuk disimpan di gudang SRG,” imbuhnya.

Selanjutnya, resi gudang yang diterbitkan pengelola gudang SRG dapat diagunkan di bank untuk mendapatkan pembiayaan sesuai dengan ketentuan berlaku. 

Pembiayaan yang diperoleh dapat digunakan sebagai modal usaha untuk membeli produk pertanian kembali. Setelah harga membaik, komoditas yang disimpan di gudang SRG dapat dikeluarkan dan dijual kembali.

“Dalam skema kerja sama ini, sebagian keuntungan yang diperoleh pedagang pengepul dari selisih harga pembelian dari poktan/gapoktan dengan harga penjualan pada saat harga tinggi dapat diberikan kembali kepada petani sebagai keuntungan bersama,” jelasnya.

Baca juga: Masuk Guinness World Records, Beras Kinmemai Jepang Dibanderol Rp 1,5 Juta per Kilogram

Kerja sama yang menguntungkan

Harga beras
Kerja sama yang menguntungkan

Kerja sama tersebut, kata Tjahja, tentu akan lebih menguntungkan kedua belah pihak. Pasalnya, permasalahan klasik yang dihadapi petani Indonesia selama ini ialah keterikatan dengan sistem ijon.

Lewat sistem ijon, petani yang sudah menerima uang dari pedagang pengepul atau pelaku usaha menggunakannya untuk modal kerja atau memenuhi kebutuhan hidup sebelum panen tiba.

Sebagai konsekuensinya, petani harus menjual hasil panennya kepada pedagang pengepul dengan harga yang ditentukan pedagang pengepul tersebut. 

Sehingga petani tidak memiliki posisi tawar yang baik dan tidak bisa menikmati hasil usahanya secara optimal.

Itu membuat keberadaan para tengkulak tidak bisa dihilangkan. Mengingat peran dan jasa pengepul membantu petani untuk memperoleh modal kerja dengan cepat membuat hubungan mereka secara psikologis sudah sangat dekat.

Tjahya juga menegaskan, Bappebti terus berupaya meningkatkan peran perdagangan berjangka komoditi dalam meningkatkan perekonomian nasional melalui percepatan dalam implementasi pelaksanaan SRG.

“Salah satu program yang diangkat Bappebti saat ini adalah peningkatan koordinasi dan kerja sama lintas kementerian/lembaga. Selain itu, kita juga melakukan sosialisasi kebijakan SRG untuk mengoptimalkan pemanfaatan gudang SRG para pelaku usaha, khususnya di sektor pertanian,” tandasnya.

Baca juga: Harga Beras di Indonesia Rp 12 Ribuan, Gimana dengan Negara-Negara di ASEAN?

Itulah sistem resi gudang yang bisa membantu menstabilkan kenaikan harga beras. Semoga saja harga beras usai banjir dan panen raya kembali stabil untuk kemaslahatan banyak orang!

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →