Dapat Rp 3,75 Miliar, Ini Fakta Syuci Indriani Atlet Renang Para Games

Atlet Renang Asian Para Games, Syuci Indriani, berhasil meraih empat medali yaitu dua medali emas, satu perak, dan satu perunggu. Dengan ini, Syuci menjadi atlet Indonesia dengan bonus terbesar kedua, setelah atlet catur Teti Karhati.

Total bonus yang diterima Syuci mencapai Rp 3,75 miliar. Pasalnya, dua medali emas yang ia raih mendapatkan Rp 1,5 miliar, sementara itu dari medali peraknya dirinya mendapat Rp 500 juta, dan perunggu Rp 250 juta.

Dalam final di Stadion Akuatik, kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Jumat (12/10), Syuci berhasil sampai garis finish di depan dan mengalahkan perenang Hong Kong Yui Lam.

Sebagai penyumbang kuota medali bagi Indonesia, perempuan penderita tunagrahita ini juga merupakan sosok yang bisa menginspirasimu.

Penasaran nilai-nilai positif di balik perjalanan sukses sang jawara ini? Yuk simak ulasan lengkapnya di bawah ini yang sudah dirangkum oleh MoneySmart.id.

1. Terinspirasi kakaknya sendiri

Syuci Indriani (Instagram/@syuciindriani2001).

Atlet renang kelahiran tahun 2001 silam ini ternyata terinspirasi dengan sang kakaknya. Dirinya merasa iri dengan sang kakak yang memiliki banyak koper gak lain adalah koper kontingen yang sering dibawa kakaknya usai bertanding.

Usut punya usut, kakak kandung dari Syuci juga merupakan atlet renang lho. Namanya adalah Syafril Syahputra.

Baik Syuci maupun Syafril merupakan atlet PON (Pekan Olahraga Nasional). Kakaknya yang mewakili Riau memang gak jarang tanding di luar kota.

Dinda Ayu yang merupakan asisten pelatih Syuci mengatakan, sejak dulu Syuci memang ingin sekali bisa seperti kakaknya, dan bahkan ingin lebih hebat daripadanya. Dan alhasil, koper-koper kontingen yang dimiliki Syuci jumlahnya kini lebih banyak dari kakaknya. Gak heran kalau akhirnya Syuci jadi juara di Asian Para Games 2018.

2. Gak pernah menyerah

Syuci Indriani saat meraih medali emas di ajang Asian Para Games 2018 (Instagram/@syuciindriani2001).

Bukan perkara mudah untuk menjadi seorang jawara renang di tengah adanya keterbatasan. Syuci adalah seorang penderita tunagrahita yang kecerdasannya di bawah rata-rata.

Menurut pelatihnya, Bhima Kautsar, kekurangan Syuci hanya ada pada IQ-nya yang di bawah 75. Selain dari itu, dia memiliki kondisi fisik yang sempurna.

Beberapa hal yang kerap dialami Syuci ketika latihan adalah sering lupa dengan instruksi pelatihnya. Daya ingatnya memang lemah, jadi gak heran kalau terkadang dia sering mengalami kesalahan ketika berenang.

Akan tetapi, Syuci gak pernah patah arang lantaran kekurangan yang ia miliki. Dia justru terus berlatih hingga akhirnya berhasil mengharumkan nama Indonesia.

Salut deh, buat Syuci. Kamu pantang menyerah juga gak nih? Atau malah cepat nge-down kalau tiba-tiba ditegor atau dikritik bos di kantor?

3. Gak sombong ketika berada di atas

Syuci Indriani mencintai dunia renang sejak kecil, (Instagram/@syuciindriani2001).

Sebagai atlet renang yang menyabet medali emas di Asian Para Games, Syuci gak lantas menyombongkan diri atas kemenangannya. Syuci pun memberikan jawaban yang cukup mengejutkan ketika dimintai pendapat soal bagaimana dia bisa mengalahkan lawannya.

Agen Asuransi Mitra Lifepal
Agen Asuransi Mitra Lifepal

Syuci justru bilang, semua lawannya adalah orang-orang yang juga hebat. Jawaban itu pun justru dipandang sebagai bagian terpenting dari isi pesan dan semangat Asian Para Games 2018.

Menurutnya, setiap orang gak bisa hanya berfokus pada kehebatan di dirinya sendiri. Mereka harus mengakui kehebatan orang lain juga.

4. Tetap ingat dengan orangtua

Syuci Indriani selalu ingat dengan kedua orangtua, (Instagram/@syuciindriani2001).

Mau sampai kapanpun, kesuksesan yang diraih Syuci gak luput dari peranan orangtuanya. Dan Syuci sendiri selalu ingat dengan asuhan kedua orangtuanya.

Dia sendiri sempat bilang, medali emas ini memang buat orangtuanya. Dan bonus Rp 1,5 miliar itu, rencananya akan digunakan untuk memberangkatkan ayahnya umroh ke Tanah Suci. Setelah itu, barulah dia bakal memanfaatkan uang itu untuk masa depan.

Asal kamu tahu, Saprison, yang merupakan ayah Syuci memang sangat berperan dalam kesuksesan putrinya. Bisa dibilang, tanpa Saprison mungkin Syuci gak bakal jadi atlet renang.

Ketika Syuci berusia lima tahun, Saprison membawanya ke kolam renang. Di situlah dia melihat ada bakat renang yang dimiliki putrinya. Menurut Saprison, Syuci justru bisa fokus ketika sedang berenang.

Meskipun dikenal sering marah dan lupa, Syuci memang menyukai dunia renang sejak dulu. Dan itulah yang akhirnya membuat sang ayah mendukung apa yang dilakukan Syuci dalam dunia olahraga. Hingga akhirnya dirinya menjadi juara di ajang Asian Para Games 2018.

Itulah nilai-nilai positif dalam perjuangan Syuci yang patut kamu tiru. Intinya adalah, kerja keras tidak mengkhianati hasil yang maksimal. Dan jangan pernah memandang sebelah mata dengan keterbatasan seseorang, niscaya sebuah keterbatasan dapat menjadi kelebihan seseorang yang gak mungkin dimiliki oleh orang lain.

Dan ketika sedang ada di atas, janganlah merendah-rendahkan lawan karena kamu lebih lihai daripada mereka. (Editor: Mahardian Prawira).

 

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →