Uang Panai, Antara Tradisi Masyarakat Makassar dan Gengsi

Uang Panai

Uang panai atau yang juga biasa disebut uang panaik adalah sebuah tradisi yang berasal dari Makassar yang akan dilakukan ketika akan melangsungkan pernikahan. 

Secara umum, istilah ini menjelaskan tentang pemberian harta benda dari calon mempelai pria kepada mempelai wanita. Bagi orang awam atau yang bukan berasal dari Suku Bugis, tradisi ini terkesan memberatkan mempelai pria, namun tradisi tersebut ada alasannya. Untuk lebih jelasnya, mari baca penjelasan yang sudah Lifepal siapkan berikut ini.

1. Tujuan Diadakannya Uang Panai

Uang Panai

Tradisi ini nyatanya sudah dilakukan sejak abad ke-16. Tradisi ini tentunya memiliki tujuan positif, tujuan tersebut antara lain:

Uang panai untuk penghormatan

Yang dimaksud adalah mempelai pria mampu menyanggupi jumlah uang yang diminta oleh pihak keluarga mempelai wanita. Dengan kesanggupan tersebut, maka keseriusan mempelai pria akan lebih terlihat.

Uang untuk biaya resepsi

Pemberian uang panai tidak serta merta untuk dinikmati sendiri, melainkan juga dipergunakan untuk biaya pernikahan yang akan dilangsungkan nantinya.

Bekal finansial setelah menikah

Tidak hanya untuk membiayai pesta pernikahan, uang tersebut juga akan digunakan sebagai bekal hidup nantinya. Dengan begitu, tidak ada tuh istilah bokek setelah menikah karena adanya uang tersebut akan membantu calon mempelai dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

2. Biaya untuk Uang Panai dan Faktor Penentunya

Uang-Uang Panai

Uang panai terkenal dengan jumlah nominalnya yang besar. Besaran tersebut ditentukan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut.

  • Keanggotaan wanita di dalam sebuah keluarga. Misalnya keluarga sang wanita memiliki status sosial yang tinggi di lingkungannya.
  • Memiliki kondisi fisik yang dianggap sempurna. Semakin sempurna kondisi fisiknya, maka semakin tinggi pula jumlah yang dipatok. Bahkan perempuan tersebut tidak memiliki status sosial yang bagus, bukan dari golongan bangsawan, tidak memiliki jenjang pendidikan yang tinggi maka kondisi fisiknya akan menjadi tolak ukur besaran uang panai.
  • Status pendidikannya yang tinggi. Misalnya memiliki pekerjaan dan pendidikan yang tinggi.
  • Memiliki jumlah kekayaan materi yang tinggi di antara warga di lingkungan sekitarnya.
  • Mempelai wanita memiliki tingkat kekuasaan dan kekuatan yang tinggi. MIsalnya, sang wanita mempunyai kewenangan yang besar dalam sebuah organisasi sehingga membuat statusnya lebih di atas dibanding anggota organisasi lainnya.

Besaran nominal

Ketika calon wanita yang dinikahi termasuk salah satu dari faktor di atas, maka mempelai pria harus bersiap-siap mengeluarkan besaran uang panai yang besar. Berikut adalah estimasi yang harus disiapkan berdasarkan status pendidikan wanita.

Status Pendidikan Wanita Besaran Uang Panai
SMA Rp50 juta
Sarjana (S1) Rp75 juta hingga Rp100 juta
Magister (S2) Rp100 juta ke atas

Besaran tersebut pun bisa terus bertambah, seiring tingginya derajat keluarga sang mempelai wanita.

3. Kelebihan dan Kekurangan Terdapatnya Uang Panai

Perikahan Suku Bugis Makassar, Uang Panai

Setiap tradisi yang harus dilangsungkan tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri termasuk pada tradisi pernikahan satu ini. Berikut adalah beberapa kelebihan dan kekurangannya.

Kelebihan uang panai

Selain memberikan tanda penghormatan bagi keluarga calon mempelai wanita. Kelebihan dengan adanya uang panai lainnya antara lain.

Mendorong mempelai pria menjadi pekerja keras

Besarnya yang terlampau mahal bahkan bisa terus meninggi seiring tingginya strata keluarga wanita, membuat calon pria harus ekstra bekerja keras dalam mengumpulkannya. Bahkan rela untuk merantau untuk mengumpulkan biaya uang panai.

Tanda keseriusan mempelai pria

Untuk mengantisipasi mempelai pria tidak melakukan kewajibannya dengan baik selepas menikah. Maka adanya uang panai bisa menjadi ajang pembuktian seberapa serius calon mempelai pria. Jika tidak serius, maka peluang mempelai pria mundur akan semakin besar.

Kekurangan uang panai

Meskipun uang panai mendorong mempelai pria untuk lebih bekerja keras untuk menunjukkan keseriusannya meminang pujaan hati. Tak jarang hal ini juga menjadi sumber retaknya sebuah hubungan antar kekasih. Berikut adalah beberapa contoh kekurangan dengan adanya tradisi uang panai.

Kandasnya sebuah hubungan

Sering kali karena besaran yang terlampau tinggi, mempelai pria tidak mampu memenuhi target tersebut. Akibatnya banyak pria yang memilih mundur meninggalkan kekasihnya kemudian menikahi wanita yang memberikan syarat uang panai yang tidak setinggi sebelumnya.

Terjadinya aksi kawin lari

Saking saling cintanya pasangan tersebut dan tidak relanya untuk berpisah membuat beberapa pasangan memilih menentang tradisi tersebut dengan mengambil jalan pintas berupa kawin lari atau yang biasa dikenal masyarakat Bugis Makassar dengan istilah silariang.

Selayaknya tradisi daerah lainnya, uang panai juga memiliki sisi positif dan negatif. Namun terlepas dari hal tersebut, besaran jumlah uang panai tidak serta merta ditentukan sendiri oleh keluarga calon mempelai wanita. Melainkan bersumber dari hasil diskusi antara keluarga tiap calon. Bahkan bisa terjadi aksi tawar-menawar biaya.

Jadi, apapun persyaratannya selama calon mempelai saling percaya, pandai mengatur keuangan rumah tangga, dan bekerja keras, tentunya tradisi ini bukanlah rintangan yang besar.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →