Rahasia Menjadi Workaholic yang Tetap Bisa Menikmati Hidup

Gila kerja

Dulu sebutan workaholic seolah menjadi tanda seorang yang sukses sebagaimana setiap menitnya berharga karena seorang workaholic selalu punya sesuatu untuk dikerjakan. 

Tapi sekarang, sebutan ini tidak lagi disukai karena diidentikkan dengan kesibukan tiada henti, mudah stres, dan kehilangan kehidupan pribadi. 

Apa Itu Workaholic?

Workaholic diasumsikan sebagai kondisi seseorang yang selalu mementingkan pekerjaannya hingga melupakan kebutuhan hidupnya yang lain. 

Seorang workaholic kadang tidak merasa bahwa ia sebenarnya bekerja berlebihan. Biasanya orang seperti ini sangat mencintai atau menikmati pekerjaannya hingga tanpa sadar yang ada dipikirannya hanya pekerjaan saja. 

Saat libur pun seorang workaholic biasanya malah akan kebingungan karena tidak tahu apa yang harus dikerjakan. 

Tipe workaholic biasanya menyukai jam kerja yang panjang, mereka pun akan berusaha sekuat tenaga agar hasil pekerjaan persis seperti yang mereka inginkan. Kesannya seperti seorang pekerja keras, ya. Tapi sebetulnya workaholic tidak sama dengan pekerja keras.

Beda Pekerja Keras dan Workaholic

Kebiasaan workaholic yang selalu ingin memberikan hasil lebih dari 100 persen, memang terlihat seperti seorang pekerja keras yang berdedikasi. Namun, ada beberapa hal yang membedakan pekerja keras dengan workaholic. Gambarannya kira-kira seperti tabel di bawah ini. 

Perbedaan paling utama dari workaholic dan pekerja keras adalah sistem bekerja dan rasa puas atas pekerjaan yang dilakukan. Cinta pada pekerjaan itu baik, sebagaimana merasa puas atas hasil pekerjaan kita pun sangat penting. 

Trik Menjadi Workaholic dan Tetap Bahagia

15 tips berikut bisa diterapkan untuk meningkatkan produktivitas pekerjaan, kenyamanan di tempat kerja, dan kebahagiaan di kehidupan sosial kita..

1. Bangun lebih pagi

Penelitian membuktikan, bangun lebih pagi dapat membuat kita menjadi lebih produktif. Alasan lainnya, bangun pagi membuat kita punya lebih banyak waktu untuk memperhatikan diri kita sendiri. 

Bangun lebih pagi membuat kita punya waktu me time untuk sekadar menikmati secangkir kopi, berolahraga, ngobrol dengan keluarga, atau hanya sekadar membaca novel yang bahkan plastiknya pun belum pernah kita buka. 

2. Hindari multi-tasking

Multitasking bukanlah cara cepat untuk menyelesaikan pekerjaan lebih banyak. Sebaliknya cara bekerja ini malah membuat produktivitas kita turun 40 persen, setara jika kita kurang tidur di malam sebelumnya. 

Multitasking hanyalah memindahkan fokus kita dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Karena itu, berlatih untuk fokus pada satu pekerjaan yang ada di hadapan kita sangatlah penting. 

3. Buat daftar to do dan to don’t

Salah satu kesalahan produktivitas yang sering kita buat adalah tidak membuat daftar hal-hal yang tidak boleh kita kerjakan. Padahal daftar inilah yang paling sering membuat fokus kita terusik. 

Membersihkan surel yang masuk, membaca chat grup, mengintip update status teman adalah beberapa hal yang dapat mengusik perhatian kita di pagi hari. 

Hal lain yang perlu dilakukan adalah melakukan kategori tugas menjadi prioritas pertama, kedua, dan ketiga. Kategorikan pekerjaan akan membantu kita untuk memastikan pekerjaan penting selesai tepat waktu. 

4. Gunakan color code calendar

Psikologi kognitif menemukan bahwa warna merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kinerja ingatan dan fokus. Dengan memberi warna pada kalender, kita akan lebih mudah melihat kategori pekerjaan kita hanya dalam beberapa detik saja.

5. Delegasikan tugas kecil

Kadang, pekerjaan yang ringan justru paling banyak menghabiskan waktu kita. Tapi mungkin saat ini kita tidak mampu untuk membayar asisten, atau posisi kita tidak memungkinkan mendelegasikan pekerjaan pada rekan kerja. Meskipun begitu jangan jadikan hal ini sebagai penghambat. 

Sesekali mencoba mencari asisten freelance di marketplace freelancer seperti Upwork, the Guru, atau Sribulancer, bisa menjadi cara untuk mendelegasikan tugas.

6. Jadwalkan pertemuan dalam satu hari

Hal lain yang sering menghabiskan waktu kita adalah meeting, apalagi jika harus keluar kantor dan menghadapi macet di tengah perjalanan. 

Solusinya, cobalah jadwalkan meeting pada satu hari yang sama. Dan tetapkan pada jam sebelum atau sesudah jam sibuk. 

7. Letakkan catatan kecil pada satu tempat

Menjadi workaholic sama arti penuh dengan catatan kecil, ide, nomor penting, foto, dan lain sebagainya. Jadi, jangan buang waktu dengan hal-hal kecil (tapi penting) setiap waktu. 

Kumpulkan semuanya dalam satu tempat. Evernote, Microsoft Onenote, Trello, atau apa pun akan membantu kita menghemat lebih banyak waktu. 

8. Tetapkan batasan 

Salah satu kelemahan workaholic adalah tidak berani berkata tidak untuk hal-hal yang seharusnya memang tidak dikerjakan. 

Keinginan untuk membuktikan jika kita bisa melakukan semuanya, sendirian, sering kali menggoda kita untuk mengatakan ya pada setiap pekerjaan yang disodorkan. 

Akui saja jika memang tidak mampu daripada menyelesaikan pekerjaan hanya setengah-tengah, dan pada akhirnya malah mengacaukan semuanya. 

Batasan juga perlu ditetapkan untuk waktu kita. Jika memang sudah keluar kantor atau menetapkan waktu istirahat, maka matikanlah gadget atau perangkat lain yang membuat kita terus terhubung dengan pekerjaan. 

Toh, esok hari kita masih harus bertemu dengan daftar pekerjaan yang sama, bukan? Jadi, hematlah energi dan ijinkan tubuh untuk istirahat.

9. Bersihkan meja kerja

Meja kerja kita tidak hanya akan memberikan bagaimana kita bekerja, tapi juga memengaruhi efektivitas pekerjaan kita. Meletakkan kertas-kertas yang penting dalam satu tempat dan membuat meja kerja tetap rapi sangatlah penting. 

Jangan biasakan sticky notes menumpuk, dan memenuhi meja kerja. Percayalah, sticky notes bukan tanda jika kita adalah seorang yang efektif dalam bekerja. 

10. Jangan lupakan istirahat

Adalah anugerah jika kita dapat mencintai pekerjaan yang kita lakukan karena di luar sana justru banyak orang yang harus berjuang untuk mencintai pekerjaan mereka.

Tapi jangan sampai cinta pada pekerjaan membuat lupa diri untuk beristirahat. Otak kita pun hanya mampu fokus selama 90 menit, dan butuh istirahat selama 20 menit untuk segar kembali. 

Jika tidak ada waktu selama itu untuk istirahat, maka 5-10 menit pun sudah cukup. Gunakan waktu tersebut untuk membuat kopi, berjalan-jalan sebentar, atau malah ngobrol sejenak dengan rekan kerja. 

11. Gunakan password manager

Sering menghabiskan banyak waktu untuk mengingat password dan username penting? Kenapa tidak menggunakan password manager saja? LassPass misalnya. Aplikasi ini membantu kita mencari kata sandi yang aman dan dilengkapi dengan proses enkripsi untuk menghindari penyalahgunaan data. 

12. Gunakan automate application

Media sosial sudah terkenal sebagai musuh produktivitas. Tapi tidak bisa dimungkiri bahwa platform ini juga menjadi bukti keberadaan kita pada bidang profesi yang kita geluti. 

Agar media sosial tidak mengganggu produktivitas kerja, gunakan saja automate application social media seperti Planoly, Hootsuite, atau Social Sprout untuk menjadwalkan post pada media sosial kita.

13. Lacak penggunaan waktu kerja

Melacak waktu kerja untuk menyelesaikan satu pekerjaan sangatlah penting. Melacak waktu membantu kita membagi pekerjaan mana yang menghabiskan waktu dalam pengerjaannya. Menjawab hal tersebut, kita dapat menggunakan aplikasi pelacak waktu seperti Pomodoro, Tick tick, aTimeLogger, dan lain sebagainya. 

14. Gunakan sistem IFTT

Pernah mendengar sistem If This, Then That? This adalah kejadian atau kondisi yang menyebabkan reaksi that. 

Sistem ini dapat membantu kita menciptakan work flow dan tidak ketinggalan detail, terutama hal-hal yang terjadi pada situs, media sosial, bahkan surel. 

Jika automate application membantu kita melakukan update media sosial, maka IFTT adalah sistem yang digunakan untuk merespons apa yang kita peroleh dari reaksi pada platform media sosial, situs, bahkan aplikasi.

Kita dapat membuat sistem IFTT tersendiri atau menggunakan aplikasi IFTT untuk membantu pekerjaan lebih mudah. 

15. Jangan lupakan segi penampilan

Menjadi workaholic bukan berarti kita boleh mengabaikan soal penampilan. Bagaimanapun juga, profesionalitas kita masih sering kali dinilai dari penampilan diri sendiri. 

Paling tidak, selalu usahakan untuk tampil bersih dan rapi, terutama jika hal tersebut berkaitan dengan dampak atas apa yang kita kerjakan. 

Dalam hidup, kita sering kali harus bekerja lebih keras dibanding dengan yang lain. Entah karena untuk merintis karier, usaha baru, atau ingin naik ke jenjang karier yang lebih tinggi. Kadang kala, hal tersebut memaksa kita untuk bekerja lebih banyak dibanding yang lain juga. 

Menjadi workaholic atau tidak adalah sebuah pilihan, namun berusaha untuk lebih bahagia dalam jangka panjang adalah kewajiban. Jangan sampai rutinitas pekerjaan justru berdampak buruk kepada kehidupan sosial kita, ya!

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →