Asuransi Pertanian

Diskon Terbaik Diskon Terbaik
500+ Pilihan 500+ Pilihan
Bantuan Klaim Bantuan Klaim
+62
Dengan lanjut, Saya setuju syarat & ketentuan berlaku.
1970/01/01 00:00:00Cicilan 0%Hemat 25%
Perusahaan Anda Sudah Didaftarkan!
Konsultan kami akan mengirim penawaran untuk Anda segera
1970/01/01 00:00:00Cicilan 0%Hemat 25%

Asuransi Pertanian Terbaik 2021

Asuransi pertanian memberikan jaminan ganti rugi atas risiko gagal panen akibat kondisi alam yang tidak menentu. Berikut rekomendasi polis asuransi pertanian terbaik 2021!

Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) Jasindo

  • Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) adalah program asuransi khusus dari pemerintah (bekerja sama dengan Jasindo) yang menyasar petani padi.
  • Biaya yang perlu dikeluarkan petani untuk mendapatkan AUTP cukup terjangkau, yaitu Rp36 ribu. Namun, angka tersebut adalah hasil subsidi pemerintah. Harga awal asuransi ini adalah Rp180 ribu.
  • AUTP bakal menanggung kerugian gagal panen akibat kekeringan, banjir, hingga serangan hama dan penyakit.

Asuransi Usaha Tani Sapi (AUTS) Jasindo

  • Asuransi Usaha Tani Sapi (AUTS) adalah program asuransi kerjasama pemerintah dan Jasindo untuk melindungi peternak sapi
  • Penggantian ganti rugi apabila ternak mati karena beranak, jatuh sakit, kecelakaan, dan hilang dicuri.
  • Uang pertanggungan maksimal yang bisa didapatkan oleh AUTS adalah Rp10 juta per ekor sapi. Sistemnya adalah dengan membayarkan selisih kerugian dengan hasil penjualan sapi yang telah mati.

Asuransi Pertanian Nelayan Jasindo

  • Asuransi pertanian nelayan adalah asuransi jiwa. Jadi, produk ini akan memberikan uang santunan kepada ahli waris apabila nelayan mengalami kematian pada saat melaut.
  • Pemerintah mensubsidi 100 persen premi untuk asuransi ini, yaitu Rp175 ribu.
  • Santunan meninggal dunia.

Asuransi Non Program Pemerintah Jasindo

  • Selain bekerja sama dengan pemerintah, Jasindo juga mengeluarkan produk asuransi pertanian swasta. Umumnya, produk tersebut ditujukan kepada pengusaha pertanian yang sudah cukup besar atau lembaga keuangan.
  • Pilihan polis: Asuransi Usaha Tani Padi, Asuransi Usaha Ternak Sapi, Asuransi Usaha Tani Jagung, dan Asuransi Nelayan Mandiri.

Pengertian Asuransi Pertanian

Asuransi pertanian adalah produk asuransi yang menjamin risiko kerugian dalam usaha tani. Program ini diinisiasi oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani yang banyak mengalami kendala gagal panen.

Pasalnya, pertanian merupakan sektor yang berisiko karena sangat bergantung pada kondisi alam. Kekeringan, curah hujan terlalu tinggi, hingga serangan hama penyakit dapat merusak komoditas tanaman yang sedang berkembang. Tentu saja hal ini menjadi masalah besar pada era kini, di mana kondisi alam sudah tidak lagi bisa diprediksi.

Tidak hanya petani, asuransi ini juga memiliki polis yang menyasar pada nelayan dalam bentuk asuransi jiwa.Polis ini memberikan santunan kepada keluarga nelayan yang mengalami kecelakaan selama bekerja, misalnya saat melaut.

Manfaat Asuransi Pertanian

Ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan oleh petani jika membeli produk asuransi ini, di antaranya:

Mengelola risiko gagal panen

Tujuan utama dari produk asuransi ini adalah supaya petani mendapatkan ganti rugi kalau hasil panennya gagal.

Agar bisa melanjutkan produksi di musim selanjutnya

Apabila terjadi gagal panen, petani tidak akan kehabisan uang untuk memproduksi hasil pertanian pada musim selanjutnya karena ia bisa menggunakan uang santunan dari asuransi.

Menghindari berutang ke tengkulak

Umumnya jika gagal panen, petani terpaksa harus berutang ke tengkulak. Untuk melunasinya, mereka akan menjual hasil panen dengan harga murah. Sistem yang merugikan kesejahteraan petani seperti ini bisa diminimalisir dengan adanya uang asuransi.

Merasa tenang

Ini adalah salah satu manfaat umum dari memiliki asuransi, termasuk di bidang usaha tani. Apabila petani paham bahwa jika gagal panen tetap akan mendapatkan kompensasi, maka petani bisa lebih tenang dalam menjalankan bisnis. Namun, perlu dicatat segala bentuk kesengajaan dalam kerusakan panen bakal membatalkan asuransi. Hanya kerugian yang tak terduga yang bisa ditanggung.

Nilai ganti rugi lumayan

Uang ganti rugi cukup tinggi, padahal preminya hanya Rp36 ribu (dengan subsidi pemerintah). Petani akan mendapatkan Rp6 juta per hektar jika mengalami gagal panen selama musim tanam (4 bulan).

Pembelian praktis bisa online

Pemerintah dan Jasindo sudah menyiapkan platform digital, yaitu Sistem Informasi Asuransi Pertanian (SIAP) sehingga para calon peserta bisa mendaftarkan diri secara online.

Mekanisme Asuransi Pertanian

Mekanisme asuransi pertanian adalah syarat dan ketentuan dari beberapa jenis asuransi yang harus dipenuhi petani sebagai tertanggung. Terdapat produk asuransi tani bersubsidi yang harus dipenuhi seperti syarat Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), Asuransi Usaha Tani Sapi (AUTS), dan nelayan.

Premi Asuransi Pertanian

Premi asuransi pertanian bersubsidi mulai Rp36 ribu per hektar. Ada juga produk untuk nelayan yang dikenakan premi nol rupiah alias gratis. Perhitungan premi disesuaikan dengan jaminan atau manfaat serta luasnya lahan (untuk pertanian padi).

Pelajari Asuransi Pertanian Lebih Dalam

Agar lebih memahami asuransi bagi petani, peternak, hingga nelayan, simak mekanisme dan syarat asuransi pertanian!

Pertanyaan Seputar Asuransi Pertanian

Asuransi pertanian adalah asuransi yang menjamin risiko kerugian gagal panen petani. Selain itu, asuransi pertanian juga ada yang menyasar peternak sapi dan nelayan. Namun, bentuk asuransi nelayan sedikit berbeda karena menanggung jiwa nelayan, bukan gagalnya tangkapan.

Aplikasi Sistem Informasi Asuransi Pertanian (SIAP) adalah sebuah aplikasi digital yang digunakan untuk melayani peserta asuransi. Lewat aplikasi ini, peserta bisa melakukan pendaftaran, penerbitan polis, penetapan daftar peserta definitif, pemantauan, realisasi serapan bantuan premi dan pelayanan klaim. 

Aplikasi ini mempermudah baik nasabah maupun petugas di lapangan. Pencatatan dokumen tidak lagi menggunakan kertas, sehingga blanko dokumen tidak tercecer. Selain itu, SIAP juga membantu semua pihak untuk memonitor pelaksanaan program asuransi secara real time.

Pemerintah Indonesia telah menyusun program asuransi pertanian lewat dasar hukum berikut ini: Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 40/Permentan/SR.230/7/201. 

Di dalamnya mencatat bahwa pemerintah akan mensubsidi petani kecil untuk membeli asuransi. Adapun dana subsidi tersebut diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 

Program subsidi ini dijalankan oleh Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana (Dirjen PSP) Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan PT Jasa Asuransi Indonesia (Jasindo), sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang asuransi. 

Jasindo kemudian menjadi satu-satunya penyedia produk asuransi ini di Indonesia yang mengelola klaim serta premi petani, nelayan, dan peternak. Selain program kerja sama dengan pemerintah RI, Jasindo juga memiliki produk asuransi pertanian swasta.

Kurangnya sosialisasi ke pihak petani menjadi kendala asuransi pertanian. Dilansir dari Republika, program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) masih belum mencapai target per Juli 2019, dengan proteksi lahan baru mencapai 392 hektar.

Jumlah tersebut relatif kecil dibandingkan dengan luas lahan padi yang ada di Indonesia. Angka itu hanya mencapai 39,26 persen dari target satu juta hektar lahan di 27 provinsi.

Hingga Juli 2019, total petani yang mengikuti program asuransi ini tercatat sebanyak 676.455 orang. Sementara itu, jumlah premi yang sudah dibayarkan sebanyak Rp70,67 miliar dan jumlah klaim yang sudah dibayarkan mencapai Rp10,94 miliar.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania menilai bahwa pemerintah perlu meningkatkan sosialisasi untuk mencapai target program AUTP. Langkahnya adalah dengan bekerja sama dengan perusahaan asuransi lain untuk membantu Jasindo memperluas jangkauannya di seluruh Indonesia.

Setelah itu, pemerintah bisa mengurangi subsidi premi secara bertahap dan mengalihkan budgetnya untuk memperbaiki layanan AUTP.

Asuransi pertanian adalah implementasi dari Undang-undang No. 19 Tahun 2013 Pasal 37 ayat 1, bahwa pemerintah dan pemerintah daerah sesuai kewenangannya wajib melindungi usaha tani yang dilakukan oleh petani dalam bentuk asuransi.

Manfaat dari produk ini adalah memberikan ganti rugi akibat risiko:

  • Bencana alam
  • Serangan organisme pengganggu tumbuhan
  • Wabah penyakit hewan menular
  • Dampak perubahan iklim
  • Jenis risiko lain yang diatur dengan Peraturan Menteri.

Selain itu, fasilitas produk asuransi ini diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia No. 40 Tahun 2015. Pemerintah wajib memfasilitasi petani untuk mengakses produk asuransi dalam bentuk:

  • Kemudahan pendaftaran untuk menjadi peserta
  • Kemudahan akses terhadap perusahaan asuransi
  • Sosialisasi program asuransi terhadap petani dan perusahaan asuransi
  • Bantuan pembayaran premi.

Asuransi pertanian di Jepang berawal pada 1929 di mana diterbitkannya asuransi ternak. Pada 1937, peraturan tentang asuransi hutan nasional mulai diberlakukan untuk menyelamatkan alam dari kerusakan akibat kebakaran, iklim (seperti air, salju, angin, kekeringan, es, dan gelombang pasang), serta erupsi gunung berapi.

Model asuransi ini disusun berdasarkan solidaritas para petani. Setiap koperasi pertanian mengumpulkan dana dari hasil pembayaran premi. Model ini bergantung pada jaringan koperasi di level lokal, regional, hingga nasional. Sebagai catatan, terdapat 300 koperasi nasional di Jepang.

Jenis polisnya antara lain:

  • Asuransi padi, gandum, barley (program nasional)
  • Asuransi ternak (program nasional)
  • Asuransi produksi buah dan tanaman buah (program pilihan)
  • Asuransi tanaman lapangan dan berbagai tanaman (program pilihan)
  • Asuransi rumah kaca (greenhouse) (program pilihan).

Dari 300 koperasi yang melaksanakan asuransi ini, tidak ada koperasi khusus yang melayani kebutuhan petani kecil. Wajib atau tidaknya petani mengikuti program asuransi ditentukan oleh tipe petani. 

Petani yang menanam tanaman pangan seperti gandum, barley, dan padi wajib ikut asuransi. Namun, petani yang tidak memenuhi syarat seperti luas minimum lahan, tidak dapat menjadi peserta acara sukarela. Selain itu, produk asuransi buah dan tanaman buah, asuransi gagal panen, asuransi peternakan, dan asuransi rumah kaca sifatnya sukarela.

Asuransi pertanian pertama kali diterapkan di Thailand dalam bentuk asuransi gagal panen pada 1978-1990. Produk tersebut menanggung beberapa risiko untuk tanaman kapas, jagung, serta kacang kedelai. Namun, program asuransi tersebut ditutup karena biaya administrasi yang tinggi serta kerugian yang harus ditanggung.

Asuransi gagal panen tersebut dijalankan kembali pada 2006 hingga 2010 oleh perusahaan reasuransi, sembilan perusahaan asuransi, serta perusahaan asuransi milik pemerintah (Thai Reinsurance Public Company Ltd.).

Thailand juga memiliki asuransi index iklim yang menjamin tanaman kapas yang rentan terhadap curah hujan dengan tarif premi rata-rata di atas 10 persen.

China menerapkan asuransi pertanian pada 1982 berupa asuransi ternak dan asuransi gagal panen. Ada dua tahap perkembangan industri asuransi ini di China. Pertama pada 1982 hingga 2002 di mana asuransi dilaksanakan oleh perusahaan asuransi di China (People’s Insurance Company of China /PICC).

Pada 1992, perusahaan mendapatkan pendapatan premi US$98 juta, lalu menurun sebesar US$40 juta pada 2002. Saat itu, perusahaan mengalami kerugian dan akhirnya diprivatisasi.

Tahap kedua adalah masa di mana pemerintah China memberikan subsidi pada 2003. Pemerintah China mendorong perusahaan baru untuk mengelola produk asuransi ini sebagai salah satu langkah pengembangan sektor pertanian.

Sejak 2005, industri asuransi khusus tersebut mengalami perkembangan pesat dan subsidi premi pun mengalami peningkatan. Saat ini China adalah negara yang memiliki asuransi pertanian terbesar kedua setelah Amerika Serikat.

Mayoritas tertanggung atau nasabah produk asuransi ini adalah petani individu dengan asuransi gagal panen untuk segala risiko. Komoditas yang ditanggung di antaranya tanaman jagung, padi, kedelai, gandum, dan kapas. 

Ada lima target pemangku kepentingan yang dibidik oleh pemerintah, yaitu:

  • Asosiasi produsen, komite desa, dan koperasi
  • Broker asuransi
  • Pemasok
  • Bank
  • Jaringan agen asuransi.

Petani juga bisa turut serta dalam kebijakan terkait produk asuransi ini lewat keputusan bersama yang diambil lewat kelompok-kelompok (desa atau koperasi).

Dominasi pertanian di China ada di wilayah kecil dan di sana tidak ada penggolongan petani kecil, namun lebih berkelompok saja.Selain itu, asuransi di China sifatnya sukarela, baik produk asuransi peternakan maupun asuransi gagal panen.

Dalam salah satu kasus, ada petani yang tidak terdaftar sebagai peserta asuransi karena tidak membayar premi. Namun, otomatis petani tersebut akan memperoleh subsidi premi dari pemerintah.

Beban tersebut ditanggung oleh beberapa pihak, yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan petani. Besar subsidi premi berkisar 20-100 persen.

Bagi Vietnam, pertanian adalah sektor yang sangat penting karena menyumbang 22 persen produk domestik bruto negara tersebut. Namun, Vietnam sering mengalami bencana angin puyuh dan hujan yang sangat besar hingga menimbulkan banjir, tanah longsor, musim kering, gelombang badai, hingga banjir roop di bagian selatan.

Oleh sebab itu, dibentuklah produk asuransi pertanian sejak 1982 oleh perusahaan asuransi Bao Viet Insurance. Asuransi ini diterbitkan tanpa bantuan subsidi premi dari pemerintah. Tidak ada dana yang diberikan pemerintah secara langsung untuk mendorong produk asuransi di sektor tersebut.

Produk asuransi ini dilaksanakan oleh bank pertanian dan bekerja sama dengan petani. Setiap petani tidak memiliki kewajiban untuk mengikutinya. Jaminan atau pertanggungan asuransi ini hanya diberikan untuk kerugian panen pada komoditas jagung, ubi kayu, dan padi sebagai makanan pokok masyarakat Vietnam.

Terdapat dua jenis produk asuransi ini di beberapa negara, yaitu:

1. Asuransi berbasis ganti rugi

Asuransi tanaman berbasis ganti rugi terdiri dari dua jenis:

  • Asuransi dengan risiko bernama yang meng-cover salah satu jenis risiko saja, misalnya hujan es, kebakaran, badai atau es mencair. Uang pertanggungan dihitung berdasarkan input pertanian, misalnya harga benih dan pupuk.
  • Asuransi tanaman dengan beberapa risiko; menanggung beberapa penyebab misalnya kebanjiran, kekeringan dan hama penyakit. Uang pertanggungannya dihitung berdasarkan kekurangan hasil panen dikalikan harga yang disepakati.

Petani memperoleh ganti rugi jika hasil panen di bawah harga yang diasuransikan dan disebabkan oleh berkurangnya hasil panen atau rendahnya harga saat panen.

2. Asuransi berbasis indeks

Pada pertanian berbasis indeks, terdapat dua jenis perhitungan:

  • Asuransi berdasarkan hasil dalam suatu wilayah dengan komoditas homogen yang akan memberikan uang ganti rugi jika hasil pertaniannya berada di bawah indeks. Indeks ditentukan berdasarkan komoditas dan wilayah tersebut, yang berkisar antara 50 persen hingga 90 persen dari hasil yang diharapkan.
  • Asuransi berdasarkan iklim yang menggunakan indeks parameter iklim seperti curah hujan dan temperatur. Uang ganti rugi bisa dicairkan jika terdapat bukti bahwa cuaca tidak memenuhi kondisi yang diharapkan, tanpa perlu membuktikan terjadinya gagal panen.
  • Asuransi: Produk keuangan yang bertujuan untuk manajemen risiko.
  • Asuransi pertanian: Perjanjian antara penyedia asuransi dan peserta asuransi untuk melimpahkan risiko peserta ke penyedia asuransi dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
  • Banjir: Tergenangnya lahan pertanian selama masa tanam sehingga menyebabkan tanaman hanyut atau membusuk serta menurunkan produksi tanaman.
  • Bencana alam: Suatu peristiwa yang menyebabkan dampak besar terhadap kehidupan manusia, misalnya banjir, gempa bumi, tanah longsor, letusan gunung api, dan lain-lain.
  • Iklim ekstrim: Perubahan cuaca yang berubah-ubah secara drastis dan di luar kendali manusia sehingga berdampak langsung pada usaha pertanian.
  • Kekeringan: Kondisi kurangnya air yang mengaliri lahan pertanian sehingga tanaman kekurangan sumber penting untuk bertahan hidup dan menghasilkan pengurangan produksi tanaman.
  • Kelompok tani: Kumpulan petani yang dibentuk berdasarkan kesamaan kepentingan, ekonomi, kondisi lingkungan sosial, budaya, dan sumber daya dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
  • Klaim: Tuntutan ganti rugi yang disampaikan peserta asuransi kepada penyedia asuransi.
  • Organisme Pengganggu Tanaman (OPT): Segala organisme yang merusak dan berpotensi menggagalkan hasil panen tanaman pertanian.
  • Penyakit hewan menular: Penyakit yang ditularkan dari hewan ke hewan, hewan ke manusia melalui kontak langsung maupun dengan media perantara seperti air, benda padat, udara, tanah, pakan, dan lain-lain.
  • Petani: Seseorang yang melakukan usaha tani di bidang tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan.
  • Polis: Dokumen yang berisikan tentang syarat dan ketentuan dalam perjanjian asuransi.
  • Premi asuransi: Iuran yang dibayarkan oleh peserta asuransi untuk mendapatkan perlindungan.
  • Risiko: Hal tidak terduga yang dapat menimbulkan kerugian secara ekonomi.
  • Tanaman: Organisme atau makhluk hidup yang dibudidayakan oleh manusia dan hasilnya dapat dipanen untuk konsumsi manusia.
  • Ternak: Hewan yang dipelihara dengan tujuan untuk dijadikan sumber pangan manusia, misalnya sapi, kambing, ayam, dan lain-lain.
  • Usaha Peternakan: Kegiatan usaha ternak yang dapat menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, kepentingan lainnya.
  • Dinas: Satuan kerja perangkat daerah yang menyelenggarakan fungsi Tanaman
  • pangan, hortikultura, perkebunan, dan/atau peternakan.
  • Direktur Jenderal: Pimpinan unit kerja eselon I yang melaksanakan tugas dan fungsi bidang pembiayaan.
Penulis Nisrina Salma Alifah Jurnalis bisnis yang sedang bergelut di dunia asuransi. Hidup untuk belajar dan berbahasa. Lihat profile penulis
Chat Bantuan Chat Bantuan