Asuransi Pertanian

Diskon Terbaik Diskon Terbaik
500+ Pilihan 500+ Pilihan
Bantuan Klaim Bantuan Klaim
+62
Dengan lanjut, Saya setuju syarat & ketentuan berlaku.
Cicilan 0%Hemat 25%
 

Asuransi Pertanian di Indonesia

Asuransi pertanian adalah produk asuransi yang akan menjamin risiko kerugian dalam usaha tani. Program ini diinisiasi oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani yang banyak mengalami kendala gagal panen.

Pasalnya, pertanian merupakan sektor yang berisiko karena sangat bergantung pada kondisi alam. Kekeringan, curah hujan terlalu tinggi, hingga serangan hama penyakit dapat merusak komoditas tanaman yang sedang berkembang. Tentu saja hal ini menjadi masalah besar pada era kini, di mana kondisi alam sudah tidak lagi bisa diprediksi.

Tidak hanya petani, sebenarnya asuransi pertanian juga memiliki polis yang menyasar pada nelayan. Bentuknya adalah asuransi jiwa; di mana jika nelayan mengalami kecelakaan selama bekerja, maka asuransi akan memberikan uang santunan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Manfaat Asuransi Pertanian

Ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan oleh petani jika membeli asuransi pertanian, di antaranya:

Tujuan utama dari produk asuransi pertanian adalah supaya petani mendapatkan ganti rugi kalau hasil panennya gagal.

Agar bisa melanjutkan produksi di musim selanjutnya

Apabila terjadi gagal panen, petani tidak akan kehabisan uang untuk memproduksi hasil pertanian pada musim selanjutnya karena ia bisa menggunakan uang santunan dari asuransi.

Umumnya jika gagal panen, petani terpaksa harus berutang ke tengkulak. Untuk melunasinya, mereka akan menjual hasil panen dengan harga murah. Sistem yang merugikan kesejahteraan petani seperti ini bisa diminimalisir dengan adanya uang asuransi.

Ini adalah salah satu manfaat umum dari memiliki asuransi, termasuk di bidang usaha tani. Apabila petani paham bahwa jika gagal panen tetap akan mendapatkan kompensasi, maka petani bisa lebih tenang dalam menjalankan bisnis. Namun, perlu dicatat segala bentuk kesengajaan dalam kerusakan panen bakal membatalkan asuransi. Hanya kerugian yang tak terduga yang bisa ditanggung.

Uang ganti rugi yang dijanjikan asuransi pertanian cukup tinggi, padahal preminya hanya Rp36 ribu (dengan subsidi pemerintah). Petani akan mendapatkan Rp6 juta per hektar jika mengalami gagal panen selama musim tanam (4 bulan).

Pemerintah dan Jasindo sudah menyiapkan platform digital, yaitu Sistem Informasi Asuransi Pertanian (SIAP) sehingga para calon peserta bisa mendaftarkan diri secara online.

 

Daftar Polis Asuransi Pertanian Terbaik di Indonesia

Sampai dengan saat ini, hanya Jasindo saja yang memiliki produk pertanian. Selain itu, perusahaan ini juga bekerja sama dengan pemerintah untuk menginisiasi program ini. Berikut adalah polis yang ditawarkan.

1. Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) Jasindo

  • Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) adalah program asuransi pertanian pemerintah (bekerja sama dengan Jasindo) yang menyasar petani padi.
  • Biaya yang perlu dikeluarkan petani untuk mendapatkan AUTP cukup terjangkau, yaitu Rp36 ribu. Namun, angka tersebut adalah hasil subsidi pemerintah. Harga awal asuransi ini adalah Rp180 ribu.

  • AUTP bakal menanggung kerugian gagal panen akibat kekeringan, banjir, hingga serangan hama dan penyakit.

2. Asuransi Usaha Tani Sapi (AUTS) Jasindo

  • Asuransi Usaha Tani Sapi (AUTS) adalah program asuransi kerjasama pemerintah dan Jasindo untuk melindungi peternak sapi

  • Penggantian ganti rugi apabila ternak mati karena beranak, jatuh sakit, kecelakaan, dan hilang dicuri.
  • Uang pertanggungan maksimal yang bisa didapatkan oleh AUTS adalah Rp10 juta per ekor sapi. Sistemnya adalah dengan membayarkan selisih kerugian dengan hasil penjualan sapi yang telah mati.

3. Asuransi Pertanian Nelayan Jasindo

  • Asuransi pertanian nelayan sebenarnya adalah asuransi jiwa. Jadi, produk ini akan memberikan uang santunan kepada ahli waris apabila nelayan mengalami kematian pada saat melaut.
  • Pemerintah mensubsidi 100 persen premi untuk asuransi ini, yaitu Rp175 ribu.

  • Santunan meninggal dunia.

4. Asuransi Non Program Pemerintah Jasindo

  • Selain bekerja sama dengan pemerintah, Jasindo juga mengeluarkan produk asuransi pertanian swasta. Umumnya, produk tersebut ditujukan kepada pengusaha pertanian yang sudah cukup besar atau lembaga keuangan.

Berikut produk yang ditawarkan:

  • Asuransi Usaha Tani Padi
  • Asuransi Usaha Ternak Sapi
  • Asuransi Usaha Tani Jagung
  • Asuransi Nelayan Mandiri
 

Cara Mendaftar Asuransi Pertanian

  1. Berpartisipasi dalam pendataan yang dilakukan oleh Dinas Kabupaten atau Kota. Setelah itu, data akan dikirim ke Kementerian Pertanian.
  2. Petani perlu mengisi formulir pendaftaran sebagai calon peserta asuransi. Data tersebut diverifikasi oleh pemerintah.
  3. Setelah itu, petani bertemu dengan perusahaan penyedia asuransi atau Jasindo.
  4. Pemerintah akan mengadakan sosialisasi tentang cara membayar premi dan pemilihan risiko dalam asuransi.
  5. Setelah polis asuransi pertanian terbit, petani dapat mengajukan klaim jika terjadi gagal panen.

  1. Menghubungi asuransi Jasindo di 1500 - 073 atau [email protected]
  2. Mengatakan bahwa ingin membeli asuransi pertanian.
  3. Mengisi formulir pendaftaran dan melengkapi dokumen yang diminta.
  4. Menandatangani polis.

Syarat Asuransi Pertanian

Tidak semua petani bisa mendapatkan asuransi pertanian bersubsidi, tetapi hanya yang benar-benar memerlukannya saja. Berikut persyaratan yang perlu diperhatikan.

Ada beberapa syarat khusus yang perlu dipenuhi petani untuk mendapatkan AUTP. Berikut di antaranya:

  • Usia padi minimal 10 hari tanam (HST) atau 30 hari untuk tanaman padi gogo rancah dan tanam benih langsung (tabela).
  • Luas pertanggungan lebih dari atau sama dengan 75 persen.
  • Uang santunan maksimal yang diberikan adalah Rp6 juta hektar.
  • Lahan yang diasuransikan maksimal 2 hektar.

Beberapa persyaratan berikut ini perlu dipenuhi oleh peternak sapi:

  • Peserta harus peternak pembibitan atau pembiakan berskala kecil.
  • Ternak minimal berusia 1 tahun, betina (indukan), sehat, dan beridentitas jelas (memiliki eartag, cap bakar, kartu ternak atau yang lainnya).
  • Premi yang perlu dibayar peternak adalah Rp40 ribu, hasil subsidi dari pemerintah sebesar 80 persen. Tadinya harganya Rp200 ribu.

Berikut persyaratan yang harus dipenuhi nelayan untuk ikut asuransi ini.

  • Memiliki kartu nelayan aktif.
  • Memiliki rekening tabungan atau surat persyaratan rekening tabungan.
  • Kapal yang dipakai menangkap ikan maksimal berkapasitas 10 Gross Tonnage (GT)
  • Usia maksimal 65 tahun.
 

Berapa Premi Asuransi Pertanian?

Berikut daftar harga premi asuransi pertanian bersubsidi:

  • Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP): Rp36 ribu per hektar
  • Asuransi Usaha Tani Sapi: Rp40 ribu per ekor
  • Asuransi Pertanian Nelayan: gratis

Simulasi Perhitungan Premi

Untuk lebih memahami cara perhitungan premi asuransi pertanian, berikut adalah ilustrasi perhitungannya yang dikutip dari situs Kementerian Pertanian.

Ongkos produksi per musim tanam: Rp6 juta

Premi asuransi: 3 persen dari ongkos produksi

  • 3/100 x Rp6 juta = Rp 180 ribu / 1 hektar (ha)

Subsidi pemerintah 80 persen, jadi hanya membayar 20 persennya saja

  • 20/100 x Rp180 ribu = Rp36 ribu / 1 hektar (ha)

Premi yang dibayar petani:

  • Premi per 2 ha = Rp72 ribu
  • Premi per 1 ha = Rp36 ribu
  • Premi per ½ ha = Rp18 ribu
  • Premi per ¼ ha = Rp9 ribu
 

Tanya Jawab

Asuransi pertanian adalah asuransi yang menjamin risiko kerugian gagal panen petani. Selain itu, asuransi pertanian juga ada yang menyasar peternak sapi dan nelayan. Namun, bentuk asuransi nelayan sedikit berbeda karena menanggung jiwa nelayan, bukan gagalnya tangkapan.

Aplikasi Sistem Informasi Asuransi Pertanian (SIAP) adalah sebuah aplikasi digital yang digunakan untuk melayani peserta asuransi pertanian. Lewat aplikasi ini, peserta bisa melakukan pendaftaran, penerbitan polis, penetapan daftar peserta definitif, pemantauan, realisasi serapan bantuan premi dan pelayanan klaim. 

Aplikasi ini mempermudah baik nasabah maupun petugas di lapangan. Pencatatan dokumen tidak lagi menggunakan kertas, sehingga blanko dokumen tidak tercecer. Selain itu, SIAP juga membantu semua pihak untuk memonitor pelaksanaan program asuransi pertanian secara real time.

Pemerintah Indonesia telah menyusun program asuransi pertanian lewat dasar hukum berikut ini: Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 40/Permentan/SR.230/7/201. 

Di dalamnya mencatat bahwa pemerintah akan mensubsidi petani kecil untuk membeli asuransi. Adapun dana subsidi tersebut diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 

Program subsidi ini dijalankan oleh Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana (Dirjen PSP) Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan PT Jasa Asuransi Indonesia (Jasindo), sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang asuransi. 

Jasindo kemudian menjadi satu-satunya penyedia asuransi pertanian di Indonesia yang mengelola klaim serta premi petani, nelayan, dan peternak. Selain program kerja sama dengan pemerintah RI, Jasindo juga memiliki produk asuransi pertanian swasta.

Kurangnya sosialisasi ke pihak petani menjadi kendala asuransi pertanian. Dilansir dari Republika, program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) masih belum mencapai target per Juli 2019. Baru 392 ribuan hektar lahan yang dilindungi oleh asuransi pertanian. Jumlah tersebut relatif kecil dibandingkan dengan luas lahan padi yang ada di Indonesia. Angka itu hanya mencapai 39,26 persen dari target satu juta hektar lahan di 27 provinsi.

Hingga Juli 2019, total petani yang mengikuti program asuransi peratanian tercatat sebanyak 676.455 orang. Sementara itu, jumlah premi yang sudah dibayarkan sebanyak Rp 70,67 miliar dan jumlah klaim yang sudah dibayarkan mencapai Rp 10,94 miliar.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania menilai bahwa pemerintah perlu meningkatkan sosialisasi untuk mencapai target program AUTP. Langkahnya adalah dengan bekerja sama dengan perusahaan asuransi lain untuk membantu Jasindo memperluas jangkauannya di seluruh Indonesia. Setelah itu, pemerintah bisa mengurangi subsidi premi secara bertahap dan mengalihkan budgetnya untuk memperbaiki layanan AUTP. 

Asuransi pertanian adalah implementasi dari Undang-undang No. 19 Tahun 2013 Pasal 37 ayat 1, bahwa pemerintah dan pemerintah daerah sesuai kewenangannya wajib melindungi usaha tani yang dilakukan oleh petani dalam bentuk asuransi pertanian.

Asuransi pertanian diberikan untuk menanggung risiko kerugian akibat:

  • bencana alam
  • serangan organisme pengganggu tumbuhan
  • wabah penyakit hewan menular
  • dampak perubahan iklim
  • jenis risiko lain yang diatur dengan Peraturan Menteri.

Selain itu, fasilitas asuransi pertanian juga diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia No. 40 Tahun 2015 tentang Fasilitasi Asuransi Pertanian. Artinya, pemerintah wajib memfasilitasi petani untuk mengakses asuransi pertanian, dalam bentuk:

  • kemudahan pendaftaran untuk menjadi peserta,
  • kemudahan akses terhadap perusahaan asuransi,
  • sosialisasi program asuransi terhadap petani dan perusahaan asuransi, dan/atau
  • bantuan pembayaran premi.

Asuransi pertanian di Jepang berawal dari tahun 1929 di mana diterbitkannya asuransi ternak. Pada tahun 1937, peraturan tentang asuransi hutan nasional mulai diberlakukan untuk menyelamatkan alam dari kerusakan akibat kebakaran, iklim (seperti air, salju, angin, kekeringan, es, dan gelombang pasang), serta erupsi gunung berapi.

Model asuransi pertanian di Jepang disusun berdasarkan solidaritas para petani. Setiap koperasi pertanian mengumpulkan dana dari hasil pembayaran premi. Model ini bergantung pada jaringan koperasi di level lokal, regional, hingga nasional. Sebagai catatan, terdapat 300 koperasi nasional di Jepang.

Adapun tipe asuransi pertanian di Jepang terdiri dari:

  • Asuransi padi, gandum, barley (program nasional)
  • Asuransi ternak (program nasional)
  • Asuransi produksi buah dan tanaman buah (program pilihan)
  • Asuransi tanaman lapangan dan berbagai tanaman (program pilihan)
  • Asuransi rumah kaca (greenhouse) (program pilihan).

Dari 300 koperasi yang melaksanakan asuransi pertanian, tidak ada koperasi khusus yang melayani kebutuhan petani kecil. Wajib atau tidaknya petani mengikuti program asuransi ditentukan oleh tipe petani. 

Petani yang menanam tanaman pangan seperti gandum, barley, dan padi wajib ikut asuransi. Namun, petani yang tidak memenuhi syarat seperti luas minimum lahan, tidak dapat menjadi peserta acara sukarela. Selain itu, produk asuransi buah dan tanaman buah, asuransi gagal panen, asuransi peternakan, dan asuransi rumah kaca sifatnya sukarela.

Asuransi pertanian pertama kali diterapkan di Thailand dalam bentuk asuransi gagal panen pada tahun 1978 sampai dengan tahun 1990. Produk tersebut menanggung beberapa risiko untuk tanaman kapas, jagung, serta kacang kedelai. Namun, program asuransi tersebut ditutup karena biaya administrasi yang tinggi serta kerugian yang harus ditanggung. 

Asuransi gagal panen tersebut dijalankan kembali pada tahun 2006 sampai dengan 2010 oleh perusahaan reasuransi, sembilan eprusahaan asuransi, serta perusahaan asuransi milik pemerintah (Thai Reinsurance Public Company Ltd.).

Thailand juga memiliki asuransi index iklim yang menjamin tanaman kapas yang rentan terhadap curah hujan dengan tarif premi rata-rata di atas 10 persen. 

China menerapkan asuransi pertanian pada tahun 1982 berupa asuransi ternak dan asuransi gagal panen. Ada dua tahap perkembangan industri asuransi pertanian di China. Pertama, tahun 1982 sampai dengan tahun 2002 di mana asuransi dilaksanakan oleh perusahaan asuransi di China (People’s Insurance Company of China /PICC). 

Pada tahun 1992, perusahaan mendapatkan penadpatan premi USD98 juta, lalu menurun sebesar USD40 juta di tahun 2002. Pada waktu itu, perusahaan mengalami kerugian dan akhirnya diprivatisasi. 

Tahap kedua adalah masa di mana pemerintah China memberikan subsidi dalam model asuransi pertanian pada tahun 2003. Pemerintah China mendorong perusahaan baaru untuk mengelola asuransi pertanian sebagai salah satu langkah pengembangan sektor pertanian. 

Sejak tahun 2005, industri asuransi pertanian mengalami perkembangan pesat dan subsidi premi pun mengalami peningkatan. Saat ini China adalah negara yang memiliki asuransi pertanian terbesar kedua setelah Amerika Serikat.

Asuransi pertanian di China mayoritas digunakan oleh petani individu dengan asuransi gagal panen untuk segala risiko. Komoditas yang ditanggung di antaranya tanaman jagung, padi, kedelai, gandum, dan kapas. 

Ada lima target pemangku kepentingan asuransi pertanian yang dibidik oleh pemerintah, yaitu:

  • Asosiasi produsen, komite desa, dan koperasi
  • Broker asuransi
  • Pemasok
  • Bank
  • Jaringan agen asuransi.

Petani juga bisa turut serta dalam kebijakan terkait dengan asuransi pertanian lewat keputusan bersama yang diambil lewat kelompok-kelompok (desa atau koperasi).

Dominasi pertanian di China ada di wilayah kecil dan di sana tidak ada penggolongan petani kecil, namun lebih berkelompok saja.Selain itu, asuransi di China sifatnya sukarela, baik produk asuransi peternakan maupun asuransi gagal panen. 

Dalam salah satu kasus, ada petani yang tidak terdaftar sebagai peserta asuransi karena tidak membayar premi. Namun, otomatis petani tersebut akan memperoleh subsidi premi dari pemerintah. 

Beban tersebut ditanggung oleh beberapa pihak, yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan petani. Besar subsidi premi asuransi pertanian di China berada di antara 20 persen hingga 100 persen.

Bagi Vietnam, pertanian adalah sektor yang sangat penting karena menyumbang 22 persen produk domestik bruto negara tersebut. Namun, Vietnam sering mengalami bencana angin puyuh dan hujan yang sangat besar hingga menimbulkan banjir, tanah longsor, musim kering, gelombang badai, hingga banjir roop di bagian selatan. 

Oleh sebab itu, dibentuklah produk asuransi pertanian sejak tahun 1982 oleh perusahaan asuransi Bao Viet Insurance. Asuransi pertanian tersebut diterbitkan tanpa bantuan subsidi premi dari pemerintah. Tidak ada dana yang diberikan pemerintah secara langsung untuk mendoron asuransi pertanian.

Asuransi pertanian di Vietnam dilaksanakan oleh bank pertanian dan bekerja sama dengan petani. Setiap petani tidak memiliki kewajiban untuk mengikutinya. Adapun produk asuransi pertanian menanggung risiko terhadap kerugian komoditas jagung, ubi kayu, dan padi sebagai makanan pokok masyarakat Vietnam.

Terdapat dua jenis asuransi pertanian yang diterapkan di beberapa negara, yaitu:

Asuransi pertanian berbasis ganti rugi

Asuransi tanaman berbasis ganti rugi terdiri dari dua jenis. Pertama, asuransi dengan risiko bernama yang mencover salah satu jenis risiko saja, misalnya hujan es, kebakaran, badai atau es mencair. Uang pertanggungan dihitung berdasarkan input pertanian, misalnya harga benih dan pupuk. 

Kedua, asuransi tanaman dengan beberapa risiko; menanggung beberapa penyebab misalnya kebanjiran, kekeringan dan hama penyakit. Uang pertanggungannya dihitung berdasarkan kekurangan hasil panen dikalikan harga yang disepakati. 

Petani memperoleh ganti rugi jika hasil panen di bawah harga yang diasuransikan dan disebabkan oleh berkurangnya hasil panen atau rendahnya harga saat panen.

Asuransi pertanian berbasis indeks

Pada pertanian berbasis indeks, terdapat dua jenis perhitungan. Pertama, asuransi pertanian berdasarkan hasil dalam suatu wilayah dengan komoditas homogen yang akan memberikan uang ganti rugi jika hasil pertaniannya berada di bawah indeks. Indeks ditentukan berdasarkan komoditas dan wilayah tersebut, yang berkisar antara 50 persen hingga 90 persen dari hasil yang diharapkan

Kedua, asuransi berdasarkan iklim yang menggunakan indeks parameter iklim seperti curah hujan dan temperatur. Uang ganti rugi bisa dicairkan jika terdapat bukti bahwa cuaca tidak memenuhi kondisi yang diharapkan, tanpa perlu membuktikan terjadinya gagal panen.

  • Asuransi: Produk keuangan yang bertujuan untuk manajemen risiko.
  • Asuransi pertanian: Perjanjian antara penyedia asuransi dan peserta asuransi untuk melimpahkan risiko peserta ke penyedia asuransi dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
  • Banjir: Tergenangnya lahan pertanian selama masa tanam sehingga menyebabkan tanaman hanyut atau membusuk serta menurunkan produksi tanaman.
  • Bencana alam: Suatu peristiwa yang menyebabkan dampak besar terhadap kehidupan manusia, misalnya banjir, gempa bumi, tanah longsor, letusan gunung api, dan lain-lain.
  • Iklim ekstrim: Perubahan cuaca yang berubah-ubah secara drastis dan di luar kendali manusia sehingga berdampak langsung pada usaha pertanian.
  • Kekeringan: Kondisi kurangnya air yang mengaliri lahan pertanian sehingga tanaman kekurangan sumber penting untuk bertahan hidup dan menghasilkan pengurangan produksi tanaman.
  • Kelompok tani: Kumpulan petani yang dibentuk berdasarkan kesamaan kepentingan, ekonomi, kondisi lingkungan sosial, budaya, dan sumber daya dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
  • Klaim: Tuntutan ganti rugi yang disampaikan peserta asuransi kepada penyedia asuransi.
  • Organisme Penganggu Tanaman (OPT): Segala organisme yang merusak dan berpotensi menggagalkan hasil panen tanaman pertanian.
  • Penyakit hewan menular: Penyakit yang ditularkan dari hewan ke hewan, hewan ke manusia melalui kontak langsung maupun dengan media perantara seperti air, benda padat, udara, tanah, pakan, dan lain-lain.
  • Petani: Seseorang yang melakukan usaha tani di bidang tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan.
  • Polis: Dokumen yang berisikan tentang syarat dan ketentuan dalam perjanjian asuransi.
  • Premi asuransi: Iuran yang dibayarkan oleh peserta asuransi untuk mendapatkan perlindungan.
  • Risiko: Hal tidak terduga yang dapat menimbulkan kerugian secara ekonomi.
  • Tanaman: Organisme atau makhluk hidup yang dibudidayakan oleh manusia dan hasilnya dapat dipanen untuk konsumsi manusia.
  • Ternak: Hewan yang dipelihara dengan tujuan untuk dijadikan sumber pangan manusia, misalnya sapi, kambing, ayam, dan lain-lain.
  • Usaha Peternakan: Kegiatan usaha ternak yang dapat menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, kepentingan lainnya.
  • Dinas: Satuan kerja perangkat daerah yang menyelenggarakan fungsi Tanaman
  • pangan, hortikultura, perkebunan, dan/atau peternakan.
  • Direktur Jenderal: Pimpinan unit kerja eselon I yang melaksanakan tugas dan fungsi bidang pembiayaan.
Penulis Nisrina Salma Alifah Jurnalis bisnis yang sedang bergelut di dunia asuransi. Hidup untuk belajar dan berbahasa. Lihat profile penulis