Asuransi Syariah

Diskon Terbaik Diskon Terbaik
500+ Pilihan 500+ Pilihan
Bantuan Klaim Bantuan Klaim
+62
Dengan lanjut, Saya setuju syarat & ketentuan berlaku.
1970/01/01 00:00:00Cicilan 0%Hemat 25%
Perusahaan Anda Sudah Didaftarkan!
Konsultan kami akan mengirim penawaran untuk Anda segera
1970/01/01 00:00:00Cicilan 0%Hemat 25%

Asuransi Syariah Terbaik di Indonesia

Secara definisi, Asuransi syariah adalah produk asuransi di mana nasabah saling menanggung risiko (sharing risk) dengan menghibahkan sebagian dana kontribusi (premi) sebagai alat untuk menolong nasabah lain yang sedang tertimpa musibah. Sementara, peran pihak asuransi di sini adalah sebagai pemegang amanah dan pengelola dana kontribusi saja.

Untuk produknya sendiri asuransi ini terdiri atas asuransi jiwa syariah, asuransi kesehatan syariah, dan asuransi umum (kerugian). Berikut rekomendasi asuransi syariah terbaik di Indonesia pilihan Lifepal.

Asuransi Syariah Takaful Keluarga

  • Nama polis: Takafulink Salam
  • Usia masuk nasabah: 30-65 tahun
  • Polis dapat diperpanjang hingga usia 80 tahun
  • Gratis biaya administrasi 12 bulan pertama
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi kesehatan syariah, jiwa, penyakit kritis, dan investasi sekaligus
  • Santunan meninggal dunia 100% dan nilai investasi
  • Santunan kecelakaan diri 100% dan nilai investasi
  • Santunan cacat tetap total 100% dan nilai investasi
  • Santunan ketika terdiagnosis salah satu dari 49 penyakit kritis 100% dari uang pertanggungan (UP)
  • Pertanggungan biaya rawat inap, rawat jalan, rawat gigi, persalinan, ICU, dan pembedahan

FWD Life Syariah

  • Nama polis: Bebas Ikhtiar
  • Usia masuk nasabah sejak 30 hari
  • Polis nasabah dapat diperpanjang hingga usia 99 tahun
  • Minimum premi atau kontribusi dasar Rp200 ribu per bulan
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi jiwa dengan manfaat loyalty bonus
  • Santunan meninggal dunia dan nilai investasi
  • Santunan meninggal dunia akibat kecelakaan diri dan nilai investasi
  • Terdapat manfaat loyalty bonus hingga 160% di tahun ke-7 polis berjalan

Al Amin

  • Nama polis: At Ta’Min Siswa Dinar
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi jiwa syariah Al Amin berupa dana pendidikan anak
  • Santunan meninggal dunia atau cacat total akibat kecelakaan
  • Pilihan santunan meninggal dunia berupa pelunasan biaya pendidikan
  • Pilihan santunan meninggal dunia berupa pelunasan pinjaman atau kredit
  • Pilihan santunan meninggal dunia berupa pembiayaan ibadah haji

JMA Syariah

  • Nama polis: JMA Asyifa
  • Usia masuk nasabah: 6 bulan – 59 tahun
  • Premi dibayarkan sekaligus di awal tahun
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi kesehatan lengkap dan jiwa sekaligus
  • Pertanggungan biaya perawatan kamar, ICU, dokter, dan pembedahan
  • Pertanggungan biaya rawat jalan sebelum dan sesudah rawat inap
  • Pertanggungan biaya perawatan gigi
  • Terdapat santunan meninggal dunia

Allianz Syariah

  • Nama polis: Allisya Maxi Fund Plus
  • Usia masuk nasabah: 1 bulan – 70 tahun
  • Polis dapat diperpanjang hingga usia: 100 tahun
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi jiwa unit link, khususnya untuk nasabah usia lanjut
  • Santunan meninggal dunia 125% – 350% dari premi tunggal
  • Nilai investasi dapat di top up minimal Rp1 juta tanpa dikenakan ujrah
  • Terdapat tiga pilihan jenis investasi yang dapat dipilih

Prudential Syariah

  • Nama polis: PRUPrime HealthCare Syariah
  • Bersifat sebagai manfaat tambahan atau rider
  • Usia masuk nasabah: 1 bulan – 65 tahun
  • Polis dapat diperpanjang hingga usia 85 tahun
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi kesehatan syariah hingga jangkauan luar negeri
  • Besaran nilai pertanggungan asuransi disesuaikan dengan tagihan rumah sakit (as charged) dengan limit sesuai plan yang dipilih
  • Besaran santunan tahunan asuransi akan naik 10% setiap tahun dengan maksimal 50%
  • Polis asuransi dapat digunakan di seluruh dunia
  • Metode klaim non tunai atau cashless dapat digunakan di wilayah Indonesia, Malaysia, dan Singapura

AIA Syariah

  • Nama polis: AIA Sakinah Assurance
  • Bersifat sebagai manfaat tambahan (rider)
  • Usia masuk nasabah: 1 bulan – 70 tahun
  • Pilihan tepat untuk yang menginginkan manfaat asuransi kesehatan syariah hingga jangkauan luar negeri
  • Santunan meninggal dunia hingga Rp500 juta
  • Terdapat manfaat loyalty bonus di tahun ke 10 hingga 15 persen
  • Terdapat manfaat loyalty bonus di tahun ke 11 hingga 25 persen
  • Terdapat manfaat loyalty bonus di tahun ke 12 hingga 35 persen

Pengertian Asuransi Syariah

Asuransi syariah adalah produk asuransi yang dikelola sesuai dengan syariat Islam (prinsip tolong menolong atau tabarru’). Produk yang dihadirkan meliputi asuransi jiwa, kesehatan, dan umum (kerugian).

Prinsip tabarru’ inilah yang menjadi pembeda antara produk asuransi syariah dengan konvensional. Selain cara pengolahan dananya yang memakai prinsip tolong menolong, ada pula hal yang menjadi pembeda antara produk asuransi syariah dan konvensional, seperti akad, pengawasan, dan pemilihan sektor investasi.

Dasar Hukum Asuransi Syariah

Hukum asuransi syariah di Indonesia berdasarkan Al Quran, hadits, fatwa MUI, dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Fatwa MUI dan PMK memperkuat dan menjadi payung hukum bagi pengelolaan asuransi yang berdasarkan prinsip Islam tersebut.

Prinsip dalam pengelolaannya didasari hukum asuransi syariah antara lain tolong-menolong, amanah atau dapat dipercaya, kerelaan atau tidak ada paksaan, serta keadilan.

Macam-macam Asuransi Syariah

Di Indonesia, jenis asuransi syariah dibedakan menjadi dua kategori utama, yaitu jiwa dan umum (kerugian). Masing-masing kategori memiliki berbagai produk berbasis syariat yang memberikan proteksi berbeda.

  • Produk asuransi jiwa syariah: Terdiri atas asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, dan asuransi jiwa plus investasi (unit link).
  • Produk asuransi umum (kerugian) syariah: Terdiri atas asuransi mobil, asuransi properti, asuransi rumah, asuransi kebakaran, asuransi perjalanan, hingga asuransi proyek.

Manfaat Asuransi Syariah

Manfaat asuransi syariah serupa dengan asuransi konvensional. Namun, ada sedikit perbedaan, yaitu perolehan surplus underwriting. Surplus underwriting adalah selisih dari total dana kontribusi (premi) yang dibayar pemegang polis dan diberikan kepada pemegang polis dalam bentuk dana tabarru’.

Sementara untuk klaim asuransi syariah sebenarnya hampir sama dengan konvensional. Bedanya, dana kontribusi akan diakumulasikan ke dana tabarru’ peserta jika tidak ada klaim sampai periode asuransi berakhir. Ini tentu berbeda dari asuransi konvensional yang hanya menyediakan bonus jika ada manfaat no claim bonus.

Tertarik mencari asuransi syariah yang bagus? Lifepal telah mengkurasi ratusan asuransi tanpa riba terbaik. Yuk bandingkan 100+ polis terbaiknya!
🕌 Asuransi Syariah: Kesehatan, Jiwa, Mobil - Rp60 ribu/bulan!

Premi Asuransi Syariah

Premi asuransi syariah biasanya disebut kontribusi atau iuran. Pada asuransi jiwa syariah dan asuransi kesehatan syariah, kontribusi disesuaikan dengan profil tertanggung seperti usia, jenis kelamin, riwayat penyakit, hingga profesi.

Kontribusi asuransi jiwa dan asuransi kesehatan syariah juga tergantung pada manfaat tambahan yang akan menambah nominal iuran asuransi.

Pada asuransi umum (kerugian) seperti asuransi mobil syariah, premi tergantung pada usia kendaraan, kategori wilayah, dan jenis polis yang dimiliki.

Jadi, pahami lebih lanjut tentang asuransi syariah dan bedanya dengan asuransi konvensional untuk mendapatkan asuransi syariah terbaik!

Pertanyaan Seputar Asuransi Syariah

Berikut beberapa pertanyaan yang sering diajukan tentang asuransi syariah, di antaranya:

Berikut ini beberapa pengertian asuransi syariah dari beberapa sumber, termasuk UU No.40 Tahun 2014.

1. Wahbah az-Zuhaili

Dikutip dari buku Bank dan Asuransi Islam di Indonesia, Az-Zuhaili mendefinisikan asuransi dalam dua bentuk yaitu at-ta’min at-ta’awuni dan at-ta’min bi qist sabit.

At-ta’min at-ta’awuni berarti asuransi tolong-menolong. Secara lengkap, asuransi syariah adalah kesepakatan beberapa orang untuk membayar sejumlah uang sebagai ganti rugi ketika salah seorang di antara mereka mendapat kemudharatan atau kesusahan.

At-ta’min bi qist sabit berarti asuransi dengan pembagian tetap. Secara lengkap, artinya akad pada asuransi mewajibkan seseorang membayar sejumlah uang kepada pihak asuransi yang terdiri atas beberapa pemegang saham dengan perjanjian apabila peserta asuransi mendapat kecelakaan atau musibah, maka diberikan ganti rugi.

2. Pemahaman Alim Ulama

Asuransi yang dipahami oleh para ulama adalah sebuah sistem ta’awun dan tadhamun yang bertujuan menutupi kerugian peristiwa-peristiwa atau musibah-musibah. Tugas ini dibagikan kepada kelompok tertanggung, dengan cara memberikan pengganti kepada orang yang tertimpa musibah. Pengganti tersebut diambil dari kumpulan premi-premi mereka.

3. Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)

Lembaga Islam di Indonesia ini mengeluarkan fatwa No.21/DSN-MUI/X/2001 tentang pedoman umum asuransi syariah, dan mendefinisikan asuransi sebagai usaha saling melindungi dan tolong-menolong antara sejumlah orang / pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

4. UU No. 40 Tahun 2014

Asuransi syariah adalah kumpulan perjanjian yang terjadi di antara perusahaan asuransi syariah, pemegang polis, dan para pemegang polis, dalam rangka pengelolaan kontribusi berdasarkan prinsip syariah guna saling menolong dan melindungi atas risiko atau musibah yang menimpa pemegang polis.

Pada dasarnya, hanya ada dua jenis, yaitu asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Berikut ini produk asuransi berbasis syariat yang ada di Indonesia.

  • Produk asuransi jiwa termasuk asuransi jiwa seumur hidup, asuransi jiwa berjangka, asuransi pendidikan, asuransi jiwa plus investasi (unit link), dan asuransi dwiguna.
  • Produk asuransi kesehatan termasuk asuransi kesehatan murni, asuransi melahirkan, asuransi rawat jalan, asuransi penyakit kritis, dan asuransi gigi.
  • Produk asuransi umum termasuk asuransi mobil, asuransi motor, asuransi properti, asuransi rumah, asuransi perjalanan, dan asuransi proyek.

Berdasarkan fatwa MUI Nomor 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, produk ini dinyatakan halal selama memenuhi semua persyaratan dan ketentuan umum yang dicantumkan dalam fatwa. Artinya, asuransi halal dan bukan termasuk riba selama memenuhi ketentuan umum ini:

  • Asuransi (Ta-min, Takaful, atau Tadhamun) sebagai usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan/atau dana yang memberikan pola pengembalian berupa klaim untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai syariat.
  • Akad yang sesuai dengan syariat dalam poin pertama adalah tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram, dan maksiat untuk menghadapi risiko nasabah asuransi.
  • Akad tijarah adalah semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial.
  • Akad tabarru’ adalah semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan semata untuk tujuan komersial.
  • Premi yaitu kewajiban peserta memberikan sejumlah dana kepada perusahaan sesuai kesepakatan dalam akad.
  • Klaim adalah hak peserta yang wajib diberikan kepada perusahaan asuransi sesuai dengan kesepakatan dalam akad.

Dalam pengelolaannya, perusahaan asuransi akan menetapkan sejumlah biaya (ujrah) yang disepakati oleh semua pihak pada awal kontrak/ ­akad. Sementara, jika kita bicara tentang asuransi jiwa unit link syariah, sebagian dana peserta yang dialokasikan untuk investasi akan dimasukkan dalam instrumen investasi syariah yang pasti dijamin kehalalannya dan mengikuti prinsip wadiah.

Untuk pemilihan saham misalnya, saham yang dipilih adalah saham perusahaan yang bisnisnya tidak berkaitan dengan perjudian, minuman beralkohol, atau sesuatu yang mengandung riba (bunga), seperti perbankan konvensional. Belum lagi, untuk pengesahan setiap produk syariah harus melalui uji dan persetujuan dari Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Dengan ketatnya pemilihan produk investasi, sistem kerja yang lebih terbuka, dan juga pengawasannya, bisa dipastikan produk asuransi ini terjamin kehalalannya.

Sebenarnya, ada banyak produk asuransi berbasis syariat yang dijual di pasaran. Untuk membantu nasabah mendapatkan produk terbaik, Lifepal telah mengumpulkan beberapa brand pilihan. Berikut rekomendasinya:

  • FWD Life Syariah
  • Asuransi Al Amin
  • JMA Syariah
  • AIA Syariah
  • Prudential Syariah
  • Allianz Syariah

Di tengah pandemi Covid-19 yang disebabkan virus Corona, sejumlah asuransi jiwa dan kesehatan memberikan jaminan bagi nasabah yang terkena kondisi tersebut. Asuransi jiwa ataupun kesehatan yang dikelola sesuai syariat juga telah merilis beberapa produk yang menjamin kondisi Covid-19.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia menjadi salah satu pasar besar bagi industri jasa keuangan berunsur syariat, termasuk proteksi. Namun, untuk bisa diterima Muslim Indonesia cukup sulit. Kenapa? Karena polemik seperti penjelasan sebelumnya mengenai riba dan haram dalam kategori tersebut.

Sebagian orang berpendapat bahwa memiliki asuransi baik jiwa, kesehatan, ataupun umum (kerugian), berarti menjaminkan keselamatan kepada perusahaan dan tidak memercayai Tuhan. Karenanya, proteksi ini masih diragukan sebagian Muslim Indonesia.

Melihat polemik dan keraguan atas kehalalan tersebut, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) mengeluarkan keputusan/nasihat yang disebut fatwa. Melalui fatwa Nomor 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, perusahaan asuransi ganti rugi prinsip syariah ini dinyatakan halal selama memenuhi semua persyaratan dan ketentuan umum yang dicantumkan dalam fatwa.

Sementara itu, pengamat ekonomi syariat M Syakir mengakui beberapa kalangan masih menilai proteksi syariat ini haram. Dia menilai, kalangan yang beranggapan demikian hanya menggunakan referensi lama (jadul), sehingga tidak mengikuti perubahan.

Syakir menuturkan, konsep syariat terdiri atas sekumpulan orang yang ingin saling membantu, saling melindungi, saling menjamin dan bekerja sama dengan cara mengumpulkan dana. Berdasarkan konsep tersebut, Syakir percaya bahwa polis yang telah memenuhi fatwa MUI tidak haram ataupun mengandung unsur riba.

Terlepas dari polemik haram-halal, tujuh tahun sebelum fatwa diterbitkan, tonggak sejarah asuransi berbasis syariat hadir di Indonesia melalui kehadiran PT Syarikat Takaful Indonesia (Asuransi Takaful), pada 24 Februari 1994. Takaful menjadi perusahaan asuransi syariat pertama di Tanah Air.

Sejak saat itu, perusahaan konvensional mulai melirik produk ini karena pangsa pasar yang begitu luas. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Katadata, terdapat 263,92 juta jiwa penduduk Indonesia beragama Islam pada 2020. Tentunya, jumlah ini bukan nominal sedikit jika membandingkan dengan masyarakat Indonesia yang telah terproteksi tidak sampai 2 persen berdasarkan informasi Kompas pada 2018.

Dasar hukum asuransi syariah tercatat dalam beberapa ayat Al Quran dan hadits, yaitu:

  • Al Maidah 2: “Dan tolong-menolonglah Anda dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”
  • An Nisaa 9: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap mereka.”
  • HR Muslim dari Abu Hurairah: “Barang siapa melepaskan dari seorang muslim suatu kesulitan di dunia, Allah akan melepaskan kesulitan darinya pada hari kiamat.”

Dasar hukum asuransi syariah justru hadir sebagai solusi dari anggapan bahwa esensi asuransi bertentangan dengan syariat agama dan prinsip-prinsip di dalam agama itu sendiri. Itu sebabnya mulai 2001, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa asuransi secara sah diperbolehkan dalam ajaran Islam.

Beberapa fatwa MUI yang mempertegas kehalalan asuransi adalah:

  • Fatwa No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum
  • Fatwa No. 51/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Mudharabah Musytarakah
  • Fatwa No. 52/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Wakalah Bil Ujrah
  • Fatwa No. 53/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Tabarru

Produk asuransi syariah juga sudah diatur operasional dan keberadaannya melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.010/2010 tentang Prinsip Dasar Penyelenggaraan Usaha Asuransi dan Usaha Reasuransi dengan Prinsip Syariah.

Adapun beberapa ketegasan dasar hukum asuransi syariah dari Pemerintah ini bisa dilihat di BAB I, Pasal I nomor 1 hingga 3, yaitu:

Pasal 1 Nomor 1: Asuransi berdasarkan prinsip Syariah adalah usaha saling tolong-menolong (ta’awuni) dan melindungi (takafuli) di antara para nasabah melalui pembentukan kumpulan dana (tabbaru’) yang dikelola dengan prinsip syariah untuk menghadapi risiko tertentu.

Pasal 1 Nomor 2: Perusahaan adalah perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi yang menyelenggarakan seluruh atau sebagian usahanya berdasarkan prinsip syariah.

Pasal 1 Nomor 3: Nasabah adalah orang atau badan yang menjadi nasabah program asuransi dengan prinsip syariah, atau perusahaan asuransi yang menjadi nasabah reasuransi dengan prinsip syariah.

Asuransi syariah menganut sistem sharing risk, di mana peserta saling menanggung risiko dengan menghibahkan sebagian atau seluruh kontribusi / preminya untuk menolong peserta lain yang sedang tertimpa musibah.

Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 72/POJK.05/2016, tentang kesehatan keuangan perusahaan asuransi berbasis syariah minimum rasio solvabilitas atau RBC dalam laporan keuangan adalah 120 persen. Artinya, jika Anda melihat laporan tahunan asuransi syariah rasio rasio solvabilitasnya berada di bawah 120 persen, maka kesehatan keuangan perusahaan tersebut dinyatakan kurang sehat.

Ada beberapa istilah dalam produk jaminan berbasis syariat ini. Tentu istilah berikut tidak terlepas dari Bahasa Arab sehingga perlu dijelaskan maknanya agar bisa dipahami oleh semua peserta atau penerima manfaat.

  • Wadiah: Nilai tunai nasabah yang diberikan kepada perusahaan asuransi dan berhak diambil kembali setiap saat oleh nasabah yang bersangkutan.
  • Akad: Perjanjian antara dua belah pihak yang mengatur tentang hak dan kewajiban masing-masing yang bersifat mengikat dan memiliki konsekuensi hukum jika tidak dijalankan atau dilanggar. Akad dilakukan antara penerima manfaat (peserta) dan perusahaan.
  • Akad mudharabah: Perjanjian antara pihak pertama sebagai pemilik modal (shahibul maal) kemudian mempercayakan modal tersebut untuk dikelola oleh pihak kedua (mudharib) dengan perjanjian di awal. Modal sepenuhnya berasal dari pihak pertama sedangkan pihak kedua tidak menanamkan modal sama sekali hanya mengandalkan keahlian yang tidak dimiliki oleh pihak pertama.
  • Akad musyarakah: Perjanjian antara pihak pertama dan pihak kedua dengan modal yang berasal dari kedua belah pihak dengan perjanjian pembagian keuntungan atau kerugian berdasarkan seberapa besar porsi kontribusinya.
  • Akad mudharabah musytarakah: Gabungan antara akad mudharabah dan musyarakah di mana modal berasal dari satu pemilik modal. Bedanya, kerugian yang terjadi hanya ditanggung oleh pemilik modal. Namun, jika dalam perjalanan waktu bisnis yang dijalankan menguntungkan maka pengelola boleh menambah modal untuk mengembangkan usahanya dengan perjanjian keuntungan berdasarkan porsi kontribusi yang diberikan. 
  • Akad tijarah: Perjanjian yang dilakukan untuk mencari keuntungan.
  • Akad tabarru’: Perjanjian hibah dalam bentuk pemberian dana dari peserta dengan tujuan untuk menolong sesama dan tidak digunakan untuk tujuan investasi. Kumpulan dana dari para peserta asuransi ini dikumpulkan dalam satu rekening yang disebut dengan dana tabarru’.
  • Wakalah bil ujrah: Wakalah bil ujrah adalah Biaya administrasi pengelolaan dana yang dibebankan kepada peserta oleh pengelola (perusahaan). Pengelola tidak berhak mendapatkan bagian dari dana yang diinvestasikan jika menggunakan akad ini.
  • Kontribusi: Istilah dalam proteksi syariat yang digunakan untuk menggantikan istilah premi.
  • Qardh: Pinjaman pengelola (perusahaan) dengan menggunakan dana tabarru’ saat terjadi defisit ketika ingin membayarkan santunan (klaim). Dana qard akan dikembalikan lagi oleh pengelola jika mengalami surplus dalam perhitungan underwriting di lain waktu.
  • Iuran tabarru’: Iuran tabbaru’ adalah sebagian dana yang diambil dari kontribusi peserta asuransi. Dana ini nantinya digunakan untuk saling tolong menolong antar peserta asuransi yang mendapatkan musibah yang tidak diinginkan.

Penulis Clara Naomi Penulis yang memiliki pengalaman dalam bidang finansial dan asuransi. Menulis guna mendorong masyarakat sadar pentingnya pengaturan keuangan yang baik dan ideal. Lihat profile penulis
Chat Bantuan Chat Bantuan