Bedah Minim Sayat, Segini Biaya Laparoskopi [2020]

biaya laparoskopi

Demi menunjang diagnosis penyakit dan mendukung proses penyembuhan, terkadang dokter akan menyarankan pasien menjalani laparoskopi. Lantas, berapa biaya laparoskopi? 

Istilah laparoskopi cukup asing bagi masyarakat awam, sehingga begitu diberi tahu tentang hal ini maka yang terbayang adalah tindakan bedah skala besar dengan biaya laparoskopi yang besar pula. 

Rata-rata biaya laparoskopi memang cukup menguras kantong, bisa menyentuh Rp 30 juta. Tapi soal biaya ini akan kita bahas lebih rinci di bawah. Kendati cukup mahal, laparoskopi merupakan tindakan bedah yang tidak menggunakan sayatan besar. Pasien pun bisa menjalani proses penyembuhan lebih cepat dari operasi biasa. 

Lantas, apa itu laparoskopi, kapan seorang pasien harus menjalani tindakan laparoskopi, serta berapa biaya laparoskopi? Yuk, kita bedah di artikel ini! 

Apa itu laparoskopi? 

Laparoskopi merupakan prosedur bedah ‘kecil’ yang memungkinkan dokter bedah mengakses bagian dalam perut dan panggul pasien, tanpa harus membuat sayatan besar. Laparoskopi juga dikenal sebagai operasi lubang kunci atau operasi invasif minimal.

Melalui prosedur ini, pasien tak perlu menjalani operasi dengan sayatan besar yang biasanya dilakukan dalam bedah konvensional. 

Karena sayatannya cukup kecil, maka alat laparoskop yang dimasukkan dalam tubuh pasien juga berukuran kecil, menyerupai sebuah tabung kecil dengan cahaya dan kamera di ujungnya. 

Kamera ini berfungsi merekam seluruh organ dalam perut atau panggul pasien yang sedang menjalani bedah laparoskopi. Dokter bedah pun bisa mengamati kondisi dalam tubuh pasien dengan lebih jelas, tanpa harus melakukan operasi besar. 

Laparoskopi menjadi opsi bagi pasien yang ingin menjalani pemulihan lebih cepat karena sayatannya terbilang kecil, dan meminimalisir perdarahan pascaoperasi. 

Mengapa laparoskopi?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, laparoskopi merupakan tindakan invasif minimal. Invasif, karena prosedur ini jelas menyebabkan bukaan pada permukaan kulit pasien. 

Tentunya, dokter akan mengoptimalkan diagnosis dengan metode noninvasif terlebih dulu, misalnya pemeriksaan fisik, USG, CT Scan, dan MRI.

Namun, ketika cara-cara tersebut tidak bisa mendukung dihasilkannya diagnosis yang akurat, maka akan dilakukan prosedur invasif. Untuk laparoskopi ini dilakukan demi mengetahui secara pasti masalah yang terjadi pada bagian perut atau panggul. 

Laparoskopi juga dilakukan untuk mengambil biopsi atau sampel jaringan organ tertentu di dalam perut. Biasanya, tindakan ini dilakukan untuk pemeriksaan organ hati, empedu, pankreas, perut, dan panggul. 

Dengan cara ini, dokter bisa mendeteksi adanya tumor atau cairan pada rongga perut, penyakit hati, dan penyakit lain yang berkaitan dengan organ pada bagian tersebut.

Keuntungan dan efek samping bedah laparoskopi

Laparoskopi merupakan tindakan medis yang memiliki beberapa keuntungan. Dokter tentu tidak akan sembarangan merekomendasikan tindakan ini kepada pasien bila tidak ada manfaat yang akan dirasakan. 

Beberapa manfaat dari tindakan bedah invasif minimal laparoskopi ini antara lain:

  • Sayatan lebih kecil, sekitar 5-10 mm sebagai jalan masuk laparoskop.
  • Pemulihan yang lebih cepat, perawatan di Rumah Sakit akan lebih singkat, sekitar 1-2 hari sehingga pasien dapat kembali beraktivitas dengan cepat.
  • Rasa sakit lebih minimal.
  • Mencegah timbulnya jaringan parut atau bekas luka pada kulit. 

Tapi, laparoskopi tetap ada efek samping yang harus diketahui pasien. Dokter pun akan menjelaskan ini kepada pasien sebelum menjalankan prosedur laparoskopi. 

Sekitar 1-2 persen pasien yang menjalani bedah laparoskopi ini akan mengalami komplikasi ringan seperti infeksi, mual, muntah, dan memar. 

Efek samping lainnya, antara lain:

  • Reaksi aleri pasien terhadap obat bius.
  • Kerusakan pembuluh nadi besar.
  • Penggumpalan di dalam pembuluh darah.
  • Kerusakan pada organ, seperti usus atau kandung kemih.
  • Masuknya karbondioksida ke dalam pembuluh darah sebagai efek samping dari penggunaan gas.

Karena itu, pastikan pasien dan keluarga memahami plus-minus dari sebuah tindakan medis. Biasakan berdiskusi dengan dokter sebelum mengambil keputusan untuk tindakan bedah. 

Bagaimana proses bedah laparoskopi?

Untuk memasukkan alat laparoskop, maka dokter harus membuat sayatan kecil sebesar 5-10 mm di dinding perut pasien. Tentunya dengan anestesi lokal terlebih dulu. 

Bisa saja dokter juga membuat sayatan lebih dari satu untuk memasukkan alat bantuan lainnya. Tahapan ini bisa berlangsung 30 menit sampai 1,5 jam tergantung kondisi pasien. 

Setelah sayatan dibuat, maka dokter harus ‘memompa’ gas ke dalam rongga perut pasien dengan alat medis yang menyerupai jarum, bernama kanula. 

Gas ini akan membuat rongga perut terisi udara sehingga dinding perut menempel dengan organ-organ di dalamnya dan bisa dilihat dengan jelas oleh dokter.

Barulah alat laparoskop dimasukkan dengan alat medis lainnya. Dengan kamera yang terpasang pada laparoskop, dokter spesialis bisa memantau kondisi dalam tubuh pasien melalui layar. 

Proses ini bertujuan untuk memperbaiki kerusakan, mengambil sampel jaringan, atau untuk mengangkat tumor kista. Atau dilakukan untuk mendukung diagnosis dokter. Terkadang, laser juga dipasangkan pada alat laparoskop untuk mendukung proses operasi. 

Setelah proses operasi selesai, maka alat laparoskop akan ditarik keluar dan gas yang tadinya dipompa akan dikeluarkan. Sayatan kecil yang dibuat di awal juga akan ditutup kembali. 

Karena prosedurnya tidak membuat luka yang besar pada pasien, maka pasien bisa pulang pada hari yang sama saat menjalani laparoskopi. Tentunya, dengan tetap melanjutkan pengobatan dan perawatan di rumah. 

Kapan seseorang harus melakukan bedah laparoskopi?

Tentunya, dokter punya pertimbangan profesional untuk menyarankan seorang pasien melakukan tindakan laparoskopi. Namun secara garis besar, laparoskopi ini dilakukan untuk mendiagnosis dan mengobati berbagai penyakit yang terjadi pada bagian dalam perut dan panggul. 

Laparoskopi dilakukan terutama saat pemeriksaan secara noninvasif tidak memberian diagnosis yang akurat atau paling tidak, cukup meyakinkan. 

Prosedur ini juga banyak dilakukan untuk menegakkan diagnosis terhadap berbagai kondisi dari gejala penyakit pasien. 

Beberapa masalah kesehatan yang bisa dideteksi dengan laparoskopi, antara lain infeksi bakteri pada saluran genital wanita bagian atas, kista ovarium, kehamilan ektopik, endometriosis, radang usus buntu, fibroid, hingga infertilitas pada wanita.

Buat kamu yang mulai merasa ada keanehan atau nyeri pada bagian dalam perut atau panggul, maka segera konsultasikan dengan dokter. Dokter punya solusi untuk mengobati keluhan kesehatan yang kamu punya. 

Persiapan bedah laparoskopi

Tindakan laparoskopi ini tentu dilakukan oleh dokter spesialis, setidaknya harus ada dokter dengan spesialisasi bedah dan anestesi. 

Sebelum dilakukan tindakan, pasien akan diminta untuk buat air kecil terlebih dulu, untuk mengosongkan kandung kemih. Pasien tetap mendapat asupan cairan dan obat penenang melalui infus. 

Dokter juga akan mengambil sampel darah pasien. Beberapa pemeriksaan pendukung juga akan dilakukan, seperti elektrokardiogram (EKG), foto rontgen, pemeriksaan fungsi paru-paru, dan lainnya. 

Jenis tes yang tambahan ini akan disesuaikan dengan usia dan kondisi kesehatan pasien saat akan dioperasi.

Dokter spesialis anestesi kemudian akan membius pasien sampai tertidur. Beberapa prosedur selanjutnya akan dilakukan, antara lain:

  • Memangkas bulu kemaluan.
  • Membersihkan bagian perut yang akan disayat dengan larutan antisepik khusus.
  • Memasang alat bantu pernapasan melalui tenggorokan.
  • Kateter juga mungkin akan dimasukkan ke dalam kandung kemih melalui saluran kencing (uretra).
  • Pada pasien perempuan, dokter akan melakukan pemeriksaan panggul terlebih dulu sebelum memasukkan tabung tipis yang disebut kanula ke dalam rahim melalui vagina. Kanula tersebut digunakan untuk menggerakkan atau menggeser rahim dan kandung telur, agar tidak menghalangi pengematan dokter ke rongga perut pada waktu pemeriksaan.

Hal-hal yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah bedah laparoskopi

Sebelum melakukan bedah laparoskopi, pasien biasanya diminta untuk berpuasa dalam kurun waktu tertentu. Dikutip dari situs Rumah Sakit Awalbros, pasien diminta menjalani puasa minimal enam jam sebelum bedah laparoskopi dilakukan. 

Sebelum melakukan laparoskopi, sebaiknya pasien berkonsultasi dengan dokter dengan rinci. Termasuk mendiskusikan faktor-faktor risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi. 

Pastikan untuk mengabari dokter pengobatan yang sedang diambil, sehingga dokter bisa menyarankan mana obat yang perlu dihentikan sementara dan mana yang tetap dilanjutkan. 

Selain itu, pasien mungkin diminta untuk melakukan pemeriksaan laboratorium darah, urin, rekam jantung (EKG), serta rontgen. Pada beberapa kasus, dibutuhkan pemeriksaan USG, CT Scan, atau MRI terlebih dulu.

Selama masa operasi, tentu saja ini menjadi tugas dokter spesialis. Sebagai pasien, lebih baik menuruti apa instruksi dokter. Nah, setelah operasi, pasien harus menjalani masa pemulihan singkat di ruang rawat selama beberapa jam, atau beberapa hari bila diperlukan. 

Namun, bedah ini tidak akan membutuhkan waktu perawatan lebih lama dibanding bedah biasa, kecuali terjadi komplikasi atau efek samping lain. 

Dokter juga akan memeriksa tekanan darah pasien, suhu tubuh, kadar oksigen, dan irama jantung. Jika kondisi sudah stabil dan aman, pasien diizinkan untuk pulang dan beraktivitas seperti semula. 

Demi mempercepat penyembuhan luka ini, pasien diminta menghindari aktivitas berat selama sepekan setelah bedah laparoskopi. 

Estimasi biaya laparoskopi tahun 2020 

Sebagai gambaran berikut rincian biaya bedah laparoskopi di beberapa rumah sakit dan dokter. Sebagai catata, biaya bedah laparoskopi yang ditampilkan berikut ini bisa berubah-ubah. 

Rumah Sakit (biaya tindakan mulai dari)

  • Mayapada Hospital Jakarta Selatan, Rp23.140.000
  • Mayapada Hospital Tangerang, Rp22.011.000
  • RS Stella Maris Makassar, Rp9.070.000
  • RS Imelad Pekerja Indonesia Medan, Rp14.000.000
  • RS Premier Bintaro Tangsel, Rp12.600.000. 

Dokter (biaya konsultasi mulai dari) 

  • dr. Hanifah Erlin Dharmayanti, Sp.OG di RS Mitra Keluarga Waru Sidoarjo, Rp220.000
  • dr. Felicia Sugiarto, Sp.OG di Mayapadai Hospital Jakarta Selatan, Rp300.000
  • dr. M. Luky Satria Syahbana, Sp.OG-KFER di Mayapada Hospital Jaksel, Rp300.000
  • dr. Noviyanto, Sp.OG, Rp250.000
  • dr. Arie Sutanto, Sp.OG (K) di RS Telogorejo Semarang, Rp160.000
  • dr. Hedy Tan, MARS, MOG, Sp.OG di RS Imelda Pekerja Indonesia Medan, Rp100.000
  • dr. Henky Mohammad Masteryanto, Sp.OG di RS Manyar Medical Centre Surabaya, Rp200.000
  • dr. Herry Wahyudi, Sp.OG di RS Bella Bekasi Timur, Rp175.000
  • dr. Wenny Ningsih, Sp.OG di Mayapada Hospital Tangerang, Rp250.000.

Apakah biaya bedah laparoskopi di-cover BPJS? Jawabannya, ya. Pada prinsipnya semua jenis operasi yang bersifat tindakan pengobatan biayanya akan ditanggung BPJS Kesehatan. 

Hal ini diatur dalam pedoman pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), yaitu Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) No. 28 Tahun 2014. Agar lebih rinci, berikut adalah jenis tindakan bedah atau operasi yang biayanya ditanggung BPJS Kesehatan:

  1. Operasi Jantung.
  2. Operasi Caesar.
  3. Operasi Kista.
  4. Operasi Miom.
  5. Operasi Tumor.
  6. Operasi Odontektomi.
  7. Operasi Bedah Mulut.
  8. Operasi Usus Buntu.
  9. Operasi Batu Empedu.
  10. Operasi Mata.
  11. Operasi Bedah Vaskuler.
  12. Operasi Amandel.
  13. Operasi Katarak.
  14. Operasi Hernia.
  15. Operasi Kanker.
  16. Operasi Kelenjar Getah Bening.
  17. Operasi Pencabutan Pen.
  18. Operasi Penggantian Sendi Lutut.
  19. Operasi Timektomi.
  20. Operasi Urologi.

Pentingnya asuransi kesehatan 

Seperti yang dibahas di atas, kita tak pernah tahu apa masalah kesehatan yang bisa saja diidap di masa mendatang. 

Nah, di sinilah kita perlu menyediakan sebuah bantalan untuk jaga-jaga. Caranya bagaimana? Salah satunya, dengan asuransi kesehatan. 

Cara kerja asuransi kesehatan sebenarnya sederhana, setiap nasabah mesti membayarkan premi ke pihak perusahaan asuransi. 

Kemudian, pihak perusahaan akan mengelola dana tersebut sehingga saat ada salah satu nasabah jatuh sakit, perusahaan dapat meng-cover biayanya.

Adapun manfaat utamanya mencakup biaya rawat inap, rawat jalan, pembedahan, dan medical check-up. Sementara manfaat tambahan (rider) meliputi melahirkan, perawatan gigi, dan mata.

Sementara premi asuransi kesehatan murah atau mahal, tergantung pada usia, pekerjaan, dan limit pertanggungan. Namun berbeda dengan BPJS Kesehatan, kita bisa lebih fleksibel memilih premi yang diinginkan, pertanggungan, dan rumah sakit. 

Lantas, apakah perlu memiliki asuransi kesehatan? 

Asuransi kesehatan penting, karena pada tahun 2018 saja, inflasi biaya rumah sakit mencapai 11 persen. 

Artinya, misal pada tahun sebelumnya biaya kesehatan rawat inap di rumah sakit berkisar Rp500 ribuan per hari, maka nominalnya akan naik menjadi Rp555 ribu di tahun 2018. Angka tersebut akan terus meningkat di tahun selanjutnya.

Daripada menghabiskan tabungan atau investasi untuk biaya medis, asuransi akan membantu cashflow nasabah menjadi lebih aman. Lifepal akan membantu kamu menemukan keputusan yang tepat terkait asuransi.

Tips memilih asuransi kesehatan terbaik

Dengan ratusan pilihan polis dan brand, calon nasabah perlu lebih cermat memilih manfaat asuransi kesehatan yang dibeli. Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli proteksi kesehatan: 

1. Metode klaim cashless

Dengan sistem klaim cashless nasabah bisa datang ke rumah sakit bermodal kartu peserta asuransi kesehatan saja. Artinya, nasabah tidak perlu mengeluarkan dana terlebih dahulu untuk mendapatkan perawatan medis. 

Contohnya adalah rekomendasi pilihan di atas yaitu Allianz, AXA Mandiri, Prudential, Manulife, BCA, BNI Life, dan Cigma semuanya memiliki manfaat asuransi cashless dan reimbursement.

2. Menanggung biaya rawat jalan

Biaya perawatan pra dan pascarawat inap tidaklah murah. Untuk itu, sebaiknya pilih yang menanggung biaya rawat jalan tersebut. Dari rekomendasi Lifepal, Asuransi kesehatan AXA Mandiri, Cigna, dan Manulife menanggung biaya rawat jalan sebagai manfaat dasar asuransi. 

3. Manfaat pengembalian premi

Beberapa asuransi juga menawarkan pengembalian premi atau no claim bonus apabila tidak ada klaim hingga masa polis berakhir. Umumnya 20-100 persen dari total premi yang telah dibayarkan.

4. Manfaat Coordination of Benefit (CoB) 

Dengan manfaat Coordination of Benefit (CoB), jika asuransi BPJS tidak mencakup semua biaya perawatan, maka kita bisa mengajukan kekurangannya pada asuransi swasta.

Saat ini, ada 11 perusahaan asuransi swasta yang bersedia jalankan koordinasi klaim dengan BPJS, yaitu asuransi kesehatan Avrist, Arthagraha General Insurance, Astra Buana, Mega, CAR, Takaful Keluarga, Bina Dana Arta, Sinarmas MSIG, Generali Indonesia, Tugu Pratama, dan Multi Artha Guna (MAG). 

5. Manfaat Pertanggungan Pre-Existing Condition

Pre-existing condition adalah kondisi di mana calon nasabah sudah menderita penyakit tertentu saat mendaftar asuransi. Sebagian besar produk mengecualikan hal ini dalam klaim, tetapi ada yang tidak mengecualikannya dengan atau tanpa syarat. Salah satunya adalah polis Maestro Optima Care dari AXA.

6. Limit/plafon sesuai premi

Plafon yang ditawarkan oleh asuransi kesehatan memang sekilas terkesan besar. Misal uang pertanggungan Rp20 juta terkesan banyak saat ini. Namun, di tahun-tahun mendatang dengan kenaikan biaya medis 7-15 persen, nilai pertanggungan tersebut akan berkurang.

Jika memungkinkan, sebaiknya pilih yang menanggung biaya medis sesuai tagihan rumah sakit (as charged), seperti Manulife, Prudential, dan BNI Life.

7. Iuran premi sesuai dengan penghasilan

Meski proteksi kesehatan sangatlah penting, calon nasabah tetap harus memastikan keuangannya tetap terjaga. Karena itu, pastikan premi tidak kemahalan apalagi melebihi kemampuan. Standarnya alokasi asuransi minimal sekitar 3-5 persen dari penghasilan.

8. Beli melalui broker asuransi

Broker yang telah terdaftar resmi dapat membantu nasabah mengajukan klaim. Ingat, ketika sedang mengalami risiko medis, pengajuan klaim bisa saja sulit dilakukan sendiri. 

Belum lagi jika pengajuan klaim nasabah ditolak karena alasan tertentu. Broker asuransi seperti Lifepal dapat sangat membantu dalam mengatasi masalah klaim tersebut.

Demikian ulasan mengenai bedah laparoskopi, dan berapa biaya laparoskopi. Terkait dengan biaya dan tindakan, tentu bisa berbeda di setiap rumah sakit. Yang jelas apabila kamu mulai merasa ada gangguan kesehatan, segera periksakan ke dokter ya. Dan jangan lupa jaga kesehatan! (Editor: Chaerunnisa)

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →