Biaya Tes HIV dan Memahami Prosedur Lengkapnya

Telah Ditinjau: Lifepal Lifepal
berapa biaya tes hiv?

Biaya tes HIV saat ini bervariasi tergantung dari jenis tes digunakan dan tempat di mana kamu akan melakukan pemeriksaan. Sayangnya, tak banyak yang tahu soal tes HIV ini. Padahal, melakukan cek HIV sangatlah penting. 

Jika dideteksi sejak dini, virus HIV dapat diobati dan memberikan angka harapan hidup yang cukup tinggi. Tes HIV mudah dilakukan. Bahkan, di beberapa tempat tidak dipungut biaya alias gratis. 

Apa itu HIV?

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyebabkan terjadinya Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) atau penyakit yang memengaruhi kekebalan tubuh.  

AIDS yang disebabkan virus HIV menyebabkan menurunnya kekebalan tubuh yang kemudian menimbulkan berbagai penyakit oportunistik seperti TBC, kandidiasis, berbagai radang pada kulit, paru, saluran pencernaan, otak, dan kanker.

Virus ini dapat menular melalui cairan tubuh seperti darah, cairan vagina, air mani dan juga Air Susu Ibu (ASI). Sejak akhir abad 20 hingga saat ini, AIDS menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan dunia.  

Namun, HIV tidak ditularkan dengan cara-cara berikut.

  • Berpelukan atau berjabat tangan.
  • Pemakaian WC, wastafel atau kamar mandi bersama.
  • Berenang di kolam renang.
  • Gigitan nyamuk atau serangga lain.
  • Membuang ingus, batuk atau meludah.
  • Pemakaian alat makan/ minum atau makan bersama-sama. 

Untuk itu, ada baiknya melakukan tes HIV sejak dini, terutama jika merasa gaya hidup berisiko. Semakin dini tes HIV dilakukan, semakin cepat kita mengetahui kondisi kesehatan dan mendapatkan penanganan yang sesuai jika terbukti positif HIV. 

Apalagi saat ini pengobatan untuk HIV sudah berkembang pesat dan jutaan orang dengan HIV (ODHA) dapat menjalankan hidup dan bekerja seperti non-ODHA.

Mengenal Tes HIV

Tes HIV adalah prosedur pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi infeksi HIV pada tubuh pasien. 

Tujuannya, tak lain untuk mencegah penyebaran HIV, mendeteksi infeksi HIV sejak dini, serta mendeteksi darah, produk darah, atau organ dari pendonor sebelum diberikan kepada pasien lain. Sehingga pengobatan menjadi lebih cepat, serta risiko penularan virus pun dapat diturunkan.

Lalu apakah tes HIV akurat? Tes HIV modern sangat akurat. Namun, keakuratan tes harus mempertimbangkan window period yaitu rentang waktu mulai dari awal penularan hingga muncul antibodi HIV. Artinya semakin lama hasil tes akan menjadi semakin sensitif dan akurat. 

Namun untuk tes HIV terbaru menggunakan antigen atau antibodi waktunya hanya 4 minggu pada 95 persen kasus HIV dan 3 bulan pada 5 persen kasus. Jadi dianggap bahwa hasil pemeriksaan saat ini adalah status HIV 3 bulan yang lalu.  

Artinya, jika hasil tes HIV negatif, bukan berarti pasien tidak terinfeksi HIV karena mungkin masih dalam masa inkubasi virus atau di dalam window period.

Jenis tes HIV

Metode dalam tes HIV ada beberapa cara, yaitu tes HIV yang memeriksa antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh sebagai reaksi terhadap infeksi HIV, dan tes HIV yang memeriksa keberadaan virus tersebut dalam tubuh. Berikut penjelasannya lengkapnya.

1. Tes antibodi 

Tes antibodi adalah jenis pemeriksaan untuk mendeteksi antibodi HIV dalam darah. Antibodi HIV adalah protein yang diproduksi tubuh sebagai respons terhadap infeksi HIV. Kebanyakan orang akan memiliki cukup antibodi untuk dites positif dalam tiga hingga 12 minggu setelah tertular HIV. 

Tes antibodi terdiri atas beberapa jenis, antara lain:

  • ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay): Langkah awal untuk mendeteksi antibodi HIV. 
  • IFA (immunofluorescence antibody assay): Tes ini biasanya digunakan untuk mengonfirmasi hasil tes ELISA. IFA menggunakan pewarna fluoresens untuk mengidentifikasi keberadaan antibodi HIV dengan bantuan mikroskop beresolusi tinggi. 
  • Western Blot: Tes yang dilakukan dengan menggunakan metode pemisahan protein antibodi yang diekstrak dari sel darah. Sebelumnya, tes ini juga digunakan untuk mengonfirmasi hasil tes ELISA, namun saat ini Western Blot sudah jarang digunakan sebagai tes HIV.

2. Tes PCR (polymerase chain reaction)

Ketika hasil tes antibodi masih diragukan, kamu bisa melakukan tes PCR. Tes ini digunakan untuk mendeteksi RNA atau DNA HIV dalam darah. Tes PCR dilakukan dengan cara memperbanyak DNA melalui reaksi enzim.

3. Tes kombinasi antibodi-antigen (Ab-Ag test)

Jenis tes kombinasi hanya dapat dipesan oleh penyedia layanan kesehatan dan harus dilakukan di laboratorium. Karena tes dilakukan untuk mendeteksi antigen HIV yang dikenal dengan p24 dan antibodi HIV-1 atau HIV-2. 

Dengan mengidentifikasi antigen p24, maka keberadaan virus HIV dapat terdeteksi sejak dini sebelum antibodi HIV diproduksi dalam tubuh. Tubuh umumnya membutuhkan waktu 2-6 minggu untuk memproduksi antigen dan antibodi sebagai respons terhadap infeksi.

Sebelum dan sesudah tes HIV sebaiknya kamu mengikuti VCT atau voluntary counselling and testing diartikan sebagai konseling dan tes HIV secara sukarela (KTS). 

Layanan ini bertujuan untuk membantu pencegahan, perawatan, dan pengobatan bagi penderita HIV/AIDS. VCT bisa dilakukan di puskesmas atau rumah sakit maupun klinik penyedia layanan VCT.

Siapa yang perlu melakukan tes HIV?

Sebenarnya setiap orang direkomendasikan untuk setidaknya melakukan tes HIV pada usia 13 hingga 64 tahun. Sementara orang yang berisiko tinggi terinfeksi HIV perlu melakukannya setiap tahun. Sedangkan pria homoseksual dan biseksual disarankan menjalani tes HIV setiap 3-6 bulan sekali.

Selain itu, tes HIV juga disarankan bagi orang-orang tertentu, diantaranya:

  • Memiliki gejala terduga HIV.
  • Pernah melakukan hubungan intim vaginal, oral, atau anal tanpa kondom dengan lebih dari satu pasangan.
  • Berhubungan seks sesama jenis. 
  • Menggunakan obat intravena (IV), termasuk steroid, hormon, atau silikon.
  • Didiagnosis memiliki infeksi menular seksual (IMS), seperti hepatitis atau sifilis.
  • Sedang hamil atau berencana hamil.
  • Melakukan hubungan intim dengan orang yang positif HIV atau seseorang dengan status HIV yang tidak diketahui.
  • Menggunakan jarum  suntik atau infus dari berbagai alat suntik, baik untuk menyuntikkan narkoba ataupun obat-obat lain. 
  • Anak yang terlahir dari penderita HIV.
  • Menerima transfusi darah dari pendonor yang berasal dari negara dengan jumlah penderita HIV yang tinggi.

Adapun gejala HIV atau tanda seseorang tertular HIV antara lain:

  • Berat badan menurun lebih dari 10 persen dalam waktu singkat.
  • Demam tinggi berkepanjangan (lebih dari satu bulan).
  • Diare berkepanjangan (lebih dari satu bulan).
  • Batuk berkepanjangan (lebih dari satu bulan).
  • Kelainan kulit dan iritasi (gatal).
  • Infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh, seperti di bawah telinga, leher, dan lipatan paha.

Prosedur tes HIV

Perlu diketahui, tes HIV harus bersifat sukarela artinya dilakukan berdasarkan atas kesadarannya, bukan paksaan maupun tekanan orang lain dan tidak boleh diwakilkan kepada siapa pun.

Hasil tes HIV juga harus dijamin kerahasiaannya oleh pihak yang melakukan tes itu (dokter, rumah sakit, atau laboratorium) dan tidak boleh disebarluaskan.

Terkait prosedurnya, ces HIV umumnya dilakukan melalui prosedur pengambilan sampel darah dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Pengambilan sampel darah dengan jarum dari pembuluh darah vena di lengan pasien.
  • Setelah jarum dimasukkan, darah akan ditampung dalam tabung khusus.
  • Saat darah dirasa cukup, dokter akan menutup area suntikan dengan perban atau plester luka.
  • Sampel darah yang telah diambil akan dianalisa di laboratorium untuk mendeteksi respons antibodi terhadap HIV atau materi genetik (DNA atau RNA) HIV di dalam darah. 
  • Hasil tes ELISA umumnya akan keluar dalam 2-4 hari, hasil tes Western Blot atau IFA membutuhkan waktu 1-2 minggu, sedangkan hasil tes PCR membutuhkan waktu 2-6 minggu.

Efek samping setelah tes HIV

Pengambilan darah untuk tes HIV biasanya tidak menimbulkan efek samping. Mungkin kamu akan merasa sedikit nyeri ketika jarum dimasukkan dan dikeluarkan atau hanya mengalami efek samping ringan, seperti:

  • Pusing atau sakit kepala.
  • Muncul memar kecil (hematoma) di area suntikan.
  • Lengan terasa nyeri dan lemas.
  • Infeksi pada area suntikan.

Hasil tes HIV

Ada beberapa jenis hasil tes HIV, yaitu:

1. Normal atau negatif jika tidak ditemukan antibodi HIV di dalam darah pasien. Lalu saat tes PCR tidak mendeteksi keberadaan RNA atau DNA HIV.

2. Abnormal atau positif jika ditemukan antibodi HIV di dalam darah pasien dan tes PCR mendeteksi keberadaan materi genetik HIV (RNA atau DNA).

3. Tidak dapat ditentukan (indeterminate result) saat hasil tes tidak menunjukkan secara jelas apakah pasien terinfeksi HIV atau tidak. Kondisi ini mungkin terjadi ketika antibodi HIV belum berkembang atau ketika jenis antibodi lain mengganggu hasil tes.  

Saat hasil tes negatif, kemungkinan dokter akan menganjurkan pasien untuk menjalani tes ulang tiga bulan setelah tes pertama. Hal ini dilakukan untuk memastikan hasil tes dan sebagai langkah pencegahan penyebaran virus.

Jika hasil tes HIV ulang tetap negatif, maka dokter akan menyatakan kamu tidak terinfeksi virus HIV, namun tetap merekomendasikan pemeriksaan HIV secara berkala untuk deteksi dini infeksi HIV.

Sebaliknya kalau hasil tes dinyatakan positif terinfeksi HIV, maka pasien dan dokter dapat berdiskusi untuk merencanakan langkah dan jenis terapi pengobatan yang akan dijalani pasien.  

Kemudian langkah selanjutnya kamu harus menjalani tes Viral load atau pengukuran yang digunakan untuk mengetahui seberapa rentan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) untuk menularkan penyakit.

Tujuannya untuk mengetahui sudah seberapa jauh dan cepat penyakit berkembang dalam tubuh yang diketahui lewat jumlah virus di dalam sampel darah.

Apa yang harus dilakukan jika positif HIV? 

Ada beberapa langkah awal yang akan dianjurkan oleh dokter setelah terdiagnosis HIV, antara lain:

  • Berdiskusi dengan sesama penderita HIV akan sangat membantu pasien dalam melalui masa awal setelah diagnosis.
  • Mengonsumsi obat antiretroviral (ART) untuk menghambat perkembangan HIV dan membantu melindungi sistem imun tubuh pasien, dan risiko penularan juga dapat ditekan.
  • Menjalani pemeriksaan lanjutan untuk mencegah kemungkinan adanya penyakit menular seksual (STD).
  • Menggunakan kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan pasangan.
  • Meminta pasangan untuk menjalani tes HIV.

Biaya tes HIV berikut beberapa rekomendasi rumah sakit yang memiliki fasilitasnya

Harga tes HIV berbeda-beda tergantung di mana kamu melakukan tes. Misalnya, di rumah sakit swasta di Indonesia dapat dimulai dari Rp150 ribu hingga lebih dari Rp1 juta. 

Untuk lebih jelasnya, berikut ini rekomendasi tempat tes HIV dan perkiraan biayanya. 

Nama Rumah Sakit Estimasi Awal Biaya Tes HIV
RS Bhayangkara POLDA D.I. Yogyakarta Rp125.000
RSIA Al Islam, Bandung Rp145.000
Siloam Hospitals Makassar Rp405.000
MRCCC Siloam Hospitals Semanggi Jakarta Rp449.000
Tirta Medical Center Bali
(Fullerton Health Clinic)
Rp463.000
Prodia Children Health Centre (PCHC) Surabaya Rp488.000
Primaya Hospital Bekasi Utara Rp591.000
RS Awal Bros Ahmad Yani Pekanbaru Rp1.650.000

Perlu diketahui, ini hanyalah estimasi awal biaya tes HIV. Kamu dianjurkan untuk mempersiapkan dana lebih guna kebutuhan tambahan yang tidak terduga, yaitu sekitar 20-30 persen dari biaya yang diperkirakan.

Bisakah cek HIV Gratis?

Ternyata tes HIV bisa dilakukan gratis di Puskesmas. Adapun cara cek HIV di Puskesmas sebagai berikut. 

  • Datang ke Puskesmas yang menyediakan laboratorium lalu mendaftar dulu ke administrasi. Bagi kamu yang punya BPJS, biaya pendaftaran gratis. Tapi, jika pasien umum dan tidak punya BPJS, biaya yang harus dikeluarkan biasanya sebesar Rp5 ribu. 
  • Setelah itu, kamu bisa berangkat ke bagian Poli Konseling untuk bertemu dengan dokter atau konselor HIV dan melakukan counseling pra-test. Biasanya dokter akan melakukan pendataan dan menanyakan apa tujuan utama ingin tes HIV.
  • Kamu akan diarahkan untuk pengambilan darah untuk tes HIV. Proses ini sama seperti prosedur tes HIV pada umumnya.  

Pentingnya asuransi di tengah tingginya biaya pengobatan HIV

Bukan lagi rahasia kalau biaya pengobatan bagi ODHA sangatlah tinggi. Apalagi ODHA juga rentan terhadap Infeksi Oportunistik (IO) yang membutuhkan pengobatan berbeda dan biaya besar. ODHA juga diharuskan mengonsumsi obat penekan pertumbuhan virus (ARV) yang harganya Rp125 ribu – Rp400 ribuan per botol dengan isi 30 butir. 

Pemerintah pun hanya bersedia memberikan pengobatan standar saja bagi ODHA. Untuk itu, penting untuk memiliki asuransi tambahan apalagi bagi kamu yang kemungkinan berisiko terkena HIV. 

Saat ini terdapat beberapa perusahaan asuransi yang memberikan manfaat atau pertanggungan untuk sakit HIV/AIDS. 

Misalnya dari Allianz Life Indonesia dengan polis SmartMed Premier memberikan pertanggungan untuk HIV/AIDS tanpa pengecualian penyebab terjangkit virus tersebut. Manfaat yang diberikan adalah Rp10 juta lump sum (metode pembayaran satu kali) tanpa rawat inap.  

Nah, kalau kamu ingin mengetahui informasi mengenai asuransi kesehatan lainnya yang menanggung penyakit HIV/AIDS, kamu bisa langsung bertanya dan memanfaatkan layanan konsultasi gratis dari Lifepal

Demikian informasi seputar biaya tes HIV. Sebelum memutuskan untuk melakukan tes HIV, sebaiknya kamu menerima konseling terlebih dahulu.

Konseling ini sangat membantu seseorang untuk mengetahui resiko dari perilakunya selama ini, dan bagaimana nantinya bersikap setelah mengetahui hasil tes.

Selain itu, melakukan konseling dengan ahlinya, kamu akan diberi tahu bahwa diagnosis infeksi HIV dapat memengaruhi pandangan sosial, emosional, profesional, dan finansial pasien.  

Jadi,  tak perlu ragu lagi untuk melakukan tes HIV agar bisa deteksi dini dan mendapatkan perawatan yang lebih cepat, ya!

Pertanyaan seputar biaya tes HIV

Bisa. Saat ini tes HIV diwajibkan bagi calon pasangan yang ingin menikah. Salah satu tempat melakukan tes HIV yaitu di Puskesmas.
Sebaiknya minimal sekali seumur hidup melakukan tes HIV. Namun, bagi yang berisiko tinggi terhadap HIV untuk menjalani tes HIV tiap setahun sekali secara rutin. Untuk pasien yang diduga terpapar virus HIV, tes sebaiknya dilakukan pada 6 minggu, 3 bulan, dan 6 bulan sejak pertama kali terpapar virus.
Sama seperti tes HIV, harga tes viral load bervariasi tergantung lokasi rumah sakit atau klinik. Biasanya untuk sekali tes mencapai harga Rp750.000-Rp1.000.000. Biasanya dokter akan merekomendasikan kepada ODHA untuk melakukan test VL satu kali setiap 6 bulan atau setiap 1 tahun.
Viral load adalah kisaran jumlah partikel virus dan jumlah RNA HIV per 1 ml (1 cc) sampel darah. Dengan kata lain, viral load adalah tolak ukur mengenai sudah seberapa jauh dan cepat penyakit berkembang dalam tubuh yang diketahui lewat jumlah virus di dalam sampel darah.
Tujuan terapi antiretroviral adalah untuk mengurangi jumlah virus HIV dalam tubuh hingga ke tingkat yang tidak lagi dapat terdeteksi dengan tes darah. Meski begitu, terapi antiretroviral ini harus dijalani seumur hidup.
Pengidap HIV yang telah menderita AIDS biasanya diperkirakan dapat bertahan hidup sekitar 3 tahun. Tapi jika terjangkit penyakit berbahaya, harapan hidup penderita yang tanpa pengobatan diperkirakan turun menjadi sekitar 1 tahun.
Tentu saja bisa. Hidup sehat bisa dijalani oleh siapa pun, tak terkecuali ODHA. Dengan kesehatan yang terjaga, orang yang menderita HIV/AIDS pun bisa tetap produktif dan memiliki kualitas hidup yang baik.
Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →