Bareksa, Pilihan Marketplace Reksadana yang Aman

bareksa reksadana

Bareksa adalah salah satu teknologi finansial (fintech) yang menjadi marketplace investasi keuangan, khususnya reksadana. Sebagai swalayan investasi, Bareksa juga merambah bonds atau obligasi.

Sebelum berinvestasi di Bareksa, kita harus tahu dulu apa saja yang disediakan Bareksa. Produk investasi yang tersedia adalah reksadana yaitu wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor) untuk diinvestasikan oleh manajer investasi dalam beberapa instrumen investasi seperti:

Reksadana di Bareksa terdiri atas beberapa jenis yang bisa dipilih. Misalnya reksadana saham yang 80 persen dana dibelikan ke saham, reksadana pendapatan tetap yang dananya digunakan untuk membeli obligasi, dan masih ada beberapa reksadana campuran.

Sebagai salah satu marketplace reksadana berbasis teknologi, calon investor diberi kemudahan untuk memilih reksadana yang sesuai. Kita juga bisa membandingkan beragam produk secara online di aplikasinya.

Produk Investasi yang Tersedia di Bareksa

produk reksadana bareksa

Dalam laman Bareksa terdapat 195 reksadana dari berbagai jenis, mulai dari reksadana saham, campuran, syariah, dan lainnya.

Sama dengan marketplace reksadana lainnya, Bareksa menyediakan jenis reksadana lengkap. Terdapat lima jenis reksadana yaitu reksadana saham, reksadana pasar uang, reksadana campuran, reksadana pendapatan tetap, dan reksadana syariah.

Khusus untuk reksadana syariah, Bareksa membuat inovasi bagi investor yang ingin umrah bernama Bareksa Umroh. Produk ini menginvestasikan dana kita di sektor syariah dan bisa digunakan untuk umroh.

Berikut jenis produk investasi yang tersedia di Bareksa.

  1. Reksadana saham, yaitu investasi reksadana yang minimal 80 persen dananya ditempatkan di instrumen saham.
  2. Reksadana pendapatan tetap, yaitu reksadana yang menempatkan dana investor di obligasi. Bareksa hanya membeli obligasi milik pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) untuk mengurangi risiko kerugian pada investor.
  3. Reksadana campuran, yaitu penempatan dana maksimal 79 persen pada saham, obligasi, dan deposito.
  4. Reksadana pasar uang, yaitu 100 persen penempatan dana investasi pada instrumen jangka pendek seperti obligasi dan deposito perbankan.
  5. Reksadana syariah, yaitu reksadana yang dikelola dengan prinsip syariah. Dana investasi ditempatkan pada saham dan obligasi yang masuk daftar efek syariah.

Selain reksadana, Bareksa juga menyediakan instrumen investasi lain yaitu SBN. Obligasi milik pemerintah dipilih untuk mengurangi risiko rugi pada investor. Dalam lamannya, Bareksa mengeklaim beli SBN pasti untung minimal 7,2 persen per tahun.

Cara Berinvestasi di Bareksa

cara investasi reksadana online

Seperti IPOTFUND, Bareksa memberi kemudahan bagi investor untuk membeli reksadana ataupun SBN yaitu secara online. Sementara, bagi yang ragu-ragu untuk membeli online, bisa langsung mendatangi kantor cabang Bareksa.

Membeli via online sebenarnya cukup mudah. Bahkan, dari survei Bareksa, investor kelompok millenial atau yang juga disebut Generasi X mendominasi pembelian reksadana online. Agar tahu cara investasi online di Bareksa cek langkah-langkahnya.

1. Beli reksadana

Sebelum membeli reksadana di manapun, pastikan telah membuka akun terlebih dahulu. Tanpa memiliki akun, kita tidak bisa membeli produk investasinya. Berikut proses pembelian produk reksadana di Bareksa.

  • Cari produk reksadana yang akan dibeli di bagian pencarian Bareksa. Sebaiknya baca semua prospektus dan fakta-fakta tentang reksadana yang dipilih sebelum klik Membeli.
  • Klik Beli setelah menemukan yang cocok.
  • Mengisi jumlah pembelian yang diinginkan dan metode pembelian atau pembayaran misalnya autodebet. Jika memilih pembelian langsung, berarti kita tidak ingin investasi berkala, sedangkan autodebet sebaliknya.
  • Konfirmasi reksadana yang dibeli. Investor akan mendapat informasi detail mengenai semua produk reksadana yang telah dibeli. Setelah membaca semuanya, klik Konfirmasi.
  • Transfer pembelian reksadana yang telah dipesan dengan cara memasukkan nomor pesanan dalam berita transfer.
  • Setelah membayar, konfirmasi pembayaran ke halaman konfirmasi. Setelah itu tunggu 1×24 jam untuk pemberitahuan mengenai proses pembelian reksadana.
  • Proses pembelian selesai dan investor sudah bisa melihat riwayat transaksi dengan mengakses reksadana online. Dalam hal ini, kita bisa mendapatkan informasi mengenai apa saja investasi yang pernah dibeli dan masih dimiliki dalam bentuk portofolio.

2. Beli SBN

Membeli SBN di Bareksa hanya perlu mengikuti tiga tahap mudah yaitu daftar, pembelian, dan pembayaran. Agar lebih jelas, berikut tahapannya.

  • Daftar di halaman utama SBN Online Bareksa. Jika sudah pernah mendaftar hanya perlu login.
  • Mengisi kelengkapan data termasuk Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan rekening bank. Sekadar catatan, transaksi SBN Ritel hanya bisa dilakukan dengan rekening Bank BCA, Mandiri, BNI, BRI, dan CIMB Niaga.
  • Pembelian sudah bisa dilakukan pada masa yang ditentukan pemerintah (saat penawaran SBN). masa penawaran hanya dua pekan saja.
  • Setelah memilih, bayar SBN yang dibeli lewat ATM, internet banking, dan teller bank-bank yang terdaftar sebagai bank persepsi (bank yang ditunjuk pemerintah untuk menerima setoran penerimaan negara).
  • Setelah itu, notifikasi mengenai pembelian SBN akan dikirim.

Sukses Investasi di Bareksa

sukses investasi reksadana

Salah satu tips sukses berinvestasi di reksadana adalah memilih yang memiliki kinerja baik. Nah di aplikasi Bareksa terdapat fitur untuk melihat kinerja masing-masing reksadana yang bisa memudahkan kita memilihnya.

Selain itu ada pilihan untuk menyaring (filter) reksadana yang memiliki kinerja terbaik berdasarkan jenis reksadana, manajer investasi, periode keuntungan, dan risiko. Contohnya mencari reksadana saham yang dijual Bareksa dalam periode lima tahun terakhir dan menghasilkan return minimal 10 persen.

Selain fitur penyaring, kita bisa sukses berinvestasi reksadana di Bareksa dengan trik berikut ini.

1. Lirik dan bandingkan kinerja IHSG dan reksadana

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah salah satu patokan untuk melihat kinerja reksadana, terutama reksadana saham. FYI saja, sejak awal tahun 2019 hingga Maret 2019 IHSG telah menguat 4,24 persen.

Artinya, empat jenis reksadana, tidak cuma saham, dalam waktu tiga bulan terpengaruh kinerja positif IHSG tersebut. Berikut kenaikan kinerja rata-rata reksadana sebagai imbas positif IHSG.

  • Indeks reksadana campuran (3,07 persen).
  • Indeks reksadana pendapatan tetap (1,85 persen).
  • Indeks reksadana saham (2,74 persen).
  • Indeks reksadana pasar uang (0,92 persen).

Jadi, kalau IHSG lagi menguat alias bullish investor jangan ragu membeli reksadana dari berbagai jenis ini karena trennya positif.

2. Baca arah kebijakan Bank Indonesia

Jangan dibuat pusing untuk trik yang satu ini. Investor hanya perlu membaca bagaimana Bank Indonesia (BI) menetapkan suku bunga acuannya (BI Rate). Kenaikan BI Rate memberatkan sektor lain, tapi kalau untuk urusan investasi di sektor keuangan termasuk reksadana, ini jadi sinyal positif.

Kenaikan BI Rate menjadi sentimen positif bagi kalangan investor, terutama asing yang menanamkan modalnya di Tanah Air. BI Rate tinggi berarti ada bunga yang lebih tinggi lagi dari perbankan dan sektor lain.

Reksadana yang terimbas positif jika BI Rate naik tentunya reksadana pendapatan tetap. Pergerakan obligasi juga terkait erat dengan stabilitas BI Rate. Itu juga yang menjadi alasan kehati-hatian ekstra dari BI untuk menetapkan BI Rate setiap bulannya.

3. Pantau suku bunga The Fed

Bank sentral Amerika Serikat yang bernama The Fed merupakan salah satu pengaruh eksternal yang turut memengaruhi kinerja reksadana. Pasalnya, keputusan The Fed bisa menggoyang pasar saham hingga sektor industri keuangan lain.

Karena itu, Bank Indonesia menetapkan peraturan demi menyeimbangkan Fed Rate dengan BI Rate untuk menjaga iklim investasi dalam negeri. Jika perekonomian AS mengindikasikan pelambanan, maka ada kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga. Dampaknya, investor akan memboyong dana di Tanah Air ke AS. Kalau sudah begini, pasar modal hingga industri jasa keuangan lain akan goyah.

4. Ketahui inflasi dalam negeri

Inflasi dalam negeri turut memengaruhi kinerja instrumen investasi tanpa kecuali reksadana. Tren penurunan inflasi berdampak pada BI Rate yang stagnan atau diturunkan. Penurunan BI Rate berdampak besar pada reksadana pendapatan tetap yang mayoritas memegang obligasi tenor panjang. Mereka inilah yang akan diuntungkan ketimbang pemegang obligasi tenor pendek.

Kenapa? Karena obligasi tenor panjang akan mengalami dampak fluktuasi harga yang lebih besar jika terjadi perubahan suku bunga. Sepanjang tahun 2019, reksadana pendapatan tetap diproyeksikan memiliki kinerja positif dengan pertumbuhan 8-9 persen. So, belilah!

Reksadana “Juara” di Bareksa

reksdana juara

Untuk memudahkan investor baru, Bareksa menawarkan beberapa pilihan reksadana yang memiliki kinerja positif dan menjadi favorit investor lain. Dalam menentukannya, Bareksa melakukan beberapa analisa dan pertimbangan yaitu.

  1. Reksadana yang memiliki konsistensi menghasilkan kinerja berdasarkan nilai konsistensi beating index (KBI) yaitu indikator yang mampu melihat konsistensi reksadana dalam mengalahkan benchmark setiap bulannya.
  2. Menggunakan metode menilai kinerja reksadana dengan sharpe ratio yaitu metode analisis yang digunakan untuk menilai portofolio. Nilai sharpe ratio diukur dari return dan lain-lain.
  3. Reksadana yang direkomendasi memiliki portofolio berkorelasi positif dengan perkembangan makro dan mikro ekonomi.

Berdasarkan tiga kriteria ini, terdapat lima produk reksadana pasar uang yang mendapat rekomendasi dari Bareksa. Adapun untuk jenis reksadana pendapatan tetap dua produk, reksadana campuran dua produk, dan reksadana saham satu produk.

Lalu bagaimana dengan reksadana pasar uang?

Investor yang suka dengan reksadana pasar uang bisa melihat rekomendasi Bareksa berdasarkan jumlah dana kelolaan atau asset under management (AUM).

Setahun terakhir (pada 2018), kategori reksadana pasar uang dengan AUM kurang dari Rp150 miliar yaitu Reksadana Setiabudi Dana Pasar Uang berhasil mengalahkan indeks reksadana pasar uang yang hanya memberikan keuntungan 4,75 persen.

Sementara, reksadana pasar uang dengan AUM Rp150-500 miliar seperti Capital Money Market Fund mampu membukukan imbal hasil (return) 6,26 persen setahun dan reksadana pasar uang dengan AUM lebih dari Rp500 miliar seperti Maybank Dana Pasar Uang membukukan return 5,8 persen.

Dari hasil investasi yang dicapai, jangan sepelekan reksadana yang AUM-nya lebih kecil. Tips lain untuk membeli reksadana online adalah membeli di pasar yang sudah terdaftar dan berizin di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Jika sudah legal, risiko dana investasi dibawa kabur hingga yang amit-amit lainnya lebih kecil ketimbang marketplace tidak terdaftar dan tanpa izin OJK. So, tetap teliti dan jadilah investor cerdas!