Bitcoin adalah Produk Investasi. Cek Dulu Legalitasnya

investasi bitcoin

Bitcoin adalah mata uang virtual atau digital (cryptocurrency) yang diperdagangkan untuk investasi. Di Indonesia, Bitcoin sudah termasuk item investasi di bursa berjangka/komoditi.

Salah satu daya tarik investasi ini adalah nilainya yang terus meroket. Pekan lalu saja, satu Bitcoin bernilai Rp144,95 juta. Sayangnya meski terasa menjanjikan, investasi ini nyatanya belum mendapat restu dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ataupun Bank Indonesia (BI) terkait keabsahannya.

Asal Mula Kemunculan Bitcoin

asal mula bitcoin

Bitcoin yang cuma ada 21 juta di dunia disebut sebagai masterpiece investasi yang dibuat lelaki asal Jepang bernama Satoshi Nakamoto pada tahun 2009. Namun, tidak jelas juga apakah benar Satoshi yang menciptakan mata uang digital yang baru populer sekitar tahun 2013 ini.

Awal terbit Bitcoin hanya terdiri atas 50 unit di dunia. Mata uang ini tidak dikontrol bank atau lembaga lain. Meski tidak ada yang memilikinya secara utuh dan tanpa wujud, mata uang ini tetap jadi buruan investor berprinsip high risk high return.

Dalam sistem kerjanya, Bitcoin terdiri atas tiga bagian utama, yaitu blockchain, mining network, dan wallet. Tiga istilah ini harus kita pahami terlebih dahulu demi memahami cara kerja investasi yang pergerakannya terlalu likuid alias super fluktuatif ini.

Sistem Bitcoin

sistem bitcoin

Sejak diterbitkan, Bitcoin semakin hari semakin melonjak harganya yang mana disebabkan banyak faktor. Salah satunya adalah jumlah peminatnya yang terus meningkat dari berbagai penjuru dunia, meski sang pencipta telah meninggalkan ciptaannya tersebut pada 12 Desember 2010.

Bitcoin ini bisa dibilang sebagai bagian dari teknologi finansial (fintech) berkategori p2p lending, yaitu wadah yang mempertemukan peminjam dan pemberi pinjaman. Dalam dunia Bitcoin sendiri, keduanya disebut penambang dan investor.

Agar semakin jelas memahami cara kerja Bitcoin, kita akan coba membedah tiga poin utamanya.

1. Blockchain

Blockchain adalah daftar setiap transaksi Bitcoin yang pernah terjadi. Sebelum transaksi masuk rantai ini, maka transaksi itu belum dianggap selesai. Sesuai namanya, blockchain terdiri atas sekumpulan blok yang berisi transaksi baru dan berhubungan dengan blok sebelumnya yang berisi transaksi lama.

Blockchain ini berguna melindungi data transaksi dan uang digital yang dimiliki penambang (miner) dan investor. Level keamanannya cukup tinggi sehingga sulit ditembus hacker.

2. Penambangan

Dalam penambangan ini ada orang-orang yang bertugas menjaga transaksi lama dan memastikan transaksi baru tercatat, serta membuat blok baru. Atas jasanya mereka akan menerima Bitcoin.

Untuk mendapatkan Bitcoin tidak harus menjadi investor, tetapi menjadi miner juga bisa. Hingga kini, penambang yang mendapat Bitcoin tertinggi mencapai 12,5 Bitcoin yang keluar setiap 10 menit sekali.

Namun, menjadi miner bukan persoalan gampang. Ada puzzle matematika yang kompleks terkait blockchain yang harus dipecahkan penambang agar Bitcoin keluar. Bisa dibilang menjadi miner berarti menjadi investor Bitcoin tanpa modal uang, melainkan kemampuan matematika saja!

3. Wallet

Wallet ini merupakan bagian Bitcoin yang sering dilihat pengguna. Meski jika di Bahasa Indonesia berarti dompet, wallet bukanlah tempat menyimpan Bitcoin melainkan private key atau kunci sang pemilik (investor) untuk menambah transaksi ke blockchain di sebuah alamat yang disebut public key atau bisa dibilang pasar Bitcoin.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Bitcoin hanya tersimpan dalam catatan transaksi yang disebut blockchain.

Cara Bertransaksi Bitcoin

cara transaksi bitcoin

Saat bertransaksi dengan Bitcoin, kita mengirim transaksi tersebut ke jaringan miner. Agar tidak ada orang lain (hacker) yang bertransaksi menggunakan wallet kita, terdapat beberapa keamanan yang diberlakukan.

Sebuah transaksi membutuhkan beberapa verifikasi seperti tanda tangan transaksi, bukti matematis bahwa kita adalah pemilik wallet, hingga waktu transaksi yang terbatas hanya 10 menit dalam penambangan.

Bagi yang ingin mencoba menjadi investor Bitcoin butuh banyak pertimbangan dan dana. Namun, bagi yang penasaran ada tahapan yang harus dilalui sebelum menjadi investor, yaitu:

  1. Kunjungi situs web yang dipercaya dan memiliki review baik. Namun sebagaimana tidak terdaftar di regulator industri jasa keuangan (OJK), semua keputusan kembali kepada masing-masing investor.
  2. Mengisi data yang diminta, seperti surel dan nomor ponsel lalu klik Lanjut Pendaftaran.
  3. Cek surel dan jika sudah ada pesan dari aplikasi Bitcoin, maka kita diminta mengaktifkan akun.
  4. Setelah aktivasi, kita diminta sign-in dengan alamat surel dan password.
  5. Setelah itu, kita akan menerima SMS yang berisi nomor PIN untuk verifikasi lagi dan kita hanya perlu klik Submit.
  6. Setelah submit, kita diminta mengisi data pribadi lagi dengan menggunakan nama asli sesuai KTP dan mengunggah KTP asli beserta foto diri.
  7. Lalu tunggu verifikasi 1×24 jam sebelum memulai bertransaksi Bitcoin.

Peluang dan Risiko Investasi Bitcoin

peluang p2p lending

Semua investasi pasti memiliki peluang untung dan risiko rugi. Baik itu saham, reksadana, atau obligasi sekalipun akan dihadapkan kepada suatu tingkat risiko yang berbeda-beda.

Namun hukumnya tetap sama, yaitu semakin tinggi risiko sebuah investasi, maka semakin tinggi pula keuntungan yang diperoleh. Agar semakin jelas, cek peluang dan risiko investasi Bitcoin berikut ini.

1. Peluang

Dalam investasi Bitcoin, keuntungan terbesarnya adalah return yang menjanjikan. Namun, ini tidak selalu terjadi karena banyak risiko yang harus ditanggung. Misalnya saja harga 1 bitcoin pada Kamis (29/8) pukul 15.00 WIB Rp134,8 juta dan menjadi Rp133,8 juta di hari yang sama pukul 19.00 WIB.

Selain return, berikut peluang dan keunggulan investasi Bitcoin.

  • Jaringan global yang membuat Bitcoin tidak hanya menjadi incaran investor di negara sendiri saja, tetapi juga banyak investor di negara lain.
  • Lebih praktis karena tidak perlu menunggu waktu lama untuk melakukan transaksi.
  • Lebih aman karena menerapkan kode digital rumit yang membuat para hacker kesulitan menembus kode ini.
  • Bebas biaya transaksi dan di sejumlah negara diakui sebagai alat pembayaran untuk transaksi berskala besar.
  • Cocok sebagai investasi. Namun investasi Bitcoin yang sangat berisiko membuat banyak investornya enggan menyimpan terlalu lama.
  • Rawan pencucian uang dan pendanaan terorisme karena minim pengawasan di setiap negara.

2. Risiko

Salah satu risiko dalam investasi Bitcoin adalah tidak adanya perlindungan hukum dari pemerintah karena investasi ini tidak diakui dalam industri jasa keuangan. Meski sempat dianggap BI dan OJK sebagai investasi ilegal, namun Bitcoin terus berkembang hingga akhirnya pihak OJK hanya mengeluarkan imbauan.

Berikut beberapa risiko investasi Bitcoin.

  • Transaksi rumit sehingga rentan terjadi kesalahan yang menyebabkan kerugian bagi investor.
  • Risiko rugi tinggi karena harganya benar-benar fluktuatif.
  • Tidak ada penanggung jawab baik dari perusahaan p2p lending yang mewadahi Bitcoin ataupun regulator mana pun.
  • Instrumen investasi ini juga berdampak bagi suatu negara karena berisiko membuat perekonomian naik dengan cepat, lalu anjlok secara tiba-tiba (bubble).
  • Rawan penipuan karena semua wadah transaksi Bitcoin tidak terdaftar atau berizin di OJK.

Memilih investasi Bitcoin adalah tentu memang menjanjikan, namun jika melihat risiko yang sangat tinggi di baliknya, lebih baik kita pertimbangkan berkali-kali. Apalagi jika melihat belum adanya wadah Bitcoin di Indonesia yang sudah mendapatkan izin ataupun terdaftar di OJK.

Di samping itu, masih banyak instrumen investasi lain yang lebih aman seperti halnya berinvestasi di pasar modal, investasi emas, atau investasi asuransi. Semuanya tetap menguntungkan andai kita tetap berkonsisten untuk menjalaninya.

Pesan Lifepal, boleh-boleh saja untuk berinvestasi dengan tetap mewaspadai segala risikonya, ya!

Tags:
Hanifah Nurul

Mantan jurnalis di bidang moneter dan gaya hidup yang mencoba memberikan pencerahan finansial lewat tulisan sederhana.