Pengertian Obligasi dan Keuntungan Punya Surat Utang

belajar saham di bei

Instrumen investasi di industri jasa keuangan cukup banyak. Salah satunya obligasi adalah surat utang berharga yang diterbitkan perusahaan dan tercatat di bursa untuk menghimpun dana modal. 

Apa itu obligasi? Dalam pengelompokannya, obligasi adalah efek bersifat utang dan sukuk (sesuai syariah Islam). Produk pasar modal yang memiliki jangka menengah-panjang ini dapat dipindahtangankan antara pembeli pertama ke pembeli kedua dan seterusnya. 

Pada dasarnya, obligasi adalah surat utang. Namun tidak hanya itu, obligasi berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga dalam periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan.

Jenis-Jenis Obligasi

jenis obligasi

Terdapat empat jenis surat utang yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berikut jenis surat utang yang diterbitkan korporasi dan negara.

1. Obligasi korporasi

Obligasi korporasi adalah surat utang yang diterbitkan perusahaan swasta nasional, BUMN, dan BUMD.

2. Sukuk

Sukuk adalah surat berharga jangka panjang yang berlandaskan atas prinsip syariah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa dalam menaungi penerbitan sukuk demi menguatkan landasan syariah yang menekankan pelarangan riba di dalam sektor investasi obligasi.

3. Surat Berharga Negara (SBN)

Ada dua surat utang yang diterbitkan negara, yaitu:

1. Surat Utang Negara (SUN)

Surat utang dalam bentuk rupiah atau valuta asing (valas) yang pembayaran bunga dan pokoknya dijamin Pemerintah Indonesia. 

Berdasarkan jangka waktunya ada dua jenis SUN, yaitu Surat Perbendaharaan Negara (SPN) yang populer dengan sebutan Treasury Bills yang jangka waktu maksimal 12 bulan dan Obligasi Negara (ON) dengan jangka waktu lebih dari 12 bulan.

2. Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)

Surat Berharga Syariah Negara atau SBSN adalah sukuk negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah. Penerbitannya bisa dalam mata uang rupiah atau valuta asing (valas).

4. Efek Beragun Aset (EBA)

Efek Beragun Aset atau EBA adalah surat utang yang terdiri atas sekumpulan aset keuangan berupa tagihan kartu kredit, pemberian kredit rumah, dan lain-lain.

Peluang Keuntungan VS Risiko Kerugian Obligasi

wanita mempertimbangkan sinarmas multifinance

Dalam dunia investasi jasa keuangan atau sektor lainnya tentu mengandung peluang keuntungan dan risiko kerugian. Anda yang ingin mencoba berinvestasi dalam obligasi harus memahami kedua sisi tersebut.

Peluang keuntungan obligasi

  • Mendapatkan kupon atau nisbah secara periodik dari efek bersifat utang yang dibeli. Tingkat kupon atau nisbah lebih tinggi dari bunga Bank Indonesia (BI Rate)
  • Memperoleh capital gain (keuntungan dari penjualan aset modal yang harganya lebih tinggi)
  • Risiko investasi obligasi relatif lebih rendah dibandingkan instrumen lain seperti saham. Pasalnya, harga saham lebih fluktuatif ketimbang harga efek bersifat utang. Malahan, efek bersifat utang yang diterbitkan pemerintah bisa dikatakan bebas risiko.
  • Banyak pilihan seri efek bersifat utang yang bisa dipilih investor di pasar sekunder (efek yang dijual lagi oleh investor di BEI).

Risiko kerugian obligasi

  • Risiko likuiditas terhadap obligasi swasta maupun pemerintah. Meski obligasi pemerintah lebih aman, bukan tidak mungkin obligasinya kurang likuid atau susah untuk dijual kembali di pasar sekunder.
  • Risiko maturitas yang lebih sering terjadi pada obligasi korporasi terkait masa jatuh tempo obligasi. Semakin lama jatuh tempo obligasi, semakin tinggi risiko tersebut. Cara menyiasatinya, investor bisa meminta maturitas premium atau obligasi yang jatuh temponya lebih pendek misalnya tiga tahun lagi.
  • Risiko default yang hanya terjadi pada obligasi korporasi. Berbeda dari SUN, obligasi korporasi tidak dijamin pemerintah. Nah, investor harus menyadari risiko default atau gagal bayar seandainya perusahaan bangkrut.

Sebelum terjun ke dunia investasi obligasi, ada baiknya bagi Anda untuk memperhatikan tabel kelebihan dan kekurangan instrumen investasi berikut sebagai bahan pertimbangan.

Indikator

Instrumen 

Obligasi Sukuk Saham Deposito Reksadana

Terproteksi

Jatuh tempo V V X V V
Kupon /

bunga

V X X V X
Imbal hasil /

nisbah

X V X X X
Dividen X X V X X
Potensi

Capital gain

V V V X V
Jaminan negara (SBN) V V X V X
Likuiditas

di pasar sekunder

V V V X V
Calon pembeli standby V V X X X

Bagaimana Membeli Obligasi?

cara membeli obligasi

Anda yang sudah siap menjadi investor bisa membeli obligasi melalui dua cara, yaitu lewat mekanisme pasar perdana dan melalui pasar sekunder. 

Terkait pasar perdana, Anda membeli langsung pada agen atau perusahaan sekuritas yang ditunjuk secara resmi. Untuk pembelian di pasar sekunder, berarti Anda membelinya melalui mekanisme bursa atau perbankan.

Sebagai tips, Anda bisa berpedoman pada hal-hal berikut.

  • Membuka rekening melalui perusahaan sekuritas atau agen penjual, perbankan, dan lainnya.
  • Pahami produk obligasi agar Anda tidak mudah diiming-imingi agen penjual. 
  • Coba analisis kondisi finansial Anda, kupon obligasi, dan pembayaran jatuh tempo sebelum memutuskan berinvestasi di obligasi.
  • Selektif dalam memilih wali amanat (trader atau broker) karena mereka yang akan membeli obligasi sesuai jenis, anggaran, dan keinginan Anda.
  • Persiapan dana investasi perlu ada hitungannya. Anda bisa menghitung sendiri di beberapa perusahaan perbankan, seperti BCA. Caranya hanya perlu membuka laman Kalkulator Investasi BCA, lalu memilih metode penghitungan antara target hasil investasi atau dana investasi.

Cara Menghitung Imbal Hasil Obligasi

hitung imbal hasil obligasi

Sebelum membeli obligasi, pertimbangan utama investor pasti imbal hasil (yield). Dalam dunia obligasi, terdapat beberapa rumus untuk menghitung imbal hasil, namun rumus simpel dan populer ini yang paling sering digunakan.

  • Current yield; dihitung berdasarkan jumlah kupon yang diterima selama setahun terhadap harga obligasi tersebut.
Current yield = penghasilan bunga tahunan : harga pasar obligasi
  • Yield to maturity (YTM); digunakan untuk menghitung tingkat imbal hasil yang diperoleh investor jika menahan obligasi hingga jatuh tempo. Rumus YTM lebih disukai investor karena menggambarkan imbal hasil secara menyeluruh.
YTM = (C+((F-P)/n)) : ((F + P)/2)

Keterangan:

C : pembayaran bunga obligasi tiap bulan (kupon)

F : nilai nominal obligasi (face value)

P : harga obligasi yang dibayarkan untuk membeli obligasi (price)

n : berapa kali bunga dibayar selama masa jatuh tempo obligasi

Istilah Populer dalam Obligasi

istilah populer obligasi

Agar lebih cermat dan mengenal obligasi, ada baiknya Anda memahami beberapa istilahnya. Berikut enam istilah paling umum dan penting dalam obligasi.

  • Nilai nominal atau nilai par (par value); nilai pokok yang diperoleh pemegang obligasi saat jatuh tempo.
  • Tingkat bunga (kupon); imbal hasil dalam nilai nominal dan wajib dibayar penerbit obligasi. Kupon dibayar setiap periode sesuai ketentuan seperti per kuartal atau per semester.
  • Waktu jatuh tempo (maturity date); jatuh tempo pengembalian dana sesuai nominal dari penerbit obligasi kepada pemegang obligasi.
  • Penerbit atau emiten (issuer); korporasi atau pemerintah yang menerbitkan obligasi dengan kata lain sebagai pihak yang berhutang kepada investor.
  • Klaim aset dan pendapatan; salah satu cara yang dilakukan penerbit obligasi ketika mengalami kebangkrutan. Biasanya, perusahaan menjual aset dan memberikan hasil penjualan kepada pemegang obligasi.
  • Wali amanat; pihak yang mewakili pemegang obligasi. Dalam hal ini mereka disebut trader atau broker dengan tugas utama melindungi investor dari kerugian.

Anda yang ingin memulai investasi di pasar modal, terutama menanam modal dalam obligasi, bisa mencari tahu dari berbagai sumber. Sebaiknya mengecek obligasi, korporasi, dan perusahaan yang akan menjadi wali amanat di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelum menyerahkan dana investasi Anda. Selamat mencoba!