Sistem Gaji di Indonesia yang Wajib Dipahami

sistem gaji di Indonesia

Gaji adalah pembayaran secara periodik atau berkala dari majikan atau pengusaha penyedia kerja kepada karyawan yang mana tertulis dalam kontrak kerja. 

Gaji atau kadang disebut sebagai upah bisa dibilang bentuk pengeluaran oleh pihak pengusaha untuk mendapatkan sumber daya manusia. Besaran gaji pun bergantung kepada ketentuan dari pengusaha atau perusahaan maupun negosiasi dari karyawan sendiri. Sebagai bukti pemberian gaji atau upah, pekerja akan menerima slip gaji yang berisi detail-detail penerimaan.

Teman Andalan Untuk Kebutuhan Asuransimu

  • Bandingkan lebih dari 100 polis
  • Konsultan terbaik di sisimu
  • Bantuan klaim gratis dan mudah
Rp
+62

Setiap negara memiliki sistem gaji tersendiri, tidak terkecuali di Indonesia. Nah, di Indonesia, ketentuan sistem penggajian diatur oleh Undang-undang Ketenagakerjaan. Secara umum, besaran gaji diukur berdasarkan hal-hal berikut ini.

  • Golongan (istilah ini biasanya berlaku pada pegawai negeri sipil).
  • Jabatan.
  • Masa kerja.
  • Pendidikan.
  • Kompetensi atau skill.

Sistem Gaji di Indonesia

sistem gaji di indonesia

Meski faktor besaran gaji ditentukan oleh kelima golongan di atas, namun ada pula aturan pelengkapnya. Pada dasarnya, aturan ini ditujukan sebagai pemerataan.

Berikut beberapa pola dasar perhitungan gaji yang perlu kita ketahui, selain meramu faktor-faktor yang sudah disebutkan sebelumnya.

  • Gaji mencerminkan nilai tugas atau beban pekerjaan kita.
  • Bila produktivitas kerja meningkat, maka gaji berpotensi naik.
  • Meski demikian, peningkatan gaji juga tidak bersifat permanen. Umumnya ada periode khusus yang sengaja dimanfaatkan untuk menaikkan gaji pegawai.

Di Indonesia sendiri, sistem penggajian dilakukan dengan tiga metode. Dengan catatan sambil mempertimbangkan faktor-faktor yang disebutkan tadi.

1. Sistem penggajian skala tunggal

Sistem penggajian model ini dilakukan berdasarkan pangkat atau jabatan tanpa mempertimbangkan tanggung jawab kerja. Jadi, kita dan orang lain yang sepangkat atau sejabatan, memiliki kisaran gaji yang tidak jauh berbeda.

2. Sistem penggajian skala ganda

Dengan metode ini, karyawan akan digaji berdasarkan pertimbangan jenis pekerjaan, tanggung jawab, dan prestasi yang diraih. Cukup fair, bukan?

3. Sistem penggajian campuran

Sistem penggajian campuran ini adalah metode yang banyak diadopsi oleh perusahaan di Indonesia. Sistem penggajian ini juga ditegaskan dalam Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 dan PP No. 6 Tahun 2008.

Pada realisasinya, sistem ini menerapkan penggabungan sistem skala ganda dan campuran. Yaitu, pegawai dengan pangkat yang sama akan diberikan gaji yang sama. Namun, terdapat tunjangan tertentu apabila ada beberapa beban tanggung jawab yang berbeda. 

Keuntungan dan kerugian dari masing-masing sistem

Berikut kelebihan dan kekurangan dari ketiga sistem penggajian tersebut.

Sistem penggajian Keuntungan Kerugian
Sistem penggajian skala tunggal Perhitungannya cukup sederhana karena hanya ada satu aturan. Terasa kurang adil. Meskipun memiliki pangkat yang sama, namun bisa saja beban kerja berbeda. Belum lagi mempertimbangkan faktor lain, seperti kinerja yang berbeda.
Sistem penggajian skala ganda Sistem penggajian ini memotivasi masing-masing karyawan untuk memberikan kinerja terbaik. Plus, fokus memberikan hasil kerja terbaik pula. Bisa menjadi tidak adil juga, tapi khususnya saat pensiun. Karena yang didapatkan sama namun kinerja berbeda meski pangkat sama. 

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, sistem penggajian di Indonesia sendiri menggunakan metode campuran. Jadi, terasa lebih fair. Sebab, tidak ada kesenjangan soal gaji pokok di antara pegawai dengan pangkat sama. 

Namun, tidak menimbulkan ketidakadilan pula karena beban kerja yang bisa saja berbeda karena terdapat tunjangan yang mendukung kinerja dan prestasi yang dicapai.

Berapapun Gaji Kita, Kelola dengan Bijaksana

sistem gaji

Dari penjelasan mengenai sistem gaji di Indonesia, kita bisa menyimpulkan bahwa “usaha tidak mengkhianati hasil”. Jadi, bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Kalau memang bisa memberikan lebih dari job-desc yang sudah disepakati, mengapa tidak?

Yang pasti, jangan lupa untuk mengelola gaji dengan bijaksana karena sayang saja apabila gaji besar, namun tidak ada budgeting yang benar.

Caranya simpel, kok! Pertama-tama, ketahui dulu berapa kemampuan penghasilan kita. Dari situ, kita bisa menilai seberapa besar pengeluaran yang bisa dialokasikan. Idealnya adalah sekitar 50-60 persen dari total penghasilan per bulan, ya. Namun, masing-masing dari kita pasti punya metode tersendiri untuk mengalokasi gaji.

Sebagai contoh, jika gaji kita adalah Rp5 juta, maka alokasi pengeluaran bulanan maksimal Rp2,5 juta sampai Rp3 juta.

Kemudian, jangan lupa untuk menyisihkan gaji tersebut untuk tabungan masa depan, investasi, dan termasuk asuransi. Terutama jika Anda mendambakan kehidupan pensiun yang tenang tanpa dipusingkan urusan finansial, mungkin bisa mempertimbankan untuk membeli produk asuransi pensiun. Jangan ragu untuk cek langsung di Lifepal.co.id, ya!

Tags: ,
Helda Sihombing

Berpengalaman di industri FinTech dan jurnalis media finansial selama 5 tahun. Bercita-cita meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia lewat digital.