Memahami Warisan dari Segi Makna, Pembagian, dan Bentuknya

Ahli Waris

Warisan adalah harta peninggalan yang diberikan kepada ahli waris atau keluarga ketika seseorang meninggal dunia. Hubungan ahli waris didasarkan pada hubungan darah, hubungan pernikahan, hubungan persaudaraan dan hubungan kerabat.

Harta peninggalan yang ditinggalkan bisa berupa harta bergerak dan harta tidak bergerak. Harta bergerak seperti perhiasan, kendaraan, tabungan, surat berharga, dan lain sebagainya. Sedangkan bentuk harta tidak bergerak adalah tanah dan bangunan.

Namun demikian, warisan tidak sebatas pada harta peninggalan semata karena bisa saja seseorang meninggal dunia dengan meninggalkan utang yang belum sempat dibayarkan. Dalam hal ini, ahli waris turut bertanggung jawab menyelesaikan utang milik mendiang.

Tidak ada ukuran pasti yang menetapkan kapan harus dibagikan, namun sebaiknya segera dibagikan dan tidak boleh ditunda-tunda demi kemaslahatan bersama.

Namun demikian, keluarga bisa bermusyawarah untuk menentukan hari pembagiannya. Umumnya waktu pembagian warisan bisa dilakukan 7 hari, 40 hari, atau bahkan 100 hari setelah hari kematian mendiang.

Pada intinya, pembagian warisan atau heritage tidak boleh ditunda dan harus segera dilaksanakan agar tidak terjadi perselisihan di kemudian hari. Apalagi jika harta warisan jatuh kepada pihak yang tidak berhak sehingga berisiko menimbulkan konflik keluarga yang berkepanjangan.

Aturan Hukum Warisan di Indonesia

Hukum Warisan

Pembagian warisan bisa berlandaskan kepada beberapa aturan hukum waris yang berlaku secara sah di Indonesia, yaitu;

  • Hukum Waris Adat
  • Hukum Waris Perdata, dan
  • Hukum Waris Islam

1. Hukum waris adat

Hukum waris adat adalah aturan pembagian peninggalan berdasarkan hukum adat suku tertentu di Indonesia. Norma-norma hukum adat memang tidak secara jelas tertulis tetapi aturan adat ini masih kuat dijalankan di beberapa suku tertentu di Indonesia.

Hukum waris Adat memberikan pembagian warisan berdasarkan gender

  • Sistem patrilineal, mengambil garis keturunan dari laki laki.
  • Sistem matrilineal, mengambil garis keturunan dari perempuan.
  • Sistem bilateral, mengambil garis keturunan dari kedua belah pihak yaitu laki-laki dan perempuan.

Selain berdasarkan gender, hukum waris adat pun ada yang membagi warisan berdasarkan penetapan ahli waris dan barang peninggalan, yaitu;

  • Sistem waris individual dengan menentukan ahli waris secara perorangan.
  • Sistem waris kolektif dengan menentukan ahli waris dibagikan secara kolektif atau dibagi-bagi secara rata.
  • Sistem waris mayorat dengan menentukan ahli waris hanya kepada anak tertentu saja. Contohnya anak tertua atau anak yang menggantikan posisi kedudukan orang tua yang meninggal dunia.

2. Hukum waris perdata

Hukum waris perdata adalah hukum pembagian harta peninggalan yang berlandaskan kitab undang-undang hukum perdata (KUHP) yang digunakan oleh masyarakat nonmuslim di Indonesia.

Dalam hukum waris perdata, ada dua sistem yang digunakan untuk menentukan ahli waris.

  • Sistem waris absentantio ditentukan berdasarkan keturunan dan saudara terdekat.
  • Sistem waris testamentair ditentukan berdasarkan isi surat wasiat.

Dalam hukum waris perdata berikut ini adalah ahli waris yang tidak berhak mendapatkan warisan dikarenakan berbagai sebab tertentu.

  • Orang yang sengaja membunuh atau mencoba membunuh pewaris yang ditetapkan oleh hakim di pengadilan.
  • Orang yang menggunakan kekerasan untuk menekan pewaris membuat surat wasiat yang menguntungkan pihak tertentu saja.
  • Orang yang terbukti memfitnah pewaris dan telah dijatuhi vonis atas perbuatan kriminal dengan hukuman lima tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan.
  • Orang yang menggelapkan, merusak, dan memalsukan surat wasiat dari pewaris

Dalam hukum waris perdata, berikut ini adalah golongan yang berhak mendapatkan warisan.

  • Golongan pewaris berdasarkan hubungan pernikahan dan keturunan atau hubungan darah. Ahli warisnya adalah suami atau istri dan anak-anaknya. Masing-masing berhak mendapatkan seperempat bagian dari harta warisan.
  • Golongan pewaris yang belum menikah atau memiliki anak. Pada kondisi ini, ahli waris adalah kedua orang tua, saudara kandung, dan atau keturunan dari saudara pewaris seperti keponakan. Masing-masing berhak mendapatkan seperempat bagian dari harta. Bagian orang tua tidak boleh kurang dari seperempat bagian.
  • Golongan pewaris yang tidak memiliki saudara kandung. Ahli warisnya adalah kedua orang tua, kakek dan nenek dari kedua orang tua. Pembagian harta warisan dibagi 50:50 untuk pihak dari garis ayah dan garis ibu.
  • Golongan pewaris keluarga sedarah yang masih hidup dari silsilah orang tua dan dari garis lain yang derajatnya paling dekat. Ahli warisnya adalah orang tua dan kakek nenek mendapatkan bagian setengah dari harta bersangkutan, sisanya dibagikan kepada ahli waris garis lain yang derajatnya paling dekat.

Dalam hukum waris perdata sudah ditekankan juga bahwa ahli waris baru bisa mendapatkan harta warisan setelah urusan utang-piutang pewaris diselesaikan terlebih dahulu.

3. Hukum waris Islam

Hukum waris Islam adalah aturan pembagian harta peninggalan berlandaskan kitab suci Al-Quran yang dijalankan oleh para pemeluk agama Islam.

Dalam hukum waris Islam, ada kelompok anggota keluarga yang berhak atas harta warisan ketika pewaris meninggal dunia. Kelompok tersebut dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok garis keturunan laki-laki dan keturunan perempuan.

Garis keturunan laki-laki

  • Kakek
  • Ayah
  • Anak laki-laki
  • Cucu laki-laki dari anak laki-laki
  • Saudara kandung laki-laki
  • Anak laki-laki dari saudara laki-laki
  • Suami
  • Paman
  • Anak dari paman
  • Laki-laki yang memerdekakan budak

Garis keturunan perempuan

  • Nenek
  • Ibu
  • Anak perempuan
  • Cucu perempuan dari anak laki-laki
  • Saudara kandung perempuan
  • Istri
  • Wanita yang memerdekakan budak

Pembagian Warisan dalam Hukum Islam

Pembagian Warisan Menurut Hukum Islam

Pembagian harta peninggalan dalam hukum Islam sudah dibagi ke dalam porsi masing-masing dan golongan-golongan yang berhak, yaitu;

Setengah harta warisan

  • Anak perempuan
  • Cucu perempuan dari anak laki-laki
  • Saudara kandung dari orang tua yang sama
  • Saudara kandung dari ayah
  • Suami tanpa anak

Seperempat harta warisan

  • Suami dengan anak atau cucu
  • Istri tanpa anak atau cucu dari anak laki-laki

Seperdelapan harta warisan

  • Istri dengan anak atau cucu dari anak laki-laki

Sepertiga harta warisan

  • Ibu tanpa anak
  • Saudara perempuan satu ibu, dua orang atau lebih

Duapertiga harta warisan

  • Anak perempuan
  • Cucu perempuan dari anak laki-laki
  • Saudara kandung perempuan dari orang tua yang sama
  • Saudara kandung perempuan dari ayah yang sama

Seperenam harta warisan

  • Ibu dengan anak atau cucu dari anak laki-laki
  • Nenek
  • Saudara kandung perempuan satu ayah
  • Saudara kandung perempuan dari orang tua yang sama
  • Ayah bersama anak atau cucu dari anak laki-laki
  • Kakek

Pembagian warisan dalam Islam memiliki bidang ilmu tersendiri, yaitu ilmu Faraidh. Ilmu Faraidh adalah ilmu tentang pembagian harta warisan. Melalui kajian ilmu inilah pembagian warisan di dalam agama Islam dilakukan secara berhati-hati, cermat, dan dibagi seadil-adilnya berdasarkan petunjuk dari kitab suci Al-Quran.

Seperti dicontohkan dalam situs nu.co.id, berikut ini adalah contoh pembagian waris berdasarkan hukum Islam.

Sebuah keluarga memiliki ayah, ibu, nenek dan seorang anak laki-laki. Kemudian sang ayah meninggal dunia. Bagaimana perhitungan warisannya?

Ahli Waris Bagian 24
Istri 1/8 3
Ibu 1/6 4
Anak Laki-Laki Sisa 17
Angka Penyebut 24

Harta yang ditinggalkan sebagai contoh berupa uang senilai Rp 120.000.000. Kemudian dibagi 24 menjadi masing-masing senilai Rp 5.000.000.

Jadi, simulasi pembagiannya adalah sebagai berikut ini;

  • Istri mendapatkan 3 x Rp 5.000.000 =  Rp 15.000.000
  • Ibu mendapatkan 4 x Rp 5.000.000 = Rp 20.000.000
  • Anak laki-laki mendapatkan 17 x Rp 5.000.000 = Rp 85.000.000

Total harta yang dibagikan sebesar Rp 120.000.000 (Habis terbagi)

Dalam hukum waris adat, orang yang dipercaya membagikan warisan biasanya seorang ketua atau sosok yang dituakan di dalam suku tersebut.

Dalam hukum waris perdata, pembagian warisan disaksikan oleh notaris. Apalagi terkait dengan surat wasiat yang sudah memiliki ketetapan hukum.

Sedangkan dalam hukum waris Islam, sosok yang dipercaya untuk membagi warisan biasanya berasal dari kalangan yang memahami ilmu faraidh atau ilmu perhitungan pembagian warisan berdasarkan hukum Islam. Akan tetapi, perhitungan waris dalam Islam juga bisa meminta bantuan kepada tokoh agama yang memahami pembagian warisan dan mendapatkan kepercayaan dari seluruh ahli waris.

Itulah makna, pembagian, dan bentuk warisan atau heritage. Pada momen-momen pembagian, biasanya turut mengundang pihak ketiga agar penghitungan warisan bisa menjadi lebih netral. Harapannya agar tidak ada perselisihan di kemudian hari dikarenakan pembagian warisan dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki kepentingan atas harta warisan.

Marketplace Asuransi #1 di Indonesia

Cari Asuransi Terbaik Sesuai Anggaranmu

  • Bandingkan > 100 polis asuransi
  • Konsultasi & bantuan klaim gratis