Antara XL, Telkom dan Indosat, Mana Operator Seluler yang Performa Sahamnya Bagus?

Rata-rata operator seluler yang dimanfaatkan jasanya oleh banyak orang di Indonesia berstatus sebagai perusahaan terbuka. Dengan kata lain, saham-saham perusahaan operator seluler tersebut boleh dibeli masyarakat.

Buat kamu yang kini sedang giat-giatnya berinvestasi, gak ada salahnya nih memantau performa saham operator seluler dalam kurun waktu hampir setahun ini. Siapa tahu ada di antaranya yang cocok masuk dalam portofoliomu.

Nah, ulasan berikut ini mau membahas performa saham operator-operator seluler yang berstatus Tbk. dan beroperasi di Indonesia. Seperti apa ulasannya? Yuk, disimak.

Baca juga: 10 Bank Terbesar di Dunia dengan Merek Dagang Bernilai Tinggi dan Paling Menjual

1. XL Axiata, Tbk. (EXCL)

Operator seluler
aham dengan kode EXCL dijual saat itu dengan harga perdana Rp 2.000 per lembarnya, (Ilustrasi/Shutterstock).

XL Axiata Tbk. menjadi salah satu operator seluler di Indonesia yang menyematkan nama Tbk. di belakangnya. PT XL Axiata didirikan pada 6 Oktober 1989 yang sebelumnya bernama PT Grahametropolitan Lestari lalu berganti menjadi PT Excelcomindo Pratama hingga akhirnya berganti lagi menjadi XL Axiata.

Perusahaan ini mulai menjual saham perdananya pada 29 September 2005. Saham dengan kode EXCL dijual saat itu dengan harga perdana Rp 2.000 per lembarnya. 

Mayoritas sahamnya dipegang Axiata Investments Axiata Investments (Indonesia) Sdn. Bhd dengan jumlah kepemilikan sebanyak 7.092.656.612 lembar (66,36 persen). Sementara sebanyak 3.595.303.811 lembar atau 33,64 persen dimiliki masyarakat.

Dari segi pergerakan harga, performa saham EXCL terbilang memuaskan. Pasalnya, harga sahamnya pada Desember 2018 ditutup di angka Rp 1.980 per lembar. Kini harganya berada di kisaran Rp 3.250 per lembar.

Baca juga: Bandingkan Paket Internet HP Terbaik dari XL, Telkomsel, dan IM3

2. Smartfren Telecom, Tbk. (FREN)

Operator seluler
Kini harga sahamnya per lembar berada di kisaran Rp 126 lebih tinggi dibanding harga penutupan Desember 2018 di kisaran Rp 78 per lembar, (Ilustrasi/Shutterstock).

Operator seluler ini diketahui menjadi salah satu bisnis dari Sinar Mas Group sejak pemegang sahamnya diakusisi pada 2010. 

Saham Smartfren Telecom, Tbk. sendiri tercatat dikuasai PT Global Nusa Data sebanyak 74.129.257.011 lembar (43,32 persen), PT Wahana Inti Nusantara sebanyak 48.702.324.400 lembar (28,46 persen), dan PT Bali Media Telekomunikasi sebanyak 32.288.319.438 lembar (18,87 persen).

Sementara masyarakat tercatat memegang saham Smartfren Telecom, Tbk. sebanyak 15.994.784.818 lembar (9,35 persen).

PT Smartfren Telecom dulunya bernama PT Mobile-8 Telecom yang berdiri pada 2 Desember 2002. Perusahaan ini mulai mencatatkan diri di Bursa Efek Indonesia pada 29 November 2006. Saat itu harga jual sahamnya per lembar berada di angka Rp 225.

Performa harga saham FREN kini menurun walaupun lebih tinggi dibanding harga penutupan Desember 2018. Kini harga sahamnya per lembar berada di kisaran Rp 126 lebih tinggi dibanding harga penutupan Desember 2018 di kisaran Rp 78 per lembar.

Baca juga: Sewa WiFi Saat ke Luar Negeri Memang Lebih Murah, Tapi Lebih Praktis Sim Card!

3. Indosat, Tbk. (ISAT)

operator seluler
Indosat Ooredoo pada Desember 2018, harga penutupan saham berkode ISAT ini di angka Rp 1.685 per lembar. Kini harganya berada di kisaran Rp 3.120 per lembarnya, (Ilustrasi/Shutterstock).

Operator seluler berikutnya adalah Indosat. Perusahaan yang kini dikenal sebagai Indosat Ooredoo ini dimiliki Ooredoo Asia Pte. Ltd. dengan kepemilikan saham sebanyak 3.532.056.600 lembar (65 persen). Sementara sisanya dimiliki Republik Indonesia sekitar 776.625.000 lembar (14,29 persen) dan publik sebanyak 1.125.251.900 lembar (20,71 persen).

Indosat berdiri pada 10 November 1967 dan IPO pada 19 Oktober 1994. Harga sahamnya saat IPO berada di angka Rp 7.000 per lembar.

Gimana dengan performanya? Pada Desember 2018, harga penutupan saham berkode ISAT ini di angka Rp 1.685 per lembar. Kini harganya berada di kisaran Rp 3.120 per lembarnya.

4. Telekomunikasi Indonesia (persero), Tbk. (TLKM)

operator seluler
Telekomunikasi Indonesia mulai IPO pada 14 November 1995. Harga saham berkode TLKM ini waktu itu berada di angka Rp 2.050 per lembar, (Ilustrasi/Shutterstock).

Ada nama perseronya, udah pasti operator seluler ini dimiliki Pemerintah Indonesia karena statusnya sebagai BUMN. Kenaikan harga saham BUMN ini boleh dibilang gak terlalu tinggi. Pada Desember 2018, harganya ditutup pada angka Rp 3.750 per lembar. Kini harganya berada di kisaran Rp 3.970 per lembar.

Telekomunikasi Indonesia telah ada sejak zaman Hindia Belanda yang mulai beroperasi pada tahun 1884. Statusnya sendiri berubah menjadi persero pada tahun 1991.

Telekomunikasi Indonesia mulai IPO pada 14 November 1995. Harga saham berkode TLKM ini waktu itu berada di angka Rp 2.050 per lembar.

Itu tadi informasi mengenai performa saham operator-operator seluler di Indonesia. Kira-kira ada gak salah satunya yang bikin kamu tertarik buat membelinya? (Editor: Mahardian Prawira Bhisma).