5 Hal yang Bisa Bikin Rencanamu Beli Rumah KPR Gagal Total

sebelum mengambil KPR

Buat sebagian orang Indonesia, khususnya Jawa, gatot adalah makanan yang lezat dan murah meriah. Tapi, gatot yang satu ini pasti akan dihindari: gagal total.

Di sini, kita khusus bicara soal kegagalan total rencana beli rumah KPR alias kredit pemilikan rumah. Pastinya nyesek dong, impian punya rumah pupus dengan suksesnya.

Apalagi jika kesalahan terletak pada diri kita sendiri. Nangis guling-guling juga gak bakal menyelesaikan persoalan. Apalagi neror petugas bank yang mengurus KPR, malah masuk penjara nanti.

Begini. Urusan KPR itu gak bisa dianggap remeh. Meski aturannya ya begitu-begitu saja dari tahun ke tahun, bukan alasan bagi kita untuk ongkang-ongkang kaki saat menyelesaikan prosedur ini.

[Baca: Kenalan Dulu dengan Istilah dalam KPR Sebelum Ajukan Aplikasi, daripada Clingak-Clinguk, Ya Kan?]

Meski kita sudah siapkan duit persekot 50%, bukan jaminan permohonan KPR dikabulkan. Uang muka itu hanyalah salah satu syarat dalam mengurus KPR.

Ada sedikitnya 5 hal yang bisa bikin rencana KPR gatot. Simak penjelasannya di bawah ini:

beli rumah kpr
Hayo, itung dulu punya utang berapa

1. Tunggakan utang

Kartu kredit memang ngasih fasilitas yang oke punya. Tapi, kewajiban yang menyertainya kudu dilaksanakan juga. Kalau masih ada tunggakan tagihan kartu kredit, proses KPR pasti tersendat.

Bank akan berpikir, lha ini tunggakan saja belum dilunasi. Kok, masih mau ngutang lagi. Jangan-jangan nanti nunggak juga.

Eh, kok bank bisa tahu kita ada tunggakan? Ya, pengecekan utang memang menjadi salah satu prosedur dalam KPR. BI checking namanya.

Jika kita masih punya masalah kredit, kecil kemungkinannya permohonan kredit lainnya akan disetujui. Ini berlaku untuk semua jenis utang, ya, khususnya di bank.

[Baca: Cek Riwayat Kredit Kamu di BI kalau Gagal Terus Ngajuin Pinjaman]

2. Kendaraan belum lunas

Ini mirip dengan proses BI checking di atas. Singkatnya, bank akan pikir-pikir ngasih utangan kalau kita sendiri masih punya beban cicilan.

Jadi, sebaiknya pastikan semua cicilan sudah lunas, terutama kendaraan. Dengan begitu, bank akan melihat kita bebas dari beban utang dan sanggup melunasi utang KPR tepat waktu.

beli rumah kpr
Kalau baru kerja dalam hitungan bulan, bank bakal ogah ngucurin dana KPR

3. Masa kerja singkat

Memang, umumnya bank mensyaratkan pegawai tetap untuk bisa mendapatkan KPR. Tapi, ada satu hal krusial yang sering diperhitungkan bank, yaitu masa kerja.

Umumnya seorang pegawai mendapat status tetap setelah bekerja dua tahun. Namun status itu bukan jaminan proposal KPR akan mulus melaju kayak mobil di Jakarta, pas Hari Lebaran, jam 6 pagi, saat orang-orang salat id.

Lebih dari itu, bank akan melihat sudah berapa lama sih kita bekerja. Tujuannya, memastikan kita sudah mantap bekerja di tempat itu.

Tapi KPR tetap bisa diakses pekerja freelance ataupun kontrak, lho. Hanya, prosesnya akan lebih panjang dan perlu negosiasi dengan pihak bank.

[Baca: KPR untuk Karyawan Kontrak atau Freelancer: Tiada Yang Mustahil]

4. Rumah di “area gak laku”

Saat mengajukan KPR, artinya kita akan memohon pinjaman dengan jaminan. Jaminannya apa? Ya rumah yang mau kita beli.

Jadi, bank akan mempertimbangkan nilai jual rumah tersebut. Kalau rumah dinilai marketable alias gampang dipasarkan, oke-oke saja.

Tapi jika area rumah dinilai suram, bye-bye. Itulah makanya kita harus lihat-lihat kalau mau beli rumah. Rumah yang jalannya sempit dan gak bisa dilalui mobil umumnya gak akan masuk kriteria KPR bank mana pun.

5. Dusta

Ketika proposal KPR diproses, salah satu tahap yang kita tempuh adalah wawancara. Dalam proses ini, kita mesti menjawab semua pertanyaan dari petugas bank sejujur-jujurnya.

Begitu juga ketika kita memberikan dokumen. Slip gaji mesti asli, bukan rekaan. Begitu juga dokumen kependudukan. Sebab, jika ketahuan berdusta, permohonan KPR kita akan masuk tempat sampah.

[Baca: Mencoba Berbohong Saat Pengajuan Kredit Pemilikan Rumah? Ini Konsekuensinya]

Proses KPR sesungguhnya sederhana, kalau kita ikuti prosedurnya. Gak usahlah neko-neko main belakang atau pakai calo.

beli rumah kpr
Jangan ada dusta antara kita dan bank, Masku…

Selain bisa membuat biaya KPR membengkak, bisa saja di tengah jalan kita malah kena tipu. Bukan mustahil si calo ternyata petugas abal-abal, atau petugas asli tapi terus lari bawa duit kita.

Sebaiknya kita cermat ketika mengurus KPR. Kalau tidak, jangan harap impian punya rumah sendiri bakal segera terwujud.

[Baca: Kesalahan Jokomi Ini Bisa Jadi Pelajaran Agar Pengajuan KPR Disetujui Bank]

 

Image credit:

  • http://majalahembun.com/wp-content/uploads/2013/09/Hal-14.jpg
  • http://info-bogor.com/wp-content/uploads/2014/04/capai-kerja.jpg
  • http://www.jpnn.com/picture/normal/20151027_192109/192109_69848_kurs_utama.jpg